.
Seri Mendesain Habit Menulis – 7
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“I’m talking about anytime you sit down to write an article, a blog post, a novel, a technical procedure — that’s when you should crack a dictionary” — Eileen Wiedbrauk, 2019
.
Salah satu cara untuk mengoptimalkan semua waktu dalam hidup Anda adalah dengan menulis. Jika Anda telah menjadi penulis produktif, maka di semua tempat dan di semua waktu, Anda bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang menginspirasi orang lain. Tak ada waktu yang terbuang, jika Anda telah menjadi penulis produktif.
Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mendesain habit sebagai penulis produktif. Mulai hari ini, saya mengajak Anda mendesain habit menulis, dengan melakukan berbagai aktivitas sederhana berikut ini.
Pertama, Rutin Menulis Setiap Hari
Kedua,Berhentilah Menunda-nunda
Ketiga,Banyak Membaca
Keempat, Banyak Bergaul di Dunia Nyata
Kelima, Biasakan Membuat Perencanaan
Keenam, Rajin Mengumpulkan Bahan
Ketujuh, Menyempatkan Diri Membaca KBBI
Jika Anda ingin menjadi penulis produktif, Anda harus menyempatkan diri untuk mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Masih banyak masyarakat Indonesia tidak mengenal Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Untuk itu, akan saya sampaikan terlebih dahulu posisi KBBI dalam konteks kebahasaan di Indonesia. Saya kutipkan dari pengantar KBBI edisi kelima, tahun 2016.
Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam pengantar untuk KBBI Edisi Kelima menyatakan, perangkat kebahasaan yang menjadi ciri bahasa modern antara lain adalah tata bahasa dan kamus. Bahasa Indonesia telah mempunyai keduanya yang dikembangkan melalui proses pembakuan dan kodifikasi.
Muhadjir menyatakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan hasil pembakuan dan kodifikasi bahasa Indonesia yang juga mencerminkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terekam semua fakta kebahasaan yang meliputi perkembangan makna dan konsep yang masuk bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, Dadang Sunendar, Kepala Bada Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa KBBI Edisi Kelima telah mengalami perbaikan dan perkembangan dari edisi sebelumnya. Selain jumlah lema dan makna yang bertambah sehingga mencapai 127.036, pengerjaan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima mulai menggunakan aplikasi penyusunan kamus yang diberi nama KBBI Daring.
Dadang Sunendar menyatakan, penambahan lema baru dilakukan dengan memasukkan kata-kata budaya, nama tokoh, nama geografis, nama peristiwa penting, dan singkatan yang sudah sangat lazim. Diharapkan, dengan tersedianya KBBI Daring ini, membuat kita semua mudah menggunakannya.
Apa Manfaat Kamus Saat Menulis?
Mengapa penulis produktif memerlukan kamus? Karena hampir tidak orang yang hafal semua kata. Jumlah kata sangatlah banyak. Dalam KBBI Edisi Kelima, terdapat 127.036 lema atau kata dasar. Siapa orang yang mampu menghafal seratus duapuluh tujuh ribu lema?
Untuk itu, sebagai penulis yang ingin produktif kita perlu akrab dengan KBBI, meskipun bukan berarti setiap hari harus membukanya. Namun Eileen Wiedbrauk (2019) merekomendasikan untuk selalu membuka kamus sembari menulis —untuk menulis apapun.
Apa manfaat KBBI dalam proses menghasilkan karya tulis? Berikut beberapa di antaranya.
- Mengetahui cara penulisan kata yang benar
Kadang kita mengetahui dan sering menggunakan suatu kata, namun tidak yakin dalam cara penulisannya. Misalnya kata pengaruh, saat mendapat awalan me, bagaimana penulisan yang benar? Mempengaruhi atau memengaruhi? Demikian pula kata pesona – menjadi memesona atau mempesona? Merubah atau mengubah?
“Ia pemuda yang sangat kreatif. Sangat banyak kreatifitas yang dilakukan dalam dunia olah raga”.
“Ia telah bertindak sportif. Dalam olahraga, sangat penting nilai sportifitas”.
Mana cara penulisan yang benar? Olah raga, atau olahraga? Kreatifitas, atau kreativitas? Sportifitas atau sportivitas? Jawabannya ada di KBBI. Jika penulis malas membuka KBBI, akan sering mengulang kesalahan yang sama.
- Mengetahui kata baku dan tidak baku
“Saya fikir, saya hafal suara nafas saya”.
“Saya pikir, saya hapal suara napas saya”.
Coba perhatikan, mana penulisan yang benar? Fikir atau pikir? Hafal atau hapal? Nafas atau napas? Hanya KBBI yang bisa menjawab, karena menjadi pedoman dalam berbahasa.
Ternyata, yang baku menurut KBBI adalah pikir, bukan fikir. Untuk kata hafal —yang baku adalah hafal, bukan hapal. Untuk kata nafas, yang baku adalah napas, bukan nafas. Berbeda-beda kan? Maka penulisan yang benar adalah “Saya pikir, saya hafal suara napas saya”
- Mengetahui arti atau makna kata yang benar
“Dokter itu tetap tidak bergeming pada pendapatnya tentang cara penanggulangan Covid-19”. Kalimat ini dimaksudkan untuk menunjukkan, bahwa sang dokter tetap pada pendiriannya. Namun dinyatakan dengan cara salah, yaitu tidak bergeming.
Makna kata bergeming menurut KBBI adalah “diam saja”, atau “tidak bergerak sedikit juga”. Maka tidak bergeming berarti “tidak diam saja”, atau “tidak tidak bergerak”, yaitu berubah. Dengan demikian, kalimat yang benar adalah “Dokter itu tetap bergeming pada pendapatnya tentang cara penanggulangan Covid-19”.
“Pakaian perempuan itu sangat seronok, tidak elok dilihat”. Padahal menurut KBBI, seronok itu artinya “menyenangkan hati, sedap dipandang”. Jadi, kalimat di atas kontradiksi. Sangat seronok artinya sangat menyenangkan, sangat sedap dipandang.
“Ia telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh”. Padahal menurut KBBI, senonoh itu artinya “tidak patut atau tidak sopan”. Jadi kalau “tidak tidak patut”, berarti patut dong…
“Bapak-Bapak, silakan isi Daftar Absen terlebih dahulu ya…” Absen itu artinya tidak hadir. Jadi harusnya daftar itu diisi oleh orang yang tidak hadir, bukan oleh orang yang hadir.
“Politisi itu omongannya tidak pernah positif, selalu saja bicara nyinyir”. Menurut KBBI, nyinyir itu artinya berulang-ulang. Tidak ada hubungannya dengan positif atau negatif. Bicara nyinyir, artinya bicara yang berulang-ulang. Mungkin saja itu positif.
- Menambah perbendaharaan kosa kata
Manfaat lain dari membaca KBBI adalah menambah perbendaharaan kosa kata. Dalam menulis, kita hanya menggunakan kata-kata yang sudah akrab dan sudah biasa saja. Sangat jarang menggunakan kata-kata baru, atau kata-kata yang cenderung tidak kita kenal. Dengan membuka KBBI, kita akan mengerti berbagai kosa kata, termasuk yang belum pernah kita gunakan selama ini.
- Menambah kualitas tulisan
Jika kita terbiasa mencoba menggunakan kosa kata baru, membuat tulisan kita tidak membosankan pembaca. Demikian pula, ketika kita menggunakan kata dengan pemaknaan yang benar, akan menambah kredibilitas tulisan kita. Jika terlalu banyak salah, apalagi berulang-ulang, bisa mengurangi kredibilitas sebagai penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar