Cerpen 1
Disebuah dusun kecil hiduplah keluarga kecil yang bahagia. Mereka termasuk keluar terpandang. Hidup mereka
cukup bahkan boleh dibilang berlebihan
karena memiliki tanah yang luas. Ladang dan kebun yang luas,
serta sawah yang berhektar-hektar.
Ternakpun banyak, hingga ratusan ekor. Ada sapi, kerbau dan kuda peliharaannya. Mereka hanya
dikaruniai 1 sanak saja. Dotir
namanya. Nama itu kenangan karena
pertama kali ada dokter masuk di kampungnya. Untuk mengabadikan namanya
dipanggilnya anak semata wayangnya itu
dengan Dotir. Sebagai panggilan kesayangannya. Nama Asli dokter adalah Umbu Raja
Maramba. Dipanggil Dotir karena lidah kampung susah menyebut kata ‘Dokter’.
Bapaknya
Dotir, Umbu Roangga dan mamanya Rambu
May mereka hidup bahagia. Umur 6 tahun Dotir kecil disekolahkan SD dikampung sebelah. Jarak 4 km dari rumah. Dia berjalan kaki. Di sekolah Dotir mempunyai
banyak teman. Ia tak pernah memilih teman, baik yang miskin maupun yang kaya. Dia disukai
teman-temannya. Dia termasuk anak
yang cerdas, hingga dia jadi panutan setiap temannya. Di kelas
dia selalu jadi juara, betapa bahagianya orang tua Dotir.
Tak terasa Dotir
sudah remaja, kini dia sudah lulus di
SD-nya. Mamanya mendaftarkan dia masuk
SMP di kota. Dia harus kos. Maklum tidak ada
keluarga di kota. Hari demi hari dilalui sebagai siswa SMP. Orang tua
mengganggap Dotir sudah dewasa, dotir sudah bisa mandiri. Di sekolah ia
berkenalan dengan Sarti. Ternyata Sarti anak dari kampung sebelah. Siswa
baru juga. Sarti orang miskin tak berpunya
bahkan hidup terlunta-lunta. Dia hidup
bersama ibunya yang sudah janda karena bapaknya
meninggal saat Sarti masih balita. Untuk biaya sekolahnya, mama Sarti jualan kayu api. Dia cari kayu di hutan
kemudian dititipkan dengan ‘bis kayu’ (truk
yang dimodif sehingga untuk bis penumpoang: Red) untuk di jual di kota. Senang
Dotir berteman dengan Sarti karena anaknya
baik, pintar dan bisa membawa diri.
Tahun pun berganti.
Tak terasa Dotir kini sudah lulus SMP. Ia harus lanjut ke SMA. Berkat nilai
yang bagus, Dotir bisa sekolah di SMA
terfavorit di kota itu. Sedang Sarti
harus berhenti dulu sekolahnya. Dia dan ibunya menabung dulu. Rencana tahun depan baru masuk SMA. Mereka
menyadari akan keadaan ekonominya yang teramat sangat kurang..
Kini Dotir resmi
menjadi peserta didik SMA. Kerenn!!.
Begitu bangga terasa di lubuk hatinya.
Dia berkenalan denga Boby, Denny
dan Roland. Ternyata ketiga temannya itu
adalah anak-anak pejabat di kota itu.
Hidup mereka berhura-hura,
foya-foya karena memang mereka
bergelimang harta. Dotir sudah masuk
dalam jaringan mereka. Dia tidak bisa
menghindar. Apalagi dia kos sendiri jadi tak berdaya untuk melawan
mereka. Terbentuklah ‘geng’ dimana Dotir
adalah salah satu anggota mereka. Temannya bukan memberi motivasi
positif, tapi dia diperkenalkan pada hal-hal yang tidak pernah dotir alami. Demi
harga diri Dotir akhirnya menyesuaikan
dengan kehidupan mereka. Dotir tak kuasa menolak permintaan mereka.
Dotir harus menyesuaikan kehidupan mereka.
Misal ikut-ikutan minum-minuman
keras, jika Dotir menolak mereka bilang “Ahh!!” “Kampungan” kamu!. Kalau diajak ngebut-ngebutan, dotir menolak
dikata : “ Banci kau ya!, Masak anak muda nggak bisa ngebut naik motor??.Gengsi dong!! Kadang merekapun mengajaknya ‘Judi’ ya!!..Judi dengan kartu!!. Orang tua
tidak pernah tahu kalau Dotir sudah ‘terjerumus’ dalam pergaulan yang tidak baik. Orang tua dengan lugunya selalu meluluskan permintaannya. Ortu selalu berpikir positif, karena orang tua tahu Dotir adalah anak baik, anak
pintar dan anak yang selalu hormat pada
orang tua.
Hari demi hari
dilalui. Bulan pun berganti. Ulah Dotir semakin menjadi. Dia mulai marah kalau permintaanya tidak
dituruti. Saat itu minta uang, mengharap saat itu pula harus ada!!.
Satu-satunya yang bisa diuangkan hanya hewan. Jual hewan perlu proses. Sedih!! Perih!!. Betapa sakit hati orang tuanya. Dotir telah ‘berubah’. Sekarang kalau minta sesuatu harus pakai marah-marah. Dua
tahun sudah waktu berjalan. Bapaknya tak tahan menghadapi sikap Dotir. Akhinya
Bapaknya jatuh sakit. Dotirpun tak pernah peduli dengan ayahnya. Terus-menerus dia minta uang, kalau
tidak dituruti, dia ‘maki’. Dia Jahat!!, Ya! Dia sudah
terlalu jahat!!. Kalau minta uang, dengan wajah yang mabuk karena
minum minuman keras. Mata melotot, mulut bau alkohol. Ibunya hanya bisa
menangis. Ayahnya yang terbaring lemah, hanya bisa menatap tak berdaya....
Ortunya sudah ada di titik ‘nadir’. Satu persatu hewan dijualnya. Uang habis
pulang, jual hewan lagi. Habis lagi uang
!! Pulang lagi!, jual lagi!. Begitu seterusnya. Karena Bapak dan mamanya sudah tua, mereka pun
tak mampu lagi menggarap sawahnya. Tanahnya dibiarkan saja, tak dikelola.
Dotir mulai
menguasai ternak milik orang tuanya. Tak segan-segan ia
menjualnya sendiri. Uang hasil jualan hewan dipakai bereforia bersama teman
‘geng’nya. Dia bersama teman-temannya sering kali dapat surat panggilan dari
sekolahnya. Tapi tak pernah disampaikan kepada orang tuanya. Apalagi Dotir!.Orang
tua di kampung, buta huruf pula. Kampung yang sangat jauh dari kota. Setiap
ada surat panggilan selalu dirobeknya,
dibuangnya. Begitulah!!. Dia sudah jadi anak yang ‘bejat’. Tak tahu diri dan
sedikitpun tak punya perasaan. Hari-hari
diisi dengan mimpi, mabuk bahkan
judi.
Orang tua di
kampung berdoa dan terus berdoa.Mohon
kebesaran Tuhan. Kondisi Bapak Dotir semakin lama semakin lemah tak
berdaya. Dia memberikan
hak atas ternak kepada anak kesayangannya. Mamapun tak bisa berbuat banyak. Ia iklaskan untuk Dotir yang
mengelola. Kesempatanpun tak disia siakan
oleh Dotir, dia jual-jual hewan
orang tuanya. Penjaga hewan pun tak berdaya karena ‘tuan’nya yang minta.
Dotir berdalih bahwa hasil
jualan hewan untuk berobat bapaknya, padahal tidak. Tidak sama sekali!!
Bapaknya tetap sakit, lemah dan tak berdaya.
Suatu hari
mamanya pergi ke kandang
untuk menemui sang penjaga hewan. Kagetlah mama!! Jantung berdebar kencang begitu melihat hewan
tinggal 6 ekor. Dihitungnya
berulang-ulang. Akhirnya dia bertanya kepada Minggus dan Hanis penjaga hewan
itu: ”Di mana hewan yang lain??” :tanya
mama kepada mereka. “Umbu Dotir sudah
jual-jual, katanya untuk berobat Bapak
Umbu” : Jawab mereka dengan penuh sopan kepada tuan putrinya. Betapa sakit hati
mamanya mendengar kabar itu. Betapa sedihnya kalau bapaknya tahu akan hal itu.
Sakit akan semakin parah. Dengan
berjalan lunglai dan gontai akhirnya
mama umbu meninggalkan kandang. Bada tersa tak bertulang, Lemas sekali.
Sesak rasa didada, begitu deras deraian
airmata membasahi pipinya. Duka, lara,
sedih, pilu bercampur aduk menjadi satu.
“Tuhaaannnn!!!”: seru mama Dotir di
dalam hatinya yang sudah rapuh. Apa yang harus
kusampaikan kepada Bapaknya.
Bagaimana kalau Bapak umbu tahu yang
sebenarnya???
Hati Mama Dotir selalu gundah dan gelisah. Kapan dia
menceritakan yang sebenarnya kepada suaminya?.
Sudah berbulan-bulan dotir tidak
memperlihatkan batang hidungnya. Dulu setiap bulan selalu datang. Dia datang
dengan sopan untuk menutupi kemunafikannya. Mama dotir rinduu......sekali pada
anaknya. Bapak Dotir pun kadang sampai menggigau memanggil
namanya. Dotir memang sudah ‘bebal’. Dia sudah
kesurupan setan. Mustinya dia punya tanggung jawab untuk
selalu hadir dan menengok orang tuanya
yang sudah tua. Eh tidak!! Tidak sama
sekali!!. Kalau dia masih ‘waras’ dan
ada ‘rasa’pasti ada kontak batin
antara orang tua dan anak yang
disayanginya.
Akhirnya, dengan
adanya pandemi covid-19 membawanya dotir
pulang ke kampung, kebetulan ada BDR ( belajar Di rumah) sudah selesai. Sekolah
tak lagi tatap muka. PAS ( Penilaian Akhir Semester) juga sudah habis. Saatnya anak-anak
libur dan tinggal menunggu terima rapot.
Sinyal memang sama
sekali tak ada karena dikampung Dotir terlalu terbelakang. Daerah terpencil!!.
Mayoritas penduduknya pun masih beragama ’Marapu”. Sungguh!! , kampungnya sangat
terbelakng, belum pernah ada sentuhan pembangunan dan kemajuan sama
sekali. Mereka hidup masih ‘sangat’
minim’. Hanya orang ‘tertentu saja yang
bisa sekolah di kota, karena harus perlu
’biaya’ ekstra. Tak heran kalau anak-anak umur sekolah sudah berkeluarga, mempunyai anak dan tidak
sekolah.
Dotir datang dari
kota. Dia menghampiri mamanya dan mencium tangannya. Mama tak tahan menahan
sesak di dada. Diantarnya Dotir masuk ke kamar Bapaknya. Dotir pun kaget
dibuatnya melihat kondisi Bapaknya. Sudah kuurruusss sekali. Tinggal kulit pembalut tulang. Muka terlihat
pucat pasi. Dotir menciumnya, isak tangis ketiganya pun pecah. Hening....sunyi....., hanya isak tangis yang terdengar. Ditariklah tangan dotir kedada bapaknya. Mereka berbicara dengan bahasa Sumba. Artinya kita-kira, Kamu sudah dewasa, jagalah ternak kita. Sayangi mamamu yang
sudah mulai renta. Pulanglah terus. Tinggallah di kampung. Tak usah kau sekolah
lagi. Bapak tak sanggup membiayamu lagi. Akhirnya bapak memejamkan matanya. Dia
tidur untuk selama-lamanya. Betapa terpukulnya hati mamanya. Dotir menangis, pilu
sedih,...air ata deras membasahi
pipinya. Betapa Dotir merasa bersalah. Dotir pasti akan menyesali seumur hidupnya.
Karena ulahnya, orang tua jadi hidup sengsara.
Menderita. Bahkan bapaknya sampai
meninggalkan mereka untuk
selamanya.
Kini....Dotir tinggal
bersama mamanya. Hidup sepi tanpa bapanya lagi. Dotir tinggal merenungi
nasibnya. Menjadi orang miskin papa, tak sekolah pula. Hidup dijalani
dengan keprasahan, keiklasan.
Mereka tetap mensyukuri, Tuhan Sudah membawa dia pulang. Menemani Mamanya.
Yach!! Mau bagaimana lagi. Nasi sudah
menjadi bubur.
Seiring berjalannya
waktu, tak terasa 5 tahun
sudah berlalu kehidupan dengan mamanya. Hidup miskin dan penuh kesederhaan. Tak sengaja
dia bertemu Sarti anak penjual kayu api.
Kini Sarti sudah Sarjana dan ditugaskan menjadi guru di SMPnya dulu. Sarti senang bertemu dengan Dotir, akhirnya mereka saling bercerita. Sharing pribadi masa lalu hingga masa kini. Dotir menarik nafas panjang menceritakan semua
yang telah terjadi kepada sahabatnya
itu.
Akhirnya Dotir
berkata, saya sudah menyesali perbuatannya. Semua ini karena ketidakpatuhan
saya kepada orang tua. Biar saya
menangis darah tak akan kembali seperti semula. Semoga Tuhan mengampuni saya.
Saya adalah anak durhaka!!. Saya penjahat!! Saya pantas dihukum!!. Terdengar
teriak dan isak tangis Dotir begitu menyesali masa lalunya. Sekarang Dotir harus
bekerja keras untuk hidupnya.
Menemani ibunya yang sudah tua renta. Dia harus mencari rumput sendiri
untuk memberi makan 3 ekor hewan ternak yang tersisa. Para penggembala
sudah ‘lari’ semua. Hewan tak ada lagi yang di jaga. Sedih!! Pilu rasa sesak di
dada, hati pun serasa tersayat sembilu.
Semua sudah terjadi!. Sesal kemudian tak ada guna. Meratapi dengan tangis pun bukan solusi.
Kini saatnya refeksi
diri. Untuk mengisi hari-hari yang masih
panjang. Meniti masa depan untuk kebahagiaan tentunya. Harus bangkit!!. Harus
Semangat!! Harus berani hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Pelihara hewan baik-baik.
Jaga dengan penuh kasih sayang supaya terus
berkembang. Tak ada keberhasilan yang
instan, semua perlu proses. Umbu
Dotir!!, selamat berproses. Jerih lelah, peluh keringat, kerja keras adalah
awal dari sebuah keberhasilan. Hidup baik perlu perjuangan dan usaha.
Semoga pembaca cerita
ini bisa mengambil hikmanya. Itulah ‘hasil’
anak yang suka eforia di atas
penderitaan orang lain. Anak yang tak
bisa membuat orang tua bahagia. Anak yang
mencari kebahagiaan sesaat. Anak
yang jadi korban kenakalan remaja.
Kiranya adik-adik yang masih sekolah,
gunakan waktu sebaik -baiknya untuk belajar. Melakukan hal yang baik. Berakit-rakit
dahulu berenang-reng ketepian. Bersakit-sakit daluhu bersenang –senang kemudian.
Contohlah, Sarti. Dari menderita kini sudah sarjana. Betapa bahagianya Orang
tua dibuatnya. Salam!
“Ledwina
Eti adalah nama facebooknya, nama lengkap ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd.
Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal,
kelurahan Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis
Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma
Jogyakarta Fakultas Pendidikan
Matematika tahun 1989 dan lanjut UT UPJJ
Kupang. Saat ini tercatat sebagai guru matematika
di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri
Maliana Bobonaro Timor Timur pada tahun
1990 – 1992 kemudian di mutasi di SMA
Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala,
Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
Motto: Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar