Senin, 09 November 2020

TRIMA KASIH CORONA...... KARENAMU MEMBUAT AKU ‘BISA’

 


 

Sebagai seorang guru selalu dihadapkan  berbagai rutinitas mengajar di kelas. Itu adalah tugas yang utama.  Kesibukan lain membuat perangkat pembelajaran. Tugas lain membuat soal dan memeriksa tes dari peserta didik. Berbagai aktivitas lain lagi untuk mendukung  berlangsungnya pembelajaran yang menyenangkan. Tuntutan target kurikulun yang harus tercapai. Belum lagi, tanggungjawab  menangani tugas  tambahan (kalau ada). Wakil Kepala Sekolah, wali kelas, pembina ekstrakurikuler dan tugas-tugas lainnya.

Guru adalah abdi negara, apapun pekerjaan harus dikerjakan. Harus selalu rela berjuang dengan keiklasan demi anak kita, peserta didik kita. Demi masa depan mereka. Tapi  kadang kita jatuh di titik ‘nadir’. Rutinitas yang membosankan. Hehe... kadang sampai stresss!! Nach!!. Itulah hari-hari yang selalu kita geluti. Senang tak senang, namanya kuajiban, harus  kita nikmati dan syukuri dengan penuh suka cita dan selalu senyum.

Waktu itu...saya membayangkan, betapa senangnya kalau ada  libur panjang. Pasti asyik. Pasti bahagia. Bisa  pesiar sepuasnya. Refresshing  dengan bebaaaass!!  Tanpa ada  ikatan. Tanpa beban!. Eh!! Ternyata  Tuhan mengabulkan  mimpi itu.  Libur panjang, ya libur panjang sekali  dari Maret 2020 hingga hari ini. Tuhan menguji kita lewat pandemi.

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang Covid-19, ada yang di karantina sampai dirawat di rumah sakit! . Bahkan tidak sedikit juga  yang  meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Apalagi di kota kecilku, Waingapu  adalah ‘zona merah’. Total ada 30 orang positf covid, yang meninggal 2 orang. Oh Tuhan!, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Hari pertama.... kedua.... ketiga,  sampai waktu sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan sekali tinggal di rumah. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sekolah tutup, sekolah sepi, sekolah tak lagi ada penghuni. Jadi!, untuk sekolah tak ada cerita lagi saat pandemi melanda ibu pertiwi. Ya, memang  guru  kadang datang ke sekolah, untuk membuat administrasinya. Tapi murid tak ada. Situasi jelas terasa berbeda. Para guru punya ruang berbeda. Ada di ruang kurikulum, ada di ruang BK. Ada di ruang guru dan ada juga di ruang laboratorium atau tempat lainnya. Kalau ketemu ya, hanya,.....’hallo’...lanjut  keruangan masing-masing  untuk melanjutkan kerja tugas dan kesibukannya . Begitulah.

Setiap orang punya  talenta masing-masing. Berkat pandemi dan di rumah saja, akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur dan waktupun mendukung. Setiap  orang kini punya kesempatan untuk menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreativitas dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga, membuat kue, berkebun dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur menjadikan kita merasa lebih bahagia dan terhibur.

“Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat” (Suharnan, 2005). Benar adanya, ternyata dengan adanya  musibah ini, banyaknya waktu yang kita habiskan di rumah aja, kita bisa  lebih kreatif !.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatifitas.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak kemudian hasilnya  diposting  di WA group. Ketika ada teman-teman  yang memesan akan kita antar kerumahnya dan tentunya akan menghasilkan uang.

Saya senang melihat  dan membaca postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur, ada yang  menjual  hasil masakan, ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  terpacu dengan adanya persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisipasi untuk  membeli produk rumahan hasil kreatifitas yang dilakukan masing-masing.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster yang berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat sekreatif mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya kreatifitas yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kemudian dikirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan   salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat, mereka ingin membuat yang terbaik. ‘Bukti fisik’  dan ‘karya  nyata’  dengan menanyakan kepada orang tua siswa lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya. Selama di rumah siswa jadi bisa memasak, bisa membuat kue, membantu orang tua di rumah. Mereka bangga sekali dengan kesibukan barunya.

Tanggal  27 dan 28 Oktober 2020  dalam  rangka memperingati bulan bahasa, sekolah mengadakan lomba. Yakni membuat cerpen,  pidato dan membaca puisi. Dengan Tema Bahasa yang harmoni cermin kepribadian. Ada pandemi Covid-19  bukan kendala untuk tetap berkarya. Anak-anak antusias ikut lomba tersebut. Lumayan juara 1 dapat uang Rp 500.000,- , juara 2 Rp 400.000,- dan juara 3 Rp 300.000,-. Saya yang  punya latar belakang guru matematika, mencoba membimbing siswa membuat cerpen, eh!!  Ternyata jadi juara pertama. Ya ampun, Puji Tuhan!. Sedikitpun saya tak membayangkan sebelumnya.

Semua pekerjaan kalau kita tangani serius dan suka cita akan membuahkan hasil nyata. Ternyata menulis mengasyikkan. Menulis menghibur. Yang jelas dengan bisa menulis akan membuat kita lebih percaya diri. Hehe..pinjam kata-kata yang di WAG MBI, Tanpa gelar  saya beranikan diri untuk duduk bersama dan berkarya dengan para Sarjana S1 dab S2. Itu !! Menambah nyali untuk terus berani menulis. Jadi untuk jadi penulis tak penting itu gelar,….Window yang sudah S7 saja masih dipromosikan!. Untuk jadi juara tak penting gelar.  Kesimpulan, belum tentu yang gelarnya paling tinggi karyanya paling  bagus. Siapapun berhak untuk bisa, Siapapun berhak jadi juara. Yaa…..memang semua perlu proses, tak ada yang instan.

Jaman sekarang banyak sekali cerita inspiratif . Pengusaha, Novelis, Pembalap, Pejabat. Awalnya mereka biasa  berkat ketekunan dan kerja keras akhirnya jadi luar biasa. Itu yang namanya berita. Tuhan  memberi kita talenta sama,.  Kita sendiri yang mengisinya jadi ‘berbeda’. Tugas kita  berjuang dan berusaha dan jangan  lupa berdoa. Saya suka melihat kisah-kisah inspiratif dari Kick Endy di TV. Semua yang disampaikan adalah ‘perjuangan hidup’. Dari  berita itu  kita bisa menjadi terharu. Kita jadi terinspirasi. Kita ikut bangga dan bahagia. Ada Doktor yang  mamanya hanya tukang cuci dan ayahnya buruh. Ada Bupati yang  dulu supirnya Bupati. Ada Dokter yang  bapaknya tukang Becak. Dan masih banyak cerita lain yang memotivasi saya. Kita   paling tahu, Pak Presiden kita yang  dulu orang tuanya tukang  kayu. Pasti dulu  Joko Widodo kecil tidak pernah membayangkan kalau kelak jadi presiden.

Kedudukan, jabatan, keberhasilan itu bukan jatuh dari langit. Tapi dari usaha, ketekunan dan kerja keras. Jika orang lain saja bisa!, Kenapa saya tidak!. Akhirnya saya berfikir, saya harus mencoba, biar mulai dari yang paling sederhana. Mau belajar , itu kuncinya. Memang tidak boleh kita mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh. Sakit!!. Kita jalani hidup ini seperti air yang mengalir, berpikir positif. Cita-cita itu perlu, untuk motivasi.  Ya, tentunya supaya  bisa kita  tekuni dari dini.

Pembelajaran BDR menggunakan daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan GCR (Google Classroom),  aplikasi  zoom, googleform dan berbagai aplikasi internet lainnya. Dengan cara dan metode pembelajaran yang baru akhirnya peserta didik  menjadi  tahu, terampil dan berpengalaman menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang fungsi HP android yang sebenarnya.

Kalau dulu,  tahunya  HP hanya untuk bermain game, membuka youtube, facebook dan media sosial lainya. Kapasitas hanya sebagai pemain game dan penonton saja. Tapi sekarang !! HP dimanfaatkan untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreatif  mendownload  berbagai aplikasi  karena tuntutan tugas sekolah yang harus di videokan. Seperti  aplikasi  KineMaster, Canva, CS, Tik Tok, Zoom, Classroom, Zenius, Snaptube, Meet, telegram dan masih banyak aplikasi lainnya.Gurunya sendiri sudah kalah  kreatif dibanding   keterampilan anak-anaknya.  Memang tidak semua,  tapi lumayan beberapa anak jadi lebih kreatif dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas dan pekerjaanpun terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah. Anggaplah  dia datang sebagai tamu, kita   adalah tuan rumah.  Terimalah  dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat dan berdampingan dengannya. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif, sekaligus membawa berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreatif.  Dengan kegiatan kreatif  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreatif di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan.

Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja keinginan kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan hanya cukup untuk belanja kebutuhan kita sehari-hari, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri bahkan menikmati makanan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu, saat  ini  akhirnya bisa terealisaikan.

Memang saat pandemi ada, kita tak bisa cerita tentang sekolah. Sedih!. Sekolah pindah di rumah. Kita hanya  bisa merindu, kita tak bisa bertatap muka dengan siswa. Tapi mau bagaimana, oh peserta didikku!!. Sungguh aku  merindukan pertemuan seperti dulu. Orang tua mengeluh mengajarimu. Mereka sudah banyak yang putus asa karena ulahmu. Mari kita mandiri, terus berkarya, mari kita bangkit. Kita tetap semangat!. Jaga imun agar kita tetap sehat. Berpikir yang positif supaya kita selalu bahagia.

Berkat Pandemi, banyak pengalaman baru yang kita bisa petik. Baik bagi guru dan bagi peserta didik. Pasti mereka masing-masing punya  cerita baru yang menarik.  Bagi siswa jelas lebih mandiri, lebih bertanggung jawab dan lebih dewasa. Mereka  jadi  tahu  pengorbanan orang tua. Lebih bisa  menyelami  kehidupan ‘di rumah’ secara nyata. Dari  bangun tidur pagi hari sampai  kembali tidur di malam hari. Banyak  aktifitas yang dilakukan. Dari  pekerjaan rumah, urus makan, urus kebun,urus hewan piaraan ( kalau ada)  sampai  mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kompleks!!. Dan itu wajib dikerjakan tuntas tanpa keluhan.

 Orang hidup  butuh makan. Untuk mendapatkan makan  harus dengan perjuangan. Perjuangan yang sederhana yaitu memasak. Sebagai siswa perempuan  harus belajar, harus bisa.  Apa yang dikerjalan mama di rumah kita bantu untuk kerja, supaya sebagai ‘anak’ ada gunanya. Sebagai anak laki, ya berusaha kerja di rumah , membantu bapak. Menanam sayur, membersihkan kebun, bebenah rumah atau  lainnya. Bantulah orang tua supaya  kamu bisa membanggakan mereka.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru.  Inilah kebahagiaan  kecil  saya. Sederhana !. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri.

Tak perlu menjadi “unicorn”. Kita manusia biasa, ingin belajar, terus belajar dan terus berusaha walau sudah tua. Tugas saya sebagai guru dan orang tua adalah mendampingi dan mengarahkan yang muda-muda. Berjuang dari sekarang. Bertekun memang dari sekarang. Tak boleh malas dan hanya berpangku tangan. Kerja keras dan berusaha adalah kuncinya. Supaya kelak mereka hidup lebih ‘berharga.  Hidup  ‘cukup’.  Hidup lebih ‘baik’ dari orangtuanya. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

 Akhirnya. Sampai disini  saya cerita. Sederhana kita tuangkan lewat kata-kata. Semoga bisa berguna. Yah!,  minimal  bisa  menjadi kenangan untuk diri sendiri, siapa tahu ada saudara,sahabat dan handai taulan  juga rela meluangkan waktunya untuk  membaca. Lebih membanggakan lagi jika bisa  bermanfaat. Bisa menjadi kenangan indah dan membanggakan hati. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga pandemi  cepat berlalu.

 

#Kenangan saat pandemi corona melanda ibu pertiwi

#Mentaati protokol kesehatan 3M: Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air yang mengalir

#Trimakasih Ibu Lilis Sutikno dan pak Sahat S Naibaho  sudah memotivasi saya sebagai penulis pemula

 

Moto :

Semangat dalam  menggapai  cita-cita . Tersenyum dalam setiap perjuangan. Berdoa dalam setiap usaha. Tuhan pasti  memberi jalan  dan harapan. Dia senantiasa membimbing dari waktu ke waktu, sehingga  bukti nyata akan  ada. Harus Bisa!. Semangat!!

 

 

 

Profil Penulis

“Ledwina Eti adalah nama facebooknya, bernama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Menamatkan SD di kampung Kamal, kelurahan Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. SMP Kanisuis Muntilan. SMA K Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta  Fakultas Pendidikan Matematika (D3)tahun 1989 dan  lanjut UT UPJJ Kupang (S1). Saat ini  tercatat sebagai guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu , Sumba Timur NTT. Pernah mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro  Timor Timur pada tahun 1990 – 1992 kemudian  di mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur 1992-1999.Alamat Rumah :Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.

 

FOKUS WRITING, BUKAN CHATTING

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Honestly, if you want to get work done, you’ve got to learn to unplug” – Nathan Englander

.

“Saya tidak punya banyak waktu”.

Yes, alhamdulillah. Kondisi ini justru akan membuat Anda semakin efektif dalam menulis, karena waktu Anda terbatas. Mereka yang memiliki sangat banyak waktu luang, justru tidak produktif menulis.

“Waktu saya sangat sedikit”.

Tidak masalah. Berapa waktu yang bisa Anda alokasikan untuk menulis setiap harinya? Sepuluh menit? Limabelas menit? Oke, itu sudah cukup. Sangat cukup. Yang penting Anda konsisten mengalokasikannya untuk menulis.

“Sebenarnya, berapa banyak waktu yang harus disediakan untuk menulis?”

Sebenarnya proses menulis itu sederhana. Waktu yang perlu Anda sediakan tidak perlu banyak. Andai Anda menyediakan waktu antara 10 hingga 30 menit saja setiap harinya untuk menulis, itu sudah sangat memadai.

“Bagaimana agar waktu yang terbatas itu bisa efektif menulis?”

Nah, di sinilah kuncinya. Letak persoalannya ada di sini. Bukan pada seberapa banyak waktu yang Anda miliki, bukan pada seberapa banyak waktu yang bisa Anda sediakan, namun seberapa efektif Anda menggunakannya.

Matikan Koneksi Anda

Nathan Englander, penulis novel “Dinner At The Center of The Earth”, memberikan saran yang sangat relevan : matikan smartphone Anda. Ya, benar. Matikan semua koneksi internet Anda. Fokuslah menulis.

“Jika Anda tengah menulis, Anda harus belajar untuk membebaskan diri. Tidak chatting, tidak membuka email, tidak melihat Facebook, Instagram”, ujar Englander.

Membebaskan diri dari koneksi internet, adalah cara untuk membuat Anda benar-benar menulis. Sepuluh menit menulis, limabelas menit menulis, tigapuluh menit menulis. Bukan chatting. Bukan update status. Bukan selfi.

Jika Anda benar-benar fokus menulis dalam waktu yang sudah Anda tentukan tersebut, maka itu sudah sangat memadai. Yang menjadi masalah adalah, pada waktu yang Anda alokasikan untuk menulis, justru Anda habiskan untuk hal-hal lain.

“Apa pun yang Anda lakukan, harus dihentikan saat menulis”, ujar Englander. Misalnya searching, download, upload, chatting, atau hal-hal lain. Hentikan. Bebaskan diri Anda dari berbagai hal yang menyibukkan dan mengalihkan perhatian Anda dari menulis.

Bahkan Nathan Englander menyampaikan pengalaman unik. “Sering kali –dan ini benar-benar konyol, saya menggunakan penyumbat telinga saat menulis, meskipun suasana di rumah sangat sunyi”.

Ini adalah cara pembebasan diri. Agar waktu yang sangat terbatas tersebut benar-benar untuk menulis. Bukan  untuk chatting. Bukan untuk searching. Bukan untuk mancing.

Selamat membebaskan diri. Selamat menulis.

Lima sd 10 menit saja setiap hari menulis

 Dalam hidup ini, ada yang senang, ada juga yang kurang senang, bahkan tidang senang," Apa yang kita kerjakan" karena memang manusia tidak bisa, memuaskan semua orang yang ada disekelilingnya.


Begitu juga dalam pekerjaan,  tidak bisa semua kita kerjakaan dalam keadaan bersamaan , Karena kemampuan manusia sangat terbatas. Maka diantara cara mengatasinya adalah Fokus pada; 

1. Satu titik yang mau di capai 

2. Skala perioritas, stap by step.

3.Tetapkan tujuan 

4. Manajemen waktu ( menetapkan waktu)  5-10 menit untuk menulis setiap hari'-Cahyadi Takariawan.

5. Konsisten / Istiqamag .


Waktu yang diberikan Allah Kepada Manusia adalah sama " 24 jam". Yang membedakanya adalah" cara kita memanfaatkan waktu secara efektif dan Efisien.


Allah bersumpah dalam Alqura'an " Demi masa( waktu ) sesungguhnya manusia dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang  yang beriman dan beramal saleh"-Qs Alasr: 1- 2 .


Kata Amal adalah berbuat, bekerja, profesi. Salah satu Profesi  yang bisa di balas dengan " Amal Jariyah adalah Menulis".  rugila orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan beramal baik. Termasuk  mengisnpirasi  kepada diri sendiri , untuk  menulis kebaikan.


Terima kasih banyak  suhu mengingatkan kami, agar punya waktu  5-10 menulis setiap hari .🇲🇨🇲🇨🇲🇨🙏

DUKUNGAN KELUARGA UNTUK BERKARYA

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Kita sering mendengar ungkapan “Family Is Not An Important Thing, Family Is Everything”. Selintas, pernyataan itu tampak berlebihan, namun hal itu akan benar-benar dirasakan pada saat seseorang kehilangan keluarga yang sangat dicintainya.

Bukan saja kehilangan karena kematian atau perceraian, namun termasuk pula kehilangan kehangatan, kehilangan keharmonisan, kehilangan cinta, atau kehilangan kemesraan. Sangat terasa betapa penting sebuah keluarga.

Dalam acara Launching Tiga Buku hari Sabtu 7 November 2020 lalu, saya mendapatkan kisah sangat inspiratif dari tiga emak penulis buku. Ketiganya menceritakan dukungan nyata dari suami dan anak-anak, sehingga proses pembuatan buku berjalan dengan lancar.

Optimalkan Potensi Keluarga

Yulia K. Rohima, penulis buku Catatan Pejuang Sakinah menceritakan dukungan nyata dari suami dan anak-anak dalam proses pembuatan buku. Sudah dua buku diterbitkan Mak Yulia, dari pembelajaran di Kelas Emak Punya Karya (EPK) Batch 1 / 2020.

Di kelas, saya sampaikan agar para peserta mampu mengoptimalkan potensi keluarga untuk kelancaran pembuatan buku. Dengan mengoptimalkan keluarga, akan bisa melakukan efisiensi dalam anggaran.

Mak Yulia benar-benar melakukan itu. Ia berdiskusi dengan suami soal isi buku. Untuk editing –yang menjadi komponen anggaran cukup besar apabila dilakukan oleh editor profesional, diserahkan kepada anak-anaknya. Demikian pula layout, dikerjakan oleh anak.

Yulia K. Rohima

Mak Yulia hanya meminta tolong kepada pihak lain untuk pembuatan cover. Setelah itu, bahan diserahkan kepada pihak penerbit, hingga buku bisa diterbitkan. Dengan demikian, ia sangat efektif dan efisien dalam pengeluaran biaya. Praktis hanya mengeluarkan biaya pembuatan cover dan proses mencetak buku saja.

Baik buku pertama maupun buku kedua, semua dikerjakan bersama tim keluarga inti. Yang dirasakan oleh Mak Yulia adalah –bukan hanya berhasil membuat buku. Namun membuat bisa lebih banyak mengobrol dengan suami, dan menguatkan keharmonisan keluarga.

Azzam Penggenggam Quran

Suami Siaga

Endang Supriati, penulis buku Azzam Penggenggam Quran, mendapatkan dukungan yang luar biasa dari sang suami tercinta. Mak Endang mengaku, dirinya tidak punya minat menulis. Namun sang suami terus mendorong dirinya agar belajar menulis.

Sang suami membiayai Mak Endang untuk ikut berbagai kelas menulis. Hingga akhirnya bertemu Kelas Jejak Cinta Ananda (JCA), dan Kelas EPK Batch 1. Dengan dukungan semangat dari suami, Mak Endang akhirnya bisa menuntaskan pembuatan naskah bukunya dalam waktu dua bulan.

Ia mengaku gaptek urusan laptop dan komputer. Maka ia optimalkan menulis menggunakan smartphone. Setiap hari ia menulis di smarphone, kemudian mengirim hasil tulisan ke suami melalui aplikasi whatsapp. Suami akan membaca dan memindahkan ke program MS Word di laptop. Begitu setiap hari.

Endang SP Usman

Sang suami dengan sabar dan telaten membantu proses merapikan tulisan di MS Word. Bahkan sang suami menghitungkan progres penulisan pada word count untuk mengetahui jumlah karakter yang telah dihasilkan setiap hari. Ini untuk laporan harian Mak Endang di Kelas EPK.

Sang suami juga membiayai proses pracetak, seperti editing yang dilakukan oleh pihak editor profesional, desain cover, serta layout. Berikutnya membiayai biaya penerbitan buku. Alhamdulillah, baru proses di penerbitan, preorder buku sudah terbeli lebih dari 200 eksemplar. Luar biasa.

Leni Cahya Pertiwi

Pengertian Suami

Leni Cahya Pertiwi, penulis buku Happy Mama merasa bahagia karena didukung sepenuhnya oleh pengertian suami. Saat Mak Leni meminta izin kepada suami untuk mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, sang suami langsung menyetujui dan membayari ongkosnya.

Demikian pula saat meminta izin untuk mengikuti Kelas EPK Batch 3, langsung disetujui dan dibayari oleh suami. Dilanjutkan dengan proses menulis buku, ia bersyukur karena didukung sepenuhnya oleh suami. Bahkan anaknya sering menanyakan, apabila tampak sang ibu pada hari itu belum menulis.

Mak Leni kadang harus lembur, atau mengurung diri di kamar saat menulis. Ia memerlukan suasana tenang agar bisa menulis, dan tidak diganggu dengan aktivitas lain. Sang suami sangat maklum, sehingga Mak Leni bisa optimal menulis.

“Suami saya tidak protes saat saya harus lembur atau mengurung diri untuk menulis. Ia sangat mendukung saya bisa membuat buku tentang ibu”, ujar Mak Leni bahagia.

Inilah bentuk dukungan nyata dari keluarga. Dengan dukungan suami dan anak-anak, para emak bisa leluasa menuliskan karya.

  18 kali dilihat

Sabtu, 31 Oktober 2020

THINKING SMALL, MENGATASI KECEMASAN MENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing was a relationship I had with myself. When I was writing, nobody else mattered” – Jane Anne Staw (2018)

.

Sangat banyak penulis pemula yang menulis dengan penuh kecemasan. Baru menulis satu kalimat, sudah mulai merasa cemas. Baru menulis satu paragraf sudah mulai diserang kecemasan. Dampaknya, memilih tidak meneruskan menulis. Atau tetap meneruskan menulis, namun dengan diliputi kecemasan tiada henti.

Ada beberapa faktor yang memicu kecemasan menulis. Saya akan fokus pada lima kecemasan menulis (writing anxiety)berikut.

Pertama, kecemasan atas isi tulisan –takut salah

Kadang seseorang menulis sambil diliputi kecemasan, “Apakah isi tulisanku ini benar?” Ata, “Apakah aku menulis hal yang salah?” Kecemasan seperti ini membuat seseorang merasa tidak nyaman. Dirinya berada dalam situasi takut salah.

Kedua, kecemasan atas kualitas tulisan –takut jelek

Ketika secara isi sudah yakin benar, tak ada yang salah substansi, muncul kecemasan berikutnya. “Apakah tulisanku ini bagus?” Jangan-jangan kualitas tulisanku ini jelek, cuma ecek-ecek.

Ketiga, kecemasan karena perbandingan –takut kalah

Kecemasan lain yang sering muncul adalah takut kalah dalam sebuah ‘persaingan’. Ini tidak selalu terkait dengan lomba atau kejuaraan. Namun karena membandingkan tulisannya dengan hasil karya orang lain. “Jangan-jangan kalah sama tulisan si itu”.

Keempat, kecemasan atas penilaian –takut kritik

Kecemasan berikutnya adalah karena penilaian orang lain. Terlalu berharap pujian, justru melahirkan kecemasan dalam menulis. “Jangan-jangan tulisanku tak ada yang membaca. Jangan-jangan tulisanku dikritik orang. Bagaimana jika tidak ada yang memberi komentar?”

Kelima, kecemasan atas penerimaan –takut ditolak

Kecemasan jenis lainnya adalah saat menulis artikel untuk koran atau majalah. Muncul ketakutan bahwa naskahnya ditolak. Jika ingin menerbitkan buku, takut naskahnya tidak diterima oleh penerbit mayor.

Mengatasi Writing Anxiety dengan Thinking Small

Saya tertarik anjuran yang disampaikan oleh Jane Anne Staw. Sebagai penulis, ia juga pernah mengalami writing anxiety. Maka ia menyarankan teknik mengatasi kecemasan menulis dengan “thinking small”, atau berpikir kecil. Apa yang dimaksud denga metode ‘thinking small’? Berikut beberapa bentuknya.

  • Melihat dari bagian yang kecil

Saat Anne mengalami kecemasan, maka ia akan melihat bagian-bagian kecil dari tulisan. “I made a deal with myself”, ujar Anne. Ia mulai dengan membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk melihat bagian yang kecil.

Anne memaksa diri untuk menyelesaikan satu paragraf penuh, sebelum ia berhenti untuk membaca kembali tulisannya. Ketika ia merevisi, hanya boleh membaca paragraf itu sekali. Tidak boleh berkali-kali.

Ketika ia mulai bisa menulis lebih lancar, ia memaksa diri untuk menulis satu halaman penuh. Sebelum selesai menulis satu halaman penuh, ia tidak akan membiarkan dirinya membaca ulang apa yang telah ditulis. Ia juga hanya boleh membaca halaman itu sekali untuk melakukan revisi.

Lambat laun, Anne makin mampu menulis dengan lancar. Ia bisa duduk manis dan menulis dalam waktu lama tanpa merasa kecemasan lagi. Saat itu ia tidak perlu mengulang-ulang dari paragraf atau halaman. Ia bisa fokus menulis tanpa harus berhenti untuk membaca ulang bagian-bagian kecil tersebut.

  • Menetapkan kepingan waktu yang kecil

Anne menyarankan hal unik, agar Anda menyempitkan waktu untuk menulis. Jika suatu hari Anda merasa memiliki waktu yang luang, maka justru cenderung membuat santai dan tidak menulis. Namun jika Anda membatasi waktu yang kecil, sempit dan sedikit, maka Anda justru akan benar-benar mengoptimalkan kepingan waktu yang kecil tersebut.

Saat Anne merasa memiliki banyak waktu, ia justru akan melakukan banyak hal, dan memberi porsi sedikit untuk menulis. Ia membersihkan kulkas, menjawab email, menanggapi pesan chat. Sampai akhirnya sampai batas waktu limit yang kecil, mungkin 30 menit, untuk benar-benar menulis.

Menurut Anne, terlalu banyak waktu, justru menimbulkan banyak kecemasan. Maka ia tidak mau terjebak dalam banyak kecemasan. Ia sempitkan waktu, dengan menentukan  sekeping waktu kecil, yang membuat dirinya benar-benar menulis tanpa kecemasan.

  • Menulis untuk populasi yang kecil

Salah satu kecemasan menulis adalah membayangkan tentang publikasi yang luas. Mungkin naskah Anda akan ditolak koran atau penerbit. Jika sudah diterbitkan, akan ada banyak komentator, juga ada banyak kritikus. Ini membuat cemas saat menulis.

Ini cara Anne yang unik. “When I wrote, I shrank my writing universe to a population of one. Writing was a relationship I had with myself; when I was writing, nobody else mattered”, ujar Anne.

Ketika Anne menulis, ia ‘mengecilkan’ dunia tulisan menjadi ‘populasi satu’. Ia menganggap menulis adalah hubungan yang dibangun dengan diri sendiri. Saat ia menulis, tidak ada orang lain yang penting. Seakan ia tengah menulis untuk diri sendiri.

Jika tidak menulis untuk diri sendiri, pikirkan satu orang pembaca potensial saja. “To have at the most one ideal reader in mind when they write”, ujar Anne. Pikirkan satu pembaca ideal saja saat menulis. Tak usah membayangkan ribuan atau jutaan pembaca.

“Once I had finished the piece, I could think about readers and publication”, lanjut Anne. Setelah menyelesaikan tulisan, ia baru berpikir tentang pembaca dan cara publikasi. Dengan demikian, saat menulis benar-benar ia menikmati proses bersama dirinya sendiri. Tak ada orang lain.

  • Ambisi yang kecil

Ambisi yang terlalu besar terhadap kualitas tulisan kita, adalah pemicu kecemasan. Saat menulis telah memiliki ambisi prestisius terhadap karya yang akan dihasilkan. “Many people I know are ambitious about their writing”, ujar Anne. Ternyata ambisi itu justru memicu kecemasan.

Menurut Anne, pada dasarnya ambisi tidaklah buruk, namun akan melahirkan gangguan dalam menulis. “Ambition is not bad in and of itself. But it definitely interferes with your writing”, ujar Anne. Maka hendaknya kita pandai menyederhanakan ambisi dalam menghasilkan karya tulis.

Mungkin saja tulisan kita tidak mendapat aplaus dari jutaan pembaca. Namun cukuplah kita berbahagia apabila ada satu atau dua orang pembaca yang mendapat kemanfaatan dari tulisan yang kita publikasikan. Ini contoh ambisi yang sederhana.

  • Fokus pada proses

Beberapa penulis cemas memikirkan penerbit dan model penjualan buku. Baru mulai menulis, sudah diliputi kecemasan penerbit mayor yang akan melirik, serta cara cepat menjual buku. Pemikiran seperti ini memicu kecemasan saat menulis.

Saran Anne, “To focus on the moment they are writing about—the current word, scene, or paragraph– and not the entire writing project”.  Hendaknya kita fokus pada proses menulis — pada kata, kisah, atau paragraf yang tengah dikerjakan. Bukan fokus pada keseluruhan proyek yang hendak ditulis.

“To concentrate on the process, not the product. To stay with the writing and not the publication of their project”. Hendaknya Anda fokus pada proses menulis, bukan pada produk yang hendak Anda buat. Untuk tetap fokus menulis dan bukan memikirkan publikasi.

Dengan cara-cara kecil ini, kecemasan menulis akan lenyap. Itulah metode “thinking small”, agar menulis bisa lancar tanpa kecemasan.

Bahan Bacaan

takut ditolak.


Bagaimana mengatasi kecemasan menulis?


Mengatasi kecemasan menulis (writing anxiety) dengan berpikir kecil (thinking small) pendapat ini adalah cara yang dilakukan oleh Jane Anne Staw yang disarikan oleh Cahyadi Tariawan sebagai berikut:

1. Melihat dari bagian yang kecil.

2. Menetapkan kepingan waktu yang kecil.

3. Menulis untuk populasi yang kecil.

4. Ambisi yang kecil.

5. Fokus pada proses.


Terima kasih pak Cah


Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...