Sabtu, 25 Juni 2022

A51. KENANGAN SAAT MASIH BOCIL

 

 

 

Tuhan merangkai hidup ini tak seindah apa yang kita pikirkan. Tak sepahit yang kita bayangkan. Tuhan merajut kita dengan kasih yang besar. Tapi Tuhan kadang menguji kita. Tangis dan senyum  sudah biasa ada disetiap kita. Teruslah menebar kebaikan agar bermanfaat bagi sesama.

 

          Saat Bocil (bocah kecil) umur 6 tahun saya  dimasukkan oleh ibu di SD Kanisius Kamal. Sekolah kampung yang jaraknya  3 km. Saat itu jalan masih tanah   belum diaspal. Anak-anak sekolah masih begitu lugu, polos. Berjalan penuh percaya diri tak bersepatu alias kaki kosong. Bersepatu hanya saat ke gereja atau ada acara pesta. Untuk menghemat waktu menuju sekolah  lewat jalan pintas, yaitu lewat pematang sawah. Saat  panas terik saat pulang sekolah kami biasa  mandi rame-rame bersama kawan. Di tengah perjalanan pulang  kami  melewati  sungai besar dan airnya jernih. Dengan polosnya dan tanpa malu-malu saat itu  kami mandi. Kalau ingat jadi merasa lucu  sendiri.

          Bapak saya adalah seorang guru, ibu di rumah saja. Kami ada sawah peninggalan mbah Kakung Padmoredjo. Selain ibu rumah tangga, jadi ibu juga kerja sawah sebagai petani. Kegiatan sampingan bapak adalah ketua Seni Budaya Jawa. Di rumah kami punya  seperangkat gamelan (musik Jawa: red). Jadi setiap semimggu 2 kali, yaitu Senin dan Kamis rumah kami dipakai untuk latihan kerawitan. Nama kelompoknya adalah Eko Budaya. Disitu kegiatannya adalah : menabuh gamelan, Ketoprak dan tarian Jawa.

          Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Dari situ tersalurlah hobi saya menari. Bapak, ibu dan adik saya tak suka menari. Untuk menyalurkan hobiku, tak tanggung-tanggung bapak menyewakan  3 guru tari padaku. Yaitu Pak Darman, Pak Sastro Kayat dan Mbak Budiyati mereka datang bergantian dengan tarian yang berbeda, seminggu 2 kali. Tak heran kalau saya menguasai banyak tarian, antara lain Tari Gambyong, tari Sri Rejeki, tari gambir anom, tari  Bondan, Seto Kumitir, Minak Jinggo Dayun, klana topeng dan lain-lain. Aku biasa  ngajak teman-temanku di kampung ikut  belajar menari bersamaku.

          Di Sekolah juga ada latihan menari. Tapi seminggu sekali, waktupun sangat terbatas hanya 2x35’  JP per minggu. Dengan begitu teman-teman  tak bisa menguasai tarian dengan baik. Ibu guru tari tahu kalau aku sudah menguasai banyak tarian. Bapak kepala sekolah menyuruh aku untuk melatih teman-teman. Itulah rasa  banggaku muncul. Masih kecil sudah jadi guru temanku sendiri. Lebih bangganya temanku ada yang mbayar sama aku saat itu Rp 25,- per orang. Sebenarnya sukarela saja tidak diwajibkan. Aku malu tapi mau saja. Hihi… Uang yang kami peroleh dari teman itu saya berikan bapak, hitung-hitung  untuk bantu beli bensin genzet atau cas  accu untuk tape recorder.

          Pada jaman dulu di kampung  listrik belum ada. Saat di kampung yang punya TV baru di rumah saya. Masih kuingat, kalau malam akan ada acara Ketoprak Roro Jonggrang atau Aneka Ria Safari. Dari siang para tetangga terkhusus yang sudah lanjut sudah menyiapkan tempat untuk nonton malam. Kebetulan rumah kami luas.  Rumah peninggalan Kakek. Dulu kakek adalah pedagang tembakau yang sukses jadi bapak yang mewarisi rumahnya, karena bapak anak bungsu. Pakde (kakak dari bapak)  sudah dibuatkan rumah masing-masing.

          Selain aku  jadi guru menari juga sering diundang menari saat ada hajatan. Ada yang menikah, acara syukuran. Acara  perpisahan di kantor atau sekolah. Yang jelas itu yang bikin aku senang karena di pesta pasti makan enak  dan saat pulang  diberi amplop pula. Betapa bahagianya, uang bisa kutabung untuk beli barang-barang kebutuhan yang aku suka. Bapak dan ibu tak pernah mengganggu uangku. Aku disuruh menyimpan sendiri. Sayang  foto-foto menari saat itu sudah rusak. Kami tinggal dekat  lereng gunung merapi.  Daerahnya dingin dan lembab jadi  foto-foto atau dokumen cepat rusak. Coba  saat itu sudah ada fb atau You tube pasti bisa jadi kenangan. Selain  bisa menari, kami sekeluarga  juga bisa menabuh gamelan ( musik Jawa : red). Ada yang namanya gong, saron, bonang, kethuk, kendang, siter dan lain-lain. Asyik deh saat itu.

Dari kecil kami sudah dilatih untuk mandiri. Ibu kerja sawah, kami  rajin membantu. Ibu menanam padi, lombok atau sayuran. Saat panen  kami yang jual. Baik di tetangga atau di pasar. Nanti ibu memberi persen pada kami. Bapak  dan pakde adalah perokok. Wah dari pada saya disuruh-suruh beli terus. Akhirnya saya beli 1 slop isi 20 bungkus, rokok  sigaret kretek 76 dan gudang garam. Dengan demikian  kalau bapak/pakde  suruh beli rokok, ya kulayani punyaku. Lumayan dapat untung.

Ibu petani ulung, ulet dan tak kenal lelah. Jika saatnya padi akan panen, sebagai ucapan syukur pada Dewi Sri ( dewi padi) biasa  keluarga mengadakan bancak’an. Kami masak nasi banyak , buat urap, jajanan pasar dan potong ayam  untuk buat sesajen. Kami keluarga mengundang ‘kaum’ atau tukang doa.  Tetangga dan orang-orang disekitar kita undang untuk makan rame-rame atau  makan bersama. Berbahagia karena sudah mau panen padi. Tradisi ini masih ada yang  melestarikan karena peninggalan leluhur katanya.

Yang paling membanggakan saya saat SD ( Sekolah Dasar).  Kami  ( Eti, Rita, Edi, Rudi) anak kesayangan guru. Kami yang selalu langganan jadi juara kelas.  Hehe.. mungkin karena  bapak saya juga guru kami jadi penurut. Sampai sekarang kami  masih ingat persis  guru SD kami.  Bapak Supomo, Ibu Sri, Pak Maryatno , Pak Dawud, pak Rabio Rismantoro. Beliau sudah sepuh sekali ( Usia lanjut) sekitar 80-an tahun  tapi masih ingat jika kami ketemu di gereja atau dimana saja. Aduuhh  itu adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa. Kadang saya  terharu hingga menitikkan air mata. Oh  guru….  Saat masih kental diingatan  istilah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Digugu dan ditiru. Hormatku selalu hingga habis nafasku.

Dulu kecil sekitar umur 5 tahun saya masih ingat ada nenek-nenek yang usianya sudah lebih 100 tahun. Nenek itu  kurang diperhatikan oleh keluarganya. Saya ingat sekali saya selalu datang menghampiri. Saya sering curi nasi dan lauk dilemari.  Hehe…   ambil nasi tanpa ibu tahu. Saya bungkus rapi dengan daun pisang yang kupetik di kebun  lalu  kuantar mbah Sarmi. Mbah canggah. Biasa  sebut mbah itu. Kadang saya memberikan uang dari uang saku yang kusisihkan.  Saya duduk manis  dan mendekat erat disamping mbah Sarmi  itu.  Dia mengelus-elus kepalaku dan mbah itu selalu berkata: “ Tak dongakke yo duk,  mugo-mugo kowe sesuk dadi cah apik, pinter, bojo bagus dan urip sing mulyo”. Adem dan rasa damai di dalam dada. Waaahh… begitu senang dengan  doanya mbah itu.  Yang jelas setiap  saya datang dia selalu  memberikan doa restu untuk saya dan katanya berjanji akan  mendoakan masa depan saya. Dengan begitu saya ‘yakin’ dengan ketulusan mbah Sarmi akan membawa hasil Nyata.

Benar saja, hidup memang  pasti tidaklah selalu mulus. Tapi setidaknya berkat doa-doa orang terdekat membuat jadi semangat menjalaninya. Ternyata  doa dan rasa  tenang dan bahagia itu  memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita. Dengan menjalani  hidup selalu bersyukur membuat  damai itu  terasa ‘nyata’. Walaupun hidup itu banyak cobaan, hambatan Tuhan akan selalu mendampingi, memberkati dan senantiasa melindungi kita setiap saat.

Sebagai  cucu, saat menghadapi bulan puasa, kami para cucu selalu berlomba untuk berpuasa. Setiap tahun jika  puasanya tak pernah bolong, Simbah selalu memberi hadiah spesial. Hadiah itu adalah Baju dan sepatu baru. Saat  puasa mulus dan tak putus itulah ‘anugerah’ datang. Saya  yang langganan jadi juaranya. Walaupun saya orang Katholik. Semua kita rukun dan aman-aman saja.  Saya taat puasa. Simbah memberikan 2 baju dan 2 sepatu baru plus tas.  Kereenn…. Saat lebaran dengan banganya kami pergi bersilahturahmi ke  saudara dan tetangga sambil tebar pesona dengan penampilan  pakaian yang serba baru.

Saat SD kelas 3 saya divonis sakit tipus  akut. Saat itu dianggap penyakit sangat berat. Saya opname di rumah sakit  sebulan lebih. Badan kurus, kering dan pucat. Rambut sampai rontok semua. Badan lemas tak berdaya. Sekitar  setengah tahun saya tidak sekolah, tapi  atas kebaikan Bapak ibu guru SD saya tetap naik kelas.  Itulah kenangan saya yang tak akan pernah lupa seumur hidup saya.

Itulah kenangan saat kukecil dulu. Yang Paling berkesan saat aku bisa bermanfaat bagi sesamaku. Merasa berharga walaupun tak  istimewa. Tulus murni saya sadar, saya bukan siapa-siapa. Hanya orang biasa yang selalu bersyukur untuk  nikmat Tuhan. Hidup mandiri, tidak cengeng , rela berbagi dan iklas memberi. Dalam hidup selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Ingin berusaha bisa menyenangkan hati Tuhan dan sesama. Sebai-baiknya  manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.( Hr. Ahmad)

Trimakasih Bapak ibuku. Trimakasih guruku. Trimakasih semua yang sudah mengajariku untuk menjalani  hidupku masa lalu. Kini bapak dan ibuku sudah tiada. Namun kenangan dan kebaikannya tak pernah sirna tetap terpatri di dalam hati. Saat ini secara kasat mata, berkat jasa mereka saya dan adik-adik sudah bisa hidup dicukupkan dari-Nya. Sekarang dan nanti  akan tetap bersyukur dan terus bersyukur dengan yang ada. Bahagia jika mampu menjadi penyalur berkat dan rela berbagi iklas memberi. Niat yang tulus, iklas  walau hidup sederhana tapi akan membuat bahagia.

Ingat kata bapak yang seorang guru, ‘Hanya yang menabur dengan menangis tahu arti menuai dengan penuh suka cita. Orang yang menabur dengan  mencucurkan airmata, ia yang akan paling bahagia saat menuai’.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 51

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani

#Senin, 27Juni2022 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...