GOOD FIGHTER
NEVER SHOW THE PAINT
=================================
Oleh: Ledwina
Eti Wuryani
|
S |
aya adalah orang biasa dan tak
punya kelebihan apa-apa. Tapi apapun itu
saya harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan . Sebagai
orang beriman hidup harus tegar untuk
menata hatinya, meskipun berlawanan
dengan apa yang kita terima dalam
kehidupan. Terkadang air mata menetes
saat masalah datang tetapi hati tetap
meyakini bahwa apa yang diberikan Tuhan adalah yang ‘terbaik’.
Petarung yang
baik tidak pernah menunjukkan pesakitan.
Hidup adalah perjuangan yang harus
dijalani, entah kita mau jadi
apa: kaya- miskin, bahagia, duka-cita, kita harus tetap terima. Kalau jatuh itu “resiko” tapi kalau bahagia,
kaya raya, punya jabatan itu adalah “anugerah”. Apapun itu harus tetap kita “syukuri”.
Ada istilah, tak
kenal maka tak sayang, Ledwina Eti Wuryani adalah nama saya , saya lahir
di kampung kecil, di desa Gejayan,
kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan , Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa
Tengah. Tepatnya pada hari Kamis Legi, tanggal 14 April 1966. Saya merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, putri dari pasangan Sudayat Hadi Pranoto dan
Sutari. Ayahku seorang guru, tahu kan ’profesi ‘ guru waktu itu. Profesi ini, maaf, dulu dilihat orang
dengan ”sebelah mata”. Dalam
Melaksanakan tugas setiap pagi dijalani dengan suka cita, dengan naik motor
tua kesayangannya. Yach, puji
Tuhan,secara finansial kehidupan kami ‘cukup’
untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Di desa itu saya dibesarkan oleh ayah dan ibuku hingga aku
lulus sekolah dasar. Di SMP saya
harus jalan kaki jarak rumah ke
sekolah sekitar 7 km. Sedang SMA saya harus pergi di tempat yang
lebih jauh lagi, di kota propinsi
sekitar 40 km dari rumahku, karena saya
harus tinggal di asrama, harapan orang tua supaya kami belajar hidup
mandiri.
Untuk melatih
mandiri, 3 tahun saya di asrama akhirnya
saya keluar, mengingat saya harus bersama-sama
dengan 3 orang adikku. Jadi berempat kami sekolah dan kuliah di Jogya.
Orang tuaku melepaskan kami, menyewakan rumah makan untuk kami kelola. Apapun
yang terjadi harus bisa mencukupkan
biaya hidup dan biaya pendidikan aku dan adik-adikku. Sebagai anak
pertama aku harus punya tanggung
jawab dalam menjaga kepercayaan
orang tuaku.Beruntung aku dan
adik-adik akhirnya bisa kuliah semua
hingga selesai..
Ayahku guru SPG, pada tahun 1990 sekolah itu kan ditutup
untuk diganti SMA. Rejeki memang tak akan salah alamat, teman ayahku, Bp Drs
Margono, waktu itu menjabat Dikmenun di Dinas Pendidikan Republik
Indonesia. Beliau adalah teman ayahku
waktu sekolah di SGA saat itu. Beliau Telpon ke ayahku dan berkata: “Pak Dayat,
mau nggak jadi kepala sekolah di Timor-Timur? “. Ayahku menjawab:” ya, mau lah.
Dan bapak menyampaikan kalau boleh sekalian aku mendampinginya di Tim Tim,
ternyata disetujui. Akhirnya dengan
semangat 45 kami ke Jakarta bertemu beliau. Kebetulan waktu itu Timor
Timur masih sangat membutuhkan tenaga pendidik.
Bapak
diberi SK untuk menjabat kepala sekolah dan saya mendapat SK untuk menjadi guru. Surat Keputusan per
bulan Maret 1990 di SMA Negeri Maliana, Bobonaro, Timor
Timur. Berangkat dari kampung dengan bis ‘Safari Dharma Raya’ Rp 86.000,-sampai ke Bali naik pesawat menuju Kupang . Dari kupang
naik bis “Surikmas, ditempuh 24 jam lebih karena harus melewati 2 Sungai besar, dan saat banjir
harus menunggu sungai itu airnya surut, maklum belum ada jembatan, jadi bis harus di dorong untuk menyeberang sungai . Dalam
perjalanan melewati jurang, gunung, tebing terjal bahkan lumpur. Jalan rusak,
batu lepas dan segala perjuangan untuk mencapai
tujuan. Tapi alhamdulillah, sampai juga ditempat tujuan. Akhrinya saya resmi menjadi guru baru di situ Gaji pertama
saya waktu itu, Rp 81.200,- .
Mengajar di
daerah konflik memang harus penuh kesabaran. Di Saat situasi ‘panas’ hati selalu
was-was. Kejadian-kejadian ngeri sering kami lihat. Adanya kekacauan, intimidasi
terjadi dimana-mana. Saat
genting kita pun tidak berani keluar rumah apalagi ke sekolah. Dari pada kita ‘terluka’ lebih baik menghindar, demi
keselamatan. Dengan menghadapai situasi seperti itu,
membuat saya menjadi lebih
tabah, sabar, lebih dewasa dan
begitu menghargai artinya sebuah
‘kehidupan’. Ternyata hidup itu
penuh pengorbanan, begitu
mudah nyawa melayang kalau kita tidak
‘waspada’ setiap saat. Tapi ‘puji Tuhan”
semuanya berjalan baik-baik saja.
Tiga tahun
berikutnya saya dimutasi di kota propinsi, SMA Negeri 3 Dili Timor Timur.
Situasipun masih sama adanya. Yach, sebagai abdi negara, memang harus rela di
tempatkan di seluruh pelosok Nusantara. Demi mengajar anak
bangsa yang akan mengganti kita nanti tentunya.
Tahun 1999 Timor
Timur merdeka, Seluruh warga Indonesis dipulangkan ke daerah asalnya. Karena
suamiku orang NTT, saya dimutasikan di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur NTT.
Sebagai ‘amanah’ dan ‘tanggung jawab’
seorang istri, jadi saya harus
mengikuti dimanapun suami berada.
Saya orang jawa,
suami orang Sumba, Meurumba tanah kelahirannya, Jadi kehidupan dan latar belakang jelas sangatlah berbeda. Sebagai ‘guru’ yang nasibnya tak pernah menentu kala itu, serba
kekurangan, kami hidup bersama keluarga besar. Sekitar dua puluhan orang kita hidup bersama. Selama dua tahun saya
mencoba beradaptasi, seolah tertawa walau hatinya tak senada, seolah
bersuka walau sebenarnya hati terasa ‘lara’. Itu adalah salah
satu pengorbanan seorang ‘abdi keluarga
‘ dan ‘abdi negara’. Dengan hidup
sangat sederhana, seadanya , puasa karena
memang menyesuaikan situasi yang saat itu ada. Yang berstatus : Pegawai korban
konflik bencana. Semua Rumah harta benda semua kita tinggalkan di sana. Pedih, perih, menangis yang sampai tak bisa keluar air mata. Sampai pernah terlintas dalam pikiran, ‘apa saya harus lari saja? Tapi Tuhan selalu menguatkan saya. Di tempat baru kita
seolah membangun rumah tangga baru dari nol lagi. dengan semangat baru.
Di atas adalah saya cerita masa lalu, sekarang sudah sangat
berbeda. Gaji guru sudah lumayan, sudah
bisa bernafas lega, walau
kebutuhan tetap saja ada. Tapi tetap terus bersyukur dan bersyukur
kepada Tuhan Yang Esa
dalam setiap doa.
Nach, dari itu
yang membuat semangat saya, untuk menuangkan
isi hati lewat cerita. Menuliskan dengan kata-kata. Ya, dalam suasana hati suka maupun saat hati
duka, dan nestapa. Karena memang hidup bagai roda, kadang di atas, kadang di bawah yang terus
menerus wajib dijalani oleh setiap manusia. Biar tua, kita harus sadar untuk
terus belajar, mengisi hal-hal yang berguna. Berkarya sesuai dengan kemampuan kita, siapa tahu bisa untuk memperpanjang
usia. Semoga!.
Saya sadar
atas kemampuan dan keterbatasan saya.walaupun isinya masih
“receh”, namun, saya telah mencoba. Entah dibaca atau tidak. Tidaklah masalah!. Yang penting saya mencoba
terus mencoba dan berusaha, minimal saya bisa di kenal dari segelintir orang,
itu sudah “cukup” menurut saya. .
Selagi masih
diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan
terasa nikmat dan bergairah kalau kita menulis, yang mana
isinya tentang curahan hati pribadi, yang
awalnya merupakan “ beban hidup” tapi setelah dicurahkan dalam tulisan
terasa ringan. Trimakasih P Cah, Ibu
Nurlela, mbak Indah, dan mbak Naila yang sudah menginspirasi dan memotivasi saya untuk
menulis.
Kalau kita
menulis hidup yang dulu terasa ‘bosan’ dan jenuh
dengan rutinitas harian.
Akhirnya terasa hidup itu asyik, nyaman dan bisa membuat suasana
terasa ’beda’. Yang jelas membuat saya punya wawasan “lebih” dari
sebelumnya. Suka belajar, lebih suka membaca dan percaya diri. Selamat berkarya dan berbagi ilmu untuk
kita yang mau maju. Tak ada keberhasilan yang tanpa usaha dan
kerja keras, jangan mengeluh dan terus berusaha. Good
Fighter never Show The Paint.
Salam Literasi!.
Quate’s
1.
Kerja
keras akan mengalahkan orang berbakat,
ketika orang berbakat tidak mau bekerja keras.
2.
Semangat
dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap
perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, itu merupakan kunci
keberhasilan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar