Selasa, 24 Mei 2022

YILAWATU #Day 19

 








Saat aku duduk iseng aku buka fb  terlihat  ada postingan  acara tarik batu, yaitu acara adat  mengambil batu besar untuk  batu nisan ‘sang Maramba’.  Acara itu tepatnya  di bulan Oktober 2021,  oleh marga Nipa di Nggongi,  bahasa Sumba Timur  ‘Yila Watu’ .  Batu yang ditarik luasnya berukuran 4X7 m2 tinggi  kira-kira 1/2m dengan berat kurang lebih 78 ton.  Waktu dibutuhkan  9 hari dari Tanarara - Nggongi Karera yang berjarak 36 km. Kegiatan tersebut  cukup menjadi perhatian warga Sumba Timur pada khususnya  bahkan Warga lain pada Umumnya.

Wow.!! ......ngeri. Bisa ratusan orang yang terlibat. Situasipun sungguh menegangkan!. Hampir seluruh warga sekitar terlibat dan menyaksikan.  Bukan kebetulan, karena  memang yang punya batu kubur itu adalah orang yang paling berpengaruh  di Nggongi. Seorang bangsawan. Beliau yang meninggal adalah Umbu Yadar. Siapa tak kenal Beliau, seluruh orang Sumba Timur pasti kenal. Beliau seorang raja Nggongi. Dan beliau juga masing keluarga dengan suamiku yang orang Sumba asli.

 Sang Sopir trontonyang membawa Batu itu  pasti ada nyawa  berlapis 7 hehe... Ini adalah pekerjaan yang super!  Sungguh perlu diacungi 2 jempol untuknya. Hebat luar biasa!!. Keren, keren!! Kalau  rem bloongg,  fataalll!!  Dengan perjuangan yang  luar biasa Ternyata  lulus, mereka berhasil  melewati jurang, tebing, dan berbagai medan yang ekstrin. Sungguh tim yang solid!! Mantaapp!.

Kebetulan anakku ikut prosesi dan punya  drown kecil.  Yah sekalian tes drown dan uji nyali,  yang lihat saja ngeri apalagi  mereka yang  terlibat. Semua yang melihat geleng-geleng kepala. Terkagum-kagum melihat  kelihaian sang sopir tronton yang hebat luar biasa. Sampai beberapa  kendaraan berat yang terlibat. Ada  alat yang untuk mendorong,  ada juga yang bertugas untuk menahan di depan,  ada juga yang pertahanan belakang.

Kita yang penonton  hanya bisa tahan nafas. Apalagi pas ditanjakan yang  ekstrim!. Waah!!,  kalau tergelincir ‘sedikit’ saja, akan sangat berbahaya.   Disamping kiri tebing samping kanannya jurang terjal.  Ada pula yang kanan kirinya  jurang terjal. Saya tak berani  bayangkan!.  Ini adalah sebuah pertaruhan ‘nama’. Mengukir sejarah. Itulah Sumba Timur. Besarnya batu bisa disetarakan dengan besarnya ‘nama’ sang pemilik batu kubur itu.

 Batu kubur itu  sebagai batu Nisan kalau istilah nasionalnya. Tradisi di Sumba Timur  ini  dilakukan turun temurun. Yila watu merupakan sebuah prosesi adat yang membutuhkan anggaran cukup besar karena melibatkan orang banyak. Jumlah tamu undangan tergantung dari besaran  batu yang ditarik dan medan  yang dilalui. Semakin besar batu  dan semakin sulit medan yang dilalui maka akan semakin  banyak orang yang menariknya, berarti anggaran yang dibutuhkan juga  semakin besar.

Waktu yang dibutuhkan  sangat bervariasi. Ada batu yang ditarik dalam waktu satu sampai tiga hari. Ada juga yang  berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan baru tiba di praing (kampung). Hal itu tergantung ketersediaanya logistik  untuk mendukung prosesi adat tersebut.

Tidak semua orang Sumba ‘mampu’ melakukan perhelatan tersebut. Acara adat hanya berlaku  untuk orang-orang ‘tertentu’ dan yang ‘mampu’ secara ekonomi. Biasanya dilakukan untuk para  tokoh masyarakat yang  terpandang.  Kegiatan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Keluarga harus menyiapkan makan dan minum mereka.  Logistik tersebut  selain biaya berupa uang  juga antara lain beras, kopi, gula, hewan (babi, sapi, kerbau). Sebagai masyarakat adat tentunya sirih pinang juga tak mungkin dilupakan.

Pada jaman dulu  acara tarik batu  semata-mata mengandalkan tenaga manusia, namun sekarang  sudah menggunakan truk, alat berat dan tronton. Jaman dulu masih manual jadi bisa berbulan-bulan  kalau batunya hingga 70-an ton. Sensasi!.


 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 1

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani 

#Kamis26Mei2022

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...