Senin, 09 November 2020

TRIMA KASIH CORONA...... KARENAMU MEMBUAT AKU ‘BISA’

 


 

Sebagai seorang guru selalu dihadapkan  berbagai rutinitas mengajar di kelas. Itu adalah tugas yang utama.  Kesibukan lain membuat perangkat pembelajaran. Tugas lain membuat soal dan memeriksa tes dari peserta didik. Berbagai aktivitas lain lagi untuk mendukung  berlangsungnya pembelajaran yang menyenangkan. Tuntutan target kurikulun yang harus tercapai. Belum lagi, tanggungjawab  menangani tugas  tambahan (kalau ada). Wakil Kepala Sekolah, wali kelas, pembina ekstrakurikuler dan tugas-tugas lainnya.

Guru adalah abdi negara, apapun pekerjaan harus dikerjakan. Harus selalu rela berjuang dengan keiklasan demi anak kita, peserta didik kita. Demi masa depan mereka. Tapi  kadang kita jatuh di titik ‘nadir’. Rutinitas yang membosankan. Hehe... kadang sampai stresss!! Nach!!. Itulah hari-hari yang selalu kita geluti. Senang tak senang, namanya kuajiban, harus  kita nikmati dan syukuri dengan penuh suka cita dan selalu senyum.

Waktu itu...saya membayangkan, betapa senangnya kalau ada  libur panjang. Pasti asyik. Pasti bahagia. Bisa  pesiar sepuasnya. Refresshing  dengan bebaaaass!!  Tanpa ada  ikatan. Tanpa beban!. Eh!! Ternyata  Tuhan mengabulkan  mimpi itu.  Libur panjang, ya libur panjang sekali  dari Maret 2020 hingga hari ini. Tuhan menguji kita lewat pandemi.

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang Covid-19, ada yang di karantina sampai dirawat di rumah sakit! . Bahkan tidak sedikit juga  yang  meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Apalagi di kota kecilku, Waingapu  adalah ‘zona merah’. Total ada 30 orang positf covid, yang meninggal 2 orang. Oh Tuhan!, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Hari pertama.... kedua.... ketiga,  sampai waktu sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan sekali tinggal di rumah. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sekolah tutup, sekolah sepi, sekolah tak lagi ada penghuni. Jadi!, untuk sekolah tak ada cerita lagi saat pandemi melanda ibu pertiwi. Ya, memang  guru  kadang datang ke sekolah, untuk membuat administrasinya. Tapi murid tak ada. Situasi jelas terasa berbeda. Para guru punya ruang berbeda. Ada di ruang kurikulum, ada di ruang BK. Ada di ruang guru dan ada juga di ruang laboratorium atau tempat lainnya. Kalau ketemu ya, hanya,.....’hallo’...lanjut  keruangan masing-masing  untuk melanjutkan kerja tugas dan kesibukannya . Begitulah.

Setiap orang punya  talenta masing-masing. Berkat pandemi dan di rumah saja, akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur dan waktupun mendukung. Setiap  orang kini punya kesempatan untuk menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreativitas dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga, membuat kue, berkebun dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur menjadikan kita merasa lebih bahagia dan terhibur.

Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat” (Suharnan, 2005). Benar adanya, ternyata dengan adanya  musibah ini, banyaknya waktu yang kita habiskan di rumah aja, kita bisa  lebih kreatif !.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatifitas.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak kemudian hasilnya  diposting  di WA group. Ketika ada teman-teman  yang memesan akan kita antar kerumahnya dan tentunya akan menghasilkan uang.

Saya senang melihat  dan membaca postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur, ada yang  menjual  hasil masakan, ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  terpacu dengan adanya persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisipasi untuk  membeli produk rumahan hasil kreatifitas yang dilakukan masing-masing.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster yang berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat sekreatif mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya kreatifitas yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kemudian dikirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan   salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat, mereka ingin membuat yang terbaik. ‘Bukti fisik’  dan ‘karya  nyata’  dengan menanyakan kepada orang tua siswa lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya. Selama di rumah siswa jadi bisa memasak, bisa membuat kue, membantu orang tua di rumah. Mereka bangga sekali dengan kesibukan barunya.

Tanggal  27 dan 28 Oktober 2020  dalam  rangka memperingati bulan bahasa, sekolah mengadakan lomba. Yakni membuat cerpen,  pidato dan membaca puisi. Dengan Tema Bahasa yang harmoni cermin kepribadian. Ada pandemi Covid-19  bukan kendala untuk tetap berkarya. Anak-anak antusias ikut lomba tersebut. Lumayan juara 1 dapat uang Rp 500.000,- , juara 2 Rp 400.000,- dan juara 3 Rp 300.000,-. Saya yang  punya latar belakang guru matematika, mencoba membimbing siswa membuat cerpen, eh!!  Ternyata jadi juara pertama. Ya ampun, Puji Tuhan!. Sedikitpun saya tak membayangkan sebelumnya.

Semua pekerjaan kalau kita tangani serius dan suka cita akan membuahkan hasil nyata. Ternyata menulis mengasyikkan. Menulis menghibur. Yang jelas dengan bisa menulis akan membuat kita lebih percaya diri. Hehe..pinjam kata-kata yang di WAG MBI, Tanpa gelar  saya beranikan diri untuk duduk bersama dan berkarya dengan para Sarjana S1 dab S2. Itu !! Menambah nyali untuk terus berani menulis. Jadi untuk jadi penulis tak penting itu gelar,….Window yang sudah S7 saja masih dipromosikan!. Untuk jadi juara tak penting gelar.  Kesimpulan, belum tentu yang gelarnya paling tinggi karyanya paling  bagus. Siapapun berhak untuk bisa, Siapapun berhak jadi juara. Yaa…..memang semua perlu proses, tak ada yang instan.

Jaman sekarang banyak sekali cerita inspiratif . Pengusaha, Novelis, Pembalap, Pejabat. Awalnya mereka biasa  berkat ketekunan dan kerja keras akhirnya jadi luar biasa. Itu yang namanya berita. Tuhan  memberi kita talenta sama,.  Kita sendiri yang mengisinya jadi ‘berbeda’. Tugas kita  berjuang dan berusaha dan jangan  lupa berdoa. Saya suka melihat kisah-kisah inspiratif dari Kick Endy di TV. Semua yang disampaikan adalah ‘perjuangan hidup’. Dari  berita itu  kita bisa menjadi terharu. Kita jadi terinspirasi. Kita ikut bangga dan bahagia. Ada Doktor yang  mamanya hanya tukang cuci dan ayahnya buruh. Ada Bupati yang  dulu supirnya Bupati. Ada Dokter yang  bapaknya tukang Becak. Dan masih banyak cerita lain yang memotivasi saya. Kita   paling tahu, Pak Presiden kita yang  dulu orang tuanya tukang  kayu. Pasti dulu  Joko Widodo kecil tidak pernah membayangkan kalau kelak jadi presiden.

Kedudukan, jabatan, keberhasilan itu bukan jatuh dari langit. Tapi dari usaha, ketekunan dan kerja keras. Jika orang lain saja bisa!, Kenapa saya tidak!. Akhirnya saya berfikir, saya harus mencoba, biar mulai dari yang paling sederhana. Mau belajar , itu kuncinya. Memang tidak boleh kita mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh. Sakit!!. Kita jalani hidup ini seperti air yang mengalir, berpikir positif. Cita-cita itu perlu, untuk motivasi.  Ya, tentunya supaya  bisa kita  tekuni dari dini.

Pembelajaran BDR menggunakan daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan GCR (Google Classroom),  aplikasi  zoom, googleform dan berbagai aplikasi internet lainnya. Dengan cara dan metode pembelajaran yang baru akhirnya peserta didik  menjadi  tahu, terampil dan berpengalaman menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang fungsi HP android yang sebenarnya.

Kalau dulu,  tahunya  HP hanya untuk bermain game, membuka youtube, facebook dan media sosial lainya. Kapasitas hanya sebagai pemain game dan penonton saja. Tapi sekarang !! HP dimanfaatkan untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreatif  mendownload  berbagai aplikasi  karena tuntutan tugas sekolah yang harus di videokan. Seperti  aplikasi  KineMaster, Canva, CS, Tik Tok, Zoom, Classroom, Zenius, Snaptube, Meet, telegram dan masih banyak aplikasi lainnya.Gurunya sendiri sudah kalah  kreatif dibanding   keterampilan anak-anaknya.  Memang tidak semua,  tapi lumayan beberapa anak jadi lebih kreatif dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas dan pekerjaanpun terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah. Anggaplah  dia datang sebagai tamu, kita   adalah tuan rumah.  Terimalah  dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat dan berdampingan dengannya. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif, sekaligus membawa berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreatif.  Dengan kegiatan kreatif  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreatif di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan.

Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja keinginan kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan hanya cukup untuk belanja kebutuhan kita sehari-hari, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri bahkan menikmati makanan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu, saat  ini  akhirnya bisa terealisaikan.

Memang saat pandemi ada, kita tak bisa cerita tentang sekolah. Sedih!. Sekolah pindah di rumah. Kita hanya  bisa merindu, kita tak bisa bertatap muka dengan siswa. Tapi mau bagaimana, oh peserta didikku!!. Sungguh aku  merindukan pertemuan seperti dulu. Orang tua mengeluh mengajarimu. Mereka sudah banyak yang putus asa karena ulahmu. Mari kita mandiri, terus berkarya, mari kita bangkit. Kita tetap semangat!. Jaga imun agar kita tetap sehat. Berpikir yang positif supaya kita selalu bahagia.

Berkat Pandemi, banyak pengalaman baru yang kita bisa petik. Baik bagi guru dan bagi peserta didik. Pasti mereka masing-masing punya  cerita baru yang menarik.  Bagi siswa jelas lebih mandiri, lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa. Mereka  jadi  tahu  pengorbanan orang tua. Lebih bisa  menyelami  kehidupan ‘di rumah’ secara nyata. Dari  bangun tidur pagi hari sampai  kembali tidur di malam hari. Banyak  aktifitas yang dilakukan. Dari  pekerjaan rumah, urus makan, urus kebun,urus hewan piaraan ( kalau ada)  sampai  mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kompleks!!. Dan itu wajib dikerjakan tuntas tanpa keluhan.

 Orang hidup  butuh makan. Untuk mendapatkan makan  harus dengan perjuangan. Perjuangan yang sederhana yaitu memasak. Sebagai siswa perempuan  harus belajar, harus bisa.  Apa yang dikerjalan mama di rumah kita bantu untuk kerja, supaya sebagai ‘anak’ ada gunanya. Sebagai anak laki, ya berusaha kerja di rumah , membantu bapak. Menanam sayur, membersihkan kebun, bebenah rumah atau  lainnya. Bantulah orang tua supaya  kamu bisa membanggakan mereka.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru.  Inilah kebahagiaan  kecil  saya. Sederhana !. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri.

Tak perlu menjadi “unicorn”. Kita manusia biasa, ingin belajar, terus belajar dan terus berusaha walau sudah tua. Tugas saya sebagai guru dan orang tua adalah mendampingi dan mengarahkan yang muda-muda. Berjuang dari sekarang. Bertekun memang dari sekarang. Tak boleh malas dan hanya berpangku tangan. Kerja keras dan berusaha adalah kuncinya. Supaya kelak mereka hidup lebih ‘berharga.  Hidup  ‘cukup’.  Hidup lebih ‘baik’ dari orangtuanya. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

 Akhirnya. Sampai disini  saya cerita. Sederhana kita tuangkan lewat kata-kata. Semoga bisa berguna. Yah!,  minimal  bisa  menjadi kenangan untuk diri sendiri, siapa tahu ada saudara,sahabat dan handai taulan  juga rela meluangkan waktunya untuk  membaca. Lebih membanggakan lagi jika bisa  bermanfaat. Bisa menjadi kenangan indah dan membanggakan hati. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga pandemi  cepat berlalu.

 

#Kenangan saat pandemi corona melanda ibu pertiwi

#Mentaati protokol kesehatan 3M: Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air yang mengalir

#Trimakasih Ibu Lilis Sutikno dan pak Sahat S Naibaho  sudah memotivasi saya sebagai penulis pemula

 

Moto :

Semangat dalam  menggapai  cita-cita . Tersenyum dalam setiap perjuangan. Berdoa dalam setiap usaha. Tuhan pasti  memberi jalan  dan harapan. Dia senantiasa membimbing dari waktu ke waktu, sehingga  bukti nyata akan  ada. Harus Bisa!. Semangat!!

 

 

 

Profil Penulis

“Ledwina Eti adalah nama facebooknya, bernama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal, kelurahan Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta  Fakultas Pendidikan Matematika (D3)tahun 1989 dan  lanjut UT UPJJ Kupang (S1). Saat ini  tercatat sebagai guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro  Timor Timur pada tahun 1990 – 1992 kemudian  di mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...