Saat pandemi datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar
berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita yang
terserang covid, ada di karantina,
dirawat . Bahkan tidak sedikit juga
yang sudah meninggal. Rasa takut,
cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami selalu
diberikan kesehatan dan terbebas darinya.
Saya adalah seorang ASN, guru, di mana waktu
itu pernah membayangkan, betapa bahagianya
jika bisa menghirup udara pagi di rumah setiap hari. Aktivitas di rumah yang bebaasss!! setiap hari.
Ternyata Tuhan memberikan
jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua,
ketiga sekitar 3 minggu, terasa jenuh
dan bosan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya kita bisa menikmati indahnya “di rumah
saja”. Suatu hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Sebelum pandemi ada, guru dan siswa harus bekerja, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab
mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar
mengajar di sekolah. Saat pandemi melanda,
kegiatan belajar mengajar terasa
‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya talenta masing-masing. Akhirnya bakat masing-masing mulai muncul. Hobi mulai tersalur. Waktu mendukung. Setiap orang jadi
bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang bisa menunjukkan kreativ dan kompetensi
pribadi. Setiap orang bisa
merealisasikan dan
mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya: memasak, menulis, olah raga dan lain-lain.
Dari hobi yang tersalur kita jadi merasa
bahagia dan terhibur.
Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau
aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan’, 2005. Benar
adanya , ternyata dengan
adanya musibah ini, hari-hari di rumah
saja, kita bisa lebih kreatif!. Di rumah saya ada beberapa
anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar
dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan
kreatif. Saya mengajak anak-anak untuk berkebun, bertani, menanam sayur, memasak, hasil di-posting di WA
group, teman-teman pesan kita antar,
menghasilkan uang.
Saya senang melihat dan
membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi
baru. Ada yang membuat bedeng untuk
kebun sayur. Ada yang menjual hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil
suluh. Mereka seolah ada persaingan
positif, berlomba untuk menunjukkan semangatnya dalam memanfaatkan waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang
sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita saling partisipasi untuk membeli produk rumahan mereka.
Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas adalah membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster
berisi keterampilan baru di rumah. Dibuat se-kreativ mungkin. Setiap anak punya
bakat masing-masing dan mereka
punya rasa kreativ yang berbeda-beda.
Dan judul tugas tersebut adalah
“Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup
kelas. Karena merupakan tugas wajib
dan merupakan salah satu penilaian
mata pelajaran ketrampilan dalam
matematika. Mereka semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik dan karya
nyata tanya orang tua lewat
telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.
Pembelajaran BDR menggunakan
‘daring’ (dalam jaringan): GCR (
Google Classromm), Aplikasi zoom , googleform dan berbagai aplikasi
Internet akhirnya mereka jadi ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’ menggunakan
HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat. Mereka
jadi tahu benar tentang ‘fungsi’
HP android yang sebenarnya. Kalau dulu
tahunya ‘hanya’ untuk ‘main game’
buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja. Tapi sekarang
bisa untuk menggali informasi berbagai
hal. Bahkan akhirnya bisa kreativ
mendownload berbagai
aplikasi karena ‘tuntutan’ tugas sekolah
yang harus di ’video’kan. Seperti
aplikasi ‘KineMaster’, ‘Canva’ , ‘CS’,
‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan
masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’ kreativ dibanding keterampilan anak-anak. Memang tidak semua, tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreativ
dalam memanfaatkan HP.
Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban
bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan,
saling melengkapi, Saling berbagi
semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan
dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas, pekerjaan terasa
ringan dan menyenangkan.
Janganlah pandemi itu dianggap sebagai musibah, tetapi anggap dia datang sebagai tamu, kita sebagai tuan rumah harus menerima dengan
penuh suka cita. Kita tetap bersahabat,
berdampingan. Ternyata bagi sebagian
orang, pandemi ini membawa dampak
positif. Membawa Berkah. Kita bisa punya
kegiatan-kegiatan kreativ. Dimana dari
kegiatan kreativ bisa menumbuhkan bakat
kita masing- masing yang terpendam.
Memunculkan ide kreativ di luar dugaan
kita. Bahkan lebih membanggakan lagi
bisa mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak
bangga kalau punya penghasilan
tambahan? Kita bisa belanja
‘keinginan’ kita sesuai uang
“bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’
kita, biasa sudah masuk ‘pos’ rutin.
Dengan adanya uang bonus, bisa kita pakai untuk
sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan diri, makan yang lebih enak dari biasanya.
Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat
ini bisa merealisasikan.
Terima kasih Tante Corona,
atas kedatanganmu, kita tetap
bersahabat! Darimu kami menjadi lebih
dewasa, lebih menghargai kehidupan,
lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan
bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang
lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan sebuah kebahagiaan baru. Inilah kebahagiaan
kecil saya . Sederhana!. Bahagia
bertumbuh dengan mencapai target-target kecil yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi cepat berlalu.
Penulis adalah
Guru SMA Negeri 2 Waingapu
Sumba Timur, NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar