- Oleh: Ledwina Eti Wuryani
Disebuah
desa kecil ada sebuah SD Lindi Pingu. Desa
terbelakang di tengah lembah perbukitan. Siswanya masih begitu sederhana, polos dan lugu. Tak
pernah mereka kenal HP karena listrik memang belum ada. Orang tua mereka semua petani. Desa yang jauh dari hingar bingarnya kemajuan kota. Tapi pandemi juga sudah
mengunjugi mereka bahkan sudah ada juga beberapa penduduk yang positif karena kecintaannya tante corona pada penduduk di
sana. Memang beruntung belum ada korban jiwa.
Disaat
musim hujan begini, jalan teramat licin karena tanah merah. Menuju sekolahpun
masih harus merayap naik turun bukit,
bersyukur yang punya kuda, mereka naik kuda.
Medan terlalu berat. Sedih!. Terlihat disepanjang jalan saat menyusuri
bukit, terlihat pohon jati kekar, besar, rimbun dan terlihat angker.
Diyakini Pasti ada penunggunya. Jati tua
umur bisa ratusan tahun. Ada lagi pohon beringin yang super besar menambah ‘ngerinya’ suana hutan itu.
Setiap orang lewat
mereka harus permisi dengan ‘sang
penunggu pohon itu. “ Permisi Apu...permisi Woku....”.( sebuatan nenek dan kakek di daerah itu: Red): kata mereka yang melewati lokasi itu. Sambil
melemparkan sirih pinang sebagai tanda pertemanan pada mereka supaya
perjalanannya aman. Di situ terlihat
pula sepasang burung gereja berkejaran dibalik rimbunnya pepohonan hijau kemudian menghilang.
Kupu-kupu cantik rupawan pun beterbangan
membawa suasana cerah ceria pagi itu.
Pak
guru Nggaba rutin setiap hari berjalan kaki naik turun bukit, menembus hujan ,
menyeberang kali sambil mendengar
nyaringnya kicauan burung dan gemerisiknya air sungai mengalir. Sebuah gedung SD setengah tembok terdiri 6 kelas. Disekat
dengan bepak (pelepah daun lontar:
Red). Di pojok sebelah kiri dibangun
ruang guru ukuran 3x5 m2, berdinding
bepak dan beratap alang. Jumlah gurunya 5 orang terdiri dari Guru Nggaba
(sebagai kepala sekolah), Ibu Nona, Ibu Rambu, Pak Dominggus dan bu Asna. Yang
berstatus PNS cuma satu Pak Guru Nggaba .
Ibu Asna hampir dua
puluh tahun mengajar di SD itu. Yang lain sudah lebih 5 tahun juga. Mereka dapat
bantuan dari dana BOS, ‘kalau sisa’. Tergantung
kebijakan kepala sekolah, karena peraturannya dana BOS tidak boleh untuk membayar
gaji. Mereka dibayar Rp 100 ribu per bulan. Bukan gaji. Istilah mereka uang
sabun, katanya. Itupun cairnya bisa tiga bulan bahkan pernah enam bulan baru
cair. Tapi semua itu tidak mematahkan semangat pengabdian mereka dalam
mengajar.
Tetap setia, setiap
hari mengajar dengan jumlah murid yang bervariasi . Total jumlah siswa kelas
1-6 ada 53 orang. Jadi kadang kalau
guru yang ada urusan ke kota bisa
saja mengajarnya digabung 4 kelas jadikan satu. Rame!. Daripada dipulangkan?!.
Anak-anak tetap setia dan begitu manis menerima pelajaran dari bapa/ibu guru. Sekarang musim paceklik, belum lagi ada pandemi melanda. Guru Nggaba mengajar kelas 6 hari ini, namun siswa yang masuk cuma 5 orang.
Pada saat jam istirahat Guru Nggaba
duduk di bawah pohon ketapang sambil merenung. Semilir angin menyapu
rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya yang coklat kemerahan, karena tiap hari terbakar teriknya matahari.
Bola matanya yang tajam tiap hari
menyempatkan membaca buku-buku sastra yang sebagian besar menceritakan suka
duka kehidupan orang lain dan keharmonisan kehidupan manusia dengan alam
sekitar kita.
Guru Nggaba juga suka membaca buku tentang kemajuan pendidikan. Tentunya agar tidak terlalu ketinggalan dengan kepala
sekolah di lain. Apalagi mengingat era global saat ini. Tak terasa kini usia Guru nggaba sudah 36 tahun. Dia masih
membujang. Waktunya dihabiskan mengajar SD
di kampung itu. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita cantik kembang
dusun di situ. Dia selalu
setia akan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Sebagai kepala
Sekolah ‘nama baik’ sekolah ada dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa
bahagianya kalau sekolahnya bisa
dikenal ‘baik’ oleh masyarakat sekitar. Syukur-syukur sampai di kota kabupaten. Ahh!!, mimpi!. “Cita-cita itu penting!”, pikirnya
dalam hati.
Sedang asyik- asyiknya
melamun di bawah pohon, tiba-tiba pundaknya di sentuh Nona Sarti gadis cantik
dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus.
“ Maaf
Pak Guru ganggu, boleh Sarti
menemani duduk di sini “ : Sapa nona Sarti.
“ Ya iya silahkan sini duduk “ Jawab
Guru Nggaba dengan malu- malu.
“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya
serius banget ?” Tanya Sarti.
“ Pendemi sampai saat ini belum pergi, padahal sekolah harus mengikuti ujian AKM (Asesmen Kompetensi Minimun) tahun
ini. AKM adalah pengganti ujian nasional. Anak-anak harus belajar lebih giat untuk penilaian para siswa,
para guru dan lingkungan sekolah.”, jelasnya pak guru lirih. Atau!!, mungkin sedang musim paceklik
ya Rambu
( panggilan perempuan orang Sumba Timur
: red) . “Saya dengar semua warga sini
hasil ladang gagal total , benarkah?”, tanya Guru Nggaba kepada Sarti.
“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak-
anak membantu orang tua mencari ubi hutan ( iwi) untuk makan,”.Jawab Sarti sambil tersenyum. Tidak
lama kemudian Guru Nggaba meninggalkan Sarti lalu masuk ke ruang Guru. Sarti
sambil tersenyum meninggalkan Guru Nggaba
berjalan menuju rumahnya yang berdampingan dengan gedung SD Lindi Pingu.
Tepat jam sepuluh bel
sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung
di pojok ruang Guru dari bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piring
seng kalau di pukul nyaring nembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda
untuk patokan buruh tani tanda untuk
istirahat.
Tepat jam satu lebih lima belas menit SD
sudah sepi semua siswa pulang kerumah. Yang tersisa hanya suara seng
saling bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Nggaba
minta supaya meeting sebentar untuk
mempersiapkan ujian AKM bulan Oktober
nanti. Persiapan harus lebih dini supaya
hasilnya lebih baik. Harapannya.
Hasil
rapat guru siap untuk mengunjungi siswanya di
suatu titik selama masa pandemi. Surat undangan untuk orang tua
disebarkan. Rapat komite dipimpin langsung oleh
guru Nggaba. Komite pun menyetujui
karena ini memang anjuran pemerintah
pusat. Pembelajaran tidak lagi di sekolah
namun dirumah (BDR).
Di kampung itu rumah
warga berjauhan. Jadwal sudah disiapkan. Tugas hari pertama dimulai. Rumah siswa ada
yang di sebelah bukit. Dilereng gunung.
Di atas tebing. Guru mendatangi
satu rumah. Untuk memanggil temannya mereka teriak, hingga suaranya terdengar radius 1 km. Berkumpullah mereka di satu titik. Bu Guru memberikan materi kemudian
memberikan tugas. Tugas dikumpul
pada pertemuan berikutnya. Hari Senin
sampai jumat mereka kunjungan siswa.
Hari Sabtu para guru kumpul untuk menyusun laporan hasil kerjanya.
Setelah selesai membuat
laporan dan menyerahlan kepada kepala sekolah para guru pulang menuju rumahnya
masing-masing. Guru Nggaba pun juga harus segetra pulang terlihat awan sudah
tebal di ujung timur. Dimana ia harus berjalan kaki menembus hutan dan padang
rumput. Ia membutuhkan 1 jam menuju
rumahnya. Tiba-tiba muncul Sarti di balik gedung ruang guru mendekati sambil
menyapa,
“Selamat siang Pak Guru, saya dapat
pesan dari bapak, suruh mampir dulu ke rumah sebab sudah di tunggu “, Pinta
Sarti sambil tersenyum manis mendekati Guru Nggaba.
“ Iya ya Rambu (panggilan perempuan
orang Sumba Timur:Red) “ jawab Guru Nggaba.
Kemudian Guru Nggaba dan Sarti berjalan
menuju rumahnya. Ayah Sarti sudah menunggu di ruang tamu. Sudah tersedia tiga
gelas teh hangat di atas meja juga satu piring petatas rebus panas.“ Permisi
?”, sapa Guru Nggaba di depan pintu rumah pak Kadus
“ Mari-mari !! masuk Umbu guru ( Panggilan terhormat seorang
laki-laki : red) “ jawab pak Kadus. Sementara
masih dalam pembicaraan, tiba- tiba Guru Nggaba tertegun melihat di
ruang tengah terlihat ada beberapa
kendang dan gong. Peralatan musik
tradisionil untuk mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius
Guru Nggaba memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”,
pikirnya.“ Ooo itu Umbu Guru!, itu sisa- sisa alat kesenian dusun“ : kata
pak Kadus
“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali,
padahal masih bagus “ Tanya Guru Nggaba.
Sambil melirik ke wajah Sarti. Sarti diam kemudian memandang Guru Nggaba secara
reflek tersenyum menambah manis penampilannya.
“
Mari diminum teh hangatnya! “ Pinta pak Kadus. “ Ya Pak Kadus “ Jawab Guru Nggaba. “Mohon izin
pak Kadus seumpanmya saya pinjam kendangnya boleh tidak ya” Pinta Guru Nggaba.“
Boleh-boleh!! silahkan jangankan hanya kendang, semuanya boleh dipinjam! Saya
siap membantu melatih disekolah!” :
jawab pak Kadus antusias. Nanti yang melatih menari biar putri saya gak apa-
apa saya malah senang” Jawab pak Kadus penuh semangat.
Singkat cerita, Sejak ada ekskul
menari, anak-anak semangat datang sekolah.
Tiga bulan kemudian SD Lindi Pingu
geger jadi sumber bahan cerita semua warga. Siswa- siswinya sudah pandai
menari dan menabuh kendang dan gong. Titisan dari leluhur turun pada para siswa,
sehingga sangat lincah menari-nari ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini
bahkan menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar
langsung daftar lagi sekolah di SD Lindi Pingu bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!,
betapa bangganya pak guru Nggaba.
Pembelajaran luring berjalan lancar. Guru tetap semangat
mengajar. Siswa juga antusias, imun jadi kuat
sehingga corona tak mungkin hinggap. Setiap hari senin dan jumat Sore
ada ekskul menari. Hari itu yg menjadi iven indah bagi para warga berkumpul
dan bersuka cita melihat para siswa
berlatih kesenian tradisionil peninggalan leluhur.
Karena
anak-anak sudah pada mahir menari dan
menabuh gong dan kendang, akhirnya
warga sekolah bersama komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’.
Acara berjalan lancar dan sangat
meriah. Bertepatan dengan itu ada
kampanye pemilihan kepala desa. Ada 2 kandidat, yakni partai ‘Memuli’ dan
partai ‘Ana Hida’. Partai Memuli mendanai seluruh kegiatan itu. Kandidat Calon adalah
Umbu Mahakonda, orang terkaya di desa itu.
Ternyata, keberhasilan
Guru Nggaba tak berbuah manis. Ada seorang pemuda bernama Umbu Behar, sang
sopir truk proyek ‘murka’. Dadanya yang penuh
dengan tato ‘sesak’. Dia merasa pak guru Nggaba’merebut’ pacarnya. Dia sakit hati. Sarti orang yang dicintai,
mencintai orang lain.
Umbu behar lapor ke
polsek dengan tuduhan pak guru Nggaba mengadakan acara keramaian. Menghimpun
masa. Tidak memperhatikan protokol kesehatan. Seminggu setelah acara pentas seni mobil polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu behar
dan kawan-kawan dengan mengendari truk tahun 1997 berwarna kuning dan beberapa
mobil lainnya. Ada 2 mobil yang ditempeli gambar ‘Ana Hida’. Lawan politik!. Mereka
langsung menangkap guru Nggaba sebab ikut kampanye, sementara dia adalah ASN.
Mobil beriringan membawa pak Guru Nggaba ke kota untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Semua warga, guru-guru, dan para
siswa bengong, sedih, menangis melihat
‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Sarti berlari-lari sambil
menangis mengejar mobil pratoli yang membawa guru Nggaba.
Tiga bulan kemudian ,
mendengar kabar guru Nggaba ditemukan
tewas dibangsal sel penjara no: 213. Sedih!, kasihan sekali pak guru itu.
Menurut kabar dia mogok makan selama di Penjara. Dia Stress berat. Dia Depresi.
Akhirnya meninggal Dunia. Selamat jalan Pak Guru. Tuhan sudah menyiapkan tempat
indah bagimu. Jasamu tiada tara.
Penulis
SMA Negeri 2
Waingapu, Sumba Timur NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar