.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya sudah posting tulisan di grup WhatsApp, ternyata tidak ada satupun yang komen apalagi memberi masukan. Ya sudah, berarti saya dianggap tidak layak menulis. Saya berhenti saja belajar menulis”, curhat seorang peserta Kelas Menulis.

Curhat di atas adalah kelanjutan dari edisi baper yang telah saya posting sebelumnya. Simak kembali tulisan saya di sini.  

Menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhentu menulis sama sekali. “Ya udah, ga ada yang peduli sama tulisanku. Ga ada gunanya aku menulis”. Maka selesai sudah pembelajarannya tanpa menghasilkan karya apapun.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

2. Hindari Mengejar Citra Semu Medsos

Sebagaimana telah saya uraikan dalam postingan sebelumnya, interaksi di medsos adalah realitas maya. Kita tahu, maya itu tak nyata. Maka jangan terjebak pada citra semu medsos.

Saya sangat setuju dengan nasihat Tim Denning (2018), “Forget about how many shares you get”. Lupakan berapa banyak orang share postingan Anda. Lupakan berapa orang like postingan Anda. Lupakan berapa banyak orang komen —dan apa isi komen mereka— di postingan Anda.

Fokuslah mencipta karya berkualitas. Jangan fokus memedulikan jumlah likers. “This point is particularly relevant in the age of social media that we are now in. The temptation (I have it too) is to write something, post it online, and then actually give a damn about how many people share your post”, ujar Denning.

Hidup di era medsos saat ini, salah satu godaan adalah memposting tulisan dan benar-benar peduli tentang berapa banyak orang yang like, share dan komen postingan tersebut. Kita akan terjebak citra semu –misalnya saat tulisan kita di-like banyak orang, lalu kita merasa tulisan kita bagus.

Padahal, sebagaimana sudah saya sampaikan dalam poin 1 terdahulu, orang-orang yang me-like postingan kita, tidak menunjukkan bahwa mereka mengatakan : waw, tulisan kamu sangat bagus. Bukan seperti itu. Tapi kita merasa seperti itu, “Alhamdulillah, tulisanku di-like ribuan orang, di-komen ratusan orang, dan di-share puluhan orang”.

Jika kita menuruti pola medsos seperti ini, ujar Denning, dijamin Anda tidak menulis dengan sepenuh hati. “This habitual way of approaching your writing will cause you all sorts of problems, and it will guarantee you that you don’t write from the heart. Other people can’t determine your success; you must determine it yourself and your writing’s purpose should be to serve others”, ujarnya.

Denning mengingatkan, “Cara pendekatan mengikuti pola medsos akan menimbulkan berbagai masalah, dan menjamin bahwa Anda tidak menulis dari dalam hati. Orang lain tidak dapat menentukan kesuksesan Anda, maka Anda harus menentukan sendiri. Tulisan Anda harus bermanfaat untuk orang lain.”

Sangat banyak faktor yang memengaruhi jumlah likers terhadap sebuah postingan. Dan berbagai faktor tersebut sangatlah kompleks, tidak sederhana. Tidak sesederhana pikiran kebanyakan manusia, “Tulisanku dikagumi sangat banyak orang, buktinya sangat banyak yang like, comment dan share”. Ini jelas sangat menyederhanakan persoalan.

“There are so many things that effect how many shares a written post will get on the various social media platforms such as time of day, the country the article is focused towards, the current topics in the news, who reads it, and finally, the platforms you post it on — forget about the number of shares!” tegas Denning.

Ada sangat banyak hal yang memengaruhi jumlah share dari postingan di berbagai platform medsos, seperti aspek waktu, di negara mana artikel tersebut difokuskan, topik yang menarik, segmen pembaca, dan platform tempat Anda mempostingnya. Maka,  “lupakan jumlah share!”, tegas Denning.

Kapan Peduli Medsos?

Prinsip di atas hendaknya Anda gunakan dalam konteks konsentrasi menulis. Jangan mengejar citra semu medsos, yang memudahkan Anda terjebak suasana baper. Hanya sekedar mengejar likers dalam setiap postingan, sampai menjadikan jumlah like, comment dan share sebagai patokan kualitas tulisan.

Namun, apakah medsos tidak ada manfaatnya? Tentu saja banyak manfaatnya. Saya juga bermedsos. Saya juga posting tulisan di medsos, rutin setiap hari. Namun tidak menjadikan jumlah like, comment dan share sebagai alat untuk menilai. Tak juga menjadikan sebagai tolok ukur semangat menulis.

Untuk apa medsos bagi penulis? Tentu sangat banyak keperluannya. Bagi saya medsos adalah sarana menyimpan tulisan agar tak hilang. Saya posting, dan akan tersimpan. Kedua, dengan sharing di medsos, telah menebar kemanfaatan. Semoga ada pembaca yang terinspirasi dan termotivasi dalam kebaikan.

Ketiga, untuk promosi, marketing dan selling produk-produk yang ingin saya jual luas. Misalnya produk buku baru, maka saya menjual melalui medsos. Dengan demikian bisa melakukan promosi produk tersebut secara masif dengan biaya murah. Ini adalah kemanfaatan yang diperlukan oleh para penulis.

Jadi, agar tidak baper, jangan fokus mencari acungan jempol. Jangan fokus mencari likers dari setiap postingan. Saat Anda menulis, fokus pada nilai pesan dan kualitas tulisan. Setelah Anda posting, relakan dan ikhlaskan tulisan itu memberi kemanfaatan pada khalayak –dengan pujian ataupun cacian.

Bersambung.