.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Short paragraphs have a dramatic effect” — MasterClass, 2020

.

Telah sering saya sampaikan, bahwa di antara barrier bagi pembaca adalah paragraf yang terlalu panjang. Pembaca dibuat lelah oleh panjangnya paragraf yang bisa menyebabkan mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca. Karena sudah lelah terengah-engah di satu paragraf.

Pada tulisan terdahulu, Anda telah saya ajak untuk belajar membuat kalimat pendek, yaitu tidak lebih dari 20 kata. Simak kembali di sini. Sekarang saya akan ajak Anda belajar membuat paragraf pendek, agar lebih nyaman bagi pembaca.

Batasan Paragraf

Sebagaimana dalam membuat kalimat pendek, maka membuat paragraf pendek pun sesungguhnya tidak ada aturan bakunya. Satu paragraf berisi satu kesatuan pemikiran. Maka jika terlalu panjang, bisa jadi sesungguhnya ada beberapa kesatuan pemikiran di dalamnya.

Terdiri dari berapa kalimatkah, sebuah paragraf dikatakan sebagai pendek? Tentu ini sangat banyak jawaban, termasuk di dalamnya adalah kebiasaan penulis. Namun saya mencoba menggunakan standar, agar ada hitungannya. Meskipun tidak bersifat baku.

Saya cek di web MasterClass, mereka menyarankan tiga sampai lima kalimat. “As a general guideline, the length of a paragraph is three to five sentences. That said, one-sentence paragraphs are acceptable and often welcome when paired with longer paragraphs”.

Menurut web MasterClass, paragraf pendek adalah tiga sampai lima kalimat. Meskipun demikian, paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat dapat diterima terutama jika dipasangkan dengan paragraf lain yang lebih panjang (MasterClass, 2020).

Standar yang digunakan oleh MasterClass ini saya rasa tepat untuk menulis buku, atau tulisan yang tercetak seperti koran dan majalah. Namun untuk tulisan yang dimuat di blog atau web, saya menyarankan membuat paragraf jangan lebih dari empat kalimat. Bagusnya rata-rata dua hingga tiga kalimat saja.

Inipun dengan catatan, kalimat yang digunakan berkategori kalimat pendek –maksimal 20 kata setiap kalimat. Dengan demikian, paragraf akan simpel dan lebih nyaman bagi pembaca.

Manfaat Paragraf Pendek

Kita tidak sedang membahas soal aturan baku membuat paragraf. Namun kita sedang membahas pola tulisan yang lebih nyaman bagi pembaca. Menurut web MasterClass, ada empat manfaat paragraf pendek.

  • Lebih menarik perhatian pembaca

“Large chunks of text on a page can turn readers away, but shorter paragraphs with white space between is more welcoming for readers” (MasterClass, 2020). Paragraf panjang dapat membuat pembaca menjauh, sedangkan paragraf pendek menjadi lebih ramah bagi pembaca.

  • Paragraf pendek memberikan efek dramatis

Anda bisa menonjolkan pesan penting dengan cara membuat paragraf satu baris saja. Ini memberikan efek dramatis. Sekaligus memberikan penekanan ekstra pada pesan yang ingin Anda utamakan.

  • Paragraf pendek lebih mudah dibaca

“Condensing ideas into shorter paragraphs makes it easier for your target audience to read and scroll”. Memadatkan ide menjadi paragraf pendek akan memudahkan pembaca Anda untuk membaca dengan lebih cepat. Apalagi ketika dimuat di media online.

  • Paragraf pendek lebih mampu menggambarkan sudut pandang penulis

“Variable paragraph patterns illustrate a writer’s point of view and voice”. Setiap penulis memiliki sudut pandang dan posisi dalam menyajikan ide. Seorang penulis dapat lebih jelas menyampaikan pesan dengan memecah pemikiran menjadi paragraf pendek.

Demikianlah empat manfaat paragraf pendek, yang sangat powerful bagi tulisan kita. Mari kita berlatih membuat paragraf pendek.

Cara Memecah Paragraf Panjang

Jika Anda menulis –selalu saya katakan—berkonsentrasilah untuk menulis. Jangan mengedit, jangan menghitung jumlah kata, ataupun jumlah kalimat. Tulis semua sampai selesai.

Setelah naskah Anda selesai ditulis, saatnya Anda melakukan proses self-editing. Salah satu yang bisa Anda edit adalah paragraf. Perhatikan setiap paragraf, apakah ada yang terlalu panjang? Satu kalimat lebih dari empat, atau lebih dari lima paragraf, ini yang harus Anda edit.

Caranya dengan memecah paragraf panjang, menjadi beberapa paragraf pendek. Berikut saya berikan contoh, satu paragraf panjang yang bisa dipecah menjadi beberapa paragraf pendek.

——————-

Perkawinan Antar Suku

Oleh : Hotnida Sikumbang

Prak… Tiba-tiba ayah memukul meja. Aku terkejut melihat ayah. Kupandang wajah ibu. “Maafkan Ida buk. Azharilah yang terbaik.” Kataku pada ibu, sambil memohon dukungan. “Suku kita berbeda, ayah tidak izin,” ujar ayah. “Ibu juga tak izin,” ujar ibu. Aku menangis memohon pada ibu. “Tolong buk, tolong izinkan ida, azhari baik,” ucapku sambil terisak. “Apa buktinya,” kata Ayah. “Kamu pernah jumpa kelurganya? Tanya Ibu. Aku tercenung. Aku tak pernah jumpa kelurga bang Azhar. Aku hanya tau dia anak kedua dari sebelas orang saudara.Tiga orang ibu. Dua orang meninggal.Ibu pengganti yang masih hidup. Aku menggeleng, wajahku basah air mata. “ndak pernah,” jawabku. Kedua ayah ibu terpana.

———————————-

Cara penulisan di atas, tampak penuh sesak. Belum membaca saja sudah sesak dada kita. Membuat barrier bagi pembaca.

Coba kita hitung. Dalam satu paragraf di atas, terdiri dari sangat banyak kalimat, dengan total 104 kata. Ini menjadi barrier yang nyata bagi pembaca. Bolehkah menulis dengan cara seperti itu? Boleh saja, itu sesuai selera penulis.

Namun dengan bentuk paragraf yang sangat berdesak-desakan semacam itu, membuat tidak nyaman pembaca. Berikut, naskah saya jadikan beberapa paragraf pendek. Silakan simak.

——————————-

Perkawinan Antar Suku

Oleh : Hotnida Sikumbang

Prak…!

Tiba-tiba ayah memukul meja. Aku terkejut melihat ayah. Kupandang wajah ibu.

“Maafkan Ida buk. Azharilah yang terbaik,” kataku pada ibu, sambil memohon dukungan.

“Suku kita berbeda, ayah tidak izin,” ujar ayah.

“Ibu juga tak izin,” ujar ibu. Aku menangis memohon pada ibu.

“Tolong buk, tolong izinkan ida, azhari baik,” ucapku sambil terisak.

“Apa buktinya,” kata Ayah.

“Kamu pernah jumpa kelurganya? Tanya Ibu.

Aku tercenung. Aku tak pernah jumpa kelurga bang Azhar. Aku hanya tau dia anak kedua dari sebelas orang saudara.Tiga orang ibu. Dua orang meninggal.Ibu pengganti yang masih hidup. Aku menggeleng, wajahku basah air mata.

“Ndak pernah,” jawabku. Kedua ayah ibu terpana.

“Nak orang Batak itu pemarah, kasar,” bujuk ibu.

“Tapi Ida cinta buk, dia bisa jadi imam Ida” kataku. “Orangnya sholeh ayah,” tambahku.

“Baiklah, besok ajak dia ke rumah,” kata ayah.

Keesokan harinya aku mengajak bang Azhari. Belum sempat masuk rumah. Azan zuhur berkumandang.

“Ayok, ke mesjid,”  kata Ayah yang tiba-tiba muncul.

———————–

Nah, Anda lihat, setelah saya pecah menjadi beberapa paragraf, secara penampilan menjadi lebih indah dan lebih enak dibaca. Tampak rapi, longgar, dan tidak sesak. Pesan lebih mudah tersampaikan, dan pembaca merasa lebih nyaman.

Latihan Memecah Paragraf

Sekarang saatnya Anda berlatih. Berikut saya nukilkan tulisan karya peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic. Saya ambil satu paragraf saja. Anda akan lihat, betapa panjang paragraf ini.

Tugas Anda adalah memecah satu paragraf ini menjadi beberapa paragraf pendek.

——————-

Cinta di Pulau Biru

Oleh : Hasmawati

Setahun sudah aku bertugas di pulau ini. Pulau yang tadinya kupikir akan membosankan dan menakutkan untuk berdiam di sini. Bayangkan pulaunya kecil dengan didiami hanya sekira 50 kepala keluarga. Kondisinya pun sangat jauh dengan kota tempat tinggal ku. Aku lulus dalam persaingan dua ratus lebih peserta ujian PNS untuk menjadi guru terpencil. SK sudah kuterima dan jadilah aku menjadi staf pengajar di SMP Neg. 2 Pulau Palompong. Sekolah Satu-Satunya di Pulau ini,satu atap dengan SD Palompong Sepuluh tahun lalu aku datang dengan sebongkah harapan agar aku bisa melupakan Lukman. Pemuda satu kampus denganku yang telah memenjarakan hatiku selama empat tahun. Lalu ia pergi begitu saja dengan wanita idaman lainnya.

———————————

Selamat berlatih.

Bahan Bacaan