.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“Tulisan jelek kayak gini kok diposting”, demikian isi sebuah tulisan di kolom komentar. Seketika si penulis langsung pucat dan lemas setelah membacanya. Ia merasa sangat malu dan terpukul dengan satu komentar tersebut.
Ini adalah contoh penulis baper. Tidak siap dengan komentar negatif. Dampaknya, semangat menulis menjadi patah, dan tidak berani posting tulisan lagi. Setiap kali ada teman menyemangati untuk posting tulisan, selalu terhantui adanya komentar negatif. Baper tingkat tinggi.
Menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali.
Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.
- Pahami Hukum Medsos
- Hindari Mengejar Citra Semu
- Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
Langkah ketiga adalah menyiapkan mindset sebagai pembelajar. Apa yang dimaksud dengan mindset pembelajar?
Guru Besar Psikologi di Stanford University, Carol Dweck menjelaskan dua jenis mindset manusia. Pertama mindset tetap (fixed mindset), yaitu cara pandang bahwa kecerdasan dan kemampuan tidak dapat diubah. Bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas dan tidak akan bisa melebihi kapasitas yang telah tetap bagi dirinya.
Kedua, mindset berkembang (growth mindset), yaitu keyakinan bahwa Anda dapat meningkatkan kemampuan dan kecerdasan dari waktu ke waktu. Bahwa dengan tenaga, usaha dan strategi yang tepat Anda bisa menjadi lebih hebat (Chloe Burroughs, 2019).
Nah, untuk menjadi penulis anti-baper, Anda harus memilih mindset berkembang. Semua manusia pada dasarnya memiliki potensi dan kemampuan untuk terus menerus berkembang, dari waktu ke waktu. Para penulis handal yang namanya terpajang dalam papan atas penulis dunia, mereka adalah penulis pemula pada zamannya. Mereka juga memulai menulis dengan proses berlatih, sama dengan para pemula hari ini.
Persoalan bagi para penulis baper adalah, mereka sangat dihantui oleh komentar negatif. Mengapa ‘daya bunuh’ komentar negatif jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan ‘daya tumbuh’ dari komentar positif? Penulis buku Hardwiring Happiness, Rick Hanson menyatakan, “The brain is like Velcro for negative experience and Teflon for positive ones”. Bahwa otak manusia cenderung bersifat velcro untuk hal-hal negatif, dan bersifat teflon untuk hal-hal positif (Chloe Burroughs, 2019).
Velcro adalah alat perekat, sedangkan teflon adalah anti-lengket. Ternyata komentar negatif lebih cepat menempel di memori manusia –seperti velcro. Sedangkan komentar positif cenderung tidak melekat di memori –seperti teflon. Penjelasan ini membuat kita mengerti mengapa pada penulis pemula, lebih cepat ‘terbunuh’ oleh komentar negatif dibanding bangkit oleh komentar positif.
Mindset Pembelajar
Mindset dan mental pembelajar akan memberikan jawaban. Ketika ada komentar negatif, maka mental pembelajar akan menyatakan, “Tentu saja tulisanku belum bagus, karena aku tengah belajar”. Nah, meletakkan diri sebagai pembelajar, akan membuat Anda semua lebih nyaman atas berbagai komentar yang tak sesuai harapan.
“Saya sedang proses belajar”.
“Saya sedang belajar memperbaiki kualitas tulisan”.
Proses belajar memerlukan kesabaran dan kerelaan. Sabar dan rela menghadapi sulitnya pembelajaran. Sabar dan rela menghadapi aneka komentar. Sabar dan rela melewati waktu yang tidak sebentar. Sabar dan rela menghadapi pandangan sinis orang sekitar. Sabar dan rela menghadapi ketatnya jadwal kegiatan.
Inilah mindset dan mental pembelajar. Seperti nasihat Imam Syafi’i :
من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته
“Barangsiapa tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan di sepanjang kehidupan” (Al-Maghribi, 2019).
Nasihat beliau sama seperti pepatah yang sering kita dengar, berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jika tak mau bersakit-sakit dan bersulit-sulit di masa sekarang, harus rela untuk tetap menghadapi kesulitan di sepanjang kehidupan.
Pilih mana, sabar dan rela menempuh kesulitan belajar menulis, atau tidak pernah bisa menulis selamanya? Pilih mana, sabar dan rela menempuh kelelahan belajar menulis, atau tidak pernah memiliki karya tulis di sepanjang usia? Inilah mindset berkembang, yang dimiliki oleh kaum pembelajar.
Tak apa mendapat komentar negatif, tetaplah belajar. Tak apa mendapat komentar sinis, tetaplah menulis.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar