Kamis, 18 Juni 2020

#Tukang Batu

 

Alkisah seorang tukang batu yang merasa sudah tua dan berniat untuk pension dari  profesinya.
Sudah  puluhan  tahun profesi itu  dijalani.
Ia ingin menikmati masa tuanya  bersamaistri ,anak  dan para cucunya.
Sebelum  memutuskan  untuk  berhenti  bekerja , ia  menyadari  bahwa ia akan kehilangan penghasilanrutin  yang  setiap bulania terima.
Bagaimanapunitu, ia lebih merasakan dan mementingkan tubuhnya yang sudah termakan  usia.
Karenaia  merasa  tidak bias lagi  melakukan  aktifitas  seperti  tahun-tahun  sebelumnya.
 
Suatu hari ia mengatakan rencana pensiunnya kepada mandornya.
Saya mohon maaf  pak,tubuh  saya rasanya sudah tidak seperti  dulu,
saya  sudah  tidak  kuat  lagi, Saya  tidak  mampu lagi untuk menopang beban berat seperti dulu.
  
Setelah  sang mandor mendengar niat si tukang batu  ia  merasa  sedih.
Karena sang mandor akan kehilangan salah satu tukang batu terbaik,
ahli bangunan handal,
namun tidaklah mungkin dia melarang  kemauannya.
 
Terlintas  dalam  fikiran sang mandor.
Memintanya  membuatkan  rumah  untuk  terakhir  kalinya  sebelum  tukang  batuitu  berhenti.
Akhirnyadenganberathatitukangbatumenyanggupipermintaanmandornya.
Ia  merasa  Kesal.
Dia  bekerja asal-asalan, ia  tidak  mengerjakan  dengan  baik.
 
Sang Mandorhanya tersenyum dan  mengatakan  pada  tukang  bayu.
Padaharipertamaketikaproyekdikerjakan,seperti biasa,aku sangat percaya padamu. Jadi kerjakan dengan sebaik-baiknya.
Bahkan dalam proyek ini kamu beba smembangun dengan  semua  bahan yang terbaik yang ada.
 
Tukang kayui tupun akhirnya memulai pekerjaan  terakhirnya .
Ia  bekerja  dengan  malas-malasan  dan  asal-asalanan.
Ia  membuat  rangka  bangunan  sembarangan.
Ia  menggunakan  bahan-bahan yang berkualitas  rendah.
Sangat ‘disayangkan’,karena  ia  memilih  cara yang  buruk   untuk  mengakhiri  kariernya.
 
Hari demi hari pun berlalu. Akkhirnya rumah itu ‘jadi’.
Si tukang batu menyerahkan kunci kepada mandor untuk melaporkan bahwa rumah yang ia buat sudah selesai.
Pak Mandor tersenyum dan berkata :”Ini adalah rumah dari hasil kerjamu sendiri , hadiah dariku untukmu.
Betapa kagetnya si tukang batu.
Ia sangat menyesal.
Kalau sejak awal dia  tahu kalau  rumah itu  untuknya,
maka  pasti  akan  membuat yang terbaik.
Dengan  begitu, akhirnya, ia tetap  harus ‘rela’ dan ‘menerima’rumah yang dibuatnya sendiri dengan asal-asalan.
 
Hidup  adalah‘proyek’ yang kamu kerjakan sendiri,

maka kerjakan dengan sebaik-baiknya supaya kita nyaman, tenang, tentram dan bahagia tentunya.Semoga!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...