Kamis, 15 Juli 2021

PENDIDIKAN MEMPUNYAI AKAR YANG PAHIT TAPI BUAHNYA MANIS

  Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd


Pernahkan disaat tidur anda  bermimpi  indah dan ketika bangun  jadi  kecewa, karena ternyata   kejadian indah itu hanya sebuah ilusi semata? Jawannya pasti ada. Setiap orang pasti punya cerita yang berbeda. Di bawah Ini  jawaban dalam ziarah hidupku.

Mungkin kisahku ini biasa saja. Bukan hal yang fantastis. Namun aku selalu yakin bahwa setiap perjalanan  kehidupan manusia  selalu ada hikmah yang bisa diambil. Sekelumit perjuangan  meraih mimpiku untuk menjadi orang yang bermartabat, bermanfaat, smart dan penuh semangat.

Aku adalah  anak  pertama dari 4 bersaudara. Bapak seorang  guru jamannya pak Umar Bakri sekitar tahun 1963 pensiun tahun 2000  dan ibu dirumah saja.  Ada  sebidang tanah untuk tanam sayur  sekedar menambah  income  keluarga. Jaman itu  gaji bapak  masih sedikit  dan harus bisa mencukupkan hidup dan sekaligus  menyekolahkan kami.

Sebagai seorang guru   bapak punya mimpi anaknya  semua berhasil. Berharap  anaknya  sekolah ditempat yang bapak inginkan sejak bapak masih  pemuda  dulu. Kami tinggal di kampung, Gejayan,  kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang.  Masih  termasuk daerah lereng gunung Merapi di Jawa Tengah. Setelah  kami  lulus  SMP  cita-cita  bapak  semua  anaknya harus bisa sekolah Jogyakarta.  Jogya adalah Kota  pelajar yang tentunya sekolah di situ  harus  kos.  Sebagai anak pertama saya yang lulus  duluan.  Sekolah tujuan  adalah SMA Tarakanita Stella Duce.  Sekolah  swasta yang sangat  terkenal saat itu.  Sekolah yang notabene mayoritas China.  Seluruh siswa yang berjumlah  sekitar 1000-an orang perempuan semua.  sebagai  anak pribumi asli kampung  dengan modal gaji sebagai guru  memang harus  punya  nyali dan mental yang  kuat.

Dengan  modal nekat  Bapak mendaftarkan  saya disitu, puji Tuhan akhirnya saya diterima. Sebenarnya  saya sudah diterima di sekolah negeri, tapi karena keinginan bapak, sebagai anak perempauan  saya tidak ingin mengecewakan Bapak. Akhirnya saya menuruti saja apa kata bapak.   SMA  Stella Duce juga disiapkan Asrama. Lulus  jadi  siswa baru  berarti  harus asrama. Bapak berharap saya bisa  sekolah baik-baik jika tinggal di asrama.

Asrama  disediakan 2 tempat, yaitu  Asrama Panti Rapih dan asrama Supadi. Karena peminat asrama banyak, saya sedikit lambat  mendaftar.  Akhirnya saya tidak dapat tempat di asrama. Bapak sedih. Sayapun turut prihatin,  seolah cita-cita bapak kandas. Akhirnya bapak berpikir keras bagaimana  caranya  supaya  saya bisa tinggal di asrama.

Kami tanya  ibu Har, beliau adalah  ibu asrama Jl. Supadi. Asrama dekat sekolah,  Suster kepala adalah Sr Bernadia. Beliau  Dekan Teknik Kimia Universitas Atmajaya.  Suasana asrama begitu asri, indah, sepi dan  serasa nyaman. Penghuni asrama kelihatan  begitu tertib, anak-anaknya manis-manis dan terlihat ramah, sopan dan berkarakter. “Pasti ini karena ajaran dan pendampingan orang-orang  terdidik”,  batinku.

Jarak Rumah kami ke Jogya sekitar 40 km.  Selama penerimaan siswa baru sampai tes masuk dengan setia bapak mengantar,  menemani dan menunggu saya, dilaju pulang pergi. Awal sebuah perjuangan mewujudkan  mimpi, supaya saya bisa sekolah di sekolah  favorit yang dimimpikan bapak. Saya sudah resmi  jadi siswa Stella Duce.  Perjuangan berikutnya harus bisa tinggal di asrama.

Bapak  orangnya gigih. Apapun yang diharapkan harus  terwujud. Benar!, pagi-pagi hari berikut kami start dari  rumah menuju  Jogya dengan naik motor kesayangan.  Motor honda L2S tua yang selalu setia menemani kami kemana saja. Dengan jalan kecepatan tinggi Sekitar 33 menit kami sudah sampai di Jogya.  Kami langsung menuju asrama untuk menemui ibu asrama. Harapan kami semoga  ada yang batal tinggal di asrama  atau mengundurkan diri. Itu kami lakukan terus selama 3 hari berturut-turut pp alias pulang pergi.

Setelah ketuk pintu,  Ibu Asrama menemui kami. Bapak memberanikan diri  untuk bertemu dengan Suster kepala lagi. Asrama di situ sangat ketat. Semua kegiatan diatur  dengan jam , jam bertamu, jam belajar, jam ibadah dan lain-lain.  Jadwal tertulis  jelas di kamar tamu. Karena saat itu belum jam tamu,  Kami tahu  diri akhirnya  kami pamit dulu untuk tunggu di luar sampai  waktu jam bertamu tiba.

Sambil menunggu jam bertamu   pukul 16.00 WIB, kami  cari makan di penjual kaki 5 di  depan  asrama. Karena lapar  Kami pesan 2 piring  nasi rames. Murah meriah. Nikmat rasanya jajan dipinggir jalan, kami tak berani makan di Mirota bakery  takut mahal bayarnya.

Bu Har memberitahu kalau Suster orangnya  sibuk jadi pulangnya tidak pernah pasti. Dengan tekat  bulat kami akan tetap menunggu dan terus  menunggu sampai  bertemu dengan Suster.  Setelah jam 16.00 kami datang lagi ke asrama. Kami ketuk  pintu ada  seorang  Siswa Stece ( Stella Duce)  penghuni asrama membukakan pintu. Bapak  bertanya,  “Apakah Suster ada? . “Ada“ , jawab anak asrama. Sebelum memanggilkan suster dia mempersilahkan kami duduk.  Saya membayangkan begitu bangganya kalau  saya bisa  tinggal di asrama itu. Batinku. Chiee...mimpi dulu.

Tak berapa lama Suster Bernadia keluar.  Beliau ramah sekali. Dengan  senyum dan  tatapan yang adem beliau menyapa kami. Nyesss... rasa hati ini. Harap-cemas, harap cemas  akan jawaban suster, karena sebenarnya  bu Har Sudah 3 kali 3 hari  kasih tahu kalau asrama susteran sudah penuh. Daya tampung asrama  hanya 60 orang dan sudah pas!.

Ternyata benar, Jawaban suster sama. Sedih, kecewa, rasa hati kami. Terasa sesak di dada ingin menangis rasanya.  Akhirnya kamipun pulang dengan langkah gontai. Disepanjang  perjalanan bapak  menceritakan kekecewaannya. Saya juga ikut sedih. Daertah Istimewa Yogyakarta, kota provinsi, kota besar dengan segala bingar- bingarnya kehidupan. Jika saya kos, saya yang notabene  anak kampung, lugu, kuper. Bapak tak tega saya kos diluaran yang tak jelas.  Bapak takut saya kena pengaruh /hal negatif.  Selain itu  betapa repotnya nanti harus bayar kos, biaya makan, bayar transpot dll dst.

Berpikir jika tinggal diasrama hanya tinggal ‘belajar’ semuanya sudah difasilitasi. Letaknya dekat sekolah pula. Makan sudah disediakan. Hidup teratur,  dibimbing, didampingi.   Yach pokoknya semua  mendukung  deh. Semalam suntuk bapak tak bisa  tidur, saya pun kecewa luar biasa. Akhirnya  pagi berikutnya kami pergi lagi ke Jogya. Kami menyelesaiakan administrasi di sekolah menyerahkan berkas-berkas dan kelengkapan pendaftaran. Menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi hingaa jam 11.00 WIB.  Jam bertamu di asrama jam 16.00.  Tak mungkinlah kami pulang ke Muntilan yang jaraknya 40 km. Kami menunggu dengan penuh setia di depan asrama, sambil sesekali  ngobrol dengan penjual es doger di situ, dengan  tukang sol sepatu atau  dengan orang-orang yang  jualan di pinggir-pinggir jalan.

Tak terasa tibalah waktunya bertamu.  Dengan modal tak  tahu malu dan tak tahu diri  kami ketuk pintu asrama. Bu Har yang membukakan pintu itu.....”Eh! bapak lagi”. Iya ibu...maaf,  ingin sekali lagi  ketemu Suster kepala, kata  bapak memohon dengan penuh belas kasihan. Bu Har pun mempersilahkan kami duduk menunggu kedatangan suster.   Sekitar  1 jam kami menunggu suster.  Akhirnya  penantian pun tak sia-sia. Suster  dengan becak masuk halaman asrama. Kemudian  beliau masuk.   Sambil nyengir kami berdiri dan memberikan hormat kepada  Suster.” Eh bapak lagi” sapa  Suster pada kami.

Tunggu ya, saya  masuk dulu, “sapa suster kepada kami”.  “Baik Suster, trimakasih”, jawab bapak.  Sambil menunggu suster, doa dalam hati kudaraskan semoga saya bisa tinggal di asrama ini.  Sekitar   15 menit kami menunggu suster, akhirnya beliaupun muncul.  Bapak adalah sorang guru PPKN dan budi pekerti yang mengajarkan tata krama di sekolah.  Saya akui bapak pinter menghiba, memohon belas kasihan, semoga kali ini  bisa berhasil.  Terbukti kemarin waktu wawancara tentang uang  gedung di sekolah teman-teman lain bayar selangit, kami dapat super murah, berkat kelihaian  ‘bahasa’ bapak  saya hanya bayar  50 ribu setara gaji bapak 1 bulan waktu itu.  Itupun dicicil sampai 5 kali selama 5 bulan.

Singkat cerita dengan  berbagai cerita fakta dan  nasib saya dan lain-lain. Antara lain yang  bapak sampaikan kepada suster kepala. “Suster saya  ingin sekali  anak saya sekolah disini sejak saya masih  bujang dulu. Saya  bermimpi anak saya sekolah di SMA dan di asrama ini. Biar  tidur di kolong tempat tidur yang penting anak saya bisa masuk asrama ini.  Semoga Suster berkenan memberi tempat. “Saya tidak akan keluar dari rumah ini  sebelum suster mengijinkan anak saya tinggal disini”, suara bapak memohon dan setengah mengancam.

Sebenarnya suster  juga sudah menunggu  semoga ada  yang mengundurkan diri , tetapi ternyata tidak ada!. Suster  terlihat berfikir keras. Suasana  sunyi, sepi bagai kuburan..hanya detak bunyi jam dinding saja yang nyaring terdengar. Bapak.....ini jika anak bapak mau. Sebenarnya ada satu tempat tidur yang kosong, tempat tidur itu  tingkat, sementara hanya mbak Menuk yang tidur di bawah. Kami ada 5 orang asisten rumah tangga, ada 6 tempat tidur jadi 1 itu tidak ada tuannya, kasurnya memang ada. Kalau mau...ini kalau  Eti mau, bisa tidur di situ.

Nyesss...ternyata doaku terjawab. Trimakasih Tuhan. Bapak dan Suster nawarkan itu  padaku. Tanpa pikir panjang akupun mengiyakan. Aku sangat senang.  Bapak  jadi lega dan berterimakasih  berluang-lulang  kepada suster.

Benarlah kini saya bisa tinggal di asrama, tak penting saya tinggal bersama dengan pak Yem, mbak Menuk, mbak Mimin...mereka asisten rumah tangga. Justru aku merasa bersyukur. Aku jadi di sayang mereka. Susterpun sayang jadinya. Aku tetap belajar dengan baik.  Justru aku  di asrama dapat tugas setiap hari memberi makan kucing kesayangan suster yang banyak sekali. Mereka diberi nama semua. Mince, Tince Lince,...yah pokoknya mereka semua punya nama. Lucu. Setiap Suster punya makanan enak dari luar negeri saya selalu dapat bagian.

Tak heran kalau akhirnya saya di asrama jadi gendut.  Padahal saya orangnya pendek hanya 150 cm tingginya. Ini berkat makan terjamin  kue  setiap hari bisa ambil sendiri di dapur. Yang  lebih membahagiakan hati, ternyata suster  melarang kami membayar  asrama. Alias gratis. Memamg! Rejeki tak pernah salah alamat. Saya Selalu berdoa, bersyukur atas nikmat Tuhan. Tuhan akan selalu memberikan kemudahan dan Kenikmatan. Tuhan selalu memberikan harapan pada orang yang tidak mudah menyerah.  Tuhan bisa memberikan Mujizat pada yang percaya dan tidak meninggalkan mereka dan berjalan bersamanya. Doa itu seperti kebun. Jika  terus dipeliara maka doa akan berbuah

Ajaran itu yang   bapak selalu berikan untuk pegangan hidup.  Kini saya sudah nyaman tinggal di asrama, tahun berikutnya  adikku menyusul tinggal bersama. Nah karena  adikku bersama teman-teman  di kamar depan,  adikku  membayar sesuai  tarif asrama. Tahun berikut Suster memberi peluang kepadaku  aku pilih tinggal di depan atau tetap tinggal bersama mbak Yem di belakang.  Dengan mantap aku milih tinggal di belakang saja. Aku  sudah biasa bantu-bantu  mbak-mbak  untuk kerja di dapur.

Selama 3 tahun saya di asrama gratis dan  setelah aku lulus SMA suster masih memintaku untuk tinggal di asrama menjadi pendamping  anak – anak asrama. Duh senangnya aku. Setiap mbak-mbak dapat hadiah sayapun pasti dapat  bagiannya, seperti tas, baju baru dan lain-lain. Selain kuliah dan menjadi pendamping anak-anak  diasrama  saya masih boleh memberi les di luar.  Masih ingat  anak les saya bernama Ananto dan 2 Adiknya yang les prifat  dengan saya dari  kelas 1 SMP sampai lulus SMA. Lumayan juga dapat uang bulanan dari keluarga mereka, bisa meringankan beban orang tuaku.

Sebenarnya saya masih senang tinggal di asrama, suster juga masih mengharapkan aku tetap tinggal. Tapi Rencana jadi berubah setelah adikku no 2 lulus SMA  kedua adikku lagi harus sekolah di jogya juga. Kami  berempat tidaklah mampu orangtuaku menyewa kos ditempat yang berbeda-beda.

Akhirnya kami rapat keluarga. Bapak  menyarankan aku keluar dari asrama.  Bapak  sewa sebuah rumah.  Rumah itu kita sulap menjadi warung makan sederhana.  Kita lengkapi,  meja, kursi,etalasi  dan semuanya. Kesimpulannya  Bapak dan ibu melatih kami  untuk hidup mandiri. Sekolah sambil berjualan.

Kami bersaudara nama saya Eti Wuryani. Eli Wuryandari adikku nomor dua, Edi Wuryanto adik laki-laki nomor 3 dan  disusul Rudi Wurdiayanto si bungsu. Saat   mulai  sewa rumah  saya  ambil keguruan ikatan dinas jurusan matematika di Sanata Dharma Jogyakarta dan adikku  Eli kuliah di UGM jurusan Elektornika  dan Instrumentasi ( ELIN)  kedua adikku laki-laki masih SMA. Benar-benar kami  hidup mandiri,  kuliah sampil  buka warung. Menu yang kami jual adalah Nasi campur, Soto ,bakso dan  segala Es ( Es teh, es campur , dll). Warung kami  di depan SMA-nya adikku no 3 . SMA De Britto,  Sekolah yang menurut kami sekolah  favorit  dan bergengsi  dari saat itu  sampai sekarang. Biaya sekolah lumayan mahal bagi ukuran kami.

Dengan tertatih-tatih, penuh derita , letih dan lelah  kami  tak ingin mengecewakan  harapan orang tua. Bapak tetap sebagai PNS, untuk mencukupkan kebutuhan kami. Perjuangan bapak  selain mengajar di sekolah Utama SPG Van lith beliau juga mengajar di SMA Pendowo dan STM Pangudi Luhur. Ibu selain kerja sawah juga sambil  merias pengantin . Maklum  perias pengantin kala itu  belum se-ekskekutif sekarang, tapi lumayan untuk menambah income keluarga.

Hari terus berjalan, kami pun tetap semangat  menjalankan usaha kecil itu dengan dibantu Yu Tinuk dan mbak Sri yang jadi tukang masak. Setiap jam 01.00 dini hari kami sudah belanja ke pasar  mengejar  harga murah . Jika   belanja sudah lewat jam 02.00 WIB harga  sudah  dari  orang ke-2 begitu seterusnya. Semakin siang, harga barang semakin mahal. Keluarga besar  kami yang orang jawa  tulen punya falsafah,  bangun harus pagi, jika kita tak bangun pagi rejeki akan hilang dipatok ayam yang sudah bangun duluan.  

Malam terlalu larut.  Ngantuk ini tak tertahankan. Aku menahan kantukku sekuat tenaga karena saya harus ujian besok. Saya  merasa belum siap.  Materi yang kupelajari  banyak dan saya belum terlalu paham. Kuambil satu ember  air  kurendam kakiku agar aku bisa  tetap melek.  Kalau dituruti maunya diri ini  berlari menghampiri bantal yang ada di tempat tidur  lalu merebahkan tubuh, melepaskan  rasa penat yang sudah kutahan dari sore. Aku harus kuat, tetap semangat!, niatkan hati. Biarpun ada ujian tugas rutin tak boleh  alpa. Tak boleh juga mengeluh. Kita tetap harus komitmen dengan jadwal yang sudah diatur.

Jam 06.00 sudah ada pelanggan yang sarapan. Setiap  jam istiraht  para siswa  dari SMA  sudah menyerbu soto dan bakso kami. Jadi  sebelum jam 10.00 kami sudah racik  sekitar 30 mangkok  soto dan bakso, beberapa gelas  Es. Jadi  kita sepakat  bersama adik-adik  atur jadwal untuk menjaga warung. Jadwal kita tempel di pintu kamar supaya semua  kami bisa saling bertanggung jawab.

Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Bulan selalu berjalan maju. Tahun pun berganti. Hingga akhirnya tak terasa semua kami berempat lulus kuliah 2 adik saya alumni UGM dan yang bungsu  Atmajaya  jurasan  Teknik Sipil.  Ketiga  Adikku  kerja di jakarta.  Mereka semua sudah berkeluarga dan bersyukur sudah bisa hidup mapan.

Tahun 2009 bapak meninggaal, akhirnya  Adik bungsu yang sudah kerja di Waskita  Karta Jakarta harus rela mengundurkan diri karena harus menjaga ibu yang sendirian. Saya  yang kuliah guru dan ikatan dinas setelah lulus ditempatkan di Timor-timur. Karena Timtim merdeka Akhirnya kami  ikut mudik di tanah kelahiran Suami. Saat ini kami masih tercatat sebagai guru di SMA negeri 2 Waingapau, Sumba Timur NTT.

Demikianlah perjuangan hidupku aku  adik-adikku. Pendidikan mempunyai akar yang pahit  tapi buahnya  manis. Hidup itu seperti naik sepeda terus mengayuh agar tak jatuh.  Tak ada keberhasila tanpa usaha dan kerja keras.  Jangan mengeluh tapi teruslah berusaha. Terus belajar untuk menggapai harapan. Good Fighter never show the pain.  Petarung yang kuat  tidak pernah  menunjukkan pesakitan.

Sukses adalah hak Anda tetapi bekerja keras, selalu belajar, dan tidak pernah menyerah adalah kewajiban kita manusia.

 

 

Salam Literasi!

Waingapu, 7 Juni 2021.

 

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...