Rabu, 10 Februari 2021

NASIB GURU NGGABA

 

  • Oleh: Ledwina Eti Wuryani

            Disebuah desa kecil ada sebuah SD Lindi Pingu. Desa  terbelakang di tengah lembah perbukitan. Siswanya  masih begitu sederhana, polos dan lugu. Tak pernah mereka  kenal  HP karena listrik memang belum ada.  Orang tua mereka  semua petani. Desa  yang jauh dari  hingar bingarnya kemajuan kota.  Tapi pandemi juga  sudah  mengunjugi mereka bahkan sudah ada juga beberapa penduduk yang  positif karena  kecintaannya tante corona pada penduduk di sana. Memang beruntung  belum  ada korban jiwa.

            Disaat musim hujan begini, jalan teramat licin karena tanah merah. Menuju sekolahpun masih harus  merayap naik turun bukit, bersyukur  yang punya kuda, mereka  naik kuda.  Medan terlalu berat. Sedih!. Terlihat disepanjang jalan saat menyusuri bukit, terlihat  pohon jati  kekar, besar, rimbun dan terlihat angker. Diyakini Pasti ada penunggunya.  Jati tua umur bisa ratusan tahun. Ada lagi pohon beringin yang super besar menambah  ‘ngerinya’ suana  hutan itu.

Setiap orang lewat mereka  harus permisi dengan ‘sang penunggu pohon itu. “ Permisi Apu...permisi Woku....”.( sebuatan  nenek dan kakek di daerah itu: Red): kata  mereka yang melewati lokasi itu. Sambil melemparkan sirih  pinang  sebagai tanda pertemanan pada mereka supaya perjalanannya aman.  Di situ terlihat pula sepasang burung gereja berkejaran dibalik rimbunnya  pepohonan hijau kemudian menghilang. Kupu-kupu cantik rupawan pun  beterbangan membawa suasana  cerah  ceria pagi itu.

            Pak guru Nggaba rutin setiap hari berjalan kaki naik turun bukit, menembus hujan , menyeberang kali sambil mendengar  nyaringnya  kicauan burung dan gemerisiknya  air sungai mengalir. Sebuah gedung SD  setengah tembok terdiri 6 kelas. Disekat dengan bepak (pelepah daun  lontar: Red).  Di pojok sebelah kiri dibangun ruang guru ukuran 3x5 m2, berdinding  bepak dan beratap alang. Jumlah gurunya 5 orang terdiri dari Guru Nggaba (sebagai kepala sekolah), Ibu Nona, Ibu Rambu, Pak Dominggus dan bu Asna. Yang berstatus PNS cuma satu Pak Guru Nggaba .

Ibu Asna hampir dua puluh tahun mengajar di SD itu. Yang lain sudah lebih 5 tahun juga. Mereka dapat bantuan dari  dana BOS, ‘kalau sisa’. Tergantung kebijakan kepala sekolah, karena peraturannya dana BOS tidak boleh untuk membayar gaji. Mereka dibayar Rp 100 ribu per bulan. Bukan gaji. Istilah mereka uang sabun, katanya. Itupun cairnya bisa tiga bulan bahkan pernah enam bulan baru cair. Tapi semua itu tidak mematahkan semangat pengabdian mereka dalam mengajar.

Tetap setia, setiap hari mengajar dengan jumlah murid yang bervariasi . Total jumlah siswa kelas 1-6 ada  53 orang. Jadi  kadang kalau  guru yang  ada urusan ke kota bisa saja mengajarnya digabung 4 kelas jadikan satu. Rame!. Daripada dipulangkan?!. Anak-anak tetap setia dan begitu manis menerima pelajaran dari bapa/ibu guru. Sekarang  musim paceklik, belum  lagi ada pandemi melanda.  Guru Nggaba mengajar  kelas 6 hari ini, namun siswa  yang masuk cuma 5 orang.

          Pada saat jam istirahat Guru Nggaba  duduk di bawah pohon ketapang sambil merenung. Semilir angin menyapu rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya yang coklat kemerahan,  karena tiap hari terbakar teriknya matahari. Bola matanya yang tajam  tiap hari menyempatkan membaca buku-buku sastra yang sebagian besar menceritakan suka duka kehidupan orang lain dan keharmonisan kehidupan manusia dengan alam sekitar kita.

Guru Nggaba juga suka membaca buku tentang  kemajuan pendidikan. Tentunya  agar tidak terlalu ketinggalan dengan kepala sekolah di lain. Apalagi mengingat era global saat ini.  Tak terasa kini usia  Guru nggaba sudah 36 tahun. Dia masih membujang.  Waktunya dihabiskan mengajar SD di kampung itu. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita cantik  kembang  dusun di  situ. Dia selalu setia  akan tugas  dan   tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Sebagai kepala Sekolah  ‘nama baik’ sekolah ada  dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa bahagianya kalau  sekolahnya  bisa  dikenal ‘baik’  oleh masyarakat  sekitar. Syukur-syukur  sampai di kota kabupaten. Ahh!!,  mimpi!. “Cita-cita itu penting!”, pikirnya dalam hati.  

Sedang asyik- asyiknya melamun di bawah pohon, tiba-tiba pundaknya di sentuh Nona Sarti gadis cantik dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus.

“ Maaf  Pak  Guru ganggu, boleh Sarti menemani duduk di sini “ : Sapa nona Sarti.

“ Ya iya silahkan sini duduk “ Jawab Guru Nggaba dengan malu- malu.

“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya serius banget ?” Tanya Sarti.

“ Pendemi sampai saat ini  belum pergi, padahal sekolah  harus mengikuti  ujian AKM (Asesmen Kompetensi Minimun) tahun ini. AKM adalah pengganti ujian nasional. Anak-anak harus  belajar lebih giat untuk penilaian  para siswa,  para guru dan lingkungan sekolah.”, jelasnya pak guru  lirih. Atau!!, mungkin sedang musim paceklik ya Rambu

( panggilan perempuan orang Sumba Timur : red) .  “Saya dengar semua warga sini hasil ladang gagal total , benarkah?”, tanya Guru Nggaba kepada Sarti.

“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak- anak membantu orang tua mencari ubi hutan ( iwi) untuk  makan,”.Jawab Sarti sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Guru Nggaba meninggalkan Sarti lalu masuk ke ruang Guru. Sarti sambil tersenyum meninggalkan Guru Nggaba   berjalan menuju rumahnya yang berdampingan dengan gedung SD Lindi Pingu.

Tepat jam sepuluh bel sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung di pojok ruang Guru dari bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piring seng kalau di pukul nyaring nembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda untuk patokan buruh tani  tanda untuk istirahat.

         Tepat jam satu lebih lima belas menit SD  sudah sepi semua siswa pulang kerumah. Yang tersisa hanya suara seng saling bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Nggaba minta supaya meeting  sebentar untuk mempersiapkan ujian  AKM bulan Oktober nanti. Persiapan harus lebih  dini supaya hasilnya lebih baik. Harapannya.

            Hasil rapat guru  siap untuk mengunjungi  siswanya di  suatu titik selama masa pandemi. Surat undangan untuk orang tua disebarkan. Rapat komite dipimpin langsung oleh  guru Nggaba. Komite pun  menyetujui karena ini  memang anjuran pemerintah pusat. Pembelajaran  tidak lagi di sekolah namun  dirumah (BDR).

Di kampung itu  rumah  warga  berjauhan.  Jadwal sudah disiapkan.  Tugas hari pertama dimulai. Rumah siswa ada yang di sebelah bukit. Dilereng  gunung. Di atas tebing. Guru mendatangi  satu  rumah.  Untuk memanggil temannya mereka  teriak, hingga suaranya  terdengar radius 1 km. Berkumpullah  mereka  di satu titik. Bu Guru memberikan materi kemudian memberikan tugas. Tugas  dikumpul pada  pertemuan berikutnya. Hari Senin sampai jumat mereka  kunjungan siswa. Hari  Sabtu para guru kumpul untuk  menyusun laporan hasil kerjanya.

Setelah selesai membuat laporan dan menyerahlan kepada kepala sekolah  para guru pulang menuju rumahnya masing-masing. Guru Nggaba pun juga harus segetra pulang terlihat awan sudah tebal di ujung timur. Dimana ia harus berjalan kaki menembus hutan dan padang rumput. Ia  membutuhkan 1 jam menuju rumahnya. Tiba-tiba muncul Sarti di balik gedung ruang guru mendekati sambil menyapa,

“Selamat siang Pak Guru, saya dapat pesan dari bapak, suruh mampir dulu ke rumah sebab sudah di tunggu “, Pinta Sarti sambil tersenyum manis mendekati Guru Nggaba.

“ Iya ya Rambu (panggilan perempuan orang Sumba Timur:Red) “ jawab Guru Nggaba.  

Kemudian Guru Nggaba dan Sarti berjalan menuju rumahnya. Ayah Sarti sudah menunggu di ruang tamu. Sudah tersedia tiga gelas teh hangat di atas meja juga satu piring petatas rebus panas.“ Permisi ?”, sapa Guru Nggaba di depan pintu rumah pak Kadus

“ Mari-mari !!  masuk Umbu guru ( Panggilan terhormat seorang laki-laki : red) “ jawab pak Kadus. Sementara  masih dalam pembicaraan, tiba- tiba Guru Nggaba tertegun melihat di ruang tengah terlihat ada beberapa  kendang dan gong. Peralatan  musik tradisionil untuk mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius Guru Nggaba memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”, pikirnya.“ Ooo itu Umbu  Guru!,  itu sisa- sisa alat kesenian dusun“ : kata pak Kadus

“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali, padahal masih bagus  “ Tanya Guru Nggaba. Sambil melirik ke wajah Sarti. Sarti diam kemudian memandang Guru Nggaba secara reflek tersenyum menambah manis penampilannya.

 “ Mari diminum teh hangatnya! “ Pinta pak Kadus. “ Ya  Pak Kadus “ Jawab Guru Nggaba. “Mohon izin pak Kadus seumpanmya saya pinjam kendangnya boleh tidak ya” Pinta Guru Nggaba.“ Boleh-boleh!! silahkan jangankan hanya kendang, semuanya boleh dipinjam! Saya siap membantu melatih  disekolah!” : jawab pak Kadus antusias. Nanti yang melatih menari biar putri saya gak apa- apa saya malah senang” Jawab pak Kadus penuh semangat.

         Singkat cerita, Sejak ada  ekskul menari, anak-anak semangat datang sekolah.  Tiga bulan kemudian SD Lindi Pingu  geger jadi sumber bahan cerita semua warga. Siswa- siswinya sudah pandai menari dan menabuh kendang dan gong. Titisan dari leluhur turun pada para siswa, sehingga sangat lincah menari-nari ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini bahkan menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar langsung daftar lagi sekolah di SD Lindi Pingu bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!, betapa bangganya pak guru Nggaba.

            Pembelajaran  luring berjalan lancar. Guru tetap semangat mengajar. Siswa juga antusias, imun jadi kuat  sehingga corona tak mungkin hinggap. Setiap hari senin dan jumat Sore ada ekskul menari. Hari itu yg menjadi iven indah bagi para warga berkumpul dan  bersuka cita melihat para siswa berlatih kesenian tradisionil peninggalan leluhur.

            Karena anak-anak sudah pada mahir menari dan  menabuh gong dan kendang, akhirnya  warga sekolah bersama komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’. Acara berjalan  lancar dan sangat meriah.  Bertepatan dengan itu ada kampanye pemilihan kepala desa. Ada 2 kandidat, yakni partai ‘Memuli’ dan partai ‘Ana Hida’. Partai Memuli mendanai seluruh kegiatan itu. Kandidat Calon adalah Umbu Mahakonda, orang terkaya di desa itu.

Ternyata, keberhasilan Guru Nggaba tak berbuah manis. Ada seorang pemuda bernama Umbu Behar, sang sopir truk proyek ‘murka’. Dadanya yang penuh  dengan tato ‘sesak’. Dia merasa  pak guru Nggaba’merebut’ pacarnya.  Dia  sakit hati. Sarti orang yang dicintai, mencintai orang lain.

Umbu behar lapor ke polsek dengan tuduhan pak guru Nggaba mengadakan acara keramaian. Menghimpun masa. Tidak memperhatikan protokol kesehatan. Seminggu  setelah acara pentas seni mobil  polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu behar dan kawan-kawan dengan mengendari truk tahun 1997 berwarna kuning dan beberapa mobil lainnya. Ada 2 mobil yang ditempeli gambar ‘Ana Hida’. Lawan politik!. Mereka langsung menangkap guru Nggaba sebab ikut kampanye, sementara dia adalah ASN. Mobil beriringan membawa pak Guru Nggaba ke kota untuk mempertanggungjawabkan  tindakannya. Semua warga, guru-guru, dan para siswa bengong, sedih,  menangis melihat ‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Sarti berlari-lari sambil menangis mengejar mobil pratoli yang membawa guru Nggaba.

Tiga bulan kemudian , mendengar kabar  guru Nggaba ditemukan tewas dibangsal sel penjara no: 213. Sedih!, kasihan sekali pak guru itu. Menurut kabar dia mogok makan selama di Penjara. Dia Stress berat. Dia Depresi. Akhirnya meninggal Dunia. Selamat jalan Pak Guru. Tuhan sudah menyiapkan tempat indah bagimu.  Jasamu tiada tara.

 

Penulis

SMA Negeri 2 

Waingapu, Sumba Timur NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...