Selasa, 10 Mei 2022

HIDUP DAN PERJUANGAN #Day 4

 

 


 

Cinta tak pernah gagal panen, karena kebahagian dan kesedihan itu hasil permanen. Tetaplah komitmen saling melengkapi, saling membutuhkan dan tak perlu sentimen.

 

Kasih sayang dan cinta itu adalah dambaan setiap insan. Kita  meyakini  bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Kodrat sebagai seorang wanita  setia menunggu dan  merindu. Tak sopan jika perempuan menyatakan cinta lebih dulu, walau hati ini   menggebu ingin bertemu.

Pada suatu hari saya duduk  sendirian di perpustakaan kampus IKIP Sanata Dharma mengerjakan tugas dari  dosen. Seorang cowok menghampiriku sok kenal terus duduk di sebelahku. Jujur, saya orang paling cuek dengan cowok. Saya kurang respon deh padanya. Bukannya saya sombong,  aduhhh... sombong bagaimana?, Tak ada  yang bisa kusombongkan. Yang aku punya semuanya  biasa-biasa saja, tapi aku tetap selalu bersyukur. Hehe ...  saya masih  memikirkan   tanggung jawab  untuk  orang tuaku, mengejar cita-citaku. Jangan  pikir yang  sia-sia dulu. Maaf!!,  Saya ini  bukan orang mampu. Kami (aku dan ke-3 adikku)  punya target  harus  sekolah dan kuliah semua.

Demi cita-cita apapun lakukan, yang penting halal. Saya sebagai anak pertama harus berbakti pada orang tua dan tak boleh melawan ortu. Kami disewakan rumah dan rumah kos itu kita buat warung makan sederhana.  Dengan adanya warung itu, hari-hari kami disibukkan dengan belanja,  memasak, menjaga warung. Ada  sih tukang masak, yu Tinuk tetangga kami yang baik hati dan  pinter.  Ada lagi mbak Sri, keluarga jauh yang sudah lulus SMA tapi belum dapat kerja akhirnya, bergabung bersama kami.  Kami yang membantu dibelakang segala sesuatunya. Dari warung bukan  sepenuhnya cari keuntungan, minimal untuk  membantu makan kami berempat.

Memang rejeki selalu saja ada. Puji Tuhan. Setiap hari  kami bisa menyisihkan uang sedikit untuk menopang biaya sekolah dan kuliah kami. Kalau uang tidak cukup, dengan hasil sawah warisan nenek yang dikelola ibu untuk mencukupkan kebutuhan kami. Setiap hari minggu ibu menengok kami berempat dengan membawa sayur atau bumbu yang ibu taman di sawah kampung. Lumayan untuk menutupi kebutuhan warung supaya asap tetap mengepul. Kami benar-benar dididik mandiri dan belajar menghargai waktu dan uang oleh orang tua kami.

Dengan begitu mana saya sempat  memikirkan cowok? Wow....jangan, jangan dulu!! Saya sendiri tidak ada waktu untuk sekedar tebar pesona, hari-hariku padat dengan kegiatan di rumah dan di kampus. Boro-boro pikir beli make up, baju mahal atau aksesori. Ahh!, itu  sedikitpun tak  terpikir olehku.

Masuk ke cerita cowok, memang sih ada  saja  cowok teman kampus yang  diam-diam memperhatikanku. Tapi selama ini saya cuek saja. Sering dia nyamperin,berbasa-basi tapi aku tetap cuek . Sudah lama  sebenarnya cowok itu macam  perhatian sekali. Bagiku, pikir kuliah saja  otak bikin stress. Saya ambil jurusan matematika jurusan yang menurut saya nti gampang cari kerja. Di IKIP Sanata Dharma. 2 adikku di UGM dan yang bungsu Di Universitas Atmajaya semua jurusan Teknik. Saya mau menanggapi sang cowok itu takut  kuliah dan kerjaku terbengkelai. Biarlah, kalau memang jodoh suatu saat pasti akan dipertemukan. Yakin saja. Begitupun adik-adikku, kami tak ingin membuat orang tua kecewa.

Waktu terus berjalan, aku lulus kuliah. Adik-adiku masih berjuang. Orang tua semakin berat kalau tidak ada usaha  lain mereka bisa DO (Drop Out) lantaran biaya semakin besar. Nah, pada suatu hari  temannya bapak SGA ( Sekolah Guru Atas), namanya Bapak Drs Margono, M.Si adalah seorang pejabat di Dikmenum  Dinas Pendidikan dan kebuadayaan RI. Beliau menawari bapak  untuk jadi kepala sekolah SMA Negeri di Timor-Timur. Peluang itupun tak disia-siakan, kebetulan bapak adalah guru SPG yang tahun 1990  harus ditutup. SPG diganti dengan SMU.

Setelah bapak menyatakan setuju atas tawarannya jadi kepsek, bapak dipanggil menghadap beliau ke Jakarta. Tak menunggu lama bapak bertemu beliau  dan  mendapat SK Kepala sekolah, karena memang Timor Timor sedang membutuhkan banyak guru, akhirnya saya pun dapat SK CPNS  sebagai guru di sekolah yang sama tanpa tes.

Nah, saat itu saya masih jomblo. Hati mulai terusik. Jangan sampai di Tim-tim aku jadi perwan tua, hahaa.... Memang cowok itu pernah beberapa kali mengatakan cintanya tapi aku belum pernah menjawab. Aku berjanji suatu saat pasti aku jawab diwaktu yang tepat. Orangnya memang baik, setia nyatanya aku kurang menanggapi tapi dia tak pernah mencari penggantiku. Setelah kupikir-pikir siang malam pagi sore, akhirnya aku ketemuan, curhat dan.......rermi jadi pacar. Hihi...

Adi Christian Muhu, nama cowok itu, nama asli orang NTT. Dia mahasiswa PDU ( Pendidikan Dunia Usaha). Kami se-almamater.  Karena aku saat itu ambil D3, maka aku lulus duluan, dia  sementara menyusun skripsinya. Karena dia tahu, aku akan pergi jauh di Timtim tak perlu menunggu lama dia mengajakku tunangan. Kini saya dan bapak berangkat menuju ke tempat pengabdian yang baru. Saat itu kami dapat uang  danasering 3,6 ,juta. Uang yang besar untuk ukuran saat itu. Pesawat  Denpasar-kupang hanya 140 ribu. Uang sebagian ditinggal untuk biaya registrasi adikku yang sebagian untuk bekal ke Timtim

Kami pacaran, LDR (hubungan jarak jauh). Setelah  lulus kuliah dia langsung pulang ke tanah kelahirannya Sumba Timur dan jadi guru  honor di SMA Kristen Payeti. Aku tetap di Tim Tim karena PNS. Kak Adi dua kali ikut PNS di Sumba tidak gol. Nah disini mulai ada kerenggangan antara kami.  Bapak saya meminta dia ikut ke Tim tim, kalau tidak  putuskan saja. Hati terasa disambar petir. Demi kebaikan kami berdua, pesan bapak kusampaikan. Ternyata dia juga stress. Akhirnya dia diantar oleh bapaknya menuju Tim Tim. Karena  dia bersedia ke Tim-tim akhirnya kami menikah pada tanggal 20 Juni 1992. Dia  meninggalkan Sumba menuju ke Tim-tim. Sekali Tes ‘lulus’. Dia ditempatkan di SMKK  Negeri Dili Timor Timur (Ibu Kota Provinsi).

Saat itu saya masih di SMA Negeri Maliana, salah satu kota kabupaten di Tim-tim, jarak kurang lebih 150 km dari Dili, ibu kota provinsi. Masih LDR juga. Sekarang dia tinggal dengan bapak saya, bapak sudah  dimutasi di SMA Negeri 1 Dili Tim Tim. Akhirnya dia yang menemani bapak, dengan setia jadi anak mantu yang setia, hehee... Karena berbeda tempat pengabdian, 2 tahun kemudian baru kami dikaruniai putra. Karena suami sudah PNS, kami mengusulkan pindah untuk mengikuti suami. SK pun turun.  Saya resmi  mengajar di SMA Negeri 3 Dili Timor Timor. Lengkaplah kini  aku, suami, anak dan Bapakku bersatu di Dili  Timor Timur.

Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1999 Timor-Timur ‘merdeka‘. Kami semua pegawai Republik Indonesia tampias  kemana-mana. Mereka  rata-rata pulang ke kampung halaman masing-masing, kecuali aku. Apalagi temanku orang Jawa, semua pulang jawa. Bahkan para suami yang bukan orang jawa tapi istri asli jawa, dengan setia ikut istri di jawa. Lain dengan aku. Aku yang nota bene orang Jawa asli ( Bapak asli Magelang dan ibu orang Solo) aku memilih dimutasi di Sumba Timur mengikuti suami.

Kini, tak terasa pernikahan kami sudah 30 tahun. Pernikahan kami  selalu diberkati.  Dalam  hidup kami lalui dengan terus  bersyukur dan suka cita. Walau kami saat itu mulai merangkak dari ‘nol’. Tak ada barang yang kubawa. Rumah lengkap dengan isi, motor, kami tinggalkan seluruhnya di Timor Timur. Demi keselamatan saat itu saya harus mengungsi dengan membawa barang yang bisa kutenteng. Kini   kami hidup di Sumba dengan modal  SK yang kami punya. SK guru SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur , NTT. Tak terasa hingga hari ini, 11 Mei 2022 sudah 22 tahun hidup di tanah Sumba.

 Kita mencoba belajar dari anak kecil saat dia belajar berjalan. Ia tak pernah menyerah untuk bisa berjalan walau berulang-ulang jatuh. Orang yang menabur  dengan mencucurkan air mata  akan menuai  dengan sorak-sorai. Semoga kita dimampukan untuk menjadi  saluran berkat untuk sesama. Hidup terus bersyukur dengan yang ada   dan  selalu mengandalkan Tuhan sampai tutup usia.

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge – 4

#RumahliterasiPMA

#LedwinaEti  

                             Waingapu, 11 Mei 2022

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...