.

Seri Mendesai Habit Menulis – 6

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“As long as I’m a human being, I have an inexhaustible supply”

— Dennis Palumbo

.

Salah satu cara untuk mengoptimalkan semua waktu dalam hidup Anda adalah dengan menulis. Jika Anda telah menjadi penulis produktif, maka di semua tempat dan di semua waktu, Anda bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang menginspirasi orang lain. Tak ada waktu yang terbuang, jika Anda telah menjadi penulis produktif.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mendesain habit sebagai penulis produktif. Mulai hari ini, saya mengajak Anda mendesain habit menulis, dengan melakukan berbagai aktivitas sederhana berikut ini.

Pertama, Rutin Menulis Setiap Hari

Kedua, Berhentilah Menunda-nunda

Ketiga, Banyak Membaca

Keempat, Banyak Bergaul di Dunia Nyata

Kelima, Biasakan Membuat Perencanaan

Keenam, Rajin Mengumpulkan Bahan

Apa yang akan Anda tulis, jika Anda tidak punya bahan? Free writing —menulis bebas lepas, yang sering saya ajarkan di berbagai kelas menulis untuk membuat menulis semudah bernapas, tetap memerlukan bahan.

Sebagaimana ketika Anda hendak membangun rumah, pertama kali harus merencanakan rumah Anda. Buatlah rancangan rumah yang bagus dan bisa dinkmati fungsi-fungsinya, baik secara interior maupun eksterior. Perencanaan yang bagus akan membuat hasil akhir yang memuaskan. Tanpa perencanaan, rumah Anda akan acak-acakan.

Setelah perencanaan selesai, maka Anda harus segera mengumpulkan bahan bangunan. Dari perencanaan yang sudah Anda buat, Anda menjadi mengerti bahan-bahan apa saja yang Anda perlukan. Baik jenis, jumlah, ukuran dan kualitasnya, semua sudah masuk dalam perencanaan. Anda tinggal mengumpulkan bahan-bahannya.

Demikian pula dalam menulis. Setelah Anda membuat perencanaan, maka bisa mengumpulkan bahan secara spesifik. Anda menjadi tahu bahan-bahan apa saja yang diperlukan guna menyusun karya tulis. Segera kumpulkan berbagai bahan, agar saat menulis Anda menjadi lebih mudah menyelesaikannya.

Mengenali Bahan Tulisan

Apa saja yang bisa menjadi bahan tulisan? Amat sangat banyak bahan yang bisa diolah menjadi tulisan —apapun jenis tulisannya. Bahan bisa berupa tulisan orang lain, analisa ahli, data, fakta, bahkan berbagai sisi kemanusiaan kita sendiri.

Berikut saya sampaikan beberapa jenis bahan yang bisa diolah menjadi tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi.

  • Referensi Berupa Buku dan Jurnal

Referensi yang paling lazim sejak zaman dulu kala adalah buku-buku dan jurnal ilmiah. Saya biasa menjadi buku-buku dan jurnal akademik sebagai bahan tulisan. Sebagai contoh, dengan membaca buku John Gray tentang Mars Venus, saya bisa mengembangkan menjadi banyak tulisan.

Saya biasa belanja banyak buku saat ada pameran buku. Gunanya untuk menjadi bahan yang bisa diolah menjadi tulisan. Ini keuntungannya, kalau kita menjadi penulis spesialis. Jadi mengerti bahan-bahan yang dibutuhkan dalam jangka panjang.

  • Blog, Web dan Situs

Di zaman cyber sekarang, kita dimudahkan untuk mendapatkan bahan-bahan dari intertnet. Misalnya, masuk ke blog atau web resmi lembaga yang tepat, untuk mencari bahan yang kita perlukan. Sangat banyak artikel pembelajaran melalui video dan tulisan, tentang berbagai macam hal.

Yang harus Anda perhatikan, jika menggunakan rujukan dari internet, harus mengambil dari sumber yang terpercaya. Misalnya web resmi kementrian, web resmi BPS, web resmi BKKBN, dan sebagainya. Ini untuk menghindari konten hoax yang menyesatkan kita dalam pengambilan bahan.

  • Media Massa

Terkadang kita memerlukan bahan dari media massa terpercaya, misalnya koran, majalah ataupun televisi. Saya punya teman yang memiliki kebiasaan untuk meng-kliping berita dan analisa koran serta majalah. Ini menjadi salah satu alternatif sumber rujukan yang bisa menjadi bahan tulisan.

Jika berita muncul di TV, biasanya bisa dilacak pula dalam versi online. Dengan demikian, ketika mencantumkan rujukan, bisa dengan mencantumkan link berita dari stasiun TV yang versi online.

  • Data dan Fakta

Termasuk bahan yang penting untuk karya tulis adalah data dan fakta. Untuk data-data resmi, bisa didapatkan melalui lembaga-lembaga atau instansi terkait. Tidak semua data tersedia di Biro Pusat Statistik. Ada data yang sangat lokal, dan hanya dimiliki oleh pihak-pihak terkait. Kaidahnya, ambillah data dari pihak yang terpercaya.

Sedangkan fakta, adalah apa yang anda lihat dan terjadi secara nyata. Fakta, bisa Anda oleh menjadi fiksi, bisa pula nonfiksi. Dari fakta, Anda bisa menyusun sangat banyak analisa, dan menyajikannya dalam bentuk tulisan. Dari fakta, Anda bisa melhirkan puluhan bahkan ratusan buku.

  • Sisi Kemanusiaan Kita Sendiri

Ada sangat banyak sisi kemanusiaan yang layak menjadi bahan tulisan. Seperti yang diungkapkan Seno Gumira Ajidarma, “Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia”.

Janet Fitch penulis buku “White Oleander and Paint it Black” menyatakan, “Depression, suffering and anger are all part of being human. Even though it’s painful to go through these things, for the writer, it’s essential.” Meskipun depresi, penderitaan dan kemarahan itu hal buruk, namun penting untuk penulis merasakannya. Dengan itu ia bisa menuliskan dengan tepat.

  • “Kekayaan” dalam Diri Sendiri

Setiap manusia memiliki pemikiran, pendapat, perasaan, pengalaman yang layak untuk dituliskan. Kegagalan dan keberhasilan, kekalahan dan kemenangan, kejayaan dan kejatuhan, adalah hal yang bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang lain. Itu semua adalah kekayaan yang ada dalam diri setiap manusia.

Bisa kekayaan spiritual, kekayaan intelektual, kekayaan sosial, kekayaan amal, semuanya adalah bahan tulisan yang menarik. Semua jenis kekayaan tersebut bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

  • Kejadian dalam Kehidupan Sehari-hari

Semua orang mengalami peristiwa dan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam tidur pun, bisa mengalami mimpi. Selurun kejadian baik pada diri sendiri, maupun di alam semesta, adalah bahan tulisan yang tak akan ada habisnya. Ledakan dahsyat di Beirut, menjadi tulisan bergizi dari Pak Dahlan Iskan, “Langit Runtuh”.

Seorang nenek yang melihat cucunya disengat lebah, membuatnya tergerak untuk menuliskan tentang lebah. Seorang ayah yang mendapat pertanyaan dari anak saat mengantar sekolah, “Mengapa ayah melanggar lampu merah di taffict light tadi?” bisa menjadi bahan tulisan berseri.

Agar bisa menjadi penulis produktif, dan makin profesional, rajinlah mengumpulkan bahan. Di setiap memiliki waktu, carilah bahan, kumpulkan bahan. Saat tiba waktu menulis, buka bahan-bahan tersebut. Jadilah tulisan.

Ingat ungkapan Douglas Eby berikut ini, “Anytime you work with materials that are deep parts of yourself, you feel revulsion at showing things about yourself that you don’t want people to know… You have to work as deeply as you can to give the reader something worth reading, but you’re also showing things about yourself that you’re not pleased with.

Hal-hal yang sangat rahasia dalam diri Anda, dan tak ingin diketahui orang lain, tetap bisa dituliskan dengan cara yang tepat. Pembaca tidak mengira jika Anda sedang menceritakan kepedihan diri Anda sendiri. Namun mereka mendapatkan kekuatan dari tulisan Anda, dan Anda telah melepaskan penderitaan.