.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Your writer brain will throw up shiny new ideas when the going gets rough on your current work-in-progress. Write them down, but stay focused on your story” — Shaunta Grimes, 2017
.
“Apakah tulisanku bagus?” Adalah pertanyaan yang wajar. Sama dengan ketika kita hendak bepergian, apakah penampilanku sudah patut? Adakah yang aneh dari penampilanku? Tentu ini hal yang sangat wajar dan manusiawi.
Namun hal yang harus selalu kita ingat adalah, dalam menulis, bagus adalah proses. Mahir adalah proses. Lancar adalah proses. Mengalir adalah proses. Maka kita harus bersedia menempuh prosesnya.
Membayangkan, sekali menulis langsung lancar, langsung mahir, langsung bagus, adalah keinginan yang menyalahi ‘protokol’. Protokolnya adalah –untuk bisa menulis sampai level mahir, lancar, mengalir dan bagus, memerlukan latihan rutin. Setiap hari, tanpa henti.
Otot-otot Anda tak akan terbentuk jika Anda tidak rutin latihan. Bahkan ketika sempat latihan, kemudian berhenti. Saya baca artikel di CNN Indonesia (2 Januari 2018), James Ting, M.D, dokter Hoag Orthopedic Institute di AS, mengungkapkan ketika seseorang berhenti latihan, tubuhnya tidak lagi atletis. Seberapa lama waktu ia tidak latihan, akan berpengaruh pada penurunan kondisi tubuhnya.
Artinya, untuk mendapatkan otot-otot tubuh yang bagus, harus rutin berlatih. Ini protokolnya. Demikian pula dalam menulis. Jika ingin otot-otot menulis Anda bagus, Anda harus berlatih menulis rutin setiap hari. Bukan sebulan sekali. Bukan dua bulan sekali. Tapi setiap hari.
Oleh karena itu, wajar saja sebagai pemula tulisan kita belum bagus, belum indah, belum ideal. Wajar saja jika membuat postingan pertama masih ‘belepotan’. Wajar saja jika mengirim artikel pertama ke koran masih ditolak. Wajar saja jika buku pertama masih belum ‘nendang’. Itu semua bagian dari proses.
Mitos Unicorn
Membayangkan tulisan pertama langsung hebat, postingan pertama langsung keren, buku pertama langsung ‘meledak’ di pasaran –boleh saja. Tapi itu tak lazim. Ada beberapa orang yang seperti itu, namun mereka itu —menurut Shaunta Grimes, adalah ‘unicorn’.
Anda tahu unicorn? Menurut mitologi Celtic, unicorn adalah makhluk yang mewakili kemurnian, keberanian, dan kekuatan yang tidak tertandingi. Bangsa Skotlandia menjadikan unicorn sebagai ‘hewan nasional’ mereka. Memberikan spirit, ingin menjadi bangsa unggul, tak tertandingi.
Saya dan mayoritas dari kita, hanyalah orang lumrah atau orang kebanyakan, dalam dunia tulis menulis. Kita bukan unicorn. Mungkin hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang ‘berwujud’ unicorn itu dalam tulis menulis. Misalnya Harper Lee, J.K. Rowling, atau nenek Toyo Shibata.
“Don’t talk to me about Harper Lee or J.K. Rowling. They aren’t normal people. They’re unicorns”, ungkap Shaunta Grimes. Ungkapan ini untuk mengajak kita memahami bahwa pada dasarnya kita tidak perlu berharap keajaiban. Hendaknya kita lebih berorientasi kepada proses yang konsisten untuk menjadikan tulisan kita semakin berkualitas dari waktu ke waktu.
Secara satire Grimes menyatakan, “Maybe you’re a unicorn, too, but the chances are about 99.9999 percent that you’re a regular old donkey like the rest of us. And that means that you have to keep writing and keep shipping your book out to the world”.
Menurut Shaunta Grimes, mungkin saja Anda termasuk unicorn itu, namun peluang itu hanya 0,00001 % saja. Sisanya, 99,9999 % adalah kita semua, orang biasa. Yang harus rajin berlatih menulis, dan bekerja keras untuk memasarkan buku kita ke berbagai tempat. Yang harus berusaha untuk melakukan proses perbaikan dari hari ke hari.
Kita adalah orang kebanyakan yang harus menerima realitas bahwa tulisan kita ada mungkin saja ada kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Inilah protokol sebagai manusia biasa.
Harus menerima realitas bahwa tulisan yang kita buat tidaklah sempurna. Selalu ada cacatnya. Selalu ada celanya. Hanya kitab suci yang “la raiba fihi”, tak ada keraguan, tak ada kecacatan.
Herlin Variani, penulis buku “Parents Smart untuk Ananda Hebat”, telah melakukan usaha luar biasa sebelum menerbitkan bukunya. Setelah melakukan self editing, ia serahkan kepada pihak editor profesional untuk meneliti naskah bukunya. Selesai proses editing di pihak profesional, kembali diperiksa ulang oleh Herlin.
Bolak-balik ia baca ulang seluruh naskah. Sampai merasa yakin tak ada lagi yang salah. Hingga akhirnya naskah diserahkan pihak layouter dan diterbitkan. Setelah buku terbit, ia baca keseluruhan dari awal hingga akhir. Ia kaget, masih ditemukan kesalahan tulisan. Meskipun hanya berupa kurung huruf. Padahal proses pemeriksaan sudah berulang kali dilakukan sebelum diterbitkan.
Inilah protokolnya –karena kita bukan unicorn. Kita hanya manusia biasa. Harus berlatih setiap hari untuk membentuk otot tubuh kita. Harus berlatih setiap hari untuk membentuk kualitas spiritual kita. Harus berlatih setiap hari untuk melatih kecerdasan otak kita. Pun harus tekun berlatih setiap hari untuk membuat tulisan yang mengalir dan indah menawan hati pembaca.
Tak perlu menjadi unicorn. Karena memang hanya mitos belaka. Mari menjadi manusia biasa saja. Yang bersedia menjalani protokol, terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar