Kamis, 18 Juni 2020

Autobiografi : Eti Wuryani

GOOD FIGHTER NEVER SHOW THE PAINT

=================================

Oleh: Ledwina Eti Wuryani

 

Petarung yang baik tidak pernah menunjukkan pesakitn,  Hidup adalah perjuangan yang harus  dijalani, entah kita mau  jadi apa, kaya, miskin, bahagia , duka cita, kita harus tetap terima.  Kalau jatuh itu “resiko” tapi Kalau bahagia, kaya raya, punya jabatan itu adalah “Anugerah”. Apapun itu harus tetap kita “Syukuri”.

Ada istilah, tak kenal maka tak sayang, Ledwina Eti Wuryani adalah nama saya , saya lahir di  kampung kecil, di desa Gejayan, kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan , Kabupaten Magelang, Propinsi jawa Tengah. Tepatnya pada hari Kamis Legi, tanggal 14 April 1966.  Saya merupakan anak pertama  dari 4 bersaudara, putri  dari pasangan Sudayat Hadi Pranoto dan Sutari. Adik saya satu perempuan dan  dua yang lain adalah  laki-laki. 

Ayahku seorang guru PNS, tahu kan ’profesi ‘ guru waktu  itu, guru jaman orde baru yang bisa di kenal dengan “Umar Bakri” , profesi ini selalu dilihat orang dengan ”sebelah mata”. Ayah adalah guru sejarah mengajar di 3 sekolah, SPG Van Lith, SMA K Pendowo, dan STM Pangudi Luhur semua sekolah itu  ada di satu kota Muntilan, sekitar 7 km dari rumahku, Setiap pagi dijalani dengan suka cita, dengan naik motor tua  kesayangannya. Walau  begitu penghasilan ayahku lebih kecil di banding ibuku yang saat itu bertani, mengolah warisan  nenek dari ayahku dan  berprofesi sebagai “rias pengantin”. Yach, puji Tuhan,secara finansial kehidupan kami  ‘Cukup’ untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Di desa itu saya  dibesarkan oleh ayah dan bundaku  hingga aku  lulus sekolah dasar. Di SMP  saya harus  kos karena  jarak rumah ke sekolah  sekitar 7 km.  Sedang SMA saya harus pergi di tempat yang lebih jauh lagi, di kota  propinsi (-+ 40 km) dari rumahku, karena saya  harus tinggal di asrama, mengingat Ayah dan ibuku adalah orang sibuk, tidak bisa mendampingi  kami  setiap saat karena mereka  harus bekerja utk menghidupi aku  dan adik-adikku.

Untuk melatih mandiri  akhirnya saya keluar dari asrama , mengingat saya harus bersama-sama  dengan3 adik saya, dari  kami  bersaudara, kebetulan berempat sekolah dan kuliah di Jogya. Orang tuaku menyewakan rumah makan untuk kami kelola. Apapun yang terjadi harus bisa mencukupkan  biaya hidup dan biaya pendidikan aku dan adik-adikku. Sebagai anak pertama  aku harus punya tanggung jawab  dalam menjaga  kepercayaan  orang tuaku.

Waktu pun berlalu,  aku dan adik-adik  akhirnya  kuliah semua. Aku di IKIP sanata Dharma, 2 adikku di UGM dan adik Bungsuku di Universitas Atma Jaya, mereka semua jurusan Tenik, kecuali aku, guru. Tahun 1989 aku lulus duluan.

Cerita yang menarik adalah, ayahku kan guru,utamanya mengajar  di SPG, pada tahun 1990 sekolah itu kan di tutup untuk diganti SMA. Rejeki memang tak akan salah alamat. Teman Ayahku, Nama Bp Drs Margono, waktu itu menjabat Dikmenun di Dinas Pendidikan Republik Indonesia.  Beliau adalah teman ayahku waktu sekolah di SGA saat itu. Beliau Telpon ke ayahku dan berkata: “Pak Dayat, mau nggak saya jadikan Kepala sekolah? “. Ayahku menjawab:” ya, mau lah, kebetulan anakku juga sudah lulus kuliah, boleh ndak supaya sekalian dengan saya?!”. Beliau menjawab:” bisalah!,  besok atau pas ada waktu datang saja ke Jakarta, di Dinas Pendidikan RI, Jln Jenderal Sudirman di lantai 12 untuk ketemu saya.

 Dengan semangat 45  , saya dan Ayah saya pergilah ke Jakarta. Saat itu, di jaman orde baru, untuk jadi PNS tidak sesulit sekarang,  akhirnya Bapak  diberikan SK Untuk menjabat kepala sekolah di SMA Negeri Maliana Bobonaro, Timor-Tinur dan saya mendapat SK untuk menjadi guru per bulan Maret 1990 di tempat yang sama. Karena SK Penempatan di daerah konflik, kami dapat “dana sering” istilahnya , uang sebesar @Rp 3.500.000,- akhirnya kami pergi ke Tim Tim . Berangkat dari kampung dengan Bis ‘Safari Dharma Raya’ Rp 16.000,-sampai  ke Bali naik pesawat  menuju Kupang, tiket: Rp 141.100,- Gaji pertama   saya, Rp 81.200,- , yach yang penting  bisa untuk menyambung nafas.

Dua tahun berikutnya saya mutasi di kota propinsi, SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Karena  adanya  konflik dan Timor-Timur merdeka pada tahun 1999 akhirnya saya dimutasikan di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, tempat  kelahiran suami. Sebagai  ‘amanah’ dan tanggung jawab seorang Istri, saya harus mengikuti  dimanapun suami berada.


Saya orang jawa, suami orang Sumba, Meurumba tanah kelahirannya, Jadi  kehidupan dan latar belakang  jelas sangatlah berbeda. Sebagai ‘guru’  yang nasibnya tak pernah menentu kala itu, serba kekurangan, apalagi    sekitar dua puluhan orang  kita hidup bersama. Selama dua tahun saya mencoba beradaptasi, seolah tertawa walau hatinya tak senada,  seolah  bersuka  walau sebenarnya  hati terasa ‘lara’. Itu adalah salah satu  pengorbanan seorang ‘abdi negara’. Rela ditempatkan di seluruh pelosok Nusanatara.  Dengan hidup sangat  sederhana, seadanya , puasa karena memang menyesuaikan situasi yang saat itu ada. Pedih, perih, menangis yang  sampai tak bisa keluar air mata. Samapi  pernah terlintas  dalam pikiran,  ‘apa saya harus lari saja? Tapi Tuhan  selalu menguatkan saya.

Ini saya cerita masa lalu, sekarang ma, sudah sangat berbeda. Gaji guru sudah lumayanlah, sudah  bisa bernafas lega, walau  kebutuhan tetap ada saja. Tapi tetap terus bersyukur dan bersuukur kepada yang Tuhan Esa dalam setiap doa.

Nach, dari itu yang membuat semangat saya, untuk menuangkan  isi hati lewat cerita. Menuliskan dengan kata-kata.  Ya, dalam suasana hati suka maupn  saat hati  duka, dan  nestapa.  Karena memang hidup bagai roda,  kadang di atas, kadang di bawah yang terus menerus wajib dijalani oleh setiap manusia. Biar tua, kita harus sadar untuk terus belajar, mengisi hal-hal yang berguna. Berkarya sesuai dengan  kemampuan kita. Entah  itu berguna, penting, untuk sesama atau tidak. Tak apa-apa. Tak masalah juga.  Niat kita bukanlah  finansial , tapi kalau ada ya alhamdullihah, tetap selalu  belajar untuk berkarya , siapa tahu bisa untuk memperpanjang usia. Semoga.

Saya sadar atas  kemampuan  dan keterbatasan saya.walaupun isinya masih “receh”, namun, saya telah  mencoba menuliskan lewat  koran lokal dan memposting  lewat FB.  Entah dibaca atau tidak tidaklah masalah yang penting saya mencoba terus mencoba dan berusaha, minimal saya bisa di kenal dari segelintir orang saja  itu sudah “cukup” menurut saya. .

Selagi masih diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan terasa  nikmat dan  bergairah kalau kita menulis, yang mana isinya tentang curhatan pribadi, yang  awalnya merupakan “ beban hidup” tapi setelah dicurahkan dalam tulisan terasa Ringan. Trimakasih  P Cah, mbak  Indah, dan mbak  Naila yang sudah  menginspirasi dan  memotivasi saya  untuk  menulis.  Salam dari saya, orang Jawa yang  jadi abdi  negara di rantauan, NTT tepatnya.

 

Kalau kita menulis  hidup yang  dulu terasa ‘bosan’  dan jenuh  dengan rutinitas harian.  Akhirnya  terasa  hidup itu asyik,  nyaman dan bisa membuat  suasana  terasa ’beda’.  Yang Jelas  membuat saya punya wawasan “lebih” dari sebelumnya. Suka Belajar, lebih suka membaca dan percaya diri.  Selamat berkarya dan berbagi ilmu untuk kita  yang mau maju.  Tak ada keberhasilan yang tanpa usaha dan kerja keras, jangan mengeluh dan terus berusaha.  Good Fighter never Show The Paint.

 Salam Literasi!.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...