Cinta tak pernah gagal panen, karena kebahagian dan kesedihan itu hasil
permanen. Tetaplah komitmen saling melengkapi, saling membutuhkan dan tak perlu
sentimen.
Kasih sayang dan cinta itu adalah
dambaan setiap insan. Kita meyakini bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Kodrat
sebagai seorang wanita setia menunggu
dan merindu. Tak sopan jika perempuan menyatakan
cinta lebih dulu, walau hati ini menggebu ingin bertemu.
Pada suatu hari saya duduk sendirian di perpustakaan kampus IKIP Sanata
Dharma mengerjakan tugas dari dosen.
Seorang cowok menghampiriku sok kenal terus duduk di sebelahku. Jujur, saya
orang paling cuek dengan cowok. Saya kurang respon deh padanya. Bukannya saya
sombong, aduhhh... sombong bagaimana?,
Tak ada yang bisa kusombongkan. Yang aku
punya semuanya biasa-biasa saja, tapi aku tetap
selalu bersyukur. Hehe ... saya masih memikirkan
tanggung jawab untuk
orang tuaku, mengejar cita-citaku. Jangan pikir yang
sia-sia dulu. Maaf!!, Saya
ini bukan orang mampu. Kami (aku dan
ke-3 adikku) punya target harus
sekolah dan kuliah semua.
Demi cita-cita apapun lakukan, yang
penting halal. Saya sebagai anak pertama harus berbakti pada orang tua dan tak
boleh melawan ortu. Kami disewakan rumah dan rumah kos itu kita buat warung
makan sederhana. Dengan adanya warung
itu, hari-hari kami disibukkan dengan belanja,
memasak, menjaga warung. Ada sih
tukang masak, yu Tinuk tetangga kami yang baik hati dan pinter. Ada lagi mbak Sri, keluarga jauh yang sudah
lulus SMA tapi belum dapat kerja akhirnya, bergabung bersama kami. Kami yang membantu dibelakang segala
sesuatunya. Dari warung bukan sepenuhnya
cari keuntungan, minimal untuk membantu makan
kami berempat.
Memang rejeki selalu saja ada. Puji
Tuhan. Setiap hari kami bisa menyisihkan
uang sedikit untuk menopang biaya sekolah dan kuliah kami. Kalau uang tidak
cukup, dengan hasil sawah warisan nenek yang dikelola ibu untuk mencukupkan
kebutuhan kami. Setiap hari minggu ibu menengok kami berempat dengan membawa
sayur atau bumbu yang ibu taman di sawah kampung. Lumayan untuk menutupi kebutuhan
warung supaya asap tetap mengepul. Kami benar-benar dididik mandiri dan belajar
menghargai waktu dan uang
oleh orang tua kami.
Dengan begitu mana saya sempat memikirkan cowok? Wow....jangan, jangan dulu!!
Saya sendiri tidak ada waktu untuk sekedar tebar pesona, hari-hariku padat
dengan kegiatan di rumah dan di kampus. Boro-boro pikir beli make up, baju
mahal atau aksesori. Ahh!, itu
sedikitpun tak terpikir olehku.
Masuk ke cerita cowok, memang sih
ada saja
cowok teman kampus yang diam-diam
memperhatikanku. Tapi selama ini saya cuek saja. Sering dia nyamperin,berbasa-basi
tapi aku tetap cuek . Sudah lama
sebenarnya cowok itu macam
perhatian sekali. Bagiku, pikir kuliah saja otak bikin stress. Saya ambil jurusan
matematika jurusan yang menurut saya nti gampang cari kerja. Di IKIP Sanata
Dharma. 2 adikku di UGM dan yang bungsu Di Universitas Atmajaya semua
jurusan Teknik. Saya mau menanggapi sang cowok itu takut kuliah dan kerjaku terbengkelai. Biarlah,
kalau memang jodoh suatu saat pasti akan dipertemukan. Yakin saja. Begitupun
adik-adikku, kami tak ingin membuat orang tua kecewa.
Waktu terus berjalan, aku lulus
kuliah. Adik-adiku masih berjuang. Orang tua semakin berat kalau tidak ada
usaha lain mereka bisa DO (Drop Out)
lantaran biaya semakin besar. Nah, pada suatu hari temannya bapak SGA ( Sekolah Guru Atas),
namanya Bapak Drs Margono, M.Si adalah seorang pejabat di Dikmenum Dinas Pendidikan dan kebuadayaan RI. Beliau
menawari bapak untuk jadi kepala sekolah
SMA Negeri di Timor-Timur. Peluang itupun tak disia-siakan, kebetulan bapak
adalah guru SPG yang tahun 1990 harus
ditutup. SPG diganti dengan SMU.
Setelah bapak menyatakan setuju atas
tawarannya jadi kepsek, bapak dipanggil menghadap beliau ke Jakarta. Tak
menunggu lama bapak bertemu beliau dan mendapat SK Kepala sekolah, karena memang Timor
Timor sedang membutuhkan banyak guru, akhirnya saya pun dapat SK CPNS sebagai guru di sekolah yang sama tanpa tes.
Nah, saat itu saya masih jomblo. Hati
mulai terusik. Jangan sampai di Tim-tim aku jadi perwan tua, hahaa.... Memang cowok
itu pernah beberapa kali mengatakan cintanya tapi aku belum pernah menjawab. Aku
berjanji suatu saat pasti aku jawab diwaktu yang tepat. Orangnya memang baik,
setia nyatanya aku kurang menanggapi tapi dia tak pernah mencari penggantiku.
Setelah kupikir-pikir siang malam pagi sore, akhirnya aku ketemuan, curhat
dan.......rermi jadi pacar. Hihi...
Adi Christian Muhu, nama cowok itu,
nama asli orang NTT. Dia mahasiswa PDU ( Pendidikan Dunia Usaha). Kami se-almamater. Karena aku saat itu ambil D3, maka aku lulus
duluan, dia sementara menyusun
skripsinya. Karena dia tahu, aku akan pergi jauh di Timtim tak perlu menunggu
lama dia mengajakku tunangan. Kini saya dan bapak berangkat menuju ke tempat pengabdian
yang baru. Saat itu kami dapat uang
danasering 3,6 ,juta. Uang yang besar untuk ukuran saat itu. Pesawat Denpasar-kupang hanya 140 ribu. Uang sebagian
ditinggal untuk biaya registrasi adikku yang sebagian untuk bekal ke Timtim
Kami pacaran, LDR (hubungan jarak
jauh). Setelah lulus kuliah dia langsung
pulang ke tanah kelahirannya Sumba Timur dan jadi guru honor di SMA Kristen Payeti. Aku tetap di Tim
Tim karena PNS. Kak Adi dua kali ikut PNS di Sumba tidak gol. Nah disini mulai
ada kerenggangan antara kami. Bapak saya
meminta dia ikut ke Tim tim, kalau tidak
putuskan saja. Hati terasa disambar petir. Demi kebaikan kami berdua,
pesan bapak kusampaikan. Ternyata dia juga stress. Akhirnya dia diantar oleh
bapaknya menuju Tim Tim. Karena dia
bersedia ke Tim-tim akhirnya kami menikah pada tanggal 20 Juni 1992. Dia meninggalkan Sumba menuju ke Tim-tim. Sekali
Tes ‘lulus’. Dia ditempatkan di SMKK
Negeri Dili Timor Timur (Ibu Kota Provinsi).
Saat itu saya masih di SMA Negeri Maliana, salah satu kota kabupaten di
Tim-tim, jarak kurang lebih
150 km dari Dili, ibu kota
provinsi. Masih LDR juga. Sekarang dia tinggal
dengan bapak saya, bapak sudah dimutasi
di SMA Negeri 1 Dili Tim Tim. Akhirnya dia yang menemani bapak, dengan setia
jadi anak mantu yang
setia, hehee... Karena berbeda tempat pengabdian, 2 tahun kemudian baru kami
dikaruniai putra. Karena suami sudah PNS, kami mengusulkan pindah untuk
mengikuti suami. SK pun turun. Saya resmi
mengajar di SMA Negeri 3 Dili Timor
Timor. Lengkaplah kini aku, suami, anak
dan Bapakku bersatu di Dili Timor Timur.
Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun
1999 Timor-Timur ‘merdeka‘. Kami semua pegawai Republik Indonesia
tampias kemana-mana. Mereka rata-rata pulang ke kampung halaman
masing-masing, kecuali aku. Apalagi temanku orang Jawa, semua pulang jawa.
Bahkan para suami yang bukan orang jawa tapi istri asli jawa, dengan setia ikut
istri di jawa. Lain dengan aku. Aku yang nota bene orang Jawa asli ( Bapak asli
Magelang dan ibu orang Solo)
aku memilih dimutasi di Sumba Timur mengikuti suami.
Kini, tak terasa pernikahan kami
sudah 30
tahun. Pernikahan kami selalu
diberkati. Dalam hidup kami lalui dengan terus bersyukur dan suka cita. Walau kami saat itu
mulai merangkak dari ‘nol’. Tak ada barang yang kubawa. Rumah lengkap dengan isi, motor, kami tinggalkan
seluruhnya di Timor Timur. Demi keselamatan saat itu saya harus mengungsi dengan
membawa barang yang bisa kutenteng. Kini kami hidup di Sumba dengan modal SK yang kami punya. SK guru SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur , NTT. Tak
terasa hingga hari ini, 11 Mei 2022 sudah 22 tahun hidup di tanah Sumba.
Kita mencoba belajar dari
anak kecil saat dia belajar berjalan. Ia tak pernah menyerah untuk bisa
berjalan walau berulang-ulang jatuh. Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai
dengan sorak-sorai. Semoga kita dimampukan untuk menjadi saluran berkat untuk sesama. Hidup terus bersyukur dengan yang ada dan
selalu mengandalkan Tuhan sampai tutup usia.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
– 4
#RumahliterasiPMA
#LedwinaEti
Waingapu, 11 Mei 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar