Selasa, 01 September 2020

Antologi Autobiografi

 

 

GOOD FIGHTER NEVER SHOW THE PAINT

=================================

Oleh: Ledwina Eti Wuryani

 

 S

aya adalah orang biasa dan tak punya  kelebihan apa-apa. Tapi  apapun itu  saya  harus selalu  bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan . Sebagai orang beriman  hidup harus tegar untuk menata hatinya, meskipun  berlawanan dengan  apa yang kita terima dalam kehidupan. Terkadang air mata  menetes saat masalah datang  tetapi hati tetap meyakini  bahwa  apa yang diberikan Tuhan  adalah yang ‘terbaik’.

Petarung yang baik tidak pernah menunjukkan pesakitan.  Hidup adalah perjuangan yang harus  dijalani, entah kita mau  jadi apa: kaya- miskin, bahagia, duka-cita, kita harus tetap terima.  Kalau jatuh itu “resiko” tapi kalau bahagia, kaya raya, punya jabatan itu adalah “anugerah”. Apapun itu harus tetap kita “syukuri”.

Ada istilah, tak kenal maka tak sayang, Ledwina Eti Wuryani adalah nama saya , saya lahir di  kampung kecil, di desa Gejayan, kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan , Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Tepatnya pada hari Kamis Legi, tanggal 14 April 1966.  Saya merupakan anak pertama  dari 4 bersaudara, putri  dari pasangan Sudayat Hadi Pranoto dan Sutari. Ayahku seorang guru, tahu kan ’profesi ‘ guru waktu  itu. Profesi ini, maaf, dulu dilihat orang dengan ”sebelah mata”.  Dalam Melaksanakan tugas setiap pagi dijalani dengan suka cita, dengan naik motor tua  kesayangannya. Yach, puji Tuhan,secara finansial kehidupan kami  ‘cukup’ untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Di desa itu saya  dibesarkan oleh ayah dan ibuku  hingga aku  lulus sekolah dasar. Di SMP  saya harus  jalan kaki jarak rumah ke sekolah  sekitar 7 km.  Sedang SMA saya harus pergi di tempat yang lebih jauh lagi, di kota  propinsi sekitar 40 km dari rumahku, karena saya  harus tinggal di asrama, harapan orang tua supaya kami belajar hidup mandiri.

Untuk melatih mandiri, 3 tahun saya di asrama  akhirnya saya keluar, mengingat saya harus bersama-sama  dengan 3 orang adikku. Jadi berempat kami sekolah dan kuliah di Jogya. Orang tuaku melepaskan kami, menyewakan rumah makan untuk kami kelola. Apapun yang terjadi harus bisa mencukupkan  biaya hidup dan biaya pendidikan aku dan adik-adikku. Sebagai anak pertama  aku harus punya tanggung jawab  dalam menjaga  kepercayaan  orang tuaku.Beruntung   aku dan adik-adik  akhirnya bisa kuliah semua hingga selesai..

            Ayahku  guru SPG, pada tahun 1990 sekolah itu kan ditutup untuk diganti SMA. Rejeki memang tak akan salah alamat, teman ayahku, Bp Drs Margono, waktu itu menjabat Dikmenun di Dinas Pendidikan Republik Indonesia.  Beliau adalah teman ayahku waktu sekolah di SGA saat itu. Beliau Telpon ke ayahku dan berkata: “Pak Dayat, mau nggak jadi kepala sekolah di Timor-Timur? “. Ayahku menjawab:” ya, mau lah. Dan bapak menyampaikan kalau boleh sekalian aku mendampinginya di Tim Tim, ternyata disetujui. Akhirnya  dengan  semangat 45 kami ke Jakarta bertemu beliau. Kebetulan waktu itu Timor Timur  masih  sangat membutuhkan tenaga pendidik.

 

Bapak  diberi SK untuk menjabat kepala sekolah  dan saya mendapat SK untuk menjadi guru. Surat Keputusan per bulan Maret 1990 di SMA Negeri Maliana, Bobonaro, Timor Timur. Berangkat dari kampung dengan bis ‘Safari Dharma Raya’ Rp 86.000,-sampai  ke Bali naik pesawat  menuju Kupang . Dari kupang naik bis “Surikmas, ditempuh 24 jam lebih karena harus melewati 2 Sungai besar, dan saat banjir  harus menunggu sungai itu  airnya        surut, maklum belum ada jembatan, jadi bis  harus di dorong untuk menyeberang sungai . Dalam perjalanan melewati jurang, gunung, tebing terjal bahkan lumpur. Jalan rusak, batu lepas dan segala perjuangan  untuk mencapai tujuan.  Tapi alhamdulillah, sampai juga ditempat tujuan. Akhrinya saya resmi menjadi  guru baru di situ   Gaji pertama   saya waktu itu, Rp 81.200,- .

Mengajar di daerah konflik memang harus penuh kesabaran. Di Saat situasi ‘panas’ hati selalu was-was. Kejadian-kejadian  ngeri  sering kami lihat. Adanya  kekacauan,  intimidasi  terjadi dimana-mana.  Saat  genting kita pun tidak berani keluar rumah apalagi ke sekolah.  Dari pada kita  ‘terluka’ lebih baik menghindar, demi keselamatan.  Dengan   menghadapai situasi seperti itu, membuat  saya menjadi  lebih  tabah, sabar, lebih dewasa  dan begitu menghargai artinya  sebuah ‘kehidupan’.  Ternyata  hidup itu  penuh pengorbanan,  begitu mudah  nyawa melayang kalau kita tidak ‘waspada’ setiap saat.  Tapi  ‘puji Tuhan”  semuanya  berjalan  baik-baik saja.  

Tiga tahun berikutnya saya dimutasi di kota propinsi, SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Situasipun masih  sama adanya. Yach,  sebagai abdi negara, memang harus rela di tempatkan di seluruh pelosok Nusantara. Demi mengajar anak bangsa yang akan mengganti kita nanti tentunya.

Tahun 1999 Timor Timur merdeka, Seluruh warga Indonesis dipulangkan ke daerah asalnya. Karena suamiku orang NTT, saya dimutasikan di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur NTT. Sebagai  ‘amanah’ dan tanggung jawab seorang istri, jadi saya harus mengikuti  dimanapun suami berada.

Saya orang jawa, suami orang Sumba, Meurumba tanah kelahirannya, Jadi  kehidupan dan latar belakang  jelas sangatlah berbeda. Sebagai ‘guru’  yang nasibnya tak pernah menentu kala itu, serba kekurangan, kami hidup bersama keluarga besar. Sekitar dua puluhan orang  kita hidup bersama. Selama dua tahun saya mencoba beradaptasi, seolah tertawa walau hatinya tak senada,  seolah  bersuka  walau sebenarnya  hati terasa ‘lara’. Itu adalah salah satu  pengorbanan seorang ‘abdi keluarga ‘ dan ‘abdi negara’.  Dengan hidup sangat  sederhana, seadanya , puasa karena memang menyesuaikan situasi yang saat itu ada. Yang berstatus : Pegawai korban konflik bencana. Semua Rumah harta benda semua kita tinggalkan di sana.  Pedih, perih, menangis yang  sampai tak bisa keluar air mata. Sampai  pernah terlintas  dalam pikiran,  ‘apa saya harus lari saja? Tapi Tuhan  selalu menguatkan saya. Di tempat baru kita seolah membangun rumah tangga baru dari nol lagi. dengan semangat baru.

Di atas adalah  saya cerita masa lalu, sekarang sudah sangat berbeda. Gaji guru sudah lumayan, sudah  bisa bernafas lega, walau  kebutuhan tetap saja ada. Tapi tetap terus bersyukur dan bersyukur kepada  Tuhan Yang Esa dalam setiap doa.

Nach, dari itu yang membuat semangat saya, untuk menuangkan  isi hati lewat cerita. Menuliskan dengan kata-kata.  Ya, dalam suasana hati suka maupun  saat hati  duka, dan  nestapa.  Karena memang hidup bagai roda,  kadang di atas, kadang di bawah yang terus menerus wajib dijalani oleh setiap manusia. Biar tua, kita harus sadar untuk terus belajar, mengisi hal-hal yang berguna. Berkarya sesuai dengan  kemampuan kita, siapa tahu bisa untuk memperpanjang usia. Semoga!.

Saya sadar atas  kemampuan  dan keterbatasan saya.walaupun isinya masih “receh”, namun, saya telah  mencoba.  Entah dibaca atau tidak.  Tidaklah masalah!. Yang penting saya mencoba terus mencoba dan berusaha, minimal saya bisa di kenal dari segelintir orang, itu sudah “cukup” menurut saya. .

Selagi masih diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan terasa  nikmat dan  bergairah kalau kita menulis, yang mana isinya tentang curahan hati pribadi, yang  awalnya merupakan “ beban hidup” tapi setelah dicurahkan dalam tulisan terasa ringan. Trimakasih  P Cah, Ibu Nurlela, mbak  Indah, dan mbak  Naila yang sudah  menginspirasi dan  memotivasi saya  untuk  menulis.

Kalau kita menulis  hidup yang  dulu terasa ‘bosan’  dan jenuh  dengan rutinitas harian.  Akhirnya  terasa  hidup itu asyik,  nyaman dan bisa membuat  suasana  terasa ’beda’.  Yang jelas  membuat saya punya wawasan “lebih” dari sebelumnya. Suka belajar, lebih suka membaca dan percaya diri.  Selamat berkarya dan berbagi ilmu untuk kita  yang mau maju.  Tak ada keberhasilan yang tanpa usaha dan kerja keras, jangan mengeluh dan terus berusaha.  Good Fighter never Show The Paint.

 Salam Literasi!.

 

Quate’s

1.      Kerja keras akan mengalahkan  orang berbakat, ketika orang  berbakat  tidak mau bekerja  keras.

2.      Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, itu merupakan  kunci  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...