Rabu, 30 Desember 2020

BAGAS.......KAU KEMANA !

 






Oleh : Ledwina Eti Wuryani

Pada suatu hari, Bagas siswa kelas 11B  dipanggil  ibu Marthina untuk datang ke ruang BK. Bagas  adalah murid paling  bandel dan suka mencari masalah di sekolah. Hampir semua guru  tidak sanggup lagi untuk menasehatinya. Segala jenis hukuman  telah diberikan, tapi Bagas tetaplah tidak berubah sama sekali.

            Seperti pagi ini,  hari Senin, sebenarnya  ada jadwal upacara. Bagas si bandel  datang terlambat lagi. Dia kena  hukuman  dari Pak Soni , pembina osis. Guru paling galak di sekolah. Bagas di suruh berdiri di lapangan upacara  hingga jam istirahat pertama selesai. Setelah itu, ia harus membuat 5 buah lubang ukuran (1x1x1) m3 untuk tanam  pohon  sakura di sekolah. Supaya  jera pak Soni masih  suruh  lagi  membersihkan  toilet putra di  samping  kelasnya.

Sebenarnya pak Soni tidak  tega  sampai  menghukum seberat itu. Hingga terpaksa  menghukum Soni seberat itu. Bagas betul –betul membuat pak guru marah. Bagas menjalani  hukuman  dengan rasa biasa saja. Ia tidak ada perasaan  malu atau bersalah. Dia jalani  hukuman dengan  santai saja tanpa beban. Sambil menjalani hukuman  masih saja sempat  jahil dengan anak perempuan. Dia  lempar temannya itu dengan  air campur tanah hingga bajunya kotor.  Dia merasa bangga dan tertawa.  Ahh!!, pokoknya anak ini  sangat menjengkelkan.

Di dalam kelas, saat pak guru  menjelaskan dia main HP sendiri. Dia tertawa-tawa  sendiri. “ Bagas!!, bawa hp itu ke sini!”,  seru pak Arnol kesal. Akhirnya  di bawalah hp  ke depan dan ditaruh di meja guru. Pak Arnolpun  melanjutkan menjelaskan  tentang materi ‘reproduksi’ Bab 2, pelajaran biologi.

Bagas  tusuk-tusuk  pantat  Desi yang di duduk tepat didepannya, hingga kaget. ”Pak guru!! Ne Bagas  ganggu terus!”, teriak Desi  merasa jengkel  karena  terganggu. “ Hhhh!! Ini anak,!!”, Pak Arnol pun murka. “Bagas.....kamu keluar saja ya!!, disini tempat  anak-anak ingin belajar, kalau kamu ‘tidak’ mau belajar kamu keluar!!, “, teriak pak Arnold saking kesalnya. Bagas tidak mau keluar, hanya nyengir-nyengir saja.

Kelas mulai tegang!. Teman-teman  menyuruh Bagas segera keluar. “Bagas keluar !!....., cepat kau kelaur!!!!”,  teriak teman-temannya memohon. Eh!, Bagas tidak mau keluar juga. “Kalau kamu ‘tidak’ mau keluar,  biar pak guru yang keluar!”, kata pak arnol sambil mengemasi barang-barangnya kemudian pak Arnol keluar.  Suasana kelas  jadi tambah tegang!. Bagas di dorong-dorong temannya untuk  keluar, tapi tidak mau juga.

Akhirnya  teman  kesal sekali  dengan sikap  Bagas. Daniel, sang ketua kelas dan beberapa pengurus kelas lari mengejar   pak Arnol yang sementara menuju ke ruang guru. Pak Arnol  mengajaknya  untuk diselesaikan di ruang BK.

Akhirnya pak Arnol bersama Daniel, dkk  menuju ruang BK dan menyampaikan ‘masalah’ ini  kepada guru BK. ‘Ini lagi!, Ini lagi!!”’ seru ibu Marthina  dan ibu Yubi guru BK.

Guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK bahkan kepala sekolah  bener-benar  tidak sanggup  menasehati Bagas. Sudah  dapat surat peringatan 3 kali. Tidak  pernah ada yang hadir. Kalau Bagas ditanya ‘diam’ seribu bahasa. Pokoknya membuat  orang  jengkel.

Bagas tidak pernah kerja  tugas,  catatan  saja tidak punya.  Suatu  hari ada ulangan  matematika bu Tiwi.  Siswa boleh ikut ulangan jika sudah  kumpul tugas produk dan kerja PR tentang materi  ‘nilai mutlak’.   Tugas Bagas tidak ada. Tapi bu guru  sudah malas  urusan dengan Bagas. “Persetan!!, kata bu guru. “Nanti tambah stress urus Bagas, saya tak mau sakit kepala”,  lanjutnya. Ulangan pun dimulai.“ Bagas,  kamu mau nyontek ga?  Saya bawa  contekan ne” bisik Arda di sebelahku  saat ulangan harian berlangsung.

“Wuih! Boleh juga” ucap Bagas  dengan mengambil  kertas kecil dari   temannya itu. Bagas  memang paling  malas untuk mata pelajaran kimia, fisika dan matematika.  Catatan saja  tidak ada, bagaimana dia belajar. PR tak pernah kerja.  Otak  betul-betul ‘nol’.  Dia  langganan nyontek untuk pelajaran itu. Bagaimana tidak!

Waktu terus berjalan, kenakalan Bagas  sudah tidak bisa  diampuni. Akhirnya ibu wali kelas datang ke kelas. Bertanya, siapa yang dekat rumah Bagas?.Tidak ada yang angkat tangan.  Ibu tanya lagi yang kedua kali,” Ada yang tahu rumahnya Bagas??” Tiba-tiba Irene angka tangan. “ Dia bertetangga dengan  James kelas sebelah bu, rumahnya di km 8 !”,

Akhirnya ibu guru  berencana mengajak James untuk kunjungan rumah ke Bagas. Hari yang ditentukan pun tiba. Ibu Wali kelas dan dua orang ibu guru  BK, ditemani James ke rumah Bagas.

Sampai di rumah...sepi sekali. Rumah kosong tidak ada penghuni. Rumah bagus. Tapi berantakan. Tanaman bunga banyak tapi tak terurus. Ada kolam ikan juga, tapi kering dan kotor. Suasana rumah terlihat ngeri.  Rumah besar dan modern sebenarnya. Seperti rumah penjabat tapi tak beda dengan rumah hantu.

 Karena terlihat ada beberapa orang di rumah  Bagas, tetangga  yang rumahnya  sekitar 200m  menghampiri. Mereka saling bersalaman dan memperkenalkan bahwa kami gurunya Bagas.  Pak karim dan Ibu ( nama tetangga:Red) mengajak kerumah mereka  supaya bisa cerita leluasa.

Suami istri tetangga itu cerita banyak tentang Bagas. Mamanya Bagas, mbak Mun, orang terkenal waktu itu. Semua orang tahu dia. Ternyata  dia bandar narkoba.  Sekarang  dipenjara karena tertangkap. Begitu juga bapaknya sudah lebih dulu10 tahun dipenjara. Dua adik Bagas sekarang di Jakarta dibawa tantenya. Bagas  hidup sendiri di sini.

Ada lagi bapak tua cerita  Bagas baru-baru dipukuli, dan kena sumpah serapah dari keluarga pak Dan (Bapak Sinta). Ceritanya, Mama Sinta itu dulu teman baiknya mbak Mun. Melihat nasib Bagas yang hanya sendiri,  akhirnya Bagas juga dianggap seperti anak sendiri. Dia memang tidur di rumahnya sendiri. Tapi dia sering di rumah Sinta. Kebetulan Sinta  teman mainnya sejak SD hingga  SMP  tapi sekarang SMA-nya berbeda sekolah. Bapak Sinta orang proyek dia kerja di PU ( pekerjaan Umum). Jadi bapak Sinta sering tugas lapangan, jika pekerjaan jauh di luar kota pasti tidak pulang  rumah. Bisa seminggu sekali baru pulang.

Mama Sinta  jualan di pasar induk. Pergi pagi pulang petang.  Anak-anak mereka sudah diajar mandiri. Sinta sebagai anak pertama harus bisa bertanggung jawab untuk 2 adiknya yang masih SD. Sinta sudah trampil memasak, membereskan rumah dan semua pekerjaan rumah. Kalau ada  masalah mereka bisa  pergi ke mamanya di pasar. Adiknya biasa bersama mamanya di pasar. Rumah Sinta pun  besar, dan mereka termasuk orang terpandang di kampungnya.

Waktu terus berjalan. Bapak  dengan kesibukanya. Mama  dengan kesibukanya. Sinta pun dengan kesibukannya sendiri jaga rumah, urus adik dan membereskan rumah. Untuk makan di pasar mama biasa masak sendiri karena ada juga dapur kecil di kios. Bapak dan mama Sinta tidak pernah tahu apa yang dilakukan Sinta dirumah. Mereka saling percaya karena Sinta dianggap sudah dewasa.

Bagas, teman Sinta  sepulang sekolah makan dan tiduran di rumah Sinta. Karena Bapak dan Mama Sinta pun percaya kepada Bagas. Bagas sudah  dianggap seperti anak sendiri. Namanya manusia normal.  Jaman sekarang  anak-anak  punya HP. Konten-konten hp bebas dan banyak yang menarik.  Lebih menarik lagi  ada  adegan- adegan ‘tabu’ yang harusnya anak belum saatnya melihat. Apalagi melakukan.

Waktu mendukung. Peluang  ada. Kesempatan pun  sangat luas. Akhirnya....Bagas pun  mulai melihat Sinta bukan sebagai adik. Tapi dia melihat sebagai seorang ‘kekasih’ hati. Setiap melihat sinta  ada rasa tertarik . Ingin memelu. Ingin Mencium. Ingin yang lainnya......Begitu pun Sinta. Mereka  merasa ‘saling’ membutuhkan.

Hari-hari mereka nikmati bersama dengan bebasnya. Keluar masuk kamar  sudah biasa.  Suasanapun mulai berbeda. Mereka  ada perasaan yang berbeda juga. Rasa’cinta’ sebagai  manusia  nornal mulai terasa.  Rasa rindu pun mulai membara antara  dua insan manusia. Dengan  belajar dan melihat  adegan-adegan berbagai ‘model’ yang ada di HP android mereka coba. Oh!!,  begitu terasa nikmatnya dunia.

Kini , Sinta  sudah ternoda. Tidak  lagi  seorang  gadis  manis.  Kesuciannya sudah direnggut  Bagas. Mereka berdua  sudah  dimabuk asmara.

Bapaknya lalu pulang tak sedikitpun curiga. Adanya Bagas di rumah pun bapak Sinta aman-aman saja.  Semua berjalan lancar. Makan sama-sama, bercerita masih biasa-biasa. Bagas  juga biasa disuruh membantu pekerjaan rumah oleh bapak Sinta. Menanam sayur. Menanam bunga.  Membuat kandang  ayam. Yach!! Pokoknya dianggap anak ‘lelakinya’.

Mama Sinta biasa pulang petang.  Sekitar jam 6 sore baru  pulang. Rumah pun tetap rapi karena Sinta memang rajin. Prestasi di sekolahpun stabil, peringkat 5 besar selalu di tangan. Keluarga tetap berjalan  aman.

Mereka selalu  menggunakan peluang  saat mereka di rumah ‘hanya berdua’ saja. Adik-adiknya di kondisikan supaya ke pasar bersama mamanya. Mamanya pun tahu bahwa Sinta  sibuk dengan tugas BDR ( belajar di rumah) dan membereskan rumahnya.

Seiring berjalannya waktu. Sinta  kelihatan semakin kurus.  Dia kelihatan sakit. Saat malam hari  mamanya  gosok dengan minyak angin.  Sinta tidak selera makan. Tapi mama tetap tenang,  paling dia sakit biasa, masuk angin. Mamanya tetap jualan di  pasar. Kios di pasar  besar, mereka jualan sembako.Ada 2 los yang dia punya. Yang satu untuk gudang beras, jagung, pa’o (makanan hewan) dan yang satu sembako. Kiosnya bersebelahan. Mamanya sibuk setiap harinya.

Karena tahu bahwa Sinta masuk angin, dia di larang  untuk ‘terlalu’  kerja. Istirahat saja. Malam berikutnya  masih saja  kelihatan pucat dan lemas. Tambah dia muntah-muntah. Mama masih belum curiga apa-apa. Hari terus berlalu 2 minggu terakhir  ini kok sinta muntah-muntah terus. Deg!! Mama  jadi rasa aneh dengan sakitnya Sinta.

Mamanya takut terjadi apa-apa dengan Sinta. Rasa takut, kawatir mulai membuat  sesak di dada mamamya. Hari itu sengaja tutup tokonya, dia tidak percaya dengan 2 pegawainya. Mamanya tahu kalau kedua pembantu di kios tidak jujur.

Diajaknya Sinta ke Rumah sakit umum. Setelah mendaftar dan antri, tibalah gilirannya untuk di periksa. Setelah  menjawab bergai pertanyaan dari perawat,  ibu perawat langsung tanggap dan  disuruhnya Sinta untuk diperiksa air kencingnya.

Sudah 1 jam  mereka menunggu. Mamanya sudah tidak tahan untuk menunggu hasilnya. Rasa cemas menghantui dirinya. Tak lama kemudian perawat datang dengan  senyum sumringah..... “selamat Ibu, Nona Sinta Positif hamil, ibu siap  jadi nenek!!”’, kata perawat itu sambil menyodorkan tangannya memberi selamat.

Mama Sinta bengong, melongo!. Sinta tertunduk menahan sesak di dada. ”Tidaaakkkk!!!”, teriak mama Sinta spontan.”mamanya histeris dan menangis!!, Orang-orang di sekitar itu jadi merasa heran. ‘Ditamparnya Sinta sekuat tenaga!,  digoyang-goyangkannya tubuh  Sinta dengan kerasnya!. Dimarahi habis-habisan Sinta saat itu. Mamanya  amat sangat murka.  Antara, sedih, ingin memaki dan menyumpah !!, Tuhaaannnn??!!,  kenapa anakku ternyata sejahat ini??.

Sinta hanya tertunduk saja. Dia membiarkan  ibunya melampiaskan kekesalan. Ibunya sumpah serapah!! .padanya. Dia tetap tunduk, dia  mengakui karena memang dia salah. Bagaimanapun !, alasan apapun! dia tetap salah. Bukti nyata jelas sekali, tidak bisa berkutik.

Emosi mamanya  betul-betul meluap-luap. Sinta yang cantik!, Sinta yang pintar di sekolahnya. Ternyata membawa sial.  Sinta baru kelas 2 SMA, umur 16 tahun dia harus  melahirkan. Ternyata kandungan Sinta sudah 4 bulan. Dia sudah beberapa hari tidak sekolah karena sakit.

Bapaknya dengar begitu ‘geram’. Dia tak kuasa menahan emosinya. Sinta  anak pertama, mereka 3 bersaudara perempuan semua. Bagas yang  dianggap anak sendiri tapi....tenyata tidak lebih  ‘binatang’. Tak henti-hentinya ingin memaki. Keluarga jadi  berduka karena  anak perempuannya jadi  ‘korban’ karena kelakuan bejatnya.

Saat suasa keluarga  tegang tib -tiba bagas  muncul mau makan siang. Tak pikir panjang  ditamparnya Bagas berulang-ulang. Ditendangnya  pinggul Bagas hingga  terputar.  Bagas  menahan sakit lalu dia lari terbirit-birit. Dipanggil berulang-ulang dia  tidak tanggap. Dikerjarnya dengan  motor tapi ia  sudah ‘lenyap’ entah kemana. Bapak Sinta terpaksa lapor polisi. Tapi keberadaan  Bagar tetap  tidak diketemukan. “Biadap!!”. Teriak Bapak Sinta tak kuasa menahan emosi.  Bapak Sinta   sungguh-sunggguh terlalu emosi.

Sejak kejadian itu bagas  ‘hilang’ entah kemana. Pantas saja di sekolah juga sudah sekitar dua minggu ini tak ada. Maksud pihak sekolah  mau tahu keberadaaanya, tetapi ternyata!!. Tidak ada juga di rumahnya.

Kini....nasi  sudah jadi bubur. Bapak Sinta sangat terpukul. Mama Sinta hanya bisa  menangis.  Hati terasa teriruis-iris. Anak kesayangannya menyakitinya.  Selama ini dipercaya dan disayangi dengan sepenuh hati. Ternyata Sinta mengkhianati kepercayaannya. Adik-adiknya hanya ‘melongo’ karena tidak tahu  apa yang telah dilakukan kakaknya.

Sebagai orang tua. Bapak mama  sekarang  tinggal merenungi. Mereka masing-masing hanya bisa refleksi.  Hal ini bisa terjadi karena ‘tidak’ ada perhatian dari orang tua. Menyayangi  anak itu  bukan mencukupkan materi saja. Dengan membelikan motor terbaru. Dengan  membelikan HP paling modern atau kebutuhan mewah lainya.

Perhatian. Kasih sayang.  Pendampingan siang, malan pagi dan sore  harus ada. Sedang dimana?” Lagi apa?. Dengan Siapa? Khususnya mama Sinta. Inilah ’akibat’ dari  kesibukan mama yang ‘terlalu’ percaya dengan anaknya yang sudah ‘nona’. Biarpun menangis berair mata darah  tidak mungkin lagi akan kembali baik. Piring yang pecah tak mungkin bisa di tambal, di las atau dibagaimanapun. Tinggal ‘dibuang’ saja. Nilai dan harganya sudah ‘tidak ada’

Perut Sinta semakin membesar. Dia sudah tak mungkin  lagi melanjutkan sekolah.  Dia harus bisa menerima kedatangan bayi mungilnya nanti.  Jamin di dalam perut tidak berdosa. Dia titipan Tuhan  yang harus dipiara dan dicintai .Keluarga harus bisa menerima. Walau hati sedih, ataupun perih .   Semoga    sang baby ,jika sudah lahir nanti....ia yang akan menghibur keluarga dengan senyum manisnya.

 

30 Desember 2020

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...