Saat aku duduk iseng aku buka fb terlihat
ada postingan acara tarik batu, yaitu
acara adat mengambil batu besar
untuk batu nisan ‘sang Maramba’. Acara itu tepatnya di bulan Oktober 2021, oleh marga Nipa di Nggongi, bahasa Sumba Timur ‘Yila Watu’ . Batu yang ditarik luasnya berukuran 4X7 m2
tinggi kira-kira 1/2m dengan berat kurang
lebih 78 ton. Waktu dibutuhkan 9 hari dari Tanarara - Nggongi Karera yang
berjarak 36 km. Kegiatan tersebut cukup
menjadi perhatian warga Sumba Timur pada khususnya bahkan Warga lain pada Umumnya.
Wow.!! ......ngeri.
Bisa ratusan orang yang terlibat. Situasipun sungguh menegangkan!. Hampir
seluruh warga sekitar terlibat dan menyaksikan.
Bukan kebetulan, karena memang
yang punya batu kubur itu adalah orang yang paling berpengaruh di Nggongi. Seorang bangsawan. Beliau yang
meninggal adalah Umbu Yadar. Siapa tak kenal Beliau, seluruh orang Sumba Timur
pasti kenal. Beliau seorang
raja Nggongi. Dan beliau juga masing keluarga dengan suamiku yang orang Sumba asli.
Sang Sopir trontonyang membawa Batu itu pasti ada nyawa berlapis 7 hehe... Ini adalah pekerjaan yang
super! Sungguh perlu diacungi 2 jempol
untuknya. Hebat luar biasa!!. Keren, keren!! Kalau rem bloongg,
fataalll!! Dengan perjuangan yang luar biasa Ternyata lulus, mereka berhasil melewati jurang, tebing, dan berbagai medan
yang ekstrin. Sungguh tim yang solid!! Mantaapp!.
Kebetulan anakku
ikut prosesi dan punya drown kecil. Yah sekalian tes drown dan uji nyali, yang lihat saja ngeri apalagi mereka yang
terlibat. Semua yang melihat geleng-geleng kepala. Terkagum-kagum
melihat kelihaian sang sopir tronton
yang hebat luar biasa. Sampai beberapa
kendaraan berat yang terlibat. Ada
alat yang untuk mendorong, ada juga yang bertugas untuk
menahan di depan, ada juga yang pertahanan
belakang.
Kita yang
penonton hanya bisa tahan nafas. Apalagi
pas ditanjakan yang ekstrim!. Waah!!, kalau tergelincir ‘sedikit’ saja, akan sangat
berbahaya. Disamping kiri tebing
samping kanannya jurang terjal. Ada pula
yang kanan kirinya jurang terjal. Saya
tak berani bayangkan!. Ini adalah sebuah pertaruhan ‘nama’. Mengukir
sejarah. Itulah Sumba Timur. Besarnya batu bisa disetarakan dengan besarnya
‘nama’ sang pemilik batu kubur itu.
Batu kubur itu
sebagai batu Nisan kalau istilah nasionalnya. Tradisi di Sumba Timur ini dilakukan turun temurun. Yila watu merupakan
sebuah prosesi adat yang membutuhkan anggaran cukup besar karena melibatkan
orang banyak. Jumlah tamu undangan tergantung dari besaran batu yang ditarik dan medan yang dilalui. Semakin besar batu dan semakin sulit medan yang dilalui maka akan
semakin banyak orang yang menariknya, berarti anggaran yang dibutuhkan juga semakin besar.
Waktu yang dibutuhkan
sangat bervariasi. Ada batu yang ditarik
dalam waktu satu sampai tiga hari. Ada juga yang berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan baru
tiba di praing (kampung). Hal itu tergantung ketersediaanya logistik untuk mendukung prosesi adat tersebut.
Tidak semua orang Sumba
‘mampu’ melakukan perhelatan tersebut. Acara adat hanya berlaku untuk orang-orang ‘tertentu’ dan yang ‘mampu’
secara ekonomi. Biasanya dilakukan untuk para tokoh masyarakat yang terpandang.
Kegiatan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Keluarga harus
menyiapkan makan dan minum mereka. Logistik
tersebut selain biaya berupa uang juga antara lain beras,
kopi, gula, hewan (babi, sapi, kerbau). Sebagai masyarakat adat tentunya sirih
pinang juga tak mungkin dilupakan.
Pada jaman dulu
acara tarik batu semata-mata mengandalkan tenaga manusia, namun sekarang sudah menggunakan truk, alat berat dan
tronton. Jaman dulu masih manual jadi bisa berbulan-bulan kalau batunya hingga 70-an ton. Sensasi!.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 1
#Rumah literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani
#Kamis26Mei2022

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar