Sabtu, 19 September 2020

MEMBERI IMBALAN PSIKOLOGI KEPADA ANAK

 


Membaca, melihat  di medsos tentang pembelajaran di rumah. Perlakuan orang tua terhadap putera-puterinya.Ada yang mengeluh.  Ada yang marah-marah. Ada yang jengkel. Ada pula yang  sampai menganiaya anaknya, karena  anak kurang paham maksud dari orang tua, khususnya pada pelajaran matematika. Sebagai guru jadi pedih, perih, bahkan miris mendengarnya.

Hasil dari  pembelajaran dari rumah (BDR)  akhirnya  bisa membuka mata kita. Melihat dengan hati dan perasaan kita. Berbagai macam karakter orang tua jadi bisa terungkap. Terlihat jelas! Bagaimana  cara menerapkan  hubungan orang tua kepada  putera puteri kesayangannya.

Menjadi Orang tua bukanlah tugas yang harus dijalankan denganp perasaan cemas,gelisah, takut, bingung, jengkel atau ragu. Seharusnya  kita jalani dengan perasaan penuh  suka cita, syukur dan kasih sayang. Hubungan baik antara Ortu dan anak adalah  kunci keberhasilan dalam mendidik anak.

Prestasi anak di sekolah bisa tergantung dari cara orang tua mendidiknya di rumah. Putri adalah salah satu siswa  dari sebuah SD favorit di daerahnya. Dia mempunyai IQ bagus, di atas rata-rata.Ayahnya  pejabat. Mamanya juga orang penting di sebuah kantor. Secara finansial meraka  dipandang sebagai keluarga ‘berada’.  Tapi  putri anak semata wayang mereka  tidak pernah semangat di sekolah. Prestasinya pun bisa di pandang ‘buruk’.  Di sekolah hanya melamun saja.

Surat panggilan dilayangkan untuk orang tuanya.  Dengan suka cita orang tuapun datang. Mereka menceritakan bahwa dia sangat menyayanginya.  Dia akan mendapatkan paling baik jika dia minta sesuatu.  Kami keluarga yang demokratis,  mandiri dan kami bahagia dalam keluarga kami. Bukan begitu,mama? : tanya ayah putri kepada mamanya untuk mendapatkan konfirmasi.

Kadang ortu beranggapan, Jika semua kebutuhan anak dicukupkan, bahkan dilebihkan, akan membuat anak berprestasi?!. Ternyata ‘tidak’.  Katakanlah, misalnya  sebuah hasil karya siswa berupa lukisan. Tugas sekolah, dengan serius ia membuatnya, dari guru dapat pujian dan nilainya bagus. Dengan penuh harapan , dia akan memamerkan haril karyanya ke orang tua utk dapat ‘pujian’ berikutnya. Begitu  super  sibuknya orang tua, begitu putri yang dengan antusias untuk ‘pamer’ hasil karya, eh!!  ternyata orang tua, ‘cuek’. Bahkan  menyuruh dia pergi, karena lagi sibuk dan pesan untuk  tidak boleh ganggu.  Sekali, anak maklum. Dua kali kejadian sama, anak mulai sakit hati, ketiga kali  anak jengkel dan selanjutnya anak jadi frustasi atau  trauma. Akhirnya dia mendoktrinkan diri. Untuk apa saya repot-repot kerja keras. Percuma!.

Sifat alami manusia   suka menerima ‘pengakuan’ untuk hasil yang dicapainya. Sesuatu yang dibuatnya jika mendapatkan pujian pasti  ia akan semakin keras pula usahanya untuk maju. Ini yang namanya memberi imbalan psikologi kepada anak.

Bahagia sekali kemarin guru mulai mengajar di sekolah. Ternyata tidak lama. YSekarang BDR Lagi. Saat ini guru  merindukan  kapan lagi mengajar di sekolah, rindu bertemu dengan anak. Tapi Ortu pusing mengajar anak. Mari kita sama-sama mendidik , melatih dan mengajar anak kita dengan kasih sayang, perhatian dan penuh suka cita. Semoga anak kita selalu mendapat ‘pengakuan’ dan  imbalan psikologis dari orang tua.  Salam guru untuk orang tua.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...