Menulis tentang seseorang karena “terkesan” kepada
subyeknya, tentang kisahnya.
Memang kisah ini biasa saja, ini tergantung dari cara
kita memberi makna atas peristiwa yang ada.
|
L |
ahir, hidup, mati, rejeki dan jodoh bahkan nasib dari manusia itu sudah di atur
olehNya.
Suka atau tidak suka kita harus menerimanya.
Kita tetap bersyukur dengan yang ada. Ajari kami Tuhan untuk bisa selalu berucap
syukur dalam keadaan apapun, penuhi kami dengan keiklasan. Karena hidup adalah
tantangan yang harus dihadapi. Penderitaan yang harus diatasi. Pertandingan
yang harus dimenangkan. Hidup juga sebuah
kuajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia.
Alkisah
sebuah keluarga miskin diperkampungan
daerah terpencil di nun jauh di sana. Karena terhimpitnya kehidupan.
Sengsaranya keadaan. Perihnya hati. Lapar dan dahaga yang di rasakannya. Istri
dan dua orang anak yang harus ditanggungnya. Memang sudah berupaya buat ladang. Tapi ladang tak pernah menghasilkan.
Karena
teriknya matahari dan kamarau
yang teramat panjang. Sumber airpun
mengering.
Betapa
sedihnya hidup ini. Hidup enggan matipun tidak. Karena
kurang makan dan kehidupan serba
berkekurangan, salah satu anaknya jatuh
sakit. Sakit selalu dianggap biasa.Jika sakit dibiarkan, toh nanti akan sembuh
sendiri. Begitu dia punya keyakinan Di perkampungan jauh untuk pengobatan. Hari demi hari
ditunggui saja. Eh!! ternyata keyakinan
itu meleset.Sakit semakin parah,
panaspus semakin tinggi. Rasa
panik pun tak bisa dihindari.
Karena
situasi dan kondisi. Akhirnya dia jadi punya
rencana untuk mencuri. Kambing banyak di ladang orang. Tengah
malam beraksi demi si buah hati yang
sakit supaya tidak mati. Aksipun sukses. Dipikulnya kambing, dan
dibawa serta Istri dan anak-anaknya ke kota di tengah malam dengan berjalan
kaki. Lumayan, bisa sekitar dua puluhan kilo untuk dapat jalan raya.
Sampailah
mereka di jalan raya tempat biasa bis
pedesaan ada. Sekitar jam 9 , bis pun
muncul. Mereka naik bis menuju kota.
Setelah turun, konjakpun meminta
bayarannya. Dengan segala keluh kesahnya. Akhirnya sang konjak mau membantu
menjualkan kambing, sekalian untuk ongkos bisnya. Karena kebaikan hati pak
supir diantarlah ia ke pasar supaya bisa jual dulu kambingnya supaya
lunas ongkos bisnya. Seberapun
uang kambing yang penting sudah bisa untuk bekal hidup sementara di
kota.
Orang
kampung tak tahu ramainya kota. Tak
pikir panjang, mereka bertanya dimana rumah sakit berada. Ternyata ada saja
orang baik yang rela mengantarnya. Sampailah mereka di rumah sakit. Dibawalah Hana
yang
sakit itu menghadap ke dokter.
Karena lambatnya penanganan dan lamanya
penderitaan, dokter memfonis bahwa dia sakit lupus dan tak bisa disembuhkan. Lupus
merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem imun yang
bekerja dengan keliru. Dalam kondisi normal, sistem imun seharusnya melindungi
tubuh dari serangan infeksi virus atau
bakteri. Pada pengidap lupus ini sistem imun justru menyerang jaringan dan
organ tubuh sendiri.
Dokter
pun menyarankan untuk pulang saja. Karena memang sia-sia jika ditangan di rumah
sakit. Dengan langkah lunglai dan tidak berdaya akhirnya dia pun harus
menyetujuinya. Di gendongnya Hana, diciumnya dengan peluh dan air mata. Mereka pulang dengan penuh rasa duka lara. Sedih, pilu!! Kita tak
bisa menyalahkan siapa-siapa. Tubuh Hana kurus, lemas dan berdaya.
Suatu
ketika Saya datang menemuinya. Kutatap matanya. Tersirat kesedihan di dalam
dirinya. Ya, dia akan menanggung sendiri
keadaan sampai seumur hidupnya.Tuhan,
kuatkan dia dalam kesengsaraannya.
Semoga tetap semangat menjalani
kehidupannya sekarang hingga akhir hayatnya. Benar adanya, Tuhan buat ujian
setiap manusia. Supaya kita semakin dekat denganNya. Semoga ini
rencana Indah yang dibuatNya. Salam !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar