.

Writing for Wellness – 25

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Telah dipahami bersama, bahwa manusia memiliki banyak jenis kecerdasan. Ini yang sering disebut sebagai multiple intelligences atau kecerdasan berganda. Zaman dulu, manusia sering dilihat hanya dari satu jenis kecerdasan saja, misalnya IQ atau kecerdasan intelektual.

Belakangan diketahui bahwa ada sangat banyak jenis kecerdasan yang dimiliki manusia, salah satunya adalah emotional intelligence (EI) atau emotional quotient (EQ). Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami dan mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain.

Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional muncul sebagian besar pada neurotransmitter dari sistem limbik otak, yang mengatur perasaan, impuls, dan dorongan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem limbik belajar paling baik melalui motivasi, latihan rutin, dan umpan balik.

Goleman menyatakan, kecerdasan emosional memiliki 5 (lima) kualitas, yaitu (1) self-awareness (2) self-regulation (3) empathy (4) motivation dan (5) social skills. Self-awareness (kesadaran diri) adalah mengenali diri sendiri baik sisi kekuatan serta kelemahan. Orang yang memiliki self-awareness mampu mengenali bagaimana kondisi emosinya memengaruhi diri sendiri dan orang lain.

Self-regulation atau regulasi diri adalah kemampuan untuk mengendalikan impuls sehingga bisa bersikap tepat dalam menghadapi berbagai kondisi. Misalnya bersikap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap kesalahan. Bisa mengendalikan emosi dengan baik, sehingga tidak meledak-ledak dalam kegembiraan maupun kemarahan.

Empathy atau empati membuat seseorang menempatkan diri pada posisi orang lain. Orang yang mampu menunjukkan empati akan menumbuhkan kepercayaan sehingga mampu menjalin hubungan yang kuat. Motivation artinya memiliki hasrat untuk mencapai tujuan dengan tulus.

Social skills atau keterampilan sosial tidak hanya berarti bersahabat dengan orang lain. Namun bisa melibatkan orang lain, mengembangkan hubungan, dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan. Ini adalah kualitas yang sangat penting di dalam ranah kecerdasan emosional.

Mengembangkan Kecerdasan Emosional dengan Tulisan

Sangat banyak cara mengembangkan kecerdasan emosional. Berbagai pelatihan dan pembiasaan yang berkorelasi dengan upaya menghaluskan budi pekerti, mengenali diri sendiri, melatih emosi, adalah cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Menulis diketahui menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kecerdasan emosional.

Sebuah studi dilakukan oleh Kaiqi Shao dan tim, menguji hubungan antara kecerdasan emosional dan kemampuan menulis. Partisipan penelitian terdiri dari 68 mahasiswa sebuah universitas di HangZhou, Cina. Penelitian yang dilakukan tahun 2013 tersebut memberikan hasil yang penting untuk pengembangan kecerdasan emosional.

Kepada partisipan dilakukan tes kemampuan menulis dan tes kecerdasan emosional menggunakan TEIQue-ASF (Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Adolescent Short Form). Hasil studi menemukan hubungan positif yang kuat antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menulis. Artinya, semakin bagus kemampuan menulisnya, semakin bagus pula kecerdasan emosionalnya.

Studi lain dilakukan oleh Karim Sadeghi, melibatkan mahasiswa dengan rentang usia 18-25 tahun. Partisipan diberikan tes menulis dikorelasikan dengan nilai kecerdasan emosional mereka, yang telah dinilai sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kemampuan menulis dan kecerdasan emosional, khususnya dalam membangun kesadaran diri.

Studi juga dilakukan oleh Faizal Arvianto di tahun 2016, terhadap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Hasil analisis menemukan hubungan positif antara kecerdasan emosional dan kemampuan menulis argumentasi pada mahasiswa. Ini semakin menguatkan pemahaman, bahwa kecerdasan emosional bisa ditingkatkan dengan kegiatan menulis.

Sebagaimana telah ditunjukkan dalam berbagai studi di atas, ditemukan hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan menulis. Hal ini berlaku timbal balik. Semakin baik kecerdasan emosional seseorang, bisa meningkatkan kualitas tulisannya. Semakin baik kemampuan menulis seseorang, bisa meningkatkan kecerdaan emosional.

Rosalind Atkinson (2017), “Be a whole human, not a brain with a keyboard”. Jadilah manusia seutuhnya, bukan segumpal otak dengan keyboard. Sebuah sindiran yang bagus untuk kita semua. Menjadi manusia utuh, artinya mengembangkan berbagai kecerdasan. Bukan semata bertumpu pada kecerdasan otak atau logika semata, yang diekspresikan melalui keyboard.

Selamat menulis, selamat menikmati kecerdasan emosional.

Bahan Bacaan