.

Seri Mendesain Habit Menulis – 8

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Everyone must write. Not for money, fame, or notoriety. Most professional writers know none of these things. I want you to write for deeper and more existential reasons” — Ryan J. Pelton, 2017.

Salah satu cara untuk mengoptimalkan semua waktu dalam hidup Anda adalah dengan menulis. Jika Anda telah menjadi penulis produktif, maka di semua tempat dan di semua waktu, Anda bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang menginspirasi orang lain. Tak ada waktu yang terbuang, jika Anda telah menjadi penulis produktif.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mendesain habit sebagai penulis produktif. Mulai hari ini, saya mengajak Anda mendesain habit menulis, dengan melakukan berbagai aktivitas sederhana berikut ini.

Pertama, Rutin Menulis Setiap Hari

Kedua, Berhentilah Menunda-nunda

Ketiga, Banyak Membaca

Keempat, Banyak Bergaul di Dunia Nyata

Kelima, Biasakan Membuat Perencanaan

Keenam, Rajin Mengumpulkan Bahan

Ketujuh, Menyempatkan Diri Membaca KBBI

Kedelapan, Segarkan Spiritualitas Anda

Salah satu hal yang mendatangkan ‘daya tahan’ dalam menulis adalah kesegaran spiritualitas. Dengan kondisi spiritual atau ruhaniyah yang segar, membuat kita bisa menuliskan sangat banyak hal kebaikan. Kita bisa memiliki daya tahan untuk terus menerus berkarya, demi keabadian amal.

Pertama kali harus kita pahami, aktivitas menulis itu sendiri sesungguhnya adalah bentuk praktis dari percikan spiritualitas dan intelektualitas seseorang. Ryan J. Pelton (2017)  mengungkapkan, “Menulis bisa menjadi disiplin spiritual yang sejati. Menulis dapat membantu kita berkonsentrasi, agar terhubung dengan gejolak jiwa yang terdalam”.

Pelton juga menyatakan, “Menulis mampu menjernihkan pikiran, mengelola emosi yang membingungkan, merefleksikan pengalaman, juga memberikan ekspresi artistik terhadap tujuan kehidupan, serta mengabadikan peristiwa penting dalam hidup kita. Menulis juga bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain”.

“Betapa banyak hari-hari sulit, menyakitkan, atau membuat frustrasi dapat ditebus dengan menuliskan tentangnya. Dengan menulis kita dapat mengabadikan hal-hal yang telah kita jalani, untuk mengintegrasikannya secara lebih utuh ke dalam keseluruhan rangkaian perjalanan hidup kita di masa yang akan datang”, ungkap Pelton.

Urgensi Kesegaran Spiritual dalam Menulis

Sangat penting bagi Anda yang ingin menjadi penulis produktif, untuk terus menerus menyegarkan kondisi ruhani. Kita semua bangsa Indonesia, adalah bangsa yang beriman, bangsa yang religius. Kita mengasah kesegaran ruhani dengan nilai-nilai agama, untuk membuat kita membangun kebermaknaan yang abadi melalui tulisan.

  • Meluruskan niat dalam menulis

“Everyone must write. Not for money, fame, or notoriety. Most professional writers know none of these things. I want you to write for deeper and more existential reasons” (Ryan J. Pelton, 2017)

“Setiap orang harus menulis, “ujar Ryan J. Pelton. “Bukan untuk uang, ketenaran, atau kemasyhuran. Para penulis profesional tidak mengagendakan hal-hal seperti ini. Saya ingin Anda menulis untuk alasan yang lebih dalam dan lebih eksistensial daripada sekedar hal-hal tersebut”.

Maka luruskan niat dalam menulis, maka Anda akan menemukan hal-hal yang lebih esensial dan eksistensial dalam menciptakan karya tulis. Kekayaan dan popularitas boleh saja didapatkan dalam menulis, namun itu tidak abadi. Yang lebih abadi dalam memberi pencerahan, semangat kebaikan, motivasi serta inspirasi yang membangun.

  • Menjadikan menulis sebagai ladang ibadah dan amal kebaikan

Menulis adalah ibadah, menulis adalah proses melahirkan amal kebaikan yang abadi. Spiritualitas ibadah ini sangat kuat memengaruhi jiwa kita. Jika dari awal kita sudah menetapkan menulis sebagai ibadah, maka bersiaplah menuai pahala. Sebab ibadah selalu terkoneksi dengan balasan berpa pahala kebaikan. Demikian pula ketika selalu mampu melahirkan amal, maka berkorelasi pula dengan pahala kebaikan.

  • Membuat tulisan lebih memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan

Jika spiritualitas kita selalu terjaga kesegarannya, akan memberikan pengaruh pada kekuatan kata-kata, dan kekuatan makna. Para ulama Islam menyebut fenomena ini dengan “qaulan tsaqila”. Ada orang yang kata-katanya membuat pengaruh perubahan, dan ada orang yang kata-katanya hanya busa-busa. Semua bermula dari kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

  • Memberikan kekuatan daya tahan dalam menciptakan perubahan

Melakukan perubahan memerlukan waktu tak sebentar. Jika tujuan menulis adalah menciptakan perubahan, maka harus disertai kesabaran. Teruslah menulis, teruslah melakukan seruan perbaikan melalui tulisan. Jika “udara” literasi dipenuhi ajakan kebaikan, akan membuat pengaruh positif bagi masyarakat luas. Namun jika “udara” literasi dipenuhi dengan tulisan sampah, tentu juga memberikan pengaruh negatif bagi masyarakat luas.

Dengan spiritual yang selalu terjaga kesegarannya, akan memberikan daya tahan bagi penulis untuk menunggu momentum perubahan.

Bahan Bacaan