Kamis, 30 Juni 2022

55, GURU 4.0

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd 

GURU ”. Jika  kita  berbicara tentang  guru.  Ini adalah  topik yang tidak pernah  habis untuk dibahas. Dari  jaman  nenek moyang kita dulu hingga sekarang, tak akan hilang ditelan waktu, sampai kapan pun. Kita berbicara Sekurang-kurangnya  sepuluh tahun terakhir saja. Selalu menarik. Selalu kompleks dan selalu seru.  Walau guru-guru sudah banyak yang berlalu (pensiun). Muncullah guru-guru baru, dengan semangat baru,  sebagai guru penggerak, guru pembatik untuk Indonesia terus maju menuju era baru.

Ada  juga  masyarakat yang tidak puas  terhadap guru.  Mungkin karena ada yang anaknya tidak lulus ujian. Bisa juga karena hasil penilaian di rapornya jelek. Ada juga yang kecewa karena  anak kesayangannya tidak  diterima di perguruan tinggi yang diharapkan. Pemandangan semacam ini  akan terlihat setiap  akhir tahun, setelah  penerimaan bukti kelulusan dan kenaikan kelas.   Mereka kecewa, karena seolah-olah  guru tidak bisa mengajar. Guru kurang bisa melatih atau mendidik siswa.

Keberhasilan seorang peserta didik  sebenarnya tidak sepenuhnya karena guru. Tidak serta merta  keberhasilan  murid itu karena ketidakmampuan  guru dalam mengajar. Benar. Guru  tetap harus berinovasi, tapi tanpa  peserta didik  yang  proaktif, ya sama saja bohong. Tak ada  seorangpun sukses  tanpa  sentuhan  guru. Jadi Apapun  kita saat ini, guru-guru kita  pasti ikut mewarnai dan  menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik.

Gejala  yang ‘kurang’ bagi guru  untuk saat ini.  Ketika ada guru yang tak mau belajar. Guru tidak mau menggerakkan  siswanya  untuk terus belajar dan membuka pikiran.  Guru Tidak berani  mengajak siswa  untuk kreatif dan tidak pandai  berkolaborasi dengan tuntutan kemajuan zaman seperti saat ini.

Apalagi  pada jaman  milenial seperti saat ini.  Guru  harus belajar untuk mengikuti  kemajuan teknologi yang semakin pesat. Selain  mempelajari iptek, kita juga harus membangun  pendidikan karakter. Membangun karakter agar kelak tidak hanya  unggul dalam sumber daya  manusia  tetapi   juga kuat dalam karakternya. “Mayoritas  mengatakan, intelektual yang membuat seseorang hebat, mereka salah.  Yang membuat hebat adalah karakter” (Albert Einstein).

Kita saat ini sudah memasuki era globalisasi.  Era ini dapat dipandang  sebagai era pengetahuan dan teknologi. Tugas guru mendidik, mengajar,  membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi  setiap peserta didik.  Diharapkan guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki  kompetensi yang sesuai dengan  perkembangan jaman.

Apalagi Program utama menteri pendidikan  yang akan ditingkatkan  demi menghadap  revolusi  industri 4.0 adalah sumber daya  manusia, salah satunya  guru.  Membangun  karakter sebuah keharusan. Guru  menjadi pintu  lahirnya  generasi muda. Guru Harus  berani beradaptasi  dengan teknologi. Guru  tidak lagi berjibaku berpegang teguh  dengan kapur dan berkotor-kotor  dalam sistem mengajarnya. Namun  guru  harus  menggunakan  teknologi  demi  menciptakan  sistem pembelajaran  yang up to date dan semakin menarik.

Ada beberapa perubahan  kecil yang bisa  guru  lakukan mulai dari sekarang. Yakni  mengajak  siswa untuk berdiskusi  dari pada mendengar. Memberikan  kesempatan kepada murid  untuk mengajar di kelas (presentasi aktif). Mencetuskan  proyek  bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Menciptakan karya atau produk, ketrampilan, portopolio dan praktek. Menemukan bakat  dalam diri  peserta didik. Siswa  harus  mandiri. Siswa juga harus berinovasi. Guru lebih banyak mendengar, siswa yang lebih banyak berbicara.

Menurut Indra Djati Sidi,Ph.d. Dalam bukunya Menuju masyarakat belajar, guru mempunyai 2 permasalahan eksternal, Yaitu : Tantangan Krisis etika dan moral anak bangsa (manusiakan manusia) dan tantangan masyarakat. Guru diharapkan bisa  menjawab tantangan itu. Guru harus  memiliki kepribadian  yang kuat dan matang untuk dapat menanamkan  nilai-nilai moral dan etika. Guru mampu  memberi bekal kepada peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi  juga menanamkan  sikap  disiplin, kreatif, inovatif dan kompetitif. Tentunya supaya masyarakat juga  bisa melihat bahwa peserta didik  mempunyai  bekal yang memadahi.  Mempunyai karakter dan kepribadian yang kuat sebagai Warga negara, sebagai anak bangsa, yaitu bangsa Indonesia

Adanya tuntutan peserta didik  yang harus terus  berinovasi dan berkreasai. Guru  harus lebih  menguasai teknologi. Menguasai Iptek.  Mengendalikan siswa  dengan kemajuan yang pesat seperti saat ini. Ketika  guru mempunyai  ikhtiar dalam budaya  literasi, membaca  berbagai buku, dia akan mampu  merespon  setiap perubahan. Guru mampu menjawab tantangan jaman. Yaitu lahirnya  inovasi-inovasi di dunia pendidikan. Tentunya berawal dari membaca, numerik, menganalisa  dan kemudian menciptakan. Perubahan  dimulai dari atas, semua  berawal dan berakhir dari  guru itu sendiri.

Jauh rasanya  ketika  kita berharap dalam meningkatkan  kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa  dibarenagi  mencari  ilmu sendiri  yaitu membaca. Guru Ideal hari ini harus ‘tangguh’  dalam karakter unggul dalam skill  dan oke dalam teknologi. Ketika guru tidak cakap  dalam teknologi, yang mana setiap perannya digantikan teknologi. Kita harus  siap  menjadi pengguna teknologi,  bahkan kalau mungkin bisa ‘menciptakan’. Siap untuk membuat inovasi  dan kreasi dalam dunia pendidikan.

Menjadi guru  ikut perjuangan.  Berjuang untuk  selalu memenangkan  di setiap proses  pembelajaran. Berjuang  untuk mengentaskan setiap kesulitan pembelajaran. Berjuang untuk  selalu membangun iklim positif  ketika menghadapi kesulitan. Seorang guru akan merasakan puas jika  kita sudah bertanggungjawab akan keberhasilan peserta didik.  Bukan hanya  sekedar mengajar. Inilah  kemenangan dalam dunia pendidikan. Karena mendidik  itu kepuasan batin. Jika kita mendidik dengan penuh tanggung jawab, kita akan  merasakan suatu  kebahagiaan dan  kebanggaan tersendiri.

Pendidkan karakter,  bukan hanya teori tapi perlu dibarengi dengan aksi dan diekspresikan  dengan keteladanan. Karena  itu  peluang  membangun karakter dan sumber daya  manusia dalam  revolusi industri 4.0  harus mulai sejak  duduk di bangku SD. Tentunya dari guru  yang memiliki dedikasi  tinggi  dan jiwa yang tulus. Tentunya  guru yang  setia  menerima tantangan. Guru yang menjemput peluang.  Guru yang  bisa menjadi teladan, yang selalu  di hati dan dinanti oleh setiap peserta didik, wali  murid dan masyarakat.

Guru tak akan bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Guru  harus menjadi penggerak untuk terus maju. Keberlangsungan  generasi dan masa depan anak bangsa  ditentukan oleh guru. Sebagai guru harus terus berinovasi. Apalagi  guru seperti saya, yang  sudah  tua, ya harus  tahu diri, tetap terus belajar  supaya tidak tinggal tetap   dilandasan. Malas belajar ya kadaluwarsa, rajin belajar punya masa depan yang lebih baik. Ada pepatah mengatakan ‘Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya  belajar,   maka  kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan’ , Imam Syafi’i. Salam untuk para guru. Tetap Semangat!.

Tak perlu menjadi #unicorn. Mari menjadi manusia biasa saja. Yang selalu rela belajar, terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 55
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Kamis,1Juli2022

  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...