.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Buntu. Blank. Tidak mengerti lagi mau menulis apa. Anda pernah merasakan kondisi seperti itu?
Kebuntuan menulis, sangat banyak dialami oleh para penulis. Sudah membuka laptop, sudah menentukan tema, sudah memulai menulis, namun baru mendapatkan beberapa paragraf, mendadak buntu. Tidak bisa meneruskan lagi tulisannya. Akhirnya memilih menutup laptop.
Kondisi ini yang membuat seseorang tidak pernah menghasilkan karya tulis seumur hidupnya, karena tulisannya tidak pernah selesai. Alasannya, karena buntu di tengah proses menulis, sehingga tidak bisa meneruskan menulis. Tiap menulis, tidak pernah selesai, selalu buntu.
Bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis? Yang sangat penting adalah, kenali tipe kebuntuan Anda, agar bisa menemukan solusi yang tepat. Mari kita bedah jenis-jenis kebuntuan dalam menulis.
Enam Jenis Kebuntuan dalam Menulis
Dari pengalaman belajar menulis bersama para peserta KMO, saya menemukan paling tidak ada enam jenis kebuntuan dalam menulis.
Pertama, Buntu karena Kehabisan Ide
Ini jenis pertama dari kebuntuan menulis. Buntu, karena kehabisan ide. Tidak tahu lagi akan menulis apa, karena ide yang ada sudah dituliskan semua.
Misalnya, punya ide untuk menulis tentang “Mendidik Anak di Masa Pandemi”, kemudian mulai menuangkan ide ke dalam tulisan. Di tengah menulis, buntu, karena tidak tahu lagi sisi apa yang harus ditulis.
Solusi
Solusi untuk buntu karena kehabisan ide, tentu saja adalah dengan mencari ide. Tapi, bagaimana cara mencari ide? Sangat banyak caranya.
- Baca buku karya orang yang ahli di bidangnya, untuk mendapatkan ide guna meneruskan tulisan Anda
- Baca artikel yang temanya sama dengan yang tengah Anda tulis, bisa Anda dapatkan di web atau blog, atau di majalah dan koran
- Mengobrol dengan teman yang memiliki kompetensi pada tema tersebut, minta pendapat serta masukan
Cara-cara di atas, bukan untuk menjadikan bacaan tersebut sebagai referensi, tetapi sebagai cara memunculkan ide setelah buntu. Jadi, membaca buku atau artikel untuk mendapatkan inspirasi, mendapatkan ide yang bisa dituliskan berikutnya.
Kedua, Buntu karena Kehabisan Bahan
Jenis buntu yang kedua adalah karena kehabisan bahan atau referensi. Ide masih banyak banget, tapi tidak punya bahan atau data atau referensi.
Misalnya, menulis tentang “Mendidik Anak di Masa Pandemi”, lalu sampai pada bagian yang mengulas tentang Pola Asuh Anak. Anda merasa harus merujuk kepada pendapat ahli, apa saja yang menjadi pola asuh anak, karena Anda tidak punya bahannya.
Karena Anda tidak tahu apa saja Pola Asuh Anak secara akademis, maka menjadi buntu. Anda tidak bisa meneruskan menulis, kecuali Anda sudah mendapatkan referensinya. Tidak mungkin tema seperti itu dikarang sendiri, karena jelas sudah banyak rujukan teorinya.
Bisa jadi Anda memerlukan data tertentu, seperti jumlah siswa di wilayah tempat Anda tinggal yang mengalami kesulitan belajar jarak jauh. Data seperti ini tidak mungkin dikarang sendiri. Harus berdasarkan survei yang terpercaya.
Solusi
Jika buntu karena kehabisan bahan, berhentilah menulis untuk mencari referensi atau bahan. Caranya sangat banyak dan variatif, tergantung bahan atau referensi apa yang Anda perlukan.
- Datang ke perpustakaan, cari data atau buku atau referensi yang dibutuhkan, sesuai tema yang sedang Anda tulis
- Lakukan browsing menggunakan mesin pencari, untuk mencari data yang Anda perlukan. Pastikan Anda hanya mengakses dan mengambil data dari lembaga, instansi yang kredibel. Jangan mengambil dari sembarangan web.
- Menghubungi secara langsung pihak terkait, yang memiliki akses data, seperti BPS, Pemda, atau lembaga-lembaga terkait.
Ketiga, Buntu karena Terjebak Mengedit Saat Menulis
Proses menghasilkan karya tulis, secara umum terbagi menjadi tiga bagian. Bahian pertama adalah proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan. Ini yang disebut sebagai menulis.
Bagian kedua, proses mengedit tulisan. Ini adalah proses memeriksa agar tidak ada isi yang salah, atau agar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Bagian ketiga, proses kreatif menghias tulisan, membuat agar keseluruhan tulisan menjadi lebih baik dan menarik. Enak dibaca, mengalir, dan membuat pembaca nyaman.
Nah, yang mudah membuat buntu –terutama bagi penulis pemula—adalah ketika ketiga proses itu dicampur aduk. Baru menulis tiga paragraf, lalu mengedit. Merasa tulisannya kurang bagus, lalu bingung bagaimana cara memperbaiki tulisan. Ini tiga proses dilakukan sekaligus, yaitu menulis, mengedit dan menghias tulisan. Akhirnya buntu dan tidak melanjutkan menulis.
Solusi
Jika kebuntuan terjadi karena terjebak mengedit saat menulis, maka Anda harus melakukan hal-hal berikut.
- Berhentilah mengedit, dan fokuslah menulis
- Pisahkan aktivas menulis dengan mengedit dan menghias tulisan
- Selesaikan dulu tulisanAnda, baru Anda melakukan proses editing, dan nantinya menghias tulisan agar lebih bagus, sebelum diposting.
Keempat, Buntu karena Kurang Persiapan
Di antara penyebab kebuntuan menulis adalah karena kurang persiapan sebelum menulis. Apa saja persiapan sebelum menulis? Di antaranya adalah menyiapkan tema yang jelas, membuat outline / kerangka tulisan, atau plot cerita untuk fiksi.
Semakin jelas kerangka dan plot tulisan, semakin mudah untuk menuangkan ke dalam tulisan. Namun jika tidak menyiapkan kerangka, mudah mengalami kebingungan di tengah menulis. Akhirnya tidak bisa meneruskan proses menyelesaikan tulisan.
Solusi
Jika Anda buntu karena kurang persiapan, bisa Anda coba lakukan beberapa alternatif solusi berikut ini.
- Buatlah kerangka tulisan, walaupun Anda sudah mulai menulis setengah bagian. Ini untuk menghindari peluang kebuntuan berikutnya.
- Yang paling ideal adalah membuat perencanaan yang matang, baik dari segi tema, bahan, maupun kerangka / plot tulisan
Beberapa penulis terbiasa melakukan persiapan dengan sangat serius, misalnya dengan survei lokasi yang menjadi setting cerita. Termasuk melakukan survei sosial menggunakan metode survei akademik. Ini contoh kesungguhan dalam merencanakan sebuah tulisan.
Kelima, Buntu karena Menulis yang Bukan ‘Pilihannya’
Sebagian mengalami kebuntuan karena berada pada rimba yang “bukan habitatnya”. Seorang penulis nonfiksi bisa mengalami kebuntuan saat harus menulis kisah fiksi. Seorang penulis fiksi bisa mengalami kebuntuan saat harus menuliskan artikel nonfiksi. Itu karena memasuki kawasan yang bukan pilihan dirinya.
Ada penulis yang mampu melahirkan karya sama baiknya antara fiksi dan nonfiksi. Sementara sebagian besar hanya memiliki kemampuan salah satu jenis saja. Maka ketika spesialis fiksi diminta menulis nonfiksi, akan berpeluang menemukan kebuntuan. Sebaliknya ketika spesialis nonfiksi diminta menulis fiksi, akan mudah mengalami kebuntuan.
Solusi
Untuk contoh kebuntuan ini, saya hanya memiliki saran sederhana saja.
- Selesaikan semampunya, karena berada pada wilayah yang bukan pilihannya
- Jika memang memiliki spesialisasi –fiksi atau nonfiksi—lebih baik fokus kepada yang menjadi spesialisasinya. Karena itu adalah pilihan ‘habitatnya’.
Keenam, Buntu karena Kejenuhan
Kadang, seseorang menulis sudah dalam siatuasi lelah. Baik lelah karena terlalu lama menulis, ataupun menulis dilakukan pada kondisi fisik dan mental yang sudah sangat lelah.
Dalam situasi kelelahan seperti ini, muncullah kejenuhan. Dan jika kejenuhan sudah muncul, maka akan muncul kebuntuan. Buntu, tidak bisa meneruskan menulis lagi, saking lelahnya.
Solusi
Jika mengalami kebuntuan akibat kelelahan atau kejenuhan, solusinya adalah sebagai berikut.
- Hentikan menulis, beristirahatlah. Tubuh kita memiliki ambang batas kemampuan.
- Jika kejenuhan ringan, bisa istirahat sejenak, dengan minum, makan cemilan, mendengarkan murottal, shalat sunnah, mendengarkan musik, refreshing keluar ruang, atau olah raga.
- Namun untuk kejenuhan yang sudah dosis tinggi, tidak ada cara lain, kecuali dengan tidur. Besok pagi tulisan dilanjutkan lagi dalam keadaan sudah fresh.
Selamat menulis, dan selamat mengatasi kebuntuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar