.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“It is the wait until the next day that is hard to get through” — Ernest Hemingway
.
Seperti yang diungkapkan oleh bang Pepih Nugraha –founder Kompasiana, menulis itu tidak ada sekolahnya. Yang ada adalah sharing pengalaman menulis dari para penulis. Maka salah satu cara kita untuk menjadi penulis adalah dengan belajar dari orang-orang yang sudah bagus dan banyak karya tulisnya.
Saya sering mengajak Anda belajar dari banyak tokoh kepenulisan, untuk mendapatkan pelajaran penting dari orang-orang hebat itu. Silakan simak kembali di blog Ruang Menulis ini. Sangat banyak kebiasaan menulis para tokoh sudah saya ulas.
Kali ini, saya akan mengajak Anda belajar dari seorang penulis dunia, Ernest Hemingway (1899 – 1961). Penulis novel Winner Take Nothing dan ratusan buku lainnya ini memiliki kebiasaan menulis setiap pagi. “I write every morning. Saya menulis setiap pagi,” ujarnya. Ini menarik, karena secara teori waktu pagi memang membuka otak kreativitas.
“When I am working on a book or a story I write every morning as soon after first light as possible”, ujar Hemingway. Ketika sedang mengerjakan sebuah buku, ia menulis setiap pagi, secepat mungkin setelah terbit cahaya pertama. Ia tidak bermalas-malasan di tempat tidur, atau menunggu sampai matahari meninggi.
“You have started at six in the morning, say, and may go on until noon or be through before that”. Ia sudah mulai menulis sekitar pukul enam pagi, dan akan terus menulis sampai tengah hari atau sebelum itu. Ini kebiasaan yang dilakukan ketika tengah menyelseaikan sebuah projek buku.
Waktu pagi tak ingin disia-siakan oleh Hemingway. Meskipun tengah musim dingin yang mencekam, ia akan tetap menulis. Cuaca dan musim tidak menjadi alasan baginya untuk tidak menulis. “There is no one to disturb you and it is cool or cold and you come to your work and warm as you write,” ujarnya. Meski dingin, ia akan segera hangat setelah menulis.
Begitu mulai menghadap ke mesin ketik, yang ia lakukan tidak langsung menulis. Ia akan membaca tulisan pada hari sebelumnya. Kita tahu menulis novel tidak bisa selesai dalam waktu sehari dua hari. Bisa memerlukan waktu berbulan-bulan. Setiap pagi ia menulis, harus bisa menyambung dengan tulisan hari sebelumnya.
Maka sebelum melanjutkan menulis, ia harus berusaha mengingat dulu cerita yang ditulis sebelumnya. “You read what you have written and, as you always stop when you know what is going to happen next, you go on from there”. Tanpa review kisah yang ditulis sebelumnya, akan sulit untuk bisa meneruskannya.
Ketika menulis di pagi hari, Hemingway memiliki target tertentu. Ia akan menulis sampai batas yang ia masih memiliki bahannya, lalu berhenti. “You write until you come to a place where you still have your juice and know what will happen next and you stop and try to live through until the next day when you hit it again”. Jadi saat ia mengakhiri tulisan, ia mengetahui apa yang akan ia tulis besok.
Kebiasaan yang sudah dibangun dalam waktu yang lama ini, membuat Hemingway merasa kosong saat ia berhenti menulis. “When you stop you are as empty, and at the same time never empty but filling, as when you have made love to someone you love”. Seperti sepasang kekasih yang merasa kehilangan saat tidak bersamaan, seperti itulah suasana jiwa hemingway saat berhenti menulis.
Rindu menulis, ini yang dirasakan Hemingway saat menghentikan aktivitas menulis. Seperti seseorang yang dipisahkan dari kekasih yang dicintainya. Ada suasana kosong dalam jiwa.
Maka jika Anda sudah memiliki hasrat yang kuat dalam menulis, sesungguhnya tak akan ada yang bisa mengentikannya. Anda akan terus menulis, seperti apapun kondisi Anda. Seperti apapun kesibukan Anda. Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan rutin Anda, seperti makan, minum, olahraga, tidur dan lain sebagainya.
“Nothing can hurt you, nothing can happen, nothing means anything until the next day when you do it again”. Tidak ada yang bisa menyakiti Anda, tidak ada yang bisa menghentikan Anda. Apapun yang terjadi, Anda akan terus menulis. Sampai esok pagi ketika Anda melakukannya lagi.
Pada saat tengah hari, Hemingway mengakhiri sesi menulis. Ia akan melakukan aktivitas yang lain. “It is the wait until the next day that is hard to get through”. Penantian hingga hari berikutnya itulah yang sulit dilalui. Bagi Hemingway, rasanya tidak sabar untuk segera tiba esok hari, saat ia akan melanjutkan ceritanya melalui tulisan.
Menulis, adalah aktivitas yang dirindukan. Hemingway tidak sabar untuk bisa sampai esok hari. Saat ia berkejaran dengan cahaya matahari, sebelum sinarnya terang, ia telah mulai menulis.
Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar