.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sebagian dari kita memiliki multi talenta. Bisa menulis fiksi maupun nonfiksi. Maka mereka yang bercorak seperti ini, bebas memilih, karena keduanya akan sama bagus hasilnya. Namun sebagian dari kita, hanya akan memiliki kecenderungan pada satu jalur saja. Ada yang cenderung kepada jalur fiksi, atau nonfiksi.

Bagaimana kita bisa mengetahui kecenderungan pilihan ini? Cara yang paling mudah adalah dengan mencoba keduanya.

Pertama, bacalah buku fiksi dan nonfiksi

Pertama kali Anda harus rajin membaca berbagai jenis buku. Bacalah buku fiksi yang cukup tebal, misalnya novel “Bidadari untuk Dewa” karya Asma Nadia. Amati dan rasakan, apakah Anda bisa menyelesaikan membaca dalam waktu singkat? Apakah Anda bisa menikmati? Apakah Anda mudah mengerti pesan yang terkandung di dalamnya? Apakah Anda merasa antusias.

Jika Anda tak sanggup menyelesaikan membaca novel, jika Anda mengantuk saat membaca, jika Anda sering bingung dibuatnya, ini sudah tanda-tanda. Namun jika Anda antusias membaca, bisa menangis saat membaca bagian sedih, bisa tegang saat membaca bagian konflik, bisa tersenyum saat bertemu bagian yang lucu dan happy, ini juga salah satu tanda.

Berikutnya, baca pula buku nonfiksi. Pilih buku populer saja, dan cukup tebal. Saya ambil contoh, buku “Greatness and Happiness” karya Jemy V. Confido. Cermati dan rasakan, apakah Anda bisa menyelesaikan membaca dalam waktu singkat? Apakah Anda bisa menikmati? Apakah Anda mudah mengerti pesan yang terkandung di dalamnya? Apakah Anda merasa antusias?

Cermati, amati, rasakan, buku mana yang paling enjoy Anda baca? Keduanya enjoy, atau salah satu dari kedunya, atau tidak dua-duanya?

Kedua, tulislah fiksi dan nonfiksi

Setelah Anda banyak membaca baik fiksi maupun nonfiksi, sekarang giliran Anda menuliskannya. Cobalah menulis fiksi yang sederhana saja, misalnya membuat satu cerpen. Tak perlu menulis yang rumit-rumit, buatlah cerpen dari kejadian yang sering Anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Rasakan, apakah Anda merasa kesulitan, ataukah Anda merasa lancar-lancar saja? Apakah Anda merasa sesak napas, atau Anda merasa sangat lega.

Berikutnya tulislah satu artikel. Bikin artikel pendek untuk blog, 500 kata saja, tidak perlu artikel panjang. Ambil tema yang mudah saja, sesuai kegiatan yang paling banyak Anda tekuni. Rasakan, apakah Anda merasa kesulitan, ataukah Anda merasa lancar-lancar saja? Apakah Anda merasa sesak napas, atau Anda merasa sangat lega.

Cermati, amati, rasakan, mana yang paling mudah Anda tuliskan? Apakah keduanya mudah, atau salah satu lebih mudah, atau keduanya susah Anda tuliskan?

Ketiga, cobalah berimajinasi out of the box

Cobalah berimajinasi, sebebas-bebasnya. Berkhayallah, out of the box. Jangan dibatasi apapun saat berimajinasi. Bebas saja, khayalkan tentang apa saja.

Apakah Anda merasa mudah berimajinasi, atau sulit berimajinasi? Apakah Anda memiliki banyak imajinasi, atau justru Anda merasa sesak nafas karena disuruh berimajinasi?

Semakin Anda pandai berimajinasi, semakin mudah Anda menulis fiksi. Salah satu keindahan fiksi adalah alur cerita maupun akhir yang tidak terduga. Cerpen dan novel akan membosankan pembaca apabila sangat mudah diduga endingnya. Kemampuan berimajinasi membuat Anda mudah membuat alur cerita yang tidak terduga.

Jika Anda sulit berimajinasi, tulisan Anda akan bercorak “terduga”. Untuk itu, Anda lebih cocok untuk menulis nonfiksi. Naskah artikel dan opini yang ada di koran dan majalah, bercorak terduga. Bisa ditebak akhirnya, namun pembaca ingin mengetahui ulasannya.

Anda boleh memilih untuk menjadi spesialis, menulis fiksi saja atau nonfiksi saja. Anda boleh menjadi generalis, menulis fiksi dan nonfiksi sesuka hati. Jadi, semua kembali kepada Anda. Jangan ikut-ikutan, dan jangan bingung.

Anda boleh menulis fiksi, boleh menulis nonfiksi, boleh keduanya. Yang tidak boleh adalah –tidak menulis apapun.