Minggu, 04 Oktober 2020

New Normal Bagi Guru dan Peserta Didik Saat PandemiI Melanda Di Kota Kecilku, Waingapu, Sumba Timur, NTT

  

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang covid, ada di karantina,  dirawat . Bahkan tidak sedikit juga  yang  sudah meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Saya adalah seorang ASN, guru, di mana  waktu itu pernah membayangkan, betapa bahagianya  jika  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktivitas di rumah yang bebaasss!! setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua, ketiga  sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebelum pandemi ada, guru dan siswa  harus bekerja,  menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat pandemi melanda,  kegiatan belajar mengajar  terasa ‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya  talenta masing-masing. Akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur.  Waktu mendukung. Setiap  orang jadi  bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreativ dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan terhibur.

Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita bisa  lebih kreatif!.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatif.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak, hasil  di-posting  di WA group, teman-teman  pesan kita antar, menghasilkan uang.

Saya senang melihat  dan membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur. Ada yang  menjual  hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  ada persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisipasi untuk  membeli produk rumahan mereka.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat se-kreativ mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya rasa kreativ yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik  dan karya  nyata  tanya orang tua lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan):  GCR ( Google Classromm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreativ  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di ’video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster’, ‘Canva’ , ‘CS’, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreativ dibanding   keterampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreativ  dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi, Saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas, pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagai tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreativ.  Dimana dari kegiatan kreativ  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreativ di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja   ‘keinginan’ kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’ kita, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri, makan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat  ini bisa merealisasikan.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru. Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi  cepat berlalu.

 

Penulis adalah

Guru SMA Negeri 2 Waingapu

Sumba Timur, NTT

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...