.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“In good writing, everything makes sense and readers don’t get lost or have to reread passages to figure out what’s going on” –Melissa Donovan, 2017

.

Seorang pria tengah asyik bekerja di kantor, ketika sebuah panggilan telepon masuk ke smartphone-nya. Ternyata dari petugas di rumah sakit. “Pak, istri Anda mengalami kecelakaan serius. Ada kabar buruk dan kabar baik untuk Anda,” ujar petugas.

Dengan ragu-ragu, pria itu pun memutuskan mendengar kabar buruknya terlebih dahulu.

“Kabar buruknya, istri Anda mengalami kelumpuhan total. Untuk bisa bertahan hidup, dia harus menggunakan respirator.”

Dengan tak kuasa menyembunyikan kesedihannya, pria itu bertanya, “Lalu apa kabar baiknya?”

Petugas menjawab, “Saya hanya bercanda, Pak….”

Pria itupun merasa lega, dan petugas kembali melanjutkan bicaranya, “Sebenarnya, istri Anda sudah meninggal dunia.”

Berita Baik dan Berita Buruk

Mungkin seperti pria itulah perasaan saya, ketika mendapatkan bertubi-tubi pertanyaan dari para peserta Kelas Menulis Online (KMO), tentang membuat tulisan yang bagus dan berkualitas. Di setiap batch KMO, selalu ada pertanyaan seperti ini:

“Bagaimana caranya agar kita bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas?” (Erni Bulkisi, Batch 29 / 2020). “Bagaimana cara meyakinkan diri sendiri bahwa tulisan kita berkualitas? Bagaimana strategi supaya tulisan kita selalu berkualitas?” (Sri Wahyuni, Batch 29 / 2020). “Apa kiat agar tulisan kita bagus? Apa ciri artikel yang menarik bagi pembaca?” (Khamsiatun, Batch 29 / 2020).

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, berita baiknya, menandakan antusiasme para peserta untuk menghasilkan karya tulis yang bagus dan berkualitas. Berita buruknya, saya sulit menjawab –karena saya sendiri merasa tulisan saya biasa-biasa saja. Bagaimana orang yang tulisannya biasa-biasa saja, harus menjelaskan tentang tulisan yang bagus dan berkualitas?

Tapi karena saya ditanya oleh peserta –mau tidak mau—saya harus menyediakan jawabannya. Dengan memberanikan diri, saya ajak anda untuk memahami terlebih dahulu, ‘daftar keinginan’ dari pertanyaan-pertanyaan yang saya tuliskan di atas. Paling tidak, saya menangkap ada tiga bagian keinginan peserta.

  1. Agar tulisan bagus dan berkualitas
  2. Agar tulisan menarik bagi pembaca
  3. Agar pembaca senang membaca tulisan kita

Dari ketiga bagian tersebut, sesungguhnya terbangun satu logika linear. Tulisan yang bagus dan berkualitas, adalah tulisan yang menarik bagi pembaca, dan membuat pembaca senang membacanya. Tulisan yang bagus dan berkualitas membuat pembaca tertarik untuk meneruskan dan menyelesaikan bacaan. Maka, saya ajak Anda untuk menemukan jawaban, seperti apakah tulisan yang bagus dan berkualitas itu.

Tulisan yang Bagus dan Berkualitas

Hampir saya tidak berani menulis soal ini. Takut tidak sepadan antara judul tulisan dengan kenyataan. Supaya saya tidak kesulitan sekaligus tidak kepedean, maka saya akan meminjam penjelasan tentang tulisan yang bagus dan berkualitas, dari karya Melissa Donovan (2017).

Menurut Melissa Donovan, tulisan yang bagus harus memiliki karakter ‘clarity and focus’. Harus jelas dan ada fokusnya. Semua bagian harus masuk akal sehingga membuat pembaca tidak tersesat atau kebingungan. Tulisan yang tidak masuk akal, menyesatkan dan membingungkan, tentu tidak berkualitas.

Tulisan disebut bagus, masih menurut Donovan, apabila terorganisir dengan baik. Tulisan harus disajikan dengan cara logis, sistematis dan estetis. Dalam menyusun kisah fiksi, Anda dapat bertutur secara linear ataupun non-linear. Namun harus teroganisir dengan baik.

Donovan menyatakan, tulisan yang bagus harus memiliki topik atau tema tertentu. Bahkan saat membuat puisi, tetap ada tema yang menjadi pesan dari puisi tersebut. Kalimat dalam puisi cenderung abstrak, namun estetis dan tengah menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca.

Tulisan yang bagus juga terkait dengan ketepatan dalam memilih kata. Ketidaktepatan dalam memilih kata, bisa berdampak bias terhadap makna. Memilih kata secara efektif dan efisien, tidak boros, tidak mengulang-ulang, menjadi karakter tulisan yang bagus.

Yang lebih penting lagi, tulisan bagus akan mampu menggugah pikiran atau menginspirasi secara emosional. Donovan mengingatkan, apa yang didapatkan oleh pembaca? Misalnya, pembaca memperolah informasi, pengetahuan, motivasi, inspirasi, hiburan, kesenangan, atau pengalaman spiritual ataupun emosional yang mengasyikkan.

Donovan menganggap penting bagi penulis untuk memegangi kriteria tulisan yang berkualitas, agar bisa menjadi alat evaluasi untuk selalu memperbagus kualitas tulisan. Tanpa mengerti kriteria tulisan yang bagus, bagaimana tulisan kita bisa lebih bagus dari waktu ke waktu? Demikian pertanyaan Donovan.

Mari belajar bersama. Jelas tulisan saya ini pun biasa-biasa saja. Tapi kita selalu belajar menjadi semakin lebih baik.

Bersambung.