.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya perhatikan tulisan pak Cah biasa banget ya… Gak ada indah-indahnya…”, ujar seorang pembaca, suatu ketika.

“Alhamdulillah. Terimakasih atas kejujurannya”, jawab saya.

Maka segera saya lanjutkan menulis hingga selesai.

Bagitulah jika kita ingin menjadi penulis produktif. Harus anti baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali karena komentar negatif. Hanya mau menulis apabila mendapat pujian pembaca.

Ini postingan terakhir, terkait langkah menjadi penulis anti baper. Untuk menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang
  5. Fokus Menghasilkan Karya Tulis
  6. Menikmati Proses Menulis
  7. Kembalikan Kepada Tujuan

Saya akhiri serial tulisan Menjadi Penulis Anti Baper, pada pembahasan kali ini, untuk mengingatkan tentang tujuan menulis.

Kembalikan Kepada Tujuan

Setiap saat menulis, saya memiliki tujuan pasti, untuk apa tulisan saya hadirkan. Baik menulis di media sosial, blog, koran, maupun buku. Ada tujuan di balik hadirnya setiap tulisan saya. Misalnya, ketika menulis tema-tema keluarga, tujuan saya adalah mengedukasi, menginspirasi dan memotivasi pembaca agar bisa memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia.

Karena saya telah menetapkan tujuan, maka hal paling penting bagi saya adalah tulisan itu bisa dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Sebab –ini unsur terpenting dari komunikasi lewat tulisan. Apakah tulisan saya indah atau tidak, itu nomer sekian. Yang utama, apakah tulisan saya bisa dimengerti atau tidak, oleh pembaca.

Sebagus apapun olahan gaya bahasa yang saya gunakan, sehebat apapun pilihan diksi yang saya ambil, menjadi tidak bisa mencapai tujuan apabila tulisan tidak bisa dipahami pembaca. Begitulah prinsip komunikasi, lisan maupun tulisan. Maka hal penting yang selalu saya usahakan adalah, bagaimana caranya agar pembaca mudah memahami maksud tulisan saya.

Ini yang saya maksudkan sebagai ‘kembalikan kepada tujuan’. Jika kita memiliki tujuan, maka akan lebih mudah menepiskan kegelisahan atas komentar pembaca yang tak sesuai harapan kita. Pun menyikapi pujian pembaca yang kadang berlebihan menilai tulisan kita. Fokus kita kembali kepada tujuan, bukan kepada pujian maupun celaan.

Baik, Indah, Bagus, Tapi Tak Dipahami?

Kadang kita membaca tulisan sangat sastrawi. Sangat filosofis. Sangat indah pilihan diksinya. Namun sulit dimengerti, apa maksud tulisannya. Hingga selesai membaca, kita kesulitan menangkap pesan yang disampaikan oleh tulisan tersebut. Saking indahnya. Saking bagusnya.

Bolehkah menulis seperti itu? Boleh saja. Semua kembali kepada tujuan masing-masing. Semua penulis, memiliki tujuan untuk apa mereka menulis. Maka sah-sah saja, jika setiap kita memiliki tujuan yang berbeda, dan cara yang berbeda pula dalam mengekspresikan tujuan tersebut.

Bahkan –bolehkah menulis untuk membuat bingung pembaca? Boleh saja. Ini kembali kepada tujuan penulisan, juga selera sang penulis. Ada jenis cerpen dan novel, yang endingnya adalah kondisi yang tidak dikunci dengan kesimpulan. Pembaca dipersilakan menebak, atau membuat kesimpulan sendiri-sendiri. Penulis tak hendak memaksa pembaca untuk menerima sebuah kesimpulan versi penulis.

Ini, salah satu alasannya adalah, untuk keindahan cerpen atau novel. Biar endingnya tak bisa ditebak. Biar anti-mainstream. Biar memiliki daya tarik yang tinggi. Bolehkan menulis dengan cara dan model seperti itu? Tentu boleh dan sah-sah saja. Masing-masing penulis punya alasan, punya argumen, dan akan mempertanggungjawabkan sendiri-sendiri setiap tulisannya.

Kalau Tidak Indah, Lalu Kenapa?

Saya penulis yang biasa-biasa saja. Normatif. Mainstream. Mudah ditebak. Tapi ada masalah apa dengan semua itu? Bagi saya –tidak ada masalah apa-apa. Karena itu pilihan saya. Karena saya punya tujuan atas pilihan tersebut. Saya menulis dengan tujuan yang jelas, dan saya memilih untuk membuat pembaca mudah mengerti pesan yang saya sampaikan.

Berkali-kali saya katakan, tulisan saya biasa saja. Sangat biasa. Tidak indah. Bahkan sangat sederhana. Namun saya merasa bahagia jika tulisan sederhana saya bisa dipahami. Karena dipahami atau dimengerti, adalah kunci pertama dari tercapainya tujuan penulisan saya. Jika pembaca bingung dengan maksud tulisan saya, tidak mungkin tujuan penulisan saya tercapai.

Jadi kalau ada yang menilai, “Tulisan Pak Cah jelek”, ya tidak ada masalah bagi saya. Karena saya sadar sepenuhnya, tulisan saya tak sebagus para penulis maestro dan favorit itu. Maka kalau para pembaca saya membandingkan tulisan saya dengan para penulis hebat, jelas langsung kebanting. Tapi pertanyaan mendasarnya –apakah tulisan saya bisa dipahami atau tidak? Itu nomer satu bagi saya.

Supaya tidak terlalu malu atas kualitas tulisan yang biasa banget, saya harus memiliki alibi dan bersandar pada sebuah asumsi. Bahwa fokus saya dalam menulis bukanlah menciptakan keindahan, namun memudahkan pesan tersampaikan kepada pembaca. Ini alibi dan asumsi itu. Padahal kalaupun disuruh fokus membuat tulisan yang indah memesona, saya memang tidak bisa… hehe.

Lalu apa masalahnya kalau tulisan saya tidak indah? Bagi saya –tidak ada. Toh saya tak pernah ikut lomba. Maka tak pernah jadi juara. Saya hanya ingin terus berkarya, menebar makna, menebar manfaat, sesuai tujuan yang sejak dari awal saya tetapkan.

Dengan cara kembali kepada tujuan, saya menjadi penulis yang tak mudah baper. Ditertawakan, boleh. Diejek, silakan. Dishare, ahlan wa sahlan. Dicampakkan, siap. Disimpan dan diabadikan, saya izinkan.

Hidup saya menjadi sangat nyaman dengan sikap ini. Saya fokus menghasilkan karya, sesuai tujuan yang saya tetapkan. Prinsip inilah yang selalu saya sampaikan kepada para penulis. Jika Anda fokus menghasilkan karya, yang akan Anda hasilkan adalah karya. Jika Anda fokus mencari pujian dan acungan jempol pembaca, yang akan Anda dapatkan adalah mudah kecewa.

Demikianlah tujuh cara menjadi penulis anti-baper. Mari kita terus belajar bersama-sama, saling menguatkan untuk menghasilkan karya terbaik bagi diri, keluarga, bangsa dan negara.