Minggu, 04 Oktober 2020

LOMBA MENULIS GURU

 

HUT PGRI KE-75 DAN HGN 2020

PENGALAMAN PJJ di ERA PANDEMI COVID-19

 

  NILAI PLUS BAGI  GURU DAN PESERTA DIDIK

   BERKAT  PJJ SAAT  PANDEMI COVID -19

   MELANDA DI KOTA KECILKU


OLeh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

Guru SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT

 

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang covid, ada dikarantina,  dirawat . Bahkan tidak sedikit juga  yang  sudah meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Saya adalah seorang ASN, guru, di mana  waktu itu pernah membayangkan, betapa bahagianya  jika  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktivitas di rumah yang bebaasss!! setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua, ketiga  sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebelum pandemi ada, guru dan siswa  harus bekerja,  menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat pandemi melanda,  kegiatan belajar mengajar  terasa ‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya  talenta masing-masing. Akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur.  Waktu mendukung. Setiap  orang jadi  bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreativ dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan terhibur.

Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita bisa  lebih kreatif!.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatif.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak, hasil  di-posting  di WA group, teman-teman  pesan kita antar, menghasilkan uang.

Saya senang melihat  dan membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur. Ada yang  menjual  hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  ada persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisipasi untuk  membeli produk rumahan mereka.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat se-kreativ mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya rasa kreativ yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik  dan karya  nyata  tanya orang tua lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan):  GCR ( Google Classromm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreativ  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di ’video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster’, ‘Canva’ , ‘CS’, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreativ dibanding   keterampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreativ  dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi, Saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas, pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagai tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreativ.  Dimana dari kegiatan kreativ  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreativ di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja   ‘keinginan’ kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’ kita, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri, makan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat  ini bisa merealisasikan.

Dengan pembelajaran jarak jauh akhirnya kita  mendapatkan 2 keuntungan. Hubungan dengan guru tidak terputus. Hubungan dengan keluarga semakin mesra. Kerjasama selau terjalin. Kita jadi lebih  mandiri dalam berbagai hal. Pekerjaan rumah. Pekerjaan Sekolah.  Keduanya harus tuntas dikerjakan. Tanggung jawab lebih bisa rasakan.  Baik itu sebagai guru maupun peserta didik.

Ada cerita, saya sebagai guru memberikan  tes simulasi kepada siswa saya lewat link yang saya kirim di Google Classroom atau WA Kelas. Salah satu siswa saya,sebut saja Domi. Peserta didik ini di sekolah, jika ‘ulangan harian’ atau ‘tes’ mata pelajaran matematika nilainya selalu 6 kebawah. Kebetulan saya guru matematika. Selama  ‘Penilaian’ jarak jauh, eh nilainya selalu bagus. Kutanya dia: Domi, trimakasih, berkat belajar jarak jauh nilaimu bagus terus, semangat!, proficiat  ya. Kamu hebat! Boleh ibu guru tanya, bagaimana belajarmu? Saya belajar sendiri ibu. Saya tanya ulang: Betul kamu belajar sendiri?. Jawabnya : Iya ibu, betul! Ah!, saya  masih penasaran. Kutanya yang ketiga kali. Betul, kamu belajar sendiri dan menjawab soal itu sendiri?  Yang terakhir ia menjawab: He he.. saya dibantu bapak dan mama ibu. Sambil menarik telpon yang dipegang anaknya, akhirnya mamapun membenarkan pernyataan anak kesanyangannya. Akhirnya ku  kubalas telpon orang tua yang peduli itu. Saya jadi berkata: “Tidak apa Mama. Aman saja, untuk kebaikan Domi, trimakasih untuk kerjasamanya, bapa dan mama  sampai rela belajar lagi matematika SMA. Ternyata kerjasama terasa indah. Perhatian orang tua kepada anak pun bertambah, nilai pun menjadi lebih baik membuat hati bangga, bagi anak juga orang tua tentunya.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, lebih tahu kebersihan dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif.  Kita akan merasakan  sebuah kebiasaan baru  dan kebahagiaan baru. Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi  cepat berlalu.

Salam Guru untuk peserta didik yang selalu dihati  

Ingat selalu:

  1. #Menjaga Kesehatan
  2. #Memakai masker
  3. #Menjaga jarak
  4. #Mencuci tangan dengan air yang mengalir.
  5. #Jangan lupa bahagia 
  6. Selamat Hari Ulang Tahun Guru ke-75
  7. Selamat Hari Guru Nasional 2020
  8. Aku Bangga Menjadi Guru, bisa membagi ilmu untuk peserta didikku yang ingin maju!
  9.  
  10.  
  11.  




















  1. Waingapu, 7 September 2
  2. Quate’s
  3. 1.      Kerja keras akan mengalahkan  orang berbakat, ketika orang  berbakat  tidak mau bekerja  keras.
  4. 2.      Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, itu merupakan  kunci  keberhasilan dalam kehidupan.
  5.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...