.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Apakah setiap tulisan harus ada kesimpulannya? Tentu saja tidak. Karena tergantung dengan jenis tulisan yang kita buat. Namun, bagi pembaca, tulisan yang tidak menyiratkan kesimpulan, bisa dianggap sebagai mengambang.
Pada tiga postingan sebelumnya, saya telah menyampaikan faktor yang membuat tulisan menjadi mengambang. Yaitu mengambang karena tidak berbobot, mengambang karena tidak jelas tujuannya dan mengambang karena tidak jelas alurnya. Simak kembali (1) di sini (2) di sini dan (3) di sini.
Pada postingan kali ini, saya akan membahas faktor berikutnya.
Keempat, mengambang karena tidak jelas kesimpulannya
Tulisan bisa disebut mengambang ketika tidak jelas kesimpulannya. Sebenarnya, secara alur dan sistematika sudah bagus, namun giliran sampai kepada kesimpulan, pembaca tidak bisa menyimpulkan apa-apa.
Tulisan serasa belum selesai. Serasa lomba tebak tepat, atau serasa menggantung di langit tanpa kepastian jawaban. Atau seperti hubungan cowok cewek yang sudah bertaun-tahun tapi tidak jelas kesimpulannya.
Coba baca kembali contoh empat paragraf yang saya tulis pada postingan sebelumnya. Kisah tentang si Kancil. Sekarang tebak kesimpulannya, apakah si Kancil pergi ke Pantai Parangtritis? Tak ada yang bisa menyimpulkan.
Nah, sama juga dalam tradisi lisan, ketika seseorang berceramah panjang lebar, sistematis, lucu, namun tidak ada kesimpulan, maka audiens pulang dengan rasa mengambang. Tadi apa ya kesimpulannya? Padahal sudah duduk mendengarkan kajian dua jam.
Jika tulisan Anda mengambang karena tidak jelas kesimpulannya, maka ada tiga pendekatan untuk memahaminya.
Pertama, bahwa tulisan itu sengaja Anda buat mengambang tanpa kesimpulan, sebagai daya tarik dari tulisan yang diharapkan akan bersambung.
Pembaca dibuat penasaran, dan akan bertanya, bagaimana kelanjutannya? Maka kesempatan bagi Anda untuk menulis episode berikutnya yang sudah ditunggu-tunggu pembaca. Ini bagian dari trik penulis, agar buku kelanjutannya bisa laku.
Jenis ini termasuk tulisan mengambang, namun justru menjadi daya tarik. Pembaca tidak kecewa. Bahkan berharap kelanjutannya.
Kedua, tulisan sengaja Anda buat mengambang tanpa kesimpulan, dan menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan masing-masing. Terutama ini banyak terjadi pada naskah novel, drama, ataupun film.
Mengambangkan kesimpulan untuk memberi kesempatan kepada pembaca mengembangkan sendiri ceritanya dan mengambil sendiri kesimpulannya. Ini juga daya tarik tersendiri dalam karya tulis. Sepenuh kesimpulan diserahkan kepada pembaca.
Jika dibuat film, selesai menonton film, penonton pulang dengan kesimpulan yang berbeda-beda.
Jenis kedua ini juga termasuk tulisan mengambang, namun menarik. Pembaca tidak kecewa. Mereka bisa mengambil kesimpulan sesuai alam pikiran masing-masing.
Ketiga, tulisan yang gagal menyimpulkan, inilah yang bermasalah. Sebab, ada jenis tulisan tertentu yang harus menghasilkan kesimpulan. Untuk jenis tulisan seperti ini, hukumnya wajib untuk memberikan kejelasan kesimpulan. Meskipun kesimpulan yang dibuat bisa berupa opsi, bukan satu kesimpulan.
Sebagai contoh, seseorang menulis makalah berjudul “Bolehkah Meninggalkan Shalat Jumat dengan Sengaja di Masa Wabah Corona?” Para pembaca pasti mengharapkan ada kesimpulan dari tulisan tersebut.
Sang penulis membuat bagian pendahuluan, dilanjutkan pembahasan dimana disampaikan dalil dari Al Qur’an dan Hadits Nabi, disertai beragam pendapat para ulama. Namun ternyata hanya berhenti di situ.
Tulisan itu tidak menyimpulkan apapun, sehingga ketika seseorang awam membaca dari awal sampai akhir, ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang menjadi judul makalah tersebut. Judulnya saja “Bolehkah”, tentu jawaban yang ditunggu adalah, boleh atau tidak boleh.
Ini contoh tulisan yang gagal menyimpulkan, dan membuat pembaca tidak mendapat kesimpulan apa-apa, padahal bagian itu justru yang paling ditunggu. Nah, jika seperti ini yang terjadi, Anda harus merevisi, dengan memberikan poin kesimpulan yang jelas dan tegas.
Kadang ada pembaca tidak mau membaca bagian pendahuluan dan pembahasan. Mereka hanya ingin kesimpulan. Tanpa kesimpulan, pembaca menilai “tulisan ini mengambang”. Untuk jenis tulisan ketiga ini, tanpa kesimpulan, pembaca akan kecewa.
Selamat berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar