Oleh :
Ledwina Eti Wuryani
Turun di bandara Jogya aku
langsung menuju pangkalan ojek untuk menuju rumahku. Aku pulang dari Jakarta. Sebagai
seorang pensiunan punya banyak waktu
untuk pergi sedekar nengok cucu walaupun di Jakarta. Tiba-tiba ada seorang nona cantik menghampiriku dan
mengambil koperku sambil berkata” ojek pak!. Oh iya, jawabku singkat. Aku mengikutinya dari
belakang menuju motornya. Setelah menstater motornya memintaku untuk segera
naik. “Bagaimana kalau aku saja yang didepan?”, kataku. Dia memberikan kunci
kontaknya padaku.
Ahh!, ternyata wanita cantik
itu adalah ojek. Dengan hati penasaran aku bertanya padanya ”Nona masih muda
kenapa ojek?, apakah suami mengijinkan?”. “Suamiku sudah meninggalkan saya
pak?”, jawabnya. “ Inalilahiwainaliruji’un”,
kataku turut berduka. Apakah nona sudah punya anak?, tanyaku menelisik.
“ Belum pak”, saya ditinggal suami. Suami
pergi TKI dengan istri barunya tanpa sepengatuanku. Aku kaget, tak terlihat
olehku ada polisi tidur didepanku. Spontan nona memelukku kencang. Ada rasa
yang berbeda dalam hatiku. Sambil berbincang-bincang tak terasa sudah sampai di
depan rumahku. Akhirnya nona itu kuajak masuk. Dia membawakan tasku. Aku
segera masuk dan membuatkan segelas air
minum nutrisari untuknya.
Kupersilahkan minum , dia
kelihatan malu dan sungkan. Kupaksa supaya meminumnya sampai habis baru
kubayar. Akhirnya dihabiskannya. Lalu kusodorkan 2 lembaran uang seratus ribu padanya. “Aduh pak,
maaf tak ada kembalinya”, katanya. “ Ambil saja, trimakasih untuk perkenalan
ini, kataku datar. Apa boleh aku minta no. HP-nya nona?, kataku memohon. Boleh!
boleh pak, jawabnya dengan semangat dan senang hati. Sejak itu kami saling chat, hatikupun jadi berbunga-bunga. Sejak istriku meninggal aku tak pernah merasakan
hatiku sebahagia ini. Nona Linda selain cantik parasnya, halus pula tutur
katanya. Hari-hariku penuh kerinduan. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah
tangan. Suatu saat kuberanikan diriku menyatakan cintanya dan ingin meminangnya. Dia bilang pikir-pikir dulu. Aku
juga tahu diri, jika Linda keberatan juga aku sangat mengerti. Hehe.. nanti orang bilang, aku mata keranjang atau
tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi. Tiga bulan dia tak membalas WA-ku.
Akupun berusaha untuk melupakannya walau terasa sulit. Ahhh!! Lupakan saja. Tiba-tiba ada suara getar dalam tasku. Kubuka
HP ternyata Linda yang menelponku. Dug dag rasa hatiku. Aku harus siap menerima penolakan darinya.
Ternyata….. apa kata dia!! Dia menerima
lamaranku. Aku Bahagia luar biasa. Serasa angin surgawi menyirami seluruh
tubuhku. Kek! Kek!! Ada dengar teriakan
menggoyang-goyangkan badanku. Aku sadar. Ternyata cucuku dari luar kota datang bersama orangtuanya. Eaaallahhh…
ternyata mimpi. Malu aku jadinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar