Oleh : Cahyadi Takariawan
“Tolong siapkan hidangan untuk tamu-tamuku hari ini”, ujar Phytagoras (580 – 504 SM), kepada pembantunya. Hari itu, ia mengundang beberapa teman untuk makan siang bersama.
Namun, sang pembantu ternyata melalaikan perintah itu. Ia tidak menyiapkan makanan atau minuman apapun. Tak ada hidangan yang disiapkan.
Ketika para tamu berdatangan, Phytagoras baru tahu bahwa sang pembantu tak menyediakan hidangan apapun. Namun ia bersikap tenang, tidak panik.
Sambil mempersilakan tamu-tamu, ia berkata, “Hari ini kita mendapatkan hal yang lebih mulia daripada alasan pertemuan kita. Kita belajar menahan kemarahan, menguasai emosi, menggenggam kesabaran, dan menghiasi diri dengan kelembutan.”
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga, bagaimana harus bersikap terhadap kondisi dan situasi yang tidak sesuai harapan kita. Phytagoras mengajarkan sikap yang tenang, tidak panik menghadapi kondisi yang tak diharapkan.
Tujuan mengundang teman-teman pada hari hari itu adalah untuk makan siang bersama. Namun sang pembantu yang diandalkan, tidak melaksanakan tugasnya. Tentu sangat memalukan bagi tuan rumah. Sikap Phytagoras sangatlah bijak dan dewasa.
******
Apa yang Anda rasakan membaca kisah di atas? Pendek, ringan, namun mengena dan berkesan. Contoh kisah seperti itu, bisa menjadi salah satu hiasan tulisan Anda. Ya benar, hiasan tulisan.
Dengan hiasan ringan, tulisan Anda lebih nyaman dan enak dibaca. Apalagi ketika kisah tersebut Anda jadikan sebagai pengawal tulisan. Sejak pertama membaca, orang sudah langsung terpikat dengan tulisan Anda.
Para pembaca akan tertarik untuk membaca sampai selesai, jika awalnya menarik. Namun pembaca bisa memutuskan tidak jadi membaca, apabila paragraf pertama sudah membuat lelah dan ngantuk. Tidak ada hiasan yang menarik.
Kisah seperti contoh di atas juga biasa Anda letakkan di badan tulisan, untuk memberi ilustrasi tentang tema pembahasan yang tengah Anda tuliskan. Pembaca tidak hanya dijejali dengan teori, namun juga dengan contoh praktis, sehingga mudah memahami dan menangkap pesan dari tulisan.
Selain membuat pembaca lebih mengerti isi pesan, juga menjadi lebih nyaman untuk membaca semua isi tulisa. Pandangan pertama begitu menggoda, maka kisah inspiratif ditempatkan pada bagian awal tulisan.
****
Kisah seperti contoh di atas, dengan sangat mudah Anda mendapatkan melalui mesin pencari. Silakan searching, Anda akan menemukan banyak kisah yang menarik. Pilih kisah yang relevan dengan tema yang Anda tengah tuliskan.
Bahkan jika Anda baca buku “Tidak Untuk Dibaca” (TUD), di sana Anda bisa mendapatkan sangat banyak kisah inspiratif. Padahal buku TUD itu juga hanya mengumpulkan dari berbagai blog, web dan grup chatting. Buku ini sekarang sudah sampai jilid tiga, tebal-tebal lagi.
Maksud saya, sangat mudah Anda menemukan berbagai kisah ringan dan sarat makna. Kadang kisah lucu membuat pembaca tertawa. Kadang kisah sedih, membuat pembaca merenung. Kadang kisah hikmah, membuat pembaca mencari makna.
Etikanya, jika Anda mengambil kisah dari rujukan, jangan lupa cantumkan sumbernya. Kisah tersebut Anda ambil dari mana? Mungkin dari buku, majalah, jurnal, koran, web, blog, instagram, youtube atau media lainnya. Sebutkan link yang mudah dilacak pembaca apabila Anda mengambil dari web atau blog.
Idealnya, kisah tersebut diambil langsung dari sumber rujukan utama, misalnya buku atau blog dimana kisah tersebut diposting oleh penulisnya langsung. Namun jika kesulitan mendapatkan sumber rujukan utama, Anda boleh menyebutkan sumber rujukan dari manapun kisah itu Anda dapatkan.
Selamat menghias tulisan.
Catatan
Sumber Kisah Phytagoras : https://www.katakatamutiara.com/pythagoras-5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar