Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Mentari
terasa panas menyengat saat aku
menjemput anak semata wayangku. Dia
kusekolahkan di sekolahku dulu. Itu
cita-citaku waktu masih muda. Syukurlah
ia diterma. Kata banyak orang adalah sekolah
favorit di kota itu. Sekolah itu
tergabung satu kompleks dari TK hingga SMA.
Saat
menjemput, aku berusaha mengikuti lorong kecil. Aku tak mau ada orang
tahu kedatanganku. Pasti mereka akan menanggapku. Kini aku menjada, sejak mas Tomi meninggal
sebulan yang lalu karena
kecelakaan bersama teman wanitanya. Kini aku hanya bersama Mesya, hidup berdua
saja. Jika mereka mengenal baik tentang
aku atau anakku pasti mereka akan bertanya, mereka akan kepo . Bagaimana aku.
Bagaimana keadaanku. Dan lain-lain. Aku
lagi malas menanggapi orang, lebih baik
aku menghindar!. Bila mereka melihatku
mereka bisa saja menggunjingkan
nasibku yang sudah menjada sampai hari ini. Dilema jadi seorang janda!.
Kunanti
Mesya dengan penuh sabar di lorong
kantin sekolahnya. Sementara aku
menunggu aku jadi ingat peristiwa mas Tomi waktu itu.
Waktu
itu mas Tomi sementara diperjalanan,
saat menuju ke bandara hendak ke Medan untuk
tugas dinasnya. Ternyata nasib sial
ada dipihaknya, mobil yang
ditumpanginnya hancur, luluh lantak. Mungkin supirnya ngantuk.
Mobil menabrak tiang beton di
atas trotoar. Mobil terbalik, Sopir dan
mas Tomi dan sekretarisnya tak terselamatkan!. Sedih!!. Sessaak jantung terasa
di dada kalau ingat saat itu.
Aku
memang teramat sangat mencintai mas Tomi.Aku juga sangat percaya dengan kesetiaan mas Tomi
kepadaku. Setiap hari libur dia selalu
bersama keluarga. Hari-hari Minggu
selalu menghabiskan waktu di rumah.
Betapa bahagianya kita saat ia masih ada. Aku selalu berdoa semoga kebahagiaan ini terus berlanjut sampai maut memisahkan.
Sekarang aku hanya dengan mesya, ya! aku hanya berdua
saja. Sepi. Bi Minah sudah saya suruh
pulang saja. Kami lakukan aktifitas di
rumah sendiri. Jika pas malas masak paling kita beli sayur di jalan, saat jemput Mesya di sekolahnya.
Namun
ternyata semua kenangan kesetiaan mas Tomi jadi amblas! Blass!! .
Kepercayaan jadi hilang!. Rasa jengkel jadi muncul!.Walau beliau sudah meninggal tapi sakitnya hati ini
belum hilang. Ya!! Sakiiittt sekali!.
Ceritanya,
begini: Saat itu ada telpon berdering di rumah, saat aku baru membuka pintu rumah.
“Selamat siang!, Apakah ini rumahnya Bapak Tomi Saputra?!”: Suara lelaki tegas
dari seberang. “ Benar, saya istrinya, Bapak siapa ya?”: tanyaku penasaran.
“Saya Heri Watimena dari Kepolisian, bu”.
Oh!, ya! , ada apa dengan suami saya pak??. Kenapa Suami saya pak??!!”:
tanyaku gugup. Saya ingin memberitahukan
kepada keluarga ibu, bahwa pak Tomi kecelakaan di Tol Jombor, Jogyakarta dan beliau meningal di tempat bersama seorang wanita
beridentitas Merry Susanti dan seorang supir bernama Trimo” . “Mohon ibu sempatkan untuk datang menuju
lokasi!” lanjut pak polisi.
Jantungku
berdegup kencang!. Hatiku terasa panas!. Kepala bagai kejatuhan besi seberat 10
kg. “ Tidak!! Tidak mungkin, Pak !!, Tak mungkin!!. Tangisku pun pecah. Mesya
mendekatiku langsung kepeluknya dengan sangat erat. Suami saya memang pergi dengan
mbak Santi untuk urusan meeting katanya. Selama 3 hari. Ke Medan bukan ke Jogya.
“Maaf
bu , saya hanya memberikan informasi. Jika Ibu tidak percaya silahkan saja ke
Jogya untuk membuktikan. Sekarang Jenasah ketiganya ada di RS Sarjito”:
jelas pak polisi. Aku Telpon balik kepada
polisi: “Trimakasih pak, kami akan segera kesana”.
Hati
saya masih dipenuhi tanda tanya. Apalagi dengan adanya modus penipuan yang saya dengar
lewat medsos. Aku coba telpon mas
Tomi, kutelpon-telpon ulang ternyata
tidak ada jawaban. Aku segera telpon Pak
Deni, teman dekat mas Tomi.
Berulang-ulang kutelpon, mungkin
masih berbicara dengan orang lain. Dengan dada sesak tetap aku
berusaha untuk terus menghubunginya.
Puji Tuhan, akhirnya tersambung.
“ Pak Deni , apa benar mas Tomi kecelakaan?!!”: Seruku setelah dengar suara ‘haloo’ dari seberang.
Mbak
Elly!!, suara terdengar gementar.... “ Saya turut berduka cita mbak ya.
Kami di kantor juga baru dapat kabar dari Jogya. “Memang!, mas
Tomi dinas di jogya???” potongku. “ Dia
pamit padaku meeting di Medan dengan Santi sekretarisnya. Pak Deni terdiam
agak lama dan tak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya Pak Tomi ambil cuti
3 hari, mbak. Ku dengar bu Santi juga ambil cuti 3 hari, katanya ada urusan
keluarga. Maaf mbak.....aku tidak mengerti juga kenapa ternyata mereka berdua
ke Jogya. Akhirnya mereka kecelakaan,
semua meninggal termasuk
supirnya mbak Merry. Seluruh persendianku rontok!. Badan terasa tak
bertulang!. Lemah, letih, pedih, perih di hati, campur aduk jadi satu.
Kutatap wajah lugu anak semata wayangku. Mesya. Kenapa keluarga kita jadi begini. Betapa Tuhan memberi Ujian ini padaku.
Sedikitpun aku tak pernah membayangkan, kebahagian keluargaku berakhit
seperti ini. Selama ini aku mendewa-dewakan mas Tomi akan kesetiaanya.
Ternyata dia jahat. Dia Jahat sekali. Kok, teganya dia mendustai aku!!. Bisanya
dia janjian dengan Santi dan
berselingkuh. Ahh!! Kenapa!! Obat apa yang sudah merasuki mas Tomi! Setan benar
yang sudah merayu mas Tomi, hingga
dia bertekuk lutut di depan wanita lain?
Kuelus
rambut anakku, tak terasa deras air mata
mengalir di pipiku. Jelas kutangkap kemurungan di wajah anakku. Aku bergegas
menyiapkan diri untuk segera ke Jogya.
Kuajak serta anakku. Singkat cerita
akhirnya ketiga jenasah di bawa pulang. Semua kantor yang mengurusnya. Aku hanya
mengikuti komando dari mereka.
Kini, aku resmi jadi singel parent. Pendidikan Mesya sepenuhnya adalah tanggung
jawabku. Keberhasilan Mesya itu tergantung aku. Haruss bisa!. Pasti
bisa!. Dipagi hari nan cerah. Saat
mentari terbit di ufuk Timur. Kubuka
Jendela kamarku. Kulihat burung pipit bernyanyi. Kudengar suara ayam berkokok.
Oh indahnya pagi itu.....
Aku
menuju dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya
untuk aku dan anakku. Sekarang aku
harus lebih pinter-pintar membagi
waktuku. Kebetulan sekolah Mesya sejalan dengan kantorku. Sebagai staf dan gaji tak seberapa aku harus bisa
mencukupkan kehidupanku. Beruntung aku
dan mas Tomi sudah kredit rumah di
pinggiran kota tempat tinggalku, walau sederhana. Hitung-hitung tidak bayar
kontrak.
Jam
06.00 WIB tepat aku dan Mesya sudah siap
pergi. Kami rutin berboncengan
dengan motor. Bekal makan siang
sudah siap. Di saat musin pandemi begini
kami tidak boleh sembarang makan di
kerumunan. Usahakan untuk jangan
dulu ke pasar yang banyak orang.
Mesya
kelas 2 SD, pulang sekolah jam 10.00 tepat biasa ku jemput dia dan kuajak serta
di kantorku. Beruntung ada ruang tempat anak-anak berkumpul dengan anak-anak
teman sekantorku. Seperti biasa pulang
kita bersama dan sampai dirumah kami punya aktivitas masing-masing.
Seperti
biasa sebelum jam pulang aku sudah
menunggu Mesya. Aku tak mau terlambat menjemputnya. Aku ingin dia tidak pernah
kecewa walau papanya sudah tiada. Ku ingin dia
jadi anak yang disiplin,tegar dan mandiri.
Eh!!
Terlihat Mesya sudah muncul dari
pintu kelasnya. Aku melambaikan tanganku.namun, mendadak aku menjadi cemas melihat reaksinya. Ia tak
bersemangat. Padahal aku tidak lambat
menjemputnya. “Kenapa gerangan, anakku ini??”: tanya dalam hatiku. Kulihat
langkah lesunya menghampiriku. Jelas kutangkat kemurungan hatinya. Hemmm... tak senyum sedikitpun untukku. Biasanya
begitu menghampiriku, ia mencium
tanganku. Dia langsung nyelonong dan menarik tanganku. Aku mengikuti saja dan
mengekor dibelakangnya. Sungguh dia berbeda dari biasanya.
Perubahan
hari ini begitu membuatku cemas. Apakah ada teman yang nakal mengganggu dia?. Apakah dia diolok teman?. Apakah dia merindukan ayahnya yang sudah tiada? Yach!!
Pertanyaan banyak ini sangat mengganggu
pikiranku.
Haii,
anak mama yang paling manis. Boleh
mama bertanya padamu, nak?. Kenapa kelihatan sedih anak mama tersayang? “Apa
ada kesalahan yang mama lakukan?”,
tanyaku. Kepalanya menggeleng, tapi air
mata menetes membasahi pipinya. Aku
tahu.... pasti ada yang tak beres hingga
mendukakan hatinya. “Mesya sakit??!: tanyaku semakin cemas.
Diapun menggelengkan kepalanya dengan malas. “ Oh, mama tahu!!, barang kali Mesya bertengkar dengan teman
ya!”, tebakku. Mesya masih menggeleng. “Kenapa dong???, Oh!!,...karena
Mesya tak sekelas lagi dengan Metty,
Linda dan Lucy ya!”, tebakku lagi.
Mesya,
mesya kenapa??, mama jadi ikut sedih deh,
kalau Mesya tidak terus terang sama
mama. Ayo dong?, Mesya cerita?. Semoga
mama bisa membantu. “Ayo sayang,
ceritakan pada mama!”, kataku padanya. “ Mama, akan dengan senang hati mendengarkan curahan hati anak mama yang paling mama sayangi”,
kataku memohon. “Anak mama yang paling
cantik, paling pintar, mama selalu bangga padamu, nak!”, kucoba membujuk agar
dia mau mengatakan unek-uneknya.
Jantung
hatiku itu kulihat sesaat hanya terdiam
dan menatap lurus ke depan. Lama.....
Hingga akhirnya.....
“Begini
ma......”, Putri kesayangnku akhirnya
menoleh ke arahku. “ Mesya sedih karena tidak bisa masuk di kelas unggulan,
kelas 2A” , kata dia berikutnya. “Kelas
2A isinya anak-anak pintar, padahal
nilaiku bagus”, kenapa aku terlempar di kelas 2B?!, Priska, Metty,
Linda, Lucy, Zahra semua di kelas 2A”, protes anakku.
Aku
menghela nafas, bersyukur akhirnya Mesya jujur padaku. Dia mau mengemukankan gejolak perasaan dan kesedihannya.
‘Oh...itu
ya yang jadi masalah!, trimakasih sayang.....
anakku mau cerita ke mama” ,
kucium kening anakku dengan mesra. Terlihat
senyum kecut dipipinya.
“Mesya
sayang, bukan berarti masuk di kelas 2B
itu anak yang bodoh!. Bukan!, sayang. Mesya jangan berkecil hati dong!, kataku
memberi semangat. “Mama selalu bangga
dengan prestasi Mesya, Nilai Mesya
rata-ratanya 8,65, bagus sekali lho.
Mesya hebat!”, pujiku kepadanya.
“Tapi,
kenapa Mesya tidak bisa masuk di kelas 2A?, kenapa ma?, tanya Mesya. Mungkin
ada nilai meysa yang surang ‘sedikit’ saja”, jawabku coba menerangkan. “Nilai Mesya ada di ‘batas’
“, lanjutku kemudian. Maksudnya ternyata batas kelas 2A, nilainya 8, 67,
begitu, jadi.....Mesya nati nilai terbaik
di kelas 2B. ; “Mengerti maksud mama?” kataku. Mesya pun mengangguk-angguk
tanda paham.
Hmmm...begini
Mesya. Mesya sebenarnya tergolong anak
yang pintar di sekolah. Anak yang kreatif, anak yang manis, tekun dan
selalu 10 besar di kelas. Aku menatap lekat
Mesya. “Mesya, jangan berkecil hati duduk di kelas 2B!. Nanti tunjukkankan
bahwa Mesya aslinya adalah anak pintar. Buktikan!!, Meysa belajar lebih rajin,
Mesya kejar untuk dapat Rangking 1 di
kelas B, ya!! Rangking 1. Juara Satu!. Mungkin kalau Mesya masih bersama-sama dengan teman-teman
lama, tak mungkinlah Mesya bisa
rangking1.
“Oh,
begitu ya ma”, bening mata Mesya menatapku. “Iyalah”, tegasku lagi. Kamu
tahu.....justru sekarang ini saatnya
kamu menunjukkan jati dirimu. “saya bisa!!, saya semangat!!, kuacungkan
2 jempolku kepadanya.
Perlahan bibir Mesya merekah, senyumnya kembali muncul. Hal ini yang membuat hatiku teramat sangat gembira. Syukur
Tuhan, akhirnya pergumulanku ini
terjawab sudah.
‘Wah,
iya ya!, mama benar sekali! Aku akan lebih
rajin belajar!!, semangaaattt!!, bola
mata anakku pun berbinar-binar.
“Jadi
janganlah sedih dan kesal lagi ya sayang?! Kalau Mesya tambah tekun, tambah
rajin Mesya bisa Juata pertama, Juara kelas!! Hebatt!!, mama tambah bangga
dengan anak mama. Kukecup pipinya berulang-ulang tanda kami sudah menemukan
solusi.
“Ya
deh,ma!! Siiaappp, mesya akan
buktikan!!, Mesya rangking satu di kelas baru 2B”, katanya dengan penuh semangat. “Begitu!!, kutunjukkan 2
jempol tanganku lagi padanya.
“
Yeesss!! Yess!” kerlip bola mata Mesya
begitu berbinar-binar bagai bintang kejora. ‘mama hebat, mama tahu yang Mesya
pikirkan!, terimakasih mama!!, kata
mesya sambil mencium ke dua pipiku. “ trimakasih juga Sayang”, jawabku penuh semangat dan suka cita yang tak terkira.
Aku
menghela nafasku. Hatiku benar-benar lega. Hati benar-benar terasa ‘plong’. Satu maslah terselesaikan. Aku percaya, setiap masalah
pasti bisa diselesaikan. Jangan ada
masalah yang ditunda-tunda
penyelesaiannya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku bahagia hidup
bersama putri tunggalku. Selalu optimis.
Sungguh!!
Aku mengakui, jadi ibu sekaligus ayah
tidaklah mudah. Tapi kau akan berusha. Aku akan berjuang untuk masa depan anakku semata wayang. Sepanjang kita berjalan
berma Tuhan, semua akan baik-baik saja.
Aku selalu megandalkan Tuhan
dalam kehidupan. Itulah kebahagiaann hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar