.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Dalam berbagai diskusi di Kelas Menulis Online (KMO) Basic, di semua batch, selalu saja ada pernyataan kebingungan. Misalnya seperti ini:

“Saya bingung mau menulis apa?”

“Saya sudah tahu akan menulis apa, tapi bingung mau mulai dari mana?”

“Saya sudah tahu mau mulai dari mana, tapi bingung nanti referensinya apa?”

Bingung, itu yang dialami banyak penulis pemula. Dampaknya, untuk memulai menulis, memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk menyelesaikan satu tulisan pendek saja, memerlukan waktu lama. Karena dilanda kebingungan.

Tentu saja ini sangat bisa dimaklumi, karena dalam proses pembelajaran. Namun tidak boleh dituruti. Maklum boleh, dituruti jangan. Maka harus dicari solusi.

Bagaimana Mengatasi Kebingungan Menulis?

Saya selalu memulai menulis, dengan menetapkan tujuan. Saya selalu punya tujuan dalam menulis. Dan Anda semua tahu, apa yang akan terjadi setelah kita menetapkan tujuan.

Misalnya, Anda seorang pejabat penting. Suatu hari Anda akan bepergian dengan mobil pribadi, diantar oleh sopir pribadi. Setelah masuk ke dalam mobil, sopir Anda bertanya, “Mau diantar kemana Pak?” Lalu Anda menjawab, “Ga tau saya”. Kira-kira, sopir akan membawa Anda kemana?

Sebagaimana juga, ketika Anda ditanya sopir, lalu Anda menjawab, “Terserah sajalah mau kemana”. Jadi, sebenarnya Bapak mau kemana? Jika tak kemana-mana, lalu mengapa naik mobil? Pasti bingung sopir pribadi Anda.

“Bapak sudah minum obat?” Mungkin itu pertanyaan sopir pribadi Anda.

Sekarang cobalah memberi jawaban. “Saya cuma ingin jalan-jalan. Jadi kita muter-muter kota saja, lalu balik pulang lagi”. Nah ini sudah ada pernyataan jawaban. Sopir Anda akan mengerti. Dia tidak akan bingung lagi.

Apa lagi ketika jawaban Anda sangat pasti. “Saya akan ke Hotel Sudirman di Jalan Jendral Sudirman nomer 58”. Nah ini jawaban yang sangat pasti. Sopir Anda langsung meluncur tanpa kebingungan.

Apa yang Anda dapatkan setelah menetapkan tujuan? Pertama kali, Anda akan mengerti jalan. Ya benar. Anda tahu akan lewat jalan mana, gang apa, belokan ke berapa, untuk sampai ke tujuan. Karena Anda sudah tahu, di manakah tujuan akhir Anda.

Bahkan ketika jalan utama sedang macet atau ditutup, Anda akan tahu jalan-jalan lain yang bisa membawa Anda mencapai tujuan. Inilah pentingnya menetapkan tujuan dalam segala sesuatu. Tanpa tujuan, yang akan Anda dapatkan adalah kebingungan.

Detailkan Rencana Perjalanan

Jika Anda akan menempuh perjalanan darat, misalnya, dari Yogyakarta menuju Malang, maka Anda harus pastikan terlebih dahulu, dimana titik tujuan di Malang. Misalnya Anda akan menuju lokasi Stadion Gajayana.

Setelah pasti titik tujuannya, Anda bisa mendetailkan rencana perjalanan. Misalnya Anda memutuskan menggunakan mobil pribadi. Kemudian Anda akan melihat peta, lewat jalur mana untuk menuju Stadion Gajayana Malang. Akan melewati kota mana saja sebelum sampai di Malang.

Bahkan Anda sudah bisa merencakan titik-titik pemberhentian untuk istirahat. Sehingga perjalanan 8 jam dari Yogyakarta menuju Malang tidak melelahkan. Anda bisa menikmati teh panas dan snack di tempat istirahat. Anda bisa ke toilet dan menunaikan shalat saat di rest area.

Demikian pula dalam menulis. Jika Anda akan menulis, pertama kali harus menetapkan tujuan yang detail. Mari saya berikan contoh, apa yang saya lakukan.

Setiap kali saya menulis, maka saya sudah menetapkan ‘who’ and ‘do’. Who adalah segmen pembaca, siapa yang saya harapkan membaca tulisan saya. Do adalah, apa yang saya harapkan pada pembaca saya.

Dari situ saya mendetailkan rencana penulisan, dalam bentuk outline atau kerangka tulisan. Inilah yang memandu perjalanan menulis, sampai selesainya naskah. Setelah membuat outline, saya mulai menulis, sesuai dengan kerangka yang telah saya buat sebelumnya.

Contoh Aplikasi

Who (segmen pembaca) : pasangan suami istri, sejak pengantin baru sampai pengantin lama.

Do (yang saya harapkan pada pembaca) : (1) mengetahui urgensi komunikasi suami istri (2) mampu berkomunikasi dengan pasangan secara nyaman dan melegakan.

Outline / kerangka tulisan

  1. Pengantar : membahas urgensi komunikasi suami istri
  2. Pembahasan : membahas 10 langkah komunikasi suami istri
  3. Penutup : ajakan untuk memperbaiki komunikasi

Hasil tulisan

Berdasarkan kerangka sederhana tersebut, saya buat tulisan dan saya posting di Kompasiana, menjadi dua kali tayangan. Simak contoh berikut ini.

Bagian Pertama, Komunikasi Cinta untuk Suami dan Istri (1)

Bagian Kedua, Komunikasi Cinta untuk Suami dan Istri (2)

Demikianlah cara untuk menghindari kebingungan menulis. Jika Anda sudah menetapkan tujuan, maka Anda akan mengetahui sangat banyak pilihan jalan. Dan Anda berhak memilih jalan mana yang akan Anda lalui. Ada jalan panjang namun mengasyikkan, ada jalan tol yang membosankan, ada jalan kampung yang menyejukkan, ada pula jalan pintas yang menegangkan.

Outline yang saya buat, adalah contoh ‘pilihan rute perjalanan’. Saya memilih menetapkan sepuluh langkah komunikasi dengan pasangan yang melegakan. Saya memilih menulis dalam rumpun nonfiksi. Saya memilih posting di Kompasiana. Saya memilih untuk menjadikannya dua kali postingan. itu semua adalah jalan mencapai tujuan. itu semua adalah pilihan.

Bersambung.

.

Ilustrasi : vector stock