Cerpen: CV. Cahaya Pelangi Media
Tema : Love Yourself (mencintai Diri Sendiri)
Rembulan Tenggelam di
Wajahku
Saya
yakin, Kita semua pernah menemui titik terendah dalam hidup kita dan
‘berhasil’
melewatinya. ‘hebat! .
Peristiwa itu. Oh Tuhan!.Rintihku dalam hati. Tak terasa sesak sekali
hatiku, jika ingat saat itu....
Saat ini umurku jalan 22 tahun. Tak
lama lagi aku wisuda. Oktober ini
janjiku pada orang tuaku karena mereka sudah tanya-tanya terus kapan aku
wisuda. Kasihan juga mereka sudah mengeluarkan
uang untuk biaya kuliahku dengan susah payah dan keringat darah mencari uang. Saya bukan dari
keluarga yang kaya. Kini kuliah di Jogya,
ingin aku membuat orang tuaku bangga padaku.
Tok! Tok!! Bunyi
suara pintu kosku di ketuk seseorang
. Ku buka pintu, eh!! ternyata tante Fanie
yang dari Jakarta datang. Kaget
aku. Aku begitu semangat, tante ini
paling sayang sama aku. Setiap ada ivent-ivent penting aku biasa diajak. Tante kerja di bank dunia,
orangnya baik hati sekali, royal dan familiar, mungkin karena tante tidak punya anak laki-laki. Kalau tante
minta bantuan pastilah ke aku.
Tante datang mau minta tolong antar
barang kos milik Reni putri
sulungnya yang kuliah di Atma. Barang-barang yang kos supaya diungsikan ke rumah
eyang (panggilan nenekku: Red). Sudah
setahun lebih kuliah daring, gegara
ada barangnya di kos harus rutin mbayar. Kan rugi tuh. Orangnya ada
di Jakarta terus, hanya barang saja yang kos tapi mbayarnya 1,5 juta per bulan. Wow!! Apalagi kalau orang
seperti aku....kirimanku saja tak sampai sejuta sebulan. Harus cukup dan tak
boleh mengeluh!.
Akupun dengan suka cita memenuhi
permintaanya. Seperti biasa, pasti tante traktir makanan yang enak-enak di restourant.
Maklumlah anak kos, tak pernah makan enak. Hanya langganan warung borju harga
Rp10 ribuan setiap kali makan. Itupun Supaya irit aku target makan hanya 2x sehari. Wah kalau 3x aku bisa tekor
uang kiriman ortu.
Tante memberiku uang untuk sewa
pic-up. Bersyukur biar aku miskin pernah
diajari nyetir sama tetanggaku yang baik.
Dengan pic-up yang kusewa Rp 200 ribu akhirnya kami tancap...!!, bertiga, aku ,tante dan Reni. Benar kan!
Tante ajak kami makan di Restourant
mewah, makanan lezat dan bisa berselfi ria. Jadi Kenangan.
Selesai makan, saya siap melaksanakan tugas bawa barang-barang. Kami menuju rumah Eyang
di Dukuhan, kampung tanah
kelahiran mamaku.
Sampai di rumah Eyang, jamuan makan
malampun disajikan. Biasa, Eyang kalau cucunya muncul tak tanggung-tanggung menjamu
kami, selalu menyediakan makanan yang ‘super’ enak. Sebagai anak kos aku tak
akan melewatkan kesempatan itu. Ayam panggang coi!! “Ayo cucu...makan makan!!”, suara eyang mempersilahkan kami. Kamipun serbu makanan lezat itu sampai
ludes! des!. Begitu bahagianya Eyang
lihat kami lahap makan. Eyang
sangat tahu kami ‘anak kos’ penuh keprihatinan tak pernah
makan enak,. Wkwkw..
Seperti biasa habis makan, aku biasa
mbantu tante Anna, istri Om
Nandang cuci piring. Kebetulan mbak Menuk, pembantu mereka pulang kampung karena simboknya sakit.
Kulihat Vino, anak tunggal om
yang menggemaskan selalu manja padaku. Setiap aku duduk pasti dia ngelendot atau minta pangku ke aku.
Barang-barangnya Reni sudah turunkan di rumah eyang....makan sudah
selesai, tibalah saatnya kami pamit
pulang ke Jogya. Sampai di Jogya kuantar tante dikosnya Reni, aku mengembalikan pic-up sewaan dan langsung
pulang ke kosku.
Sampai di kamar kos badanku kok
terasa lemas...tiba-tiba badanku panas
tinggi. Kepala thiung-thiung, macam mau pecah. Tuhan, ada apaan ini!!. Seumur hidup aku belum pernah merasakan sakit seperti begini. Aku takut sekali!! Aku mulai
panik. Aku berusaha tenang. Tenggorokanku mulai terasa sakit. Dag dig
dug dadaku bergetar kencang! Aku jadi
ingat...... jangan-jangan aku terserang
covid-19!!.
Kok, yang kurasakan tanda-tandanya seperti yang kulihat/kubaca di medsos yang terpapar covid
ganas Delta vaian. Kuambil bawang merah,
kuiris lalu kucium....,ternyata tak bisa
kurasakan aromanya. Kuambil kaos kaki
dalam sepatu yang kupakai tadi...ternyata aku tak merasakan bau... aku mulai
gelisah, dan takut. Jangan jangan.......
aku kena covid?
Rasa hati karuan. Jantungpun
terus bergedup kencang. Kupikir-pikir sejenak dalam keadaan panik! Aku jadi ingat,
O Iya!! Tante Anna positif. Tapi
saya tidak salaman tadi, batinku. Saya juga tetap pakai masker......jangan-jangan....Tuhan!!, ahh!! saya
tak berani curiga.
Getaran jatung semakin kencang diikuti
badan kok tambah panas. Aku batuk,
tenggorokan terasa sakit, dahak yang kukeluarkan warna coklat!! Ada juga tetesan darah jatuh
dari hidungku. Aku tak sadar apa yang
akan terjadi pada diriku. Hampir copot
jantungku. Nafasku semakin sesak malam itu. Aku tak berdaya, aku mau minta tolong sama siapa?????
Kosku berderet empat kamar ...sepi sekali
karena mereka semua mudik. Jadi aku
sendirian. Ya aku sendirian!! Hanya ditemari suara kodok di sawah, gesekan
bambu diterpa angin dan hembusan udara malam .
Tuhan!!!! “Kuatkan aku!”, rintihku dalam hati. Aku terus
berdoa dan hanya bisa berdoa. Semoga aku
bisa kuat menjalani sakit dan
penderitaanku ini. Dengan menahan rasa sakit yang amat hebat aku tak bisa
tidur, badanku lemas, deman, panas rasanya tubuh ini, perut perih sekali. Lengkaplah
penderitaanku. Mau lari ke rumah sakit suasana
malam mencekam. Aku tak berdaya. Semoga ini
bukan malam yang terakhir bagiku.
Dalam kepanikan aku mencoba keluar......menatap
jam menunjukkan jam 00.23 WIB. Suasana sepi menambah bulu kudukku berdiri.
Kebetulan dibelakang kamar kosku adalah kuburan. Di perkampungan
pula. Sunyi sepi. Maklum anak rantau
cari kos yang murah dan sepi. Selain
tak memberatkan ortuku yang
penghasilannya pas-pasan dengan harapan bisa belajar dengan baik di
lingkungan yang sepi. Angin berhembus sepoi-sepoi. Menyusup hingga ke
nadi. Aku duduk di teras kos seraya
merenungi nasibku dan menahan sakitku. Aku tak berani cerita karena takut
diusir pemilik kos.
Ditemani nyamuk yang sesekali menggigitku. Aku
tak bisa tidur semalaman, sambil menahan sakit kepalaku dan batuk yang terus
tak henti. Mencoba kutahan.......sampai
akhirnya kudengar suara mesjid adzan subuh dari kejauhan... kulihat HP ternyata
sudah jam 03.43 WIB.
Hari ini jadwalku harus ke rumah sakit Betheda...sendiri, ku
stater motorku untuk swab, mbayar
Rp250ribu. Aduh!! Mahal sekali, uang makanku seminggu lebih!! Tak apalah, demi sebuah kesehatan. Gegub jantung, rasa
was was dan takut bersamaan
menunggu hasil swab. Tak lama kemudian
perawat membawa hasilnya.
.......ternyata, benar aku positif!!! “Delta Varian” virus terbaru yang
ganas dan sedang menggila.
Kepala terasa disambar petir. Aku hampir pinsan mendengar berita itu. Untung Tuhan menguatkanku. Dari
62 yang swab disitu, hanya ada 3 orang yang positif. Termasuk aku!. Sedih, perih, sakit, lunglai rasanya . Aku diberi obat, mungkin vitamin
ya. Disuruh minum setiap hari.
Perawat pesan supaya, ingat prokes ketat, olah raga, berjemur
setiap jam 09.00 WIB dan jangan lupa olah raga. Dengan langkah gontai aku meninggalkan rumah sakit.
Aku tak bisa berkata-kata. Aku mau curhat sama siapa. Kalau aku cerita di ibu kos bisa saja aku diusir dari
kos. Tak terasa airmata menetes dipipiku, terasa sesak didadaku. Aku tak berani
memberitahu orang tuaku di NTT. Aku takut mereka sedih dan panik.
Hari demi hari kujalani selama pesakitan ini. Kemarin ada temanku meninggal di kampus,
padahal awalnya dia sehat-sehat. Di Jogya Zona merah, menurut berita akan segera lookdown. Aku jadi kepikiran dengan nasib diriku. Sakitku belum
juga berkurang. Selain panas,
tenggorokanku sakit sekali,
kumasuki makanan dengan paksa masih teramat sakit.
Jantungku ini deg degan kencang
terus, aku selalu tersugesti dengan
kematian. Aku hanya bisa terus berdoa dan tak henti. Tuhaaannnnn.......bantu hambamu. Sembuhkanlah aku. Airmata deras selalu membasahi pipiku. Aku tak berdaya. Aku hampir
putus asa.
Akhirnya terpaksa aku cerita
keadaanku ke Tante Fanie tentang keadaanku......... Kurasakan, ada perasaan
bersalah dihati tante. Akhirnya tante Fanie
mengirimkan aku obat Cina ‘Lian Hua’ namanya. Pasti itu mahal harganya. Harus
diminum 3 x 4 butir sehari selama 9 hari.
Obatnya gede-gede pula. Demi kesembuhan
aku mulai minum. Tante terus cek teang
keberadaanku.
Inilah aku. Saatnya aku berjuang
untuk diriku. Aku harus kuat. Aku sayang
pada diriku. Segala cara halal
harus aku taklukkan demi kesehatanku. “pasti bisa!. Ya pasti Bisa. “Tuhaannnnn....dengarkan aku!”, pintaku pada Tuhan mohon belas kasihan. Tak akan sedetikpun aku meninggalkan Tuhan Kudaraskan doaku terus menerus.
Aku ingin hidup!. Aku
tak boleh gampang menyerah! Aku
tak ingin orang tua dan keluargaku
sedih mendengar fakta yang
kurasakan.
Tenggorokan sakit sekali kalau menelan, tapi terus
kupaksakan diri untuk makan dan
minum air panas. Dengan keringat dingin terus kumasukkan nasi
kemulutkan demi keselamatanku. Aku tak
boleh cengeng. Harus kuat, harus semangat!
Tiba-tiba bapa, mama
telpon, pasti ini tante yang memberitahukan tentang aku. Aku berusaha tenang, aku menutupi sakitku yang sebenarnya. Seolah-olah aku baik-baik saja. Tentunya
agar ortu tetap tenang. Hanya aku berharap semoga Bos tidak tanya
laporan dan Tugas akhirku.
Hari ini adalah hari ke-8, kisah penderitaanku. Masa Isoman 14 hari, terasa
lamaaaa.....sekali. Sebenarnya aku hampir tak tahan dengan sakitku, aku tak sanggup lagi menanggung
penderitaan ini. Aku ingin berontak! kesaalllll!!! Tapi sama siapa??? Tuhan tak akan mencobai umatnya melebihi kemampuannya. Aku yakin dan percaya!. Kata-kata itu yang selalu menguatkan
perasaanku.
Puji Tuhan, dengan penghiburan dari orang-orang terdekat. Dengan
doa. Akhirnya sakitku mulai berangsur sembuh. Tuhan selalu menjagaku,
mendampingiku dan masih memberiku
kesempatan padaku untuk
melanjutkan ziarah kehidupanku.
Trimakasih untuk pengalaman ini,
Aku bisa lebih semakin menghargai
kesehatan. Menghargai kehidupan. Membuat aku menjadi dewasa dan terus bersyukur
kepadaNya.
“Ledwina
Eti adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14
April 1966. Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang
sudah terbit adalah Untaian Pelangi
Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi
Saat Pandemi, Dermaga Hati dll . Buku
Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia” Penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar