.

Writing for Wellness – 78

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Few studies have explored whether expressive writing can contribute to increased positive changes in outlook or posttraumatic growth” — Stockton, Joseph & Hunt (2014)  

.

Post-traumatic growth (PTG) atau pertumbuhan pasca trauma adalah perubahan positif yang dialami seseorang setelah berjuang dengan kondisi kehidupan yang traumatik. Peristiwa traumatik membutuhkan usaha individu untuk memahami dan memaknai dirinya dan kehidupannya yang berubah akibat peristiwa yang dialami (Marty Mawarpury, 2018).

Pertumbuhan pasca trauma adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada perubahan psikologis positif yang mendalam yang dapat dialami setelah trauma dan yang “mendorong individu ke tingkat fungsi yang lebih tinggi daripada yang ada sebelum peristiwa tersebut” (Linley & Joseph, dalam : Marty Mawarpury, 2018).

Perubahan ini dapat mencakup peningkatan kasih sayang dan perbaikan dalam hubungan, peningkatan pandangan tentang diri, atau pergeseran dalam filosofi dan perspektif hidup (Tedeschi & Calhoun, dalam : Marty Mawarpury, 2018). Beberapa faktor yang diidentifikasi berkontribusi pada PTG adalah usia dan jenis kelamin, peristiwa traumatik, kepribadian, koping, dukungan sosial seperti keluarga, teman, dan organisasi.

Pertumbuhan pasca trauma memiliki tiga domain utama. Pertama, peningkatan hubungan dengan orang lain seperti memiliki nilai yang lebih baik terhadap keluarga dan teman. Kedua, perubahan pandangan terhadap diri sendiri seperti merasa lebih kuat menghadapi dunia dan memiliki penerimaan lebih besar terhadap keterbatasan diri. Ketiga, perubahan dalam filosofi hidup seperti memberikan apresiasi pada keseharian hidupnya dan bernegosiasi dengan diri dan keadaan (Linley & Joseph dalam : Marty Mawarpury, 2018)

Numerous studies have demonstrated that writing about stressful or traumatic life events is associated with improvements in physical and psychological health, relative to emotionally neutral writing — Stockton, Joseph & Hunt (2014)

Menulis Ekspresif dan Peristiwa Traumatis

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa menulis tentang peristiwa kehidupan yang penuh tekanan atau traumatis dikaitkan dengan peningkatan kesehatan fisik dan psikologis, dibandingkan dengan tulisan yang netral secara emosional. Stockton, Joseph & Hunt (2014) mendata sejumlah hasil penelitian pengaruh menulis ekspresif terhadap pertumbuhan pasca trauma.

“Expressive writing has been related to improved mood, reduced health centre visits, improved immune system functioning, reduced symptoms of depression and anxiety, and reduced trauma-related intrusion and avoidance symptoms” — Stockton, Joseph & Hunt (2014)  

Hasil pendataan Stockton, Joseph & Hunt, menulis ekspresif memberikan pengaruh positif terhadap:

  1. perbaikan suasana hati (Páez, Velasco & Gonzalez, 1999)
  2. berkurangnya kunjungan ke pusat kesehatan (Pennebaker & Francis, 1996)
  3. peningkatan fungsi sistem kekebalan (Pennebaker, Kiecolt-Glaser & Glaser, 1988; Petrie et al., 1995)
  4. mengurangi gejala depresi dan kecemasan (Hemenover, 2003)
  5. mengurangi intrusi terkait trauma dan gejala penghindaran (Klein & Boals, 2001)
  6. meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis (Frattaroli, 2006; Smyth, 1998).

Meskipun ada beberapa penelitian lain yang tidak mendukung, akan tetapi berbagai studi di atas cukup menjadi penguat akan efektivitas menulis ekspresif bagi kesehatan mental dan fisik.

“Meta-analyses have also confirmed that expressive writing can improve physical and psychological well-being” — Stockton, Joseph & Hunt (2014)  

Menulis Ekspresif untuk Pertumbuhan Pasca Trauma

Beberapa studi menunjukkan efektivitas menulis ekspresif untuk pertumbuhan pasca trauma. Misalnya, studi yang dilakukan Ullrich dan Lutgendorf (2002) menemukan bahwa individu yang menulis tentang kognisi dan emosi di sekitar peristiwa stres atau traumatis menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pertumbuhan pasca trauma.

“Smyth, Hockemeyer and Tulloch (2008) explored the efficacy of expressive writing in patients with posttraumatic stress disorder (PTSD) and demonstrated that expressive writing participants reported improved posttraumatic growth at 3-month follow-up”.

Smyth, Hockemeyer dan Tulloch (2008) melakukan studi untuk mengamati efektivitas menulis ekspresif terhadap pasien dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Hasil studi menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan intervensi menulis ekspresif melaporkan peningkatan pertumbuhan pasca trauma pada 3 bulan tindak lanjut.

Gebler dan Maercker (2007) juga menemukan bahwa individu yang menulis ekspresif melaporkan peningkatan yang signifikan dalam pertumbuhan pasca trauma dari awal hingga tindak lanjut selama 8 pekan. Studi ini memberikan bukti awal yang menunjukkan bahwa tulisan ekspresif dapat meningkatkan perbaikan dalam pertumbuhan pasca trauma.

Gebler and Maercker (2007) also found that individuals in a standard expressive writing condition reported significant increases in posttraumatic growth from baseline to 8-week follow-up.

Stockton, Joseph & Hunt (2014) melakukan kajian eksploratif untuk mengamati efek menulis ekspresif berbasis internet, terhadap pertumbuhan pasca trauma. Peserta secara acak dibagi untuk masuk kelompok menulis ekspresif atau kelompok kontrol. Semua partisipan diminta menulis selama 15 menit dalam tiga sesi terpisah, selama tiga  hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pikiran yang mengganggu menurun dan pertumbuhan pasca trauma meningkat, pada kelompok kelompok menulis ekspresif. Penggunaan kata-kata yang lebih baik, berkorealsi dengan pertumbuhan pasca trauma yang lebih baik pula.

Zheng dan Gan (2018) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh tulisan ekspresif dan penggunaan kata kognitif terhadap pembuatan makna pertumbuhan pasca trauma. Sebanyak 52 mahasiswa yang mengalami trauma ditugaskan untuk salah satu dari dua kondisi penulisan, yaitu menulis ekspresif atau menulis netral.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang terlibat dalam penulisan ekspresif menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada keberadaan makna dan pertumbuhan pasca trauma. Selain itu, tugas menulis (ekspresif atau netral) dan frekuensi kata-kata kognitif, menjadi prediktor makna yang signifikan, yang pada gilirannya menyebabkan tingkat pertumbuhan pasca trauma yang tinggi.

Zheng dan Gan menyimpulkan, penggunaan kata-kata kognitif merupakan proses kognitif penting untuk mengembangkan makna dalam tulisan, yang mendukung pertumbuhan pasca trauma. Penilitian ini semakin mengokohkan hasil-hasil studi sebelumnya terkait efektivitas menulis ekspresif untuk pertumbuhan pasca trauma.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.

Bahan Bacaan

Hannah Stockton, Stephen Joseph, & Nigel Hunt, 2014, Expressive Writing and Posttraumatic Growth: An Internet-Based Pilot Study, Traumatology: An International Journal, 20(2), 75–83. https://doi.org/10.1037/h0099377, diakses dari https://psycnet.apa.org/

Lei Zheng, Yiqun Gan, Effects of Expressive Writing and Use of Cognitive Words on Meaning Making and Posttraumatic Growth, DOI: 10.1017/prp.2018.31, Januari 2018, diakses dari https://www.researchgate.net/

Marty Mawarpury, Analisis Koping dan Pertumbuhan Pasca-trauma pada Masyarakat Terpapar Konflik, Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Vol 3, No 2 (2018), DOI: http://dx.doi.org/10.21580/pjpp.v3i2.2818, diakses dari https://journal.walisongo.ac.id

.

Ilustrasi : https://recoverynet.ca/