.
Writing for Wellness – 52
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Pada tahun 2020, diperkirakan 15,6 juta jiwa masyarakat Indonesia mengalami depresi –Halodoc, 2020.
.
Depresi merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang.
Biasanya ditandai dengan suasana perasaan murung, perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.
Menurut Arhatya Marsasina (2016), prevalensi penderita depresi di Indonesia diperkirakan 2,5 hingga 9 juta jiwa pada tahun 2016. Pada tahun 2020, diperkirakan 15,6 juta jiwa masyarakat Indonesia mengalami depresi (Halodoc, 2020).
Setelah mencapai pubertas, resiko depresi meningkat 2 hingga 4 kali lipat, dengan 20% insiden pada usia 18 tahun. Perbandingan gender saat anak-anak 1:1. Dengan peningkatan resiko depresi pada wanita setelah pubertas, perbandingan pria dan wanita menjadi 1:2. Hal ini berhubungan dengan tingkat kecemasan pada wanita tinggi, perubahan estradiol dan testosteron saat pubertas, atau persoalan sosial budaya yang berhubungan dengan perkembangan kedewasaan pada wanita (Marsasina, 2016).
Menurut Marsasina, di antara gejala depresi adalah kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi, meningkatnya keadaan mudah lelah, menurunnya produktivitas. Gejala lainnya adalah konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, perasaan bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan psimistik. Di level tertentu muncul gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri.
Menulis Ekspresif Meredakan Depresi Ringan
Sebenarnya, depresi ringan adalah hal yang sangat lumrah terjadi dalam kehidupan manusia modern. Terlebih lagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Banyak kalangan masyarakat yang dilanda kecemasan terkait resiko terinfeksi Covid-19 ditambah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Untuk itu, diperlukan intervensi untuk meredakan depresi ringan agar tidak berkembang menjadi depresi sedang apalagi depresi berat. Hendaknya kita bisa memahami gejala depresi ringan, agar bisa melakukan tindakan untuk meredakan atau menghilangkannya.
Ada sangat banyak cara untuk meredakan depresi –terutama depresi ringan. Bagi manusia beriman, ibadah dan pendekatan diri kepada Allah adalah cara paling utama untuk meredakan depresi. Rasa tawakal, sabar dan syukur adalah bagian sikap yang akan mampu meredakan ketegangan serta kecemasan menjalani kehidupan. Selain pendekatan spiritual, terdapat berbagai intervensi teknis.
Novi Qonitatin dan tim (2011) menyatakan depresi ringan banyak dialami oleh orang dewasa muda, terutama mahasiswa, karena memiliki tuntutan peran dan tugas yang tidak mudah. Qonitatin melakukan penelitian untuk melihat pengaruh katarsis dalam menulis ekspresif sebagai intervensi depresi ringan pada mahasiswa. Sebagai partisipan penelitian adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Semarang.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah BDI (Beck Depression Inventory) untuk melihat tingkat depresi pada partisipan penelitian. Efektivitas atau pengaruh dari intervensi menulis ekspresif sebagai variabel bebas terhadap depresi sebagai variabel terikat dilihat dari perbedaan antara pretest dengan postest.
Sebanyak 84 mahasiswa sebagai subjek penelitian, 47 orang (55,95%) diantaranya mengalami depresi, dimana sebagian besar berada pada taraf depresi ringan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut menunjukkan hipotesis penelitian diterima, berarti katarsis dalam menulis ekspresif memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap depresi ringan pada mahasiswa.
Penelitian lain dilakukan oleh Nety Mawarda Hatmanti dan Rusdianingseh (2019). Menurut mereka, mahasiswa dalam tahapannya mengalami masa kritis dan transisi sebelum menjalani kehidupan sesungguhnya di masyarakat. Pada tahap ini mereka mengalami berbagai hal adaptasi dan tekanan dari lingkungan di sekitarnya.
Hatmanti dan Rusdianingseh melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh expressive writing treatment terhadap stres mahasiswa. Desain dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pre and post test control group design. Populasi penelitian ini adalah 152 mahasiswa Prodi S1 Keperawatan di semester VI.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor stres kelompok yang tidak diberikan expressive writing treatment (control) adalah 130,7, sedangkan rata-rata skor stres kelompok yang diberikan expressive writing treatment adalah 124,95. Hal ini menandakan pemberian expressive writing treatment dapat menurunkan tingkat stres.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor stres kelompok yang tidak diberikan expressive writing treatment (control) adalah 130,7, sedangkan rata-rata skor stres kelompok yang diberikan expressive writing treatment adalah 124,95. Hal ini menandakan pemberian expressive writing treatment dapat menurunkan tingkat stres.
Hatmanti dan Rusdianingseh merekomendasikan, dosen bisa menerapkan teknik menulis ekspresif untuk menggali dan mengungkapkan perasaan mahasiswa selama kegiatan di kampus. Harapannya, para mahasiswa bisa mereduksi stres yang dirasakan selama fase kehidupannya.
Terbukti secara akademik, menulis ekspresif mampu menurunkan gejala depresi ringan. Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Arhatya Marsasina, Alifiati Fitrikasari, Gambaran dan Hubungan Tingkat Depresi dengan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pasien Rawat Jalan Puskesmas, Jurnal Kedokteran Diponegoro, Vol. 5, No. 4, Oktober 2016, http://ejournal-s1.undip.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar