.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Melissa Hart tucks a pen into her ponytail when she goes running so she can write good ideas on her hand while bad ideas fall by the wayside”.

.

Salah satu gangguan menulis adalah “Sindrom Nobita”, yaitu terlalu banyak keinginan alias terlalu banyak ide untuk ditulis. Jika sebagian orang tidak punya ide untuk menulis, maka sebagian yang lain terlalu melimpah idenya. Kedua tipe penulis ini, sama-sama ‘menderita’.

Yang satu menderita karena bingung mau menulis apa. Yang satu lagi menderita karena pengen menulis semua hal. Kedua-duanya tak menghasilkan karya tulis. Untuk itu, harus mengerti cara mengatasinya. Kali ini kita fokus kepada mengatasi Sindrom Nobita saja.

Leigh Anne Jasheway-Bryant (2008) menyebut gejala ini sebagai “Too Many Ideas Syndrome” (TMIS). Ia menceritakan, Melissa Hart, penulis buku “The Assault of Laughter”, mengalami gejala TMIS sejak usia sepuluh tahun. Ibu Melissa mengajarkan cara menulis cerita pendek untuk dipublikasikan.

“Sejak itu,” ujar Melissa, “pikiranku selalu dipenuhi dengan ide menulis bermacam-macam cerita, novel, puisi, artikel majalah serta menulis buku anak-anak. Aku sering terbangun di tengah malam dengan kepala pusing. Kadang aku berpikir, ingin menekuni hal lain saja –menjadi tukang pipa ledeng, misalnya”.

Cara Mengatasi Sindrom Nobita

Sindrom Nobita alias TMIS ini jelas merugikan. Saking banyaknya ide, hingga bertumpuk-tumpuk dan akhirnya bingung menulis yang mana. Ada tiga cara untuk mengatasi Sindrom Nobita, sebagai berikut.

Pertama, Mencatat Semua Ide yang Muncul

Leigh Anne Jasheway-Bryant (2008) menuturkan, “I always carry a tape recorder so I can record ideas as I move. When I get back, whatever ideas I’ve been excited enough to talk about are those I’ll pursue first”. Agar ide tidak hilang, ia memiliki kebiasaan membawa tape recorder atau alat perekam kemanapun pergi.

Sembari berjalan-jalan santai, Anne merekam suara, agar ide yang muncul sesaat tidak hilang. Sesampai di rumah, ia langsung memindahkan ide-ide yang direkam tersebut ke dalam laptop atau komputer, agar terdokumentasikan dan tidak hilang.

Bahkan, Anne menceritakan kebiasaan unik Melissa Hart, “Melissa Hart tucks a pen into her ponytail when she goes running so she can write good ideas on her hand while bad ideas fall by the wayside”. Saking tak ingin ada ide yang hilang, Melissa menyelipkan bulpen ke rambut poni kuda, saat pergi berkuda.

Kedua, Memilih Satu Ide untuk Ditulis

Jelas, Anda tidak mungkin untuk menulis semua ide tersebut dalam waktu bersamaan. Anda harus memilih salah satu ide, untuk dituliskan terlebih dahulu. Jika sudah selesai, baru berpindah kepada ide yang lain lagi.lebih dahulu. Jika sudah selesai, baru berpindah kepada ide yang lain lagi. Berikut beberapa dasar untuk menentukan pilihan.

  • Memilih Ide yang Paling Menarik

“Teori Gaun Merah” bisa diterapkan dalam memilih ide untuk menulis. Dalam sebuah upacara prosesi pemakaman, sebagian besar pelayat akan mengenakan pakaian serba hitam. Jika ada seorang perempuan hadir mengenakan gaun merah, akan langsung menjadi pusat perhatian.

Dalam dunia menulis, Anda boleh memilih ide dengan menentukan yang paling menarik di antara ribuan ide lainnya. Manakah ide yang paling mencolok mata? Itu yang Anda pilih untuk Anda tulis pertama kali. Dengan memilih yang paling menarik, akan membuat Anda bersemangat menyelesaikannya –bahkan dalam waktu singkat.

Penulis skenario Cynthia Whitcomb menyatakan, memilih ide untuk ditulis itu seperti Anda melihat panci-panci di atas kompor di dapur. Angkat tutup panci-panci itu, dan lihat isinya. Salah satunya paling mirip dengan sup. Tulis yang itu dulu.” Itu jika Anda pecinta sup, maka melihat semua panci tidak menarik, kecuali panci yang berisi sup.

  • Memilih Ide yang Paling Mudah

Saya sering menyarankan, terutama kepada peserta Kelas Menulis, agar memilih ide yang paling mudah untuk dikembangkan. Jika memilih yang paling mudah, sumber inspirasi dan energi menulis akan melimpah ruah, sehingga memudahkan menyelesaikan karya tulis.

Jika memilih yang sulit, akan mengalami banyak kendala. Sejak awal menulis sudah merasakan kesulitan, sehingga tidak bisa menyelesaikan. Mungkin kesulitan data, fakta atau kerangka analisa. Bisa pula kekurangan sumber rujukan atau referensi yang mendukung.

  • Memilih Ide yang Paling Menyenangkan

Di antara pertimbangan memilih ide menulis, adalah mana yang paling menyenangkan bagi Anda? Dr. Christiane Northrup penulis buku Mother-Daughter Wisdom menyatakan, “Saya memilih ide yang paling menyenangkan bagi saya”.

Setiap penulis bisa memiliki kesenangan yang berbeda, sesuai dunia yang digeluti, hobi atau kecenderungan masing-masing. Memilih ide yang paling menyenangkan akan memudahkan menyelesaikan karya tulis.

  • Memilih Ide yang Paling Memberikan Kemanfaatan

Wendy Maltz penulis buku “The Sexual Healing Journey” menyatakan, “Saya menulis dengan dorongan untuk membantu orang lain. Maka saya memilih ide menulis yang paling memberikan manfaat bagi banyak orang, sementara masih sedikit informasi yang tersedia tentang hal tersebut”.

  • Memilih Ide Berdasarkan Perencanaan

Susan Reinhardt, penulis buku “Don’t Sleep with a Bubba”, melihat kehidupan menulisnya sebagai taman bunga. “Saya memutuskan ide saya, tumbuhan mana yang harus dicabut, bahkan sebelum muncul di taman,” ujarnya. Artinya, harus melakukan proses perencanaan sehingga bisa selektif dalam memilih ide.

Jika Anda sudah menetapkan perencanaan menulis, maka Anda harus mengabaikan ribuan ide yang bisa muncul dalam sekejap. Karena itu semua gangguan terhadap ide yang sudah Anda rencanakan.

Ketiga, Menyelesaikan Ide yang Telah Dipilih

Setelah memilih sebuah ide, segera tuliskan hingga selesai. Selalu gunakan prinsip “Selesaikan Apa yang Sudah Anda Mulai”, jangan mudah tergoda. Meskipun sangat banyak ide berdatangan untuk ditulis, itu semua adalah godaan. Catat saja poin-poin pokok ide yang muncul tersebut, lalu simpan agar tidak hilang.

Segera kembali menuliskan ide yang sudah dipilih, sampai selesai. Jika sudah selesai menulis ide pertama, Anda baru boleh membuka file untuk memilih ide berikutnya. Begitu seterusnya. Jangan membiasakan diri untuk berhenti menulis di tengah jalan, karena tergoda untuk menuliskan tema yang lain. Jika Anda turuti, niscaya tak akan pernah ada tulisan Anda yang selesai dengan sempurna.

Ingat, yang namanya menulis itu pasti banyak godaan. Kalau banyak cucian, itu namanya laundry.

Selamat menulis, hingga tuntas dan menghasilkan karya tulis.