Tuhan merangkai hidup ini tak seindah
apa yang kita pikirkan. Tak sepahit yang kita bayangkan. Tuhan merajut kita
dengan kasih yang besar. Tapi Tuhan kadang menguji kita. Tangis dan senyum sudah biasa ada disetiap kita. Teruslah
menebar kebaikan agar bermanfaat bagi sesama.
Saat
Bocil (bocah kecil) umur 6 tahun saya
dimasukkan oleh ibu di SD Kanisius Kamal. Sekolah kampung yang
jaraknya 3 km. Saat itu jalan masih
tanah belum diaspal. Anak-anak sekolah masih begitu
lugu, polos. Berjalan penuh percaya diri tak bersepatu alias kaki kosong. Bersepatu
hanya saat ke gereja atau ada acara pesta. Untuk menghemat waktu menuju sekolah
lewat jalan pintas, yaitu lewat pematang
sawah. Saat panas terik saat pulang
sekolah kami biasa mandi rame-rame
bersama kawan. Di tengah perjalanan pulang kami melewati
sungai besar dan airnya jernih. Dengan
polosnya dan tanpa malu-malu saat itu
kami mandi. Kalau ingat jadi merasa lucu sendiri.
Bapak
saya adalah seorang guru, ibu di rumah saja. Kami ada sawah peninggalan mbah
Kakung Padmoredjo. Selain ibu rumah tangga, jadi ibu juga kerja sawah sebagai
petani. Kegiatan sampingan bapak adalah ketua Seni Budaya Jawa. Di rumah kami
punya seperangkat gamelan (musik Jawa: red).
Jadi setiap semimggu 2 kali, yaitu Senin dan Kamis rumah kami dipakai untuk
latihan kerawitan. Nama kelompoknya adalah Eko Budaya. Disitu kegiatannya
adalah : menabuh gamelan, Ketoprak dan tarian Jawa.
Saya
adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Dari situ tersalurlah hobi saya menari.
Bapak, ibu dan adik saya tak suka menari. Untuk menyalurkan hobiku, tak
tanggung-tanggung bapak menyewakan 3 guru
tari padaku. Yaitu Pak Darman, Pak Sastro Kayat dan Mbak Budiyati mereka datang
bergantian dengan tarian yang berbeda, seminggu 2 kali. Tak heran kalau saya
menguasai banyak tarian, antara lain Tari Gambyong, tari Sri Rejeki, tari
gambir anom, tari Bondan, Seto Kumitir,
Minak Jinggo Dayun, klana topeng dan lain-lain. Aku biasa ngajak teman-temanku di kampung ikut belajar menari bersamaku.
Di
Sekolah juga ada latihan menari. Tapi seminggu sekali, waktupun sangat terbatas
hanya 2x35’ JP per minggu. Dengan begitu
teman-teman tak bisa menguasai tarian
dengan baik. Ibu guru tari tahu kalau aku sudah menguasai banyak tarian. Bapak
kepala sekolah menyuruh aku untuk melatih teman-teman. Itulah rasa banggaku muncul. Masih kecil sudah jadi guru
temanku sendiri. Lebih bangganya temanku ada yang mbayar sama aku saat itu Rp
25,- per orang. Sebenarnya sukarela saja tidak diwajibkan. Aku malu tapi mau
saja. Hihi… Uang yang kami peroleh dari teman itu saya berikan bapak, hitung-hitung
untuk bantu beli bensin genzet atau cas accu untuk tape recorder.
Pada
jaman dulu di kampung listrik belum ada.
Saat di kampung yang punya TV baru di rumah saya. Masih kuingat, kalau malam
akan ada acara Ketoprak Roro Jonggrang atau Aneka Ria Safari. Dari siang para
tetangga terkhusus yang sudah lanjut sudah menyiapkan tempat untuk nonton
malam. Kebetulan rumah kami luas. Rumah
peninggalan Kakek. Dulu kakek adalah pedagang tembakau yang sukses jadi bapak
yang mewarisi rumahnya, karena bapak anak bungsu. Pakde (kakak dari bapak) sudah dibuatkan rumah masing-masing.
Selain
aku jadi guru menari juga sering diundang
menari saat ada hajatan. Ada yang menikah, acara syukuran. Acara perpisahan di kantor atau sekolah. Yang jelas
itu yang bikin aku senang karena di pesta pasti makan enak dan saat pulang diberi amplop pula. Betapa bahagianya, uang
bisa kutabung untuk beli barang-barang kebutuhan yang aku suka. Bapak dan ibu
tak pernah mengganggu uangku. Aku disuruh menyimpan sendiri. Sayang foto-foto menari saat itu sudah rusak. Kami
tinggal dekat lereng gunung merapi. Daerahnya dingin dan lembab jadi foto-foto atau dokumen cepat rusak. Coba saat itu sudah ada fb atau You tube pasti
bisa jadi kenangan. Selain bisa menari,
kami sekeluarga juga bisa menabuh
gamelan ( musik Jawa : red). Ada yang namanya gong, saron, bonang, kethuk, kendang,
siter dan lain-lain. Asyik deh saat itu.
Dari kecil kami sudah
dilatih untuk mandiri. Ibu kerja sawah, kami
rajin membantu. Ibu menanam padi, lombok atau sayuran. Saat panen kami yang jual. Baik di tetangga atau di
pasar. Nanti ibu memberi persen pada kami. Bapak dan pakde adalah perokok. Wah dari pada saya
disuruh-suruh beli terus. Akhirnya saya beli 1 slop isi 20 bungkus, rokok sigaret kretek 76 dan gudang garam. Dengan
demikian kalau bapak/pakde suruh beli rokok, ya kulayani punyaku.
Lumayan dapat untung.
Ibu petani ulung, ulet dan
tak kenal lelah. Jika saatnya padi akan panen, sebagai ucapan syukur pada Dewi
Sri ( dewi padi) biasa keluarga
mengadakan bancak’an. Kami masak nasi banyak , buat urap, jajanan pasar dan potong
ayam untuk buat sesajen. Kami keluarga
mengundang ‘kaum’ atau tukang doa. Tetangga
dan orang-orang disekitar kita undang untuk makan rame-rame atau makan bersama. Berbahagia karena sudah mau
panen padi. Tradisi ini masih ada yang melestarikan
karena peninggalan leluhur katanya.
Yang paling membanggakan
saya saat SD ( Sekolah Dasar). Kami ( Eti, Rita, Edi, Rudi) anak kesayangan guru.
Kami yang selalu langganan jadi juara kelas. Hehe.. mungkin karena bapak saya juga guru kami jadi penurut.
Sampai sekarang kami masih ingat
persis guru SD kami. Bapak Supomo, Ibu Sri, Pak Maryatno , Pak
Dawud, pak Rabio Rismantoro. Beliau sudah sepuh sekali ( Usia lanjut) sekitar
80-an tahun tapi masih ingat jika kami
ketemu di gereja atau dimana saja. Aduuhh
itu adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa. Kadang saya terharu hingga menitikkan air mata. Oh guru….
Saat masih kental diingatan istilah
guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Digugu dan ditiru. Hormatku selalu
hingga habis nafasku.
Dulu kecil sekitar umur 5
tahun saya masih ingat ada nenek-nenek yang usianya sudah lebih 100 tahun.
Nenek itu kurang diperhatikan oleh
keluarganya. Saya ingat sekali saya selalu datang menghampiri. Saya sering curi
nasi dan lauk dilemari. Hehe… ambil nasi tanpa ibu tahu. Saya bungkus rapi
dengan daun pisang yang kupetik di kebun
lalu kuantar mbah Sarmi. Mbah canggah.
Biasa sebut mbah itu. Kadang saya memberikan
uang dari uang saku yang kusisihkan.
Saya duduk manis dan mendekat
erat disamping mbah Sarmi itu. Dia mengelus-elus kepalaku dan mbah itu
selalu berkata: “ Tak dongakke yo duk,
mugo-mugo kowe sesuk dadi cah apik, pinter, bojo bagus dan urip sing
mulyo”. Adem dan rasa damai di dalam dada. Waaahh… begitu senang dengan doanya mbah itu. Yang jelas setiap saya datang dia selalu memberikan doa restu untuk saya dan katanya
berjanji akan mendoakan masa depan saya.
Dengan begitu saya ‘yakin’ dengan ketulusan mbah Sarmi akan membawa hasil Nyata.
Benar saja, hidup
memang pasti tidaklah selalu mulus. Tapi
setidaknya berkat doa-doa orang terdekat membuat jadi semangat menjalaninya.
Ternyata doa dan rasa tenang dan bahagia itu memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan
kita. Dengan menjalani hidup selalu
bersyukur membuat damai itu terasa ‘nyata’. Walaupun hidup itu banyak
cobaan, hambatan Tuhan akan selalu mendampingi, memberkati dan senantiasa
melindungi kita setiap saat.
Sebagai cucu, saat menghadapi bulan puasa, kami para
cucu selalu berlomba untuk berpuasa. Setiap tahun jika puasanya tak pernah bolong, Simbah selalu
memberi hadiah spesial. Hadiah itu adalah Baju dan sepatu baru. Saat puasa mulus dan tak putus itulah ‘anugerah’
datang. Saya yang langganan jadi
juaranya. Walaupun saya orang Katholik. Semua kita rukun dan aman-aman
saja. Saya taat puasa. Simbah memberikan
2 baju dan 2 sepatu baru plus tas. Kereenn….
Saat lebaran dengan banganya kami pergi bersilahturahmi ke saudara dan tetangga sambil tebar pesona
dengan penampilan pakaian yang serba
baru.
Saat SD kelas 3 saya divonis
sakit tipus akut. Saat itu dianggap
penyakit sangat berat. Saya opname di rumah sakit sebulan lebih. Badan kurus, kering dan pucat.
Rambut sampai rontok semua. Badan lemas tak berdaya. Sekitar setengah tahun saya tidak sekolah, tapi atas kebaikan Bapak ibu guru SD saya tetap
naik kelas. Itulah kenangan saya yang
tak akan pernah lupa seumur hidup saya.
Itulah kenangan saat
kukecil dulu. Yang Paling berkesan saat aku bisa bermanfaat bagi sesamaku.
Merasa berharga walaupun tak istimewa.
Tulus murni saya sadar, saya bukan siapa-siapa. Hanya orang biasa yang selalu
bersyukur untuk nikmat Tuhan. Hidup
mandiri, tidak cengeng , rela berbagi dan iklas memberi. Dalam hidup selalu
mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Ingin berusaha bisa menyenangkan hati
Tuhan dan sesama. Sebai-baiknya manusia
adalah yang bermanfaat bagi orang lain.( Hr. Ahmad)
Trimakasih Bapak ibuku.
Trimakasih guruku. Trimakasih semua yang sudah mengajariku untuk menjalani hidupku masa lalu. Kini bapak dan ibuku sudah
tiada. Namun kenangan dan kebaikannya tak pernah sirna tetap terpatri di dalam
hati. Saat ini secara kasat mata, berkat jasa mereka saya dan adik-adik sudah
bisa hidup dicukupkan dari-Nya. Sekarang dan nanti akan tetap bersyukur dan terus bersyukur
dengan yang ada. Bahagia jika mampu menjadi penyalur berkat dan rela berbagi
iklas memberi. Niat yang tulus, iklas walau hidup sederhana tapi akan membuat bahagia.
Ingat kata bapak yang
seorang guru, ‘Hanya yang menabur dengan menangis tahu arti menuai dengan penuh
suka cita. Orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, ia yang akan paling
bahagia saat menuai’.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 51
#Rumah literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani
#Senin, 27Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar