Sebagai seorang guru selalu dihadapkan
berbagai rutinitas mengajar
di kelas. Itu adalah tugas yang utama. Kesibukan lain membuat
perangkat pembelajaran. Tugas lain membuat soal dan memeriksa tes dari peserta didik. Berbagai aktivitas lain lagi untuk mendukung berlangsungnya pembelajaran yang menyenangkan. Tuntutan target kurikulun yang harus tercapai. Belum
lagi, tanggungjawab menangani tugas
tambahan (kalau ada). Wakil Kepala Sekolah, wali kelas, pembina ekstrakurikuler
dan tugas-tugas lainnya.
Guru adalah abdi negara, apapun pekerjaan harus dikerjakan. Harus selalu
rela berjuang dengan keiklasan demi anak kita, peserta didik kita. Demi masa
depan mereka. Tapi kadang kita jatuh di
titik ‘nadir’. Rutinitas yang membosankan. Hehe... kadang sampai stresss!! Nach!!. Itulah hari-hari
yang selalu kita geluti. Senang tak senang, namanya kuajiban, harus kita
nikmati dan syukuri dengan penuh suka cita dan selalu senyum.
Waktu itu...saya membayangkan, betapa senangnya kalau ada libur panjang. Pasti asyik. Pasti bahagia.
Bisa pesiar sepuasnya. Refresshing dengan bebaaaass!! Tanpa ada
ikatan. Tanpa beban!. Eh!! Ternyata Tuhan mengabulkan mimpi itu.
Libur panjang, ya libur panjang sekali
dari Maret 2020 hingga hari ini. Tuhan menguji kita lewat pandemi.
Saat
pandemi datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV,
di medsos, banyak saudara-saudara kita yang terserang Covid-19, ada yang di karantina sampai dirawat di rumah sakit! . Bahkan tidak sedikit
juga yang meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus
pastinya. Apalagi di kota kecilku, Waingapu adalah ‘zona merah’. Total ada 30 orang positf covid, yang meninggal 2 orang. Oh Tuhan!, semoga
kami selalu diberikan kesehatan dan terbebas
darinya.
Hari pertama....
kedua.... ketiga, sampai waktu sekitar 3 minggu, terasa jenuh dan bosan sekali
tinggal di rumah. Seiring berjalannya waktu, akhirnya bisa
menikmati indahnya “di rumah saja”. Suatu hal yang tidak
pernah kita bayangkan sebelumnya. Sekolah tutup, sekolah sepi, sekolah tak lagi ada penghuni. Jadi!, untuk sekolah tak ada cerita lagi saat pandemi melanda ibu pertiwi. Ya, memang guru
kadang datang ke sekolah, untuk membuat administrasinya. Tapi murid tak
ada. Situasi jelas terasa berbeda. Para guru punya ruang berbeda. Ada di ruang
kurikulum, ada di ruang BK. Ada di ruang guru dan ada juga di ruang
laboratorium atau tempat lainnya. Kalau ketemu ya, hanya,.....’hallo’...lanjut keruangan masing-masing untuk melanjutkan kerja tugas dan kesibukannya
. Begitulah.
Setiap orang
punya talenta masing-masing. Berkat pandemi dan di rumah saja, akhirnya bakat
masing-masing mulai muncul. Hobi mulai tersalur dan waktupun mendukung. Setiap orang kini punya kesempatan untuk menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang bisa
menunjukkan kreativitas dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa merealisasikan
dan mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya: memasak,
menulis, olah raga, membuat kue, berkebun dan lain-lain. Dari
hobi yang tersalur menjadikan kita merasa lebih bahagia dan terhibur.
“Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative
thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif
seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat” (Suharnan, 2005). Benar adanya, ternyata dengan adanya musibah ini, banyaknya waktu yang kita habiskan di rumah aja, kita bisa lebih kreatif !. Di rumah saya
ada beberapa anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’.
Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan
pembelajaran di rumah. Tujuannya adalah mengarahkan mereka untuk
memunculkan kreatifitas. Saya mengajak anak-anak untuk berkebun,
bertani, menanam sayur, memasak kemudian hasilnya diposting di WA
group. Ketika ada teman-teman yang memesan akan kita antar kerumahnya
dan tentunya akan menghasilkan uang.
Saya senang
melihat dan membaca postingan teman-teman guru dan peserta didik.
Mereka mempunyai hobi baru. Ada yang membuat bedeng untuk
kebun sayur, ada yang menjual hasil masakan, ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka
seolah terpacu dengan adanya persaingan positif, berlomba untuk
menunjukkan semangatnya dalam
memanfaatkan waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga
melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita saling partisipasi
untuk membeli produk rumahan hasil kreatifitas yang dilakukan masing-masing.
Untuk menggali potensi
diri siswa, salah satu tugas adalah membuat ‘produk’,
yaitu membuat poster. Poster yang berisi keterampilan baru di
rumah. Dibuat sekreatif mungkin. Setiap
anak punya bakat masing-masing
dan mereka punya kreatifitas yang berbeda-beda. Dan
judul tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil
karyanya difoto bersama pembuatnya, kemudian dikirim lewat WA grup
kelas. Karena merupakan tugas wajib dan salah
satu penilaian mata
pelajaran ketrampilan dalam matematika. Mereka
semangat, mereka ingin membuat yang terbaik. ‘Bukti fisik’ dan ‘karya nyata’ dengan menanyakan kepada orang tua siswa lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya. Selama
di rumah siswa jadi bisa memasak, bisa membuat kue, membantu orang tua di
rumah. Mereka bangga sekali dengan kesibukan barunya.
Tanggal 27 dan 28 Oktober 2020 dalam
rangka memperingati bulan bahasa, sekolah mengadakan lomba. Yakni
membuat cerpen, pidato dan membaca
puisi. Dengan Tema Bahasa yang harmoni cermin kepribadian. Ada pandemi Covid-19
bukan kendala untuk tetap berkarya. Anak-anak antusias ikut lomba
tersebut. Lumayan juara 1 dapat uang Rp 500.000,- , juara 2 Rp 400.000,- dan juara 3 Rp
300.000,-. Saya yang punya latar belakang guru matematika, mencoba
membimbing siswa membuat cerpen, eh!!
Ternyata jadi juara pertama. Ya ampun, Puji Tuhan!. Sedikitpun saya tak membayangkan sebelumnya.
Semua pekerjaan kalau kita tangani serius dan suka cita akan membuahkan
hasil nyata. Ternyata menulis mengasyikkan. Menulis menghibur. Yang jelas
dengan bisa menulis akan membuat kita lebih percaya diri. Hehe..pinjam
kata-kata yang di WAG MBI, Tanpa gelar saya beranikan diri untuk duduk bersama dan
berkarya dengan para Sarjana S1 dab S2. Itu !! Menambah nyali untuk terus
berani menulis. Jadi untuk jadi penulis tak penting itu gelar,….Window yang
sudah S7 saja masih dipromosikan!. Untuk jadi juara tak penting gelar. Kesimpulan,
belum tentu yang gelarnya paling tinggi karyanya paling bagus. Siapapun berhak untuk bisa, Siapapun
berhak jadi juara. Yaa…..memang semua perlu proses, tak ada yang instan.
Jaman sekarang banyak sekali cerita inspiratif . Pengusaha, Novelis,
Pembalap, Pejabat. Awalnya mereka biasa
berkat ketekunan dan kerja keras akhirnya jadi luar biasa. Itu yang
namanya berita. Tuhan
memberi kita talenta sama,. Kita
sendiri yang mengisinya jadi ‘berbeda’. Tugas kita berjuang dan berusaha dan jangan lupa berdoa. Saya suka melihat kisah-kisah
inspiratif dari Kick Endy di TV. Semua yang disampaikan adalah ‘perjuangan
hidup’. Dari berita itu kita bisa menjadi terharu. Kita jadi
terinspirasi. Kita ikut bangga dan bahagia. Ada Doktor yang mamanya hanya tukang cuci dan ayahnya buruh.
Ada Bupati yang dulu supirnya Bupati.
Ada Dokter yang bapaknya tukang Becak.
Dan masih banyak cerita lain yang memotivasi saya. Kita paling tahu, Pak Presiden kita yang dulu orang tuanya tukang kayu. Pasti dulu Joko Widodo kecil tidak pernah membayangkan
kalau kelak jadi presiden.
Kedudukan, jabatan, keberhasilan
itu bukan jatuh dari langit. Tapi dari usaha, ketekunan dan kerja keras. Jika
orang lain saja bisa!, Kenapa saya tidak!. Akhirnya saya berfikir, saya harus
mencoba, biar mulai dari yang paling sederhana. Mau belajar , itu kuncinya. Memang tidak boleh kita
mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh. Sakit!!. Kita jalani hidup ini seperti air
yang mengalir, berpikir positif. Cita-cita itu perlu, untuk motivasi. Ya, tentunya supaya bisa kita
tekuni dari dini.
Pembelajaran BDR
menggunakan daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan GCR (Google Classroom), aplikasi zoom, googleform dan berbagai aplikasi internet lainnya. Dengan cara dan metode pembelajaran yang
baru akhirnya peserta didik menjadi tahu, terampil dan berpengalaman menggunakan HP
Android dengan lancar jaya dan penuh
semangat. Mereka jadi tahu benar tentang fungsi
HP android yang sebenarnya.
Kalau dulu, tahunya HP hanya untuk bermain game, membuka youtube, facebook dan media sosial lainya. Kapasitas hanya sebagai pemain game dan penonton
saja. Tapi sekarang !! HP dimanfaatkan untuk menggali informasi
berbagai hal. Bahkan akhirnya bisa kreatif mendownload berbagai
aplikasi karena tuntutan tugas sekolah yang harus di videokan.
Seperti aplikasi KineMaster, Canva, CS, Tik Tok, Zoom, Classroom, Zenius, Snaptube, Meet, telegram dan masih banyak aplikasi lainnya.Gurunya sendiri sudah
kalah kreatif dibanding keterampilan anak-anaknya. Memang tidak semua, tapi lumayan beberapa anak
jadi lebih kreatif dalam memanfaatkan HP.
Waktu Luang di rumah terasa
banyak. Kebersamaan dan keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling
menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling berbagi semakin
nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan
pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas dan pekerjaanpun terasa ringan dan menyenangkan.
Janganlah pandemi
itu dianggap sebagai musibah. Anggaplah dia datang
sebagai tamu, kita adalah tuan rumah. Terimalah dengan penuh suka cita. Kita tetap
bersahabat dan berdampingan dengannya. Ternyata bagi sebagian orang, pandemi
ini membawa dampak positif, sekaligus membawa berkah. Kita bisa punya
kegiatan-kegiatan kreatif. Dengan kegiatan kreatif bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing yang
terpendam. Memunculkan ide kreatif di luar dugaan kita. Bahkan
lebih membanggakan lagi bisa mempunyai penghasilan
tambahan.
Siapa tidak bangga
kalau punya penghasilan tambahan? Kita bisa
belanja keinginan kita sesuai uang
“bonus” yang kita punya. Gaji bulanan hanya cukup untuk belanja kebutuhan kita sehari-hari, biasa sudah masuk
‘pos’ rutin. Dengan adanya uang bonus, bisa
kita pakai untuk sedikit bersenang-senang bersama
keluarga, memanjakan diri bahkan menikmati makanan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu, saat ini akhirnya bisa terealisaikan.
Memang saat pandemi ada, kita tak bisa cerita tentang sekolah.
Sedih!. Sekolah pindah di rumah. Kita hanya
bisa merindu, kita tak bisa bertatap muka dengan siswa. Tapi mau bagaimana, oh peserta didikku!!. Sungguh aku
merindukan pertemuan seperti dulu. Orang tua mengeluh mengajarimu. Mereka
sudah banyak yang putus asa karena ulahmu. Mari kita mandiri, terus berkarya, mari kita bangkit. Kita tetap semangat!. Jaga imun agar kita tetap sehat. Berpikir yang positif supaya kita selalu bahagia.
Berkat Pandemi, banyak
pengalaman baru yang kita bisa petik. Baik bagi guru dan bagi peserta didik.
Pasti mereka masing-masing punya cerita
baru yang menarik. Bagi siswa jelas
lebih mandiri, lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa. Mereka jadi
tahu pengorbanan orang tua. Lebih
bisa menyelami kehidupan ‘di rumah’ secara nyata. Dari bangun tidur pagi hari sampai kembali tidur di malam hari. Banyak aktifitas yang dilakukan. Dari pekerjaan rumah, urus makan, urus kebun,urus
hewan piaraan ( kalau ada) sampai mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kompleks!!.
Dan itu wajib dikerjakan tuntas tanpa keluhan.
Orang hidup
butuh makan. Untuk mendapatkan makan
harus dengan perjuangan. Perjuangan yang sederhana yaitu memasak. Sebagai
siswa perempuan harus belajar, harus
bisa. Apa yang dikerjalan mama di rumah
kita bantu untuk kerja, supaya sebagai ‘anak’ ada gunanya. Sebagai anak laki,
ya berusaha kerja di rumah , membantu bapak. Menanam sayur, membersihkan kebun,
bebenah rumah atau lainnya. Bantulah
orang tua supaya kamu bisa membanggakan
mereka.
Terima
kasih Tante Corona, atas kedatanganmu, kita
tetap bersahabat! Darimu kami menjadi lebih dewasa,
lebih menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri,
dan bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah
pandemi ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif.
Jika kita produktif kita akan merasakan sebuah kebahagiaan
baru. Inilah kebahagiaan kecil saya. Sederhana !. Bahagia bertumbuh dengan
mencapai target-target kecil yang diciptakan sendiri.
Tak perlu menjadi “unicorn”. Kita manusia biasa, ingin
belajar, terus belajar dan terus berusaha walau sudah tua. Tugas saya sebagai
guru dan orang tua adalah mendampingi dan mengarahkan yang muda-muda. Berjuang
dari sekarang. Bertekun memang dari sekarang. Tak boleh malas dan hanya
berpangku tangan. Kerja keras dan berusaha adalah kuncinya. Supaya kelak mereka
hidup lebih ‘berharga. Hidup ‘cukup’.
Hidup lebih ‘baik’ dari orangtuanya. Berakit-rakit kehulu,
berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Akhirnya. Sampai
disini saya cerita. Sederhana kita tuangkan
lewat kata-kata. Semoga bisa berguna. Yah!, minimal bisa
menjadi kenangan untuk diri sendiri, siapa tahu ada saudara,sahabat dan
handai taulan juga rela meluangkan
waktunya untuk membaca. Lebih
membanggakan lagi jika bisa bermanfaat.
Bisa menjadi kenangan indah dan membanggakan hati. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga pandemi cepat berlalu.
#Kenangan saat pandemi corona melanda ibu pertiwi
#Mentaati protokol kesehatan 3M: Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci
tangan dengan air yang mengalir
#Trimakasih Ibu Lilis Sutikno dan pak Sahat S Naibaho sudah memotivasi saya sebagai penulis pemula
Moto :
Semangat dalam
menggapai cita-cita . Tersenyum
dalam setiap perjuangan. Berdoa dalam setiap usaha. Tuhan pasti memberi jalan
dan harapan. Dia senantiasa membimbing dari waktu ke waktu,
sehingga bukti nyata akan ada. Harus Bisa!. Semangat!!
Profil Penulis
“Ledwina
Eti adalah nama facebooknya, bernama
lengkap
Ledwina
Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang,
pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal, kelurahan Pagersari,
Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita
Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta Fakultas Pendidikan Matematika (D3)tahun 1989
dan lanjut UT UPJJ Kupang (S1). Saat
ini tercatat sebagai guru matematika di
SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana
Bobonaro Timor Timur pada tahun 1990 –
1992 kemudian di mutasi di SMA Negeri 3
Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu
Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar