Oleh : Cahyadi Takariawan
“Seseorang pernah mengatakan, guna puisi adalah dengan hadir tanpa guna. Ia tak bisa dijual. Ia menegaskan tak semua bisa dijual” –Goenawan Mohamad.
.
Ada sangat banyak cara untuk mengenali diri sendiri. Berbagai disiplin ilmu telah memberikan gambaran proses mengenali diri, sejak dari konsep hingga teknis praktis. Dalam dunia psikologi, dikenal proses “journaling”, yaitu menuliskan pemikiran, perasaan dan berbagai kondisi diri secara rutin setiap hari.
Maragarita Tartakovsky dalam tulisannya di web Psych Central (2018) menyatakan, “One of the most powerful ways to get to know yourself is through journaling. Journaling helps you connect to your inner wisdom, which is especially important in our noisy world.”
Menuliskan tentang diri adalah cara yang sangat ampuh untuk mengenali diri sendiri. Menulis kondisi diri, akan membuat Anda tersambungkan dengan kebijakan diri, yang sangat penting untuk menghadapi dunia yang bising saat ini.
Mengenali diri sendiri, menurut Walter Mosley, bisa dilakukan dengan jalan menulis dan menerbitkan buku. Walter Mosley adalah penulis buku fiksi dan nonfiksi. Ia telah menerbitkan lebih dari 50 judul buku.
Di antara bukunya yang best seller adalah serial detektif Easy Rawlins. Buku terbaru Mosley berjudul Elements of Fiction. Ia merasakan keasyikan dalam menulis, dan membuat lebih mengenal dirinya sendiri.
Bagi Mosley, menulis dan menerbitkannya menjadi buku adalah sebuah momentum penyingkapan diri yang luar biasa. Menulis, baginya merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. Oleh karena itu, ia meyakini, “The more that you do that work, the deeper you get into yourself.” Makin banyak Anda menulis, Anda akan masuk lebih dalam ke jiwa Anda sendiri.
Mosley menyatakan, kebiasaan menulis rutin setiap hari—satu hingga tiga jam, akan membawa Anda memasuki relung-relung terdalam dari diri Anda yang selama ini tidak pernah Anda mengerti. “If you write every day for a short period of time, one to three hours, you’re going to get deeper and deeper into those parts of yourself that you never understood,” ungkapnya.
Bagi Mosley, menulis buku menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Buku akan mengubah kehidupan penulisnya—karena ia telah semakin mengenali diri sendiri melalui tulisan di buku it. “I think almost everyone can, and I think that if they do, the writing of that book will change their lives,” ujar Mosley.
Puisi dan Jati Diri
Salah satu cara kita untuk menelisik ke dalam diri sendiri adalah melalui puisi. Kondisi diri kita tercermin penuh lewat puisi. Saat kita memilih kata-kata, merangkainya menjadi sebuah puisi, akan tercipta karya yang menggambarkan kondisi diri kita. Sedih, marah, terluka, kecewa, atau bahagia dan berbunga-bunga.
Seperti kata Helvy Tiana Rosa, “Kita perlu jatuh cinta atau patah hati untuk dapat membuat puisi yang bagus.” Kita menjadi mengerti bahwa diri kita tengah jatuh cinta atau patah hati —saat menyadari puisi kita sangat bagus.
Cinta dan benci adalah kondisi emosi yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Sebagai sebuah karunia dari Yang Maha Kuasa, yang menandakan kesempurnaan ciptaan sebagai manusia. Ternyata kecintaan dan kebencian, akan terekatkan oleh puisi.
Helvy Tiana Rosa menuliskan, “Puisi bisa menjadi semacam magnet yang melekatkan kita pada seseorang, bahkan bila kita membencinya”. Saat Anda membenci penguasa dan menuliskannya melalui puisi, ternyata Anda menuliskan namanya. Ketika Anda membenci pasangan Anda karena ia tidak setia, ternyata Anda tetap menyebut namanya. Minimal, membayangkan sosok dirinya.
Puisi mampu menggambarkan hal-hal yang tak bisa kita ungkapkan dengan naskah akademik. Seluruh perasaan dan jiwa kita secara totalitas bisa hadir melalui puisi. Maka kita akan lebih bisa mengerti diri kita sendiri, melalui puisi. “Puisi yang kita tulis tak akan pernah mati, bahkan bila kita mati,” ujar Helvy Tiana Rosa.
Jadi, bagaimana sesungguhnya puisi hadir dalam diri kita? Bagaimana puisi bisa mewakili jati diri kita? “Seseorang pernah mengatakan, guna puisi adalah dengan hadir tanpa guna. Ia tak bisa dijual. Ia menegaskan tak semua bisa dijual,” demikian ungkap Goenawan Mohamad.
Jika Anda memiliki sebuah puisi yang indah, belum tentu bisa Anda tukar dengan satu cangkir kopi atau sepiring spagheti di kedai. Pemilik kedai tetap akan meminta uang dari Anda kendati Anda datang dengan puluhan puisi kepadanya. Karena fungsi puisi bukan untuk jual beli, bukan untuk transaksi.
Benar kata Goenawan Mohamad. Tidak semua hal bisa dijual, sebagaimana tidak semua hal bisa dibeli. Puisi meruntuhkan keangkuhan kapitalisme yang telah menguasai dunia selama berabda lamanya. Seakan orang hanya berharga apabila memiliki alat beli. Seakan semua hal bisa dijual –bahkan aset-aset negara dan kekayaan bangsa.
Maka wajar saja, “Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi,” ujar Goenawan Mohamad. Para kapitalis akan sangat sulit mengerti nilai puisi. Yang mareka tahu hanyalah materi.
Ternyata puisi telah memanusiakan kita. Memanusiawikan kehidupan manusia. Mampu menelisik dan memasuki relung-relung kehidupan kita. Tanpa penghalang, tanpa jeda.
Maka mari menikmatinya. Sesekali waktu, bikinlah puisi. Meski Anda adalah penulis genre ilmiah murni. Bikinlah puisi. Ia akan memanusiawikan diri Anda.
Bahan Bacaan:
Maragarita Tartakovsky, 5 Ways to Get to Know Yourself Better, www.psychcentral.com, 8 Juli 2018
Mitzi Rapkin, Walter Mosley: Everyone Can Write a Book, https://lithub.com, 13 Januari 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar