.
Writing for Wellness – 61
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Perselingkuhan adalah satu dari tiga penyebab perceraian di Indonesia (Kinanti, 2020). Setiap perselingkuhan, pasti membawa dampak kerusakan terhadap keutuhan keluarga. Termasuk dalam keluarga yang religius (Karris & Arger, 2019).
Mark Karris dan Katarena Arger (2019) melakukan studi menggunakan intervensi naratif terhadap pasangan religius dari penganut Yudaisme, Kristen dan Islam, terkait dengan efek perselingkuhan. Pada pasangan religius, ikatan pernikahan menjadi rusak karena perselingkuhan. Pasangan yang religius dan terhubung dengan aspek ketuhanan, merasa marah, kecewa dan menjauh dari pasangan karena perselingkuhan.
Emosi Negatif Akibat Perselingkuhan Pasangan
Studi pernah dilakukan Ginanjar (2009) terkait proses healing pada istri yang suaminya berselingkuh. Gunanjar juga meneliti faktor-faktor pendukung sepanjang proses healing. Partisipan adalah tiga orang istri yang mengikuti terapi perkawinan dalam jangka waktu minimal 6 bulan atau setidaknya telah mengikuti 10 sesi terapi.
Data utama diperoleh dari catatan selama proses terapi. Sebagai tambahan, dilakukan wawancara mendalam untuk menggali proses healing secara lebih mendetil dan faktor-faktor yang membantu para istri berkembang ke arah positif. Data lain juga diperoleh melalui observasi sepanjang proses terapi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perselingkuhan suami memberikan dampak negatif dalam kehidupan istri. Mereka mengalami berbagai emosi negatif secara bersamaan yang tidak mudah untuk dihadapi.
Menurut hasil studi Ginanjar, setiap partisipan melalui proses healing yang unik, namun secara umum mereka melewati tahapan-tahapan berikut ini: 1) terkejut dan tidak percaya, 2) mengalami dan mengatasi emosi-emosi negatif, 3) membicarakan masalah perkawinan dengan suami, 4) memperbaiki kondisi perkawinan.
Meredakan Emosi Negatif Akibat Perselingkuhan Pasangan
Proses healing pada individu akibat pasangan berselingkuh, dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Beberapa faktor yang secara signifikan membantu proses healing adalah: agama, dukungan emosional, karakteristik kepribadian, perubahan positif pada suami, aktivitas yang mendukung aktualisasi diri, dan proses terapi.
Kartika Sari (2012) menawarkan proses forgiveness pada istri sebagai upaya mengembalikan keutuhan rumah tangga akibat perselingkuhan suami. Umumnya, forgiveness merupakan sikap individu yang telah disakiti untuk tidak melakukan perbuatan balas dendam terhadap pelaku dan tidak ingin menjauhi pelaku. Justru muncul keinginan untuk berdamai dan berbuat baik terhadap pelaku, walaupun pelaku telah melakukan perbuatan yang menyakitkan.
Meredakan emosi negatif juga bisa dilakukan dengan aktivitas menulis. Dari berbagai studi, telah diketahui aktivitas menulis tentang pengalaman emosional memiliki dampak positif. Efektivitas menulis ekspresif dan menulis naratif terkait kesehatan mental telah dibuktikan melalui banyak penelitian.
Stephen J. Lepore dan Melanie Greenberg (2002) melakukan studi tentang upaya merawat tentang orang-orang yang patah hati, menggunakan intervensi menulis ekspresif. Hasil studi menunjukkan bahwa partisipan yang menulis ekspresif lebih mungkin untuk bersatu kembali dengan pasangan mereka.
Demikian pula studi yang dilakukan Kyle Bourassa di University of Arizona. Bourassa menemukan, menulis cerita dengan cara yang terstruktur, tidak hanya menumpahkan emosi, mampu meredakan sakit hati. Menulis ekspresif-naratif, adalah menulis dengan cara yang sistematis, dengan memberi makna pada kejadian negatif.
Dengan menulis ekspresif-naratif seperti ini, membantu orang untuk segera move-on. “Struktur ini dapat membantu orang memahami pengalaman mereka, sehingga memungkinkan mereka move-on daripada sekadar berputar dan mengulangi kembali emosi negatif berulang-ulang,” ungkap Kyle Bourassa.
Meningkatkan Romantisme Hubungan
Studi yang dilakukan Richard Slatcher dan James W. Pennebaker (2006) memperluas paradigma menulis ekspresif ke ranah hubungan romantis untuk menguji efek sosial dari menulis. Selama tiga hari berturut-turut, 86 pasangan menulis tentang pemikiran dan perasaan terdalamnya terkait hubungan romantik mereka.
Partisipan yang menulis tentang hubungan mereka secara signifikan lebih mungkin untuk tetap berkencan dengan pasangan mereka tiga bulan kemudian. Analisis linguistik dari pesan instan mengungkapkan bahwa peserta dan pasangan mereka menggunakan kata-kata emosi yang lebih positif dan negatif secara signifikan pada hari-hari setelah intervensi penulisan ekspresif. Pemilihan kosa kata emosi positif memediasi hubungan antara tulisan ekspresif dan stabilitas hubungan.
Jennifer Emilia Eells (2006) melakukan studi terhadap 93 pasangan menggunakan intervensi menulis ekspresif. Partisipan menulis tentang jatuh cinta atau trauma. Menulis tentang cinta atau trauma menghasilkan interaksi yang lebih baik dengan pasangan selama satu pekan setelahnya. Menulis tentang cinta menghasilkan peningkatan kepuasan hidup 2,5 bulan kemudian.
Studi Eells menyebut hasil perbaikan dalam satu pekan dan dua setengah bulan. Slatcher dan Pennebaker menyebut hasil perbaikan hubungan tiga bulan. Meskipun secara kuantitatif menulis ekspresif ‘hanya’ memberikan kemanfaatan dalam masa yang pendek, namun hal ini menjadi indikasi positif tentang manfaat menulis ekspresif untuk meningkatkan hubungan romantik yang sempat terganggu.
Selamat menulis, selamat berkarya, selamat berbahagia.
Bahan Bacaan
Adriana Soekandar Ginanjar, Proses Healing Pada Istri yang Mengalami Perselingkuhan Suami, Jurnal Makara Vol 13 No 1 Juli 2009, diakses dari https://onesearch.id/
Jennifer Emilia Eells, Expressive Writing , Relationship, and Health, University of Missouri Columbia, https://worlddatabaseofhappiness-archive.eur.nl, Mei 2006
Mark Karris, Katarena Arger, Religious Couples Re-Storying After Infidelity: Using Narrative Therapy Interventions with a Focus on Attachment, Counseling and Family Therapy Scholarship Review: Vol. 2 : Iss. 1, 2019, diakses dari
https://epublications.regis.edu
Kartika Sari, Forgiveness pada Istri sebagai Upaya untuk Mengembalikan Keutuhan Rumah Tangga akibat Perselingkuhan Suami, Jurnal Psikologi, vol. 11, no. 1, pp. 9, Apr. 2012. https://doi.org/10.14710/jpu.11.1.9
Krizia Putri Kinanti, 9 Penyebab Umum Perceraian, Perselingkuhan Paling Utama, 2 Juni 2020, https://lifestyle.bisnis.com
Kyle J. Bourassa, David A. Sbarra dkk, The Impact of Narrative Expressive Writing on Heart Rate, Heart Rate Variability, and Blood Pressure Following Marital Separation, DOI: 10.1097/PSY.0000000000000475, Psychosom Med 2017, https://www.ncbi.nlm.nih.gov
Richard Slatcher, James W. Pennebaker, How Do I Love Thee? Let Me Count the Words The Social Effects of Expressive Writing, DOI: 10.1111/j.1467-9280.2006.01762.x, September 2006
Stephen J. Lepore, Melanie Greenberg, Mending Broken Hearts: Effects of Expressive Writing on Mood, Cognitive Processing, Social Adjustment and Health Following a Relationship Breakup, DOI: 10.1080/08870440290025768, Oktober 2002, https://www.researchgate.net Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar