.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Fiksi adalah kisah yang tidak benar-benar terjadi. Namun pengaruhnya bisa benar-benar terpatri. Ini bukan hanya dalam tulisan fiksi. Kita bisa menulis kisah yang benar-benar terjadi, menjadi nonfiksi.

Baik cerita fiksi maupun nonfiksi, menjadi daya tarik bagi pembaca. Selain daya tarik, ada sangat banyak urgensi menyisipkan cerita dalam tulisan kita.

KM. Weiland (2016) menyatakan lima alasan, mengapa cerita menjadi unsur penting dalam tulisan. Berikut penjelasannya.

  • Lebih Efektif untuk Menyampaikan Pesan Kebenaran

Jika Anda memiliki suatu ajaran, keyakinan, ideologi, atau prinsip hidup yang Anda yakini kebenarannya, akan lebih mudah tersampaikan apabila dikemas dalam bentuk cerita. Maka sangat banyak penulis dunia yang ‘berkhutbah’ melalui cerita.

Ceramah berapi-api tentang suatu ideologi, mungkin akan bisa menanamkan keyakinan kepada pendengar, namun juga mudah untuk ditentang. Rangkaian cerita pada sebuah novel akan lebih masuk ke relung sanubari pembaca, nyaris tanpa pertentangan.

Ini yang disebut oleh Weiland sebagai “good truths”. Kebenaran yang baik, yaitu sesuatu yang diyakini dan diperjuangkan. Melalui cerita, keyakinan akan lebih mudah tersampaikan. Ini alasan penting, mengapa pendidikan anak akan sangat efektif melalui berkisah.

  • Mampu Memberikan Peringatan dengan Halus

Dalam kitab suci, terdapat kisah-kisah kaum yang mendustakan kebenaran. Semua kaum yang mendustakan kebenaran, akan berakhir dengan kehancuran. Kisah Kaum Luth yang menyimpang, diabadikan dalam Al Qur’an lengkap dengan kengerian adzab yang mereka terima.

Melalui cerita, para pembaca akan bisa mendapatkan peringatan nyata. Bahwa kebenaran Tuhan adalah untuk dijalankan. Jika menentang kebenaran, akan mendapat kehancuran. Pesan yang disampaikan melalui cerita akan lebih kuat diterima dan diingat.

Ini yang disebut oleh Wiland sebagai “bad thruths”, kebenaran yang buruk. Yaitu kebenaran bahwa kaum yang mendustakan kebenaran Tuhan akan dihancurkan. Bahwa pelaku kejahatan, pendusta kebenaran, akan mendapat balasan yang mengerikan.

  • Membuka Wawasan dan Mengajari Empati

Apa yang akan terjadi jika kita tidak pernah mendengar cerita tentang orang lain? Hidup kita akan terkurung dalam penjara sangat sempit. Kita tak akan peduli orang lain, kita tak akan mengerti betapa indahnya kehidupan, jika tak pernah mendengar cerita.

Kita akan mudah tergerak peduli dan berbagi, saat mendengar ada anak yang ingin membeli sepatu sekolah, lantaran orangtuanya tidak mampu. Akan terbuka wawasan dan pemikiran kita, saat mendengar cerita penderitaan orang lain.

Kita tidak sendiri dengan kesedihan yang kita alami. Di luar sana, ada sangat banyak kisah yang jauh lebih dramatis dari kisah kehidupan kita. Kita menjadi bersyukur, dan bertumbuh kebahagiaan, karena cerita.

  • Mampu Memberikan Model

Ketika seseorang tengah terpuruk kehidupannya, ia bisa mendapatkan inspirasi ‘model’ dari tokoh dalam cerita yang mengalami keadaan yang sama. Seseorang bisa mengidentifikasi dirinya melalui peran-peran dalam sebuah cerita, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kita juga bisa menjadi tokoh-tokoh dalam cerita untuk menjadi model kebaikan ataupun keburukan. Misalnya, jangan sampai kisah cinta Siti Nurbaya terulang lagi di zaman ini. Seorang wanita yang dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih, dan berpisah dengan Syamsul Bahri, sang kekasih hati.

Kita semua tahu, itu hanya kisah fiksi. Namun Siti Nurbaya, Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih bisa menjadi model-model, yang bisa memberi pelajaran kebaikan. Tokoh protagonis dan antagonis dalam sebuah cerita, adalah model pembelajaran.

  • Mengajari Kita untuk Selalu Memiliki Harapan

Anda pernah menonton film 127 Hours? Ya benar. Kisah dramatis tentang Aron Ralston. Tangan kanan Ralston terjepit di bebatuan Bluejohn Canyon, seorang diri. Ralston terjebak di posisi yang sangat sempit, berhari-hari.

Ia terpaksa mengamputasi lengannya yang terjebak batu. Ralston memotong tulangnya dengan pisau yang dia bawa. Setelah berhasil membebaskan diri, Ralston berjalan tujuh mil untuk kembali ke truknya. Beruntung, ia bertemu sebuah keluarga yang menyelamatkannya.

Apa yang kita dapatkan? tetaplah memiliki harapan, sesulit apapun kondisi kehidupan.

Mari bercerita. Mari menuliskannya.