.
Writing for Wellness – 81
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Sistem muskuloskeletal adalah sistem yang terdiri dari otot, jaringan ikat, saraf, serta tulang dan sendi. Sistem ini berperan penting dalam gerakan tubuh. Oleh karena itu, bila sistem muskuloskeletal terganggu, kemampuan dalam bergerak dan melakukan aktivitas pun bisa terganggu (Halodoc, 2019).
Dengan adanya sistem muskuloskeletal, tubuh dapat bergerak dan menjalani berbagai aktivitas, seperti berjalan, berlari, berenang, hingga sesederhana mengambil suatu benda.
Ketika Anda hendak menggerakkan tubuh, otak akan mengirimkan sinyal melalui sistem saraf untuk mengaktifkan otot rangka. Setelah menerima impuls atau rangsangan dari otak, otot akan berkontraksi. Kontraksi otot ini akan menarik tendon dan tulang untuk membuat tubuh bergerak.
Sedangkan untuk mengendurkan otot, sistem saraf akan mengirimkan pesan ke otot agar mengendur dan rileks. Otot yang rileks akan berhenti berkontraksi, sehingga gerakan tubuh akan ikut terhenti.
Salah satu gangguan muskuloskeletal adalah nyeri. Gangguan nyeri diakibatkan adanya kerusakan yang berupa ketegangan otot, inflamasi, degenerasi, maupun fraktur pada tulang yang disertai dengan rasa nyeri sehingga mengurangi kemampuan gerak.
Penyebab nyeri muskuloskeletal bervariasi. Halodoc (2019) menyatakan, penyebab nyeri dapat tergantung dari usia, pekerjaan, tingkat aktivitas dan gaya hidup. Oarang lanjut usia cenderung mengalami nyeri muskuloskeletal dari sel-sel tubuh yang rusak.
Beberapa jenis pekerjaan membutuhkan tugas yang berulang atau menyebabkan sikap tubuh yang buruk, sehingga membuat kamu berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal. Menggunakan otot terlalu berlebihan, maupun terlalu lama tidak aktif, seperti duduk sepanjang hari dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal. Para atlet lebih sering berisiko untuk gangguan muskuloskeletal.
Jaringan otot bisa rusak akibat kelelahan dengan kegiatan sehari-hari. Cedera atau trauma di suatu bagian yang disebabkan oleh gerakan tiba-tiba, kecelakaan mobil, dan jatuh juga dapat menyebabkan nyeri muskuloskeletal. Penyebab lain nyeri termasuk salahnya posisi tulang belakang dari postur tubuh yang buruk atau pendeknya otot dari kurangnya aktivitas.
Terapi Meredakan Nyeri Muskuloskeletal
Pada umumnya, nyeri muskuloskeletal dapat diatasi dengan berbagai macam terapi. Salah satu metode meredakan nyeri muskuloskeletal adalah dengan proses fisioterapi. Yang dimaksud fisioterapi adalah metode terapi untuk merehabilitasi seseorang agar terhindar dari cacat fisik akibat cedera atau penyakit.
Metode fisioterapi dapat membantu mengembalikan gerakan dan fungsi ketika seseorang mengalami cedera, terkena penyakit atau mengalami disabilitas. Juga dapat membantu memperbaiki aktivitas fisik dan mengurangi risiko cedera atau penyakit di kemudian hari.
Sebuah studi menunjukkan, meredakan nyeri bisa dibantu dengan aktivitas menulis ekspresif. Selain fisioterapi, pasien mendapatkan tambah intervensi dengan menulis. Luisa Pepe dan tim (2013) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pengungkapan emosional tertulis, sebagai intervensi tambahan dalam fisioterapi.
Sejumlah 40 pasien rawat jalan dengan nyeri muskuloskeletal dirawat dengan fisioterapi selama 10 sesi. Separuh dari subjek diminta menulis ekspresif tentang pengalaman hidup yang sulit, setelah empat sesi. Separuh yang lain, diminta menulis dengan tema netral.
Analisis data menunjukkan bahwa menulis ekspresif mampu menunjukkan pengurangan skor nyeri. Skor nyeri terus menurun enam bulan setelah fisioterapi dalam kelompok menulis ekspresif. Hasil ini menunjukkan bahwa pengungkapan emosional tertulis merupakan tambahan yang efektif untuk fisioterapi. Menulis ekspresif mampu meningkatkan kesehatan secara fisik maupun psikologis.
“Hasil penelitian Luisa Pepe dan tim menunjukkan bahwa pengungkapan emosional secara tertulis merupakan tambahan yang efektif untuk fisioterapi. Menulis ekspresif terbukti mampu meningkatkan kesehatan secara fisik maupun psikologis, pada nyeri muskuloskeletal”.
Selama ini, menulis ekspresif telah terbukti memberikan pengaruh yang baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Berbagai penelitian akademik yang dilakukan banyak kalangan ahli, menunjukkan pengaruh menulis ekspresif untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit.
Expressive writing reduces health-care utilization, pain, somatic illness symptoms (e.g., upper respiratory illness symptoms), disease severity ratings, and illness behaviors – Lepore & Kliewer (2013)
Lepore & Kliewer (2013) menyatakan, menulis ekspresif mengurangi pemanfaatan layanan kesehatan, nyeri, gejala penyakit somatik (misalnya, gejala penyakit pernapasan atas), peringkat keparahan penyakit, dan perilaku penyakit. Masih sangat banyak kemanfaatan menulis ekspresif untuk memperbaiki kesehatan fisik dan mental.
Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.
Bahan Bacaan
Carol DerSarkissian, Pain Management: Musculoskeletal Pain, 25 April 2019, https://www.webmd.com
Halodoc, Gangguan Muskuloskeletal, https://www.halodoc.com, 27 November 2019
Kireina S. Cahyani, Mengenal Fisioterapi, Solusi untuk Cedera dan Nyeri Sendi, detikHealth, 14 Desember 2018, https://health.detik.com
Luisa Pepe dkk, A More Global Approach to Musculoskeletal Pain: Expressive Writing as an Effective Adjunct to Physiotherapy, DOI: 10.1080/13548506.2013.859712, Psychology Health anda Medicine, November 2013, https://www.researchgate.net
Stephen J. Lepore, Wendy Kliewer, Expressive Writing and Health, 2013, DOI: https://doi.org/10.1007/978-1-4419-1005-9_1225, diakses dari https://link.springer.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar