.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I find writing to be emotionally calming” – Barton Goldsmith (2015)
.
Dunia kita saat ini sudah sangat maju secara teknologi. Namun kemajuan teknologi tidak selalu bermakna kebaikan dalam kehidupan. Kadang justru sebaliknya.
Saat manusia diperbudak oleh teknologi. Saat itu teknologi telah mengendalikan kehidupan manusia. Padahal semestinya manusia mengendalikan teknologi. Dampaknya, hadirlah sangat banyak kelelahan dalam kehidupan.
Di titik ini, kadang manusia harus kembali ke cara-cara ‘tradisional’ dalam menyelesaikan permasalahan kehidupannya. Julia Cameron, misalnya, ia mengajak manusia modern untuk tidak selalu bergantung dengan teknologi.
Curhat dengan “Morning Pages”
Penulis buku “The Artist’s Way, Morning Pages Journal” itu merekomendasikan agar Anda memiliki kebiasaan “morning pages.” Yang dia sebut sebagai morning pages adalah Anda menulis setiap pagi dengan tulisan tangan. Bukan menulis melalui gadget, laptop atau komputer.
Siapkan kertas dan pulpen, dan menulislah setiap pagi hari. Ini untuk membuat suasana jiwa menjadi lebih baik. Menuliskan semua ketidaknyamanan, beban yang menekan, serta masalah yang menghimpit. Ini adalahaktivitas curhat yang dilakukan secara mandiri.
Dengan ditulis menggunakan pulpen dan kertas, suasana jiwa akan lebih nyaman dan tenang. Seakan semua beban telah dicurahkan melalui tulisan. Biasanya curhat dilakukan dengan mengobrol dan bercerita kepada seseorang, dengan morning pages aktivitas curhat dilakukan melalui tulisan tangan.
Namun cara seperti ini menurut Barton Goldsmith (2015) “tidak akan berhasil untuk semua orang”. Artinya, ini hanya salah satu teknik saja. Mungkin cocok untuk sebagian orang, dan tidak cocok untuk orang lainnya.
Healing dengan ‘Gratitue Journal’
Barton mengajukan alternatif teknik lainnya, dengan “gratitue journal”. Tentu saja ini juga hanya salah satu teknik. Bisa cocok untuk sebagian orang dan tidak cocok untuk sebagian yang lain.
Yang dimaksud dengan “gratitue journal” adalah menuliskan rasa syukur. Setiap malam, sebelum tidur, Anda menuliskan tiga sampai lima hal yang Anda syukuri. Namun Anda tidak boleh menuliskan hal yang sama setiap hari. Untuk itu Anda harus menelisik secara jujur, hal apakah yang memberikan Anda rasa syukur.
Menurut Barton, latihan ini mungkin tampak sederhana. Namun karena Anda melakukannya sebelum tidur, maka rasa syukur masuk ke alam bawah sadar Anda. Dalam beberapa minggu setelah melakukan “gratitue journal”, banyak orang mengaku memiliki kehidupan yang lebih positif.
Cara ini bisa membantu untuk mengurangi kepedihan emosional, karena Anda merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam kehidupan. Sekaligus akan membawa lebih banyak emosi positif dari orang-orang di sekitar Anda.
Menulis untuk Pelepasan Beban
Baik ‘morning pages’ maupun ‘gratitue journal’, keduanya adalah bentuk healing. Maka isinya sangat mungkin berupa hal-hal yang sangat pribadi, dan merupakan aib untuk diketahui orang lain.
Mungkin saja seorang perempuan akan menulis pada morning pages-nya kalimat-kalimat berikut.
“Aku sangat kecewa. Ternyata dia masih terus jalan dengan selingkuhannya. Sudah janji berkali-kali tidak akan ketemuan lagi dengan cewek itu. Nyatanya masih sering tidur di hotel bareng dia”.
Mungkin saja seorang laki-laki akan menulis pada ‘gratitue journal’, kalimat-kalimat gratitue berikut.
“Syukurlah istriku tidak tahu kalau aku masih sering tidur bareng sama si doi. Dia hanya tahu kalau aku masih chating. Hanya sebatas itu. Untung saja semua bukti hotel sudah aku lenyapkan”.
Kalimat-kalimat seperti itu sangat pribadi. Tidak patut untuk diekspos ke publik. Akan membuka aib keluarga, dan membuat semakin runyam masalah.
Oleh karena ‘morning page’ dan ‘gratitue journal’ adalah proses healing, maka hanya untuk pelepasan beban, katarsis dan relaksasi. Bukan untuk dipublikasikan. Bukan untuk konsumsi publik.
Mengubah Curhat Menjadi Tulisan Lezat
Mungkinkah tulisan yang bercorak healing itu dipublikasikan? Sangat mungkin. Namun memerlukan proses editing yang teliti.
Sebuah curhat tentang kondisi diri dan keluarga, bisa diolah menjadi tulisan fiksi maupun nonfiksi yang menyentuh hati. Karena ditulis dengan ketajaman emosi, ditulis sepenuh (luka) hati.
Sangat banyak novel dan buku-buku laris, ditulis dari penderitaan. Dari pelepasan beban. Namun pembaca tidak tahu bahwa kisah itu adalah curhat pribadi. Karena telah diolah sedemikian rupa menjadi energi positif yang menginspirasi.
Bagaimana cara mengolah curhat menjadi tulisan yang lezat memikat? Tunggu postingan berikutnya.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar