Rabu, 30 Desember 2020

Maafkan Ayah....Aku terlena

 


Cerpen 1

 

            Disebuah  dusun kecil hiduplah  keluarga kecil yang bahagia. Mereka  termasuk keluar terpandang. Hidup mereka cukup bahkan boleh dibilang  berlebihan karena  memiliki  tanah yang luas. Ladang dan kebun yang luas, serta  sawah yang berhektar-hektar. Ternakpun banyak, hingga ratusan ekor. Ada sapi, kerbau dan kuda  peliharaannya.  Mereka hanya  dikaruniai 1 sanak saja.  Dotir namanya. Nama itu kenangan karena  pertama kali ada dokter masuk di kampungnya. Untuk mengabadikan namanya dipanggilnya  anak semata wayangnya itu dengan Dotir. Sebagai panggilan kesayangannya. Nama Asli dokter adalah Umbu Raja Maramba. Dipanggil Dotir karena lidah kampung susah menyebut kata ‘Dokter’.

            Bapaknya Dotir, Umbu Roangga dan  mamanya Rambu May mereka hidup bahagia. Umur 6 tahun Dotir kecil disekolahkan  SD  dikampung  sebelah. Jarak 4 km dari rumah. Dia  berjalan kaki. Di sekolah Dotir mempunyai banyak teman.  Ia tak pernah  memilih teman, baik yang miskin  maupun yang kaya.  Dia disukai  teman-temannya.  Dia termasuk anak yang cerdas, hingga dia jadi panutan setiap temannya.  Di kelas  dia selalu jadi juara, betapa bahagianya orang  tua Dotir.

Tak terasa Dotir sudah remaja, kini dia  sudah lulus di SD-nya. Mamanya  mendaftarkan dia masuk SMP di kota. Dia harus kos. Maklum tidak ada  keluarga di kota. Hari demi hari dilalui sebagai siswa SMP. Orang tua mengganggap Dotir sudah dewasa, dotir sudah bisa mandiri.  Di sekolah ia  berkenalan dengan Sarti. Ternyata Sarti anak dari kampung sebelah. Siswa baru juga.  Sarti orang miskin tak berpunya bahkan hidup  terlunta-lunta. Dia hidup bersama ibunya yang  sudah janda karena bapaknya meninggal saat Sarti masih balita. Untuk biaya sekolahnya, mama  Sarti jualan kayu api. Dia cari kayu di hutan kemudian dititipkan  dengan ‘bis kayu’ (truk yang dimodif sehingga untuk bis penumpoang: Red) untuk di jual di kota. Senang Dotir berteman dengan Sarti karena anaknya  baik, pintar dan bisa membawa diri.

Tahun pun berganti. Tak terasa Dotir kini sudah lulus SMP. Ia harus lanjut ke SMA. Berkat nilai yang bagus, Dotir bisa  sekolah di SMA terfavorit di kota itu. Sedang  Sarti harus  berhenti  dulu sekolahnya.  Dia dan ibunya menabung dulu.  Rencana tahun depan baru masuk SMA. Mereka menyadari akan keadaan ekonominya yang teramat sangat kurang..

Kini Dotir resmi menjadi  peserta didik SMA. Kerenn!!. Begitu bangga terasa di lubuk hatinya.  Dia berkenalan denga  Boby, Denny dan Roland. Ternyata  ketiga temannya itu adalah  anak-anak pejabat di kota itu. Hidup mereka  berhura-hura, foya-foya  karena memang mereka bergelimang harta. Dotir  sudah masuk dalam jaringan mereka. Dia  tidak bisa menghindar.  Apalagi dia  kos sendiri jadi tak berdaya untuk melawan mereka. Terbentuklah ‘geng’ dimana Dotir  adalah salah satu anggota mereka. Temannya bukan memberi motivasi positif, tapi  dia diperkenalkan pada  hal-hal yang tidak pernah dotir alami. Demi harga diri Dotir akhirnya menyesuaikan  dengan kehidupan mereka. Dotir tak kuasa menolak permintaan mereka. Dotir harus menyesuaikan kehidupan mereka.  Misal ikut-ikutan   minum-minuman keras, jika Dotir menolak mereka bilang  “Ahh!!”  “Kampungan” kamu!.  Kalau diajak ngebut-ngebutan, dotir menolak dikata  : “ Banci  kau ya!, Masak anak muda  nggak bisa ngebut naik motor??.Gengsi dong!!  Kadang merekapun mengajaknya  ‘Judi’ ya!!..Judi dengan kartu!!. Orang tua tidak pernah tahu kalau Dotir sudah ‘terjerumus’ dalam pergaulan yang  tidak baik. Orang tua  dengan lugunya  selalu meluluskan permintaannya.  Ortu selalu berpikir positif, karena  orang tua tahu Dotir adalah anak baik, anak pintar dan  anak yang selalu hormat pada orang tua.

Hari demi hari dilalui. Bulan pun berganti. Ulah Dotir semakin menjadi. Dia  mulai marah kalau permintaanya tidak dituruti. Saat itu minta uang, mengharap saat itu pula harus ada!!. Satu-satunya yang bisa diuangkan hanya hewan. Jual hewan perlu proses.  Sedih!! Perih!!. Betapa  sakit hati orang tuanya. Dotir  telah ‘berubah’. Sekarang kalau  minta sesuatu harus pakai marah-marah. Dua tahun sudah waktu berjalan. Bapaknya tak tahan menghadapi sikap Dotir. Akhinya Bapaknya  jatuh sakit.  Dotirpun tak pernah peduli dengan  ayahnya. Terus-menerus dia minta uang, kalau tidak dituruti, dia ‘maki’. Dia Jahat!!, Ya! Dia  sudah  terlalu jahat!!. Kalau minta uang, dengan wajah yang mabuk karena minum  minuman keras. Mata melotot,  mulut bau alkohol. Ibunya hanya bisa menangis. Ayahnya yang terbaring lemah, hanya bisa menatap tak berdaya.... Ortunya sudah ada di titik ‘nadir’. Satu persatu hewan dijualnya. Uang habis pulang, jual  hewan lagi. Habis lagi uang !! Pulang lagi!, jual lagi!. Begitu seterusnya. Karena  Bapak dan mamanya sudah tua, mereka pun tak  mampu lagi menggarap sawahnya.  Tanahnya dibiarkan saja, tak dikelola.

Dotir mulai menguasai  ternak  milik orang tuanya. Tak segan-segan ia menjualnya sendiri. Uang hasil jualan hewan dipakai bereforia bersama teman ‘geng’nya.  Dia bersama teman-temannya  sering kali dapat surat panggilan dari sekolahnya. Tapi tak pernah disampaikan kepada orang tuanya. Apalagi Dotir!.Orang tua di kampung, buta huruf pula. Kampung yang sangat jauh dari kota. Setiap ada  surat panggilan selalu dirobeknya, dibuangnya.  Begitulah!!. Dia sudah  jadi anak yang ‘bejat’. Tak tahu diri dan sedikitpun tak punya  perasaan.  Hari-hari  diisi dengan mimpi, mabuk  bahkan judi.

Orang tua di kampung  berdoa dan terus berdoa.Mohon kebesaran Tuhan. Kondisi Bapak Dotir semakin lama semakin lemah tak berdaya.  Dia  memberikan  hak atas ternak kepada anak kesayangannya.  Mamapun tak bisa berbuat  banyak. Ia iklaskan untuk Dotir yang mengelola. Kesempatanpun tak disia siakan  oleh Dotir, dia jual-jual  hewan orang tuanya.  Penjaga hewan pun tak  berdaya karena ‘tuan’nya yang  minta.  Dotir berdalih  bahwa hasil jualan  hewan untuk berobat  bapaknya, padahal tidak. Tidak sama sekali!! Bapaknya tetap sakit,  lemah  dan tak berdaya.

Suatu hari mamanya  pergi ke  kandang  untuk menemui sang penjaga hewan. Kagetlah mama!! Jantung  berdebar kencang begitu melihat  hewan  tinggal 6 ekor.  Dihitungnya berulang-ulang. Akhirnya dia bertanya kepada Minggus dan Hanis penjaga hewan itu: ”Di mana  hewan yang lain??” :tanya mama kepada mereka. “Umbu Dotir  sudah jual-jual,  katanya untuk berobat Bapak Umbu” : Jawab mereka dengan penuh sopan kepada tuan putrinya. Betapa sakit hati mamanya mendengar kabar itu. Betapa sedihnya kalau bapaknya tahu akan hal itu. Sakit akan semakin parah. Dengan  berjalan lunglai dan gontai akhirnya  mama umbu meninggalkan kandang. Bada tersa tak bertulang, Lemas sekali. Sesak rasa didada,  begitu deras deraian airmata  membasahi pipinya. Duka, lara, sedih, pilu  bercampur aduk menjadi satu. “Tuhaaannnn!!!”:  seru mama Dotir di dalam hatinya yang sudah rapuh. Apa yang harus  kusampaikan kepada  Bapaknya. Bagaimana kalau Bapak umbu  tahu yang sebenarnya???

Hati Mama Dotir  selalu gundah dan gelisah. Kapan dia menceritakan yang sebenarnya kepada suaminya?.  Sudah berbulan-bulan dotir tidak  memperlihatkan batang hidungnya. Dulu setiap bulan selalu datang. Dia datang dengan sopan untuk menutupi kemunafikannya. Mama dotir rinduu......sekali pada anaknya.  Bapak Dotir pun  kadang sampai menggigau memanggil namanya.  Dotir memang sudah ‘bebal’. Dia  sudah  kesurupan  setan.  Mustinya dia punya tanggung jawab untuk selalu hadir dan  menengok orang tuanya yang sudah tua. Eh  tidak!! Tidak sama sekali!!.  Kalau dia masih ‘waras’ dan ada ‘rasa’pasti  ada kontak batin antara  orang tua dan anak yang disayanginya.

Akhirnya, dengan adanya pandemi covid-19  membawanya dotir pulang ke kampung, kebetulan ada BDR ( belajar Di rumah) sudah selesai. Sekolah tak lagi tatap muka. PAS ( Penilaian Akhir Semester) juga sudah habis. Saatnya  anak-anak  libur dan tinggal menunggu terima rapot.  

Sinyal memang sama sekali tak ada karena dikampung Dotir terlalu terbelakang. Daerah terpencil!!. Mayoritas penduduknya pun masih beragama ’Marapu”. Sungguh!! , kampungnya  sangat  terbelakng, belum pernah ada sentuhan pembangunan dan kemajuan sama sekali. Mereka  hidup masih ‘sangat’ minim’. Hanya orang ‘tertentu saja  yang bisa sekolah di kota, karena  harus perlu ’biaya’ ekstra. Tak heran kalau anak-anak umur sekolah  sudah berkeluarga, mempunyai anak dan tidak sekolah.

Dotir datang dari kota. Dia menghampiri mamanya dan mencium tangannya. Mama tak tahan menahan sesak di dada. Diantarnya Dotir masuk ke kamar Bapaknya. Dotir pun kaget dibuatnya  melihat kondisi Bapaknya.  Sudah kuurruusss sekali.   Tinggal kulit pembalut tulang. Muka terlihat pucat pasi.  Dotir menciumnya,  isak tangis ketiganya pun pecah.  Hening....sunyi....., hanya isak tangis  yang terdengar.  Ditariklah tangan dotir  kedada bapaknya. Mereka  berbicara dengan bahasa Sumba.  Artinya kita-kira,  Kamu sudah dewasa,  jagalah ternak kita. Sayangi mamamu yang sudah mulai renta. Pulanglah terus. Tinggallah di kampung. Tak usah kau sekolah lagi. Bapak tak sanggup membiayamu lagi. Akhirnya bapak memejamkan matanya. Dia tidur untuk selama-lamanya. Betapa terpukulnya hati mamanya. Dotir menangis, pilu sedih,...air ata  deras membasahi pipinya. Betapa Dotir merasa bersalah.  Dotir pasti akan menyesali seumur hidupnya. Karena ulahnya, orang tua jadi hidup sengsara.  Menderita. Bahkan bapaknya sampai  meninggalkan mereka untuk  selamanya.

Kini....Dotir tinggal bersama mamanya. Hidup sepi tanpa bapanya lagi. Dotir tinggal merenungi nasibnya. Menjadi orang miskin papa, tak sekolah pula. Hidup  dijalani  dengan  keprasahan, keiklasan. Mereka  tetap mensyukuri, Tuhan  Sudah membawa dia pulang. Menemani Mamanya. Yach!!  Mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. 

Seiring berjalannya waktu,  tak terasa 5  tahun  sudah berlalu kehidupan dengan mamanya. Hidup  miskin dan penuh kesederhaan. Tak sengaja dia  bertemu Sarti anak penjual kayu api. Kini  Sarti sudah Sarjana  dan ditugaskan  menjadi guru di SMPnya  dulu. Sarti senang bertemu dengan  Dotir, akhirnya mereka  saling bercerita. Sharing pribadi  masa lalu hingga masa kini. Dotir  menarik nafas panjang menceritakan semua yang  telah terjadi kepada sahabatnya itu.

Akhirnya Dotir berkata, saya sudah menyesali perbuatannya. Semua ini karena ketidakpatuhan saya kepada orang tua.  Biar saya menangis darah tak akan kembali seperti semula. Semoga Tuhan mengampuni saya. Saya adalah anak durhaka!!. Saya penjahat!! Saya pantas dihukum!!. Terdengar teriak dan isak tangis Dotir begitu menyesali masa lalunya. Sekarang  Dotir harus  bekerja keras untuk  hidupnya. Menemani ibunya yang  sudah  tua renta. Dia harus mencari rumput sendiri untuk  memberi makan 3 ekor  hewan ternak yang tersisa. Para penggembala sudah ‘lari’ semua. Hewan tak ada lagi yang di jaga. Sedih!! Pilu rasa sesak di dada, hati pun serasa tersayat sembilu.  Semua sudah terjadi!. Sesal kemudian tak ada guna. Meratapi  dengan tangis pun bukan solusi.

Kini saatnya refeksi diri. Untuk  mengisi hari-hari yang masih panjang. Meniti masa depan untuk kebahagiaan tentunya. Harus bangkit!!. Harus Semangat!! Harus berani hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Pelihara hewan baik-baik. Jaga dengan penuh kasih sayang supaya  terus berkembang. Tak ada  keberhasilan yang instan,  semua perlu proses. Umbu Dotir!!, selamat berproses. Jerih lelah, peluh keringat, kerja keras adalah awal dari sebuah keberhasilan. Hidup baik perlu perjuangan dan usaha.

Semoga pembaca cerita ini bisa mengambil hikmanya. Itulah ‘hasil’  anak yang  suka eforia di atas penderitaan orang lain. Anak yang  tak bisa membuat orang tua bahagia. Anak yang  mencari  kebahagiaan sesaat. Anak yang jadi korban  kenakalan remaja. Kiranya  adik-adik yang masih sekolah, gunakan waktu sebaik -baiknya untuk belajar. Melakukan hal yang baik. Berakit-rakit dahulu berenang-reng ketepian. Bersakit-sakit daluhu bersenang –senang kemudian. Contohlah, Sarti. Dari menderita kini sudah sarjana. Betapa bahagianya Orang tua dibuatnya. Salam!

 

 

 

 

 

“Ledwina Eti adalah nama facebooknya, nama lengkap ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal, kelurahan Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta  Fakultas Pendidikan Matematika tahun 1989 dan  lanjut UT UPJJ Kupang. Saat ini  tercatat sebagai guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro  Timor Timur pada tahun 1990 – 1992 kemudian  di mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...