Oleh : Ledwina Eti
Wuryani
Sudah lama aku tak pulang. Seperti biasa setiap lebaran, tetanggaku dan teman-teman kantorku
selalu pulang. Wajib hukumnya, Lebaran pulang. Aku sendiri yang jarang
pulang. Teman-teman seangkatanku semua sudah berkeluarga. Kadang aku kesal!,
karena setiap pulang pasti mereka tanya,” kapan
undangannya”, ‘sebel!’ Kesel, aku dibuatnya.
Sedih juga sih, tapi mau bagaimana. Tuhan belum memberikan jodoh padaku.
Pernah teman omong kepadaku, aku belum
juga dapat jodoh karena ada yang
menutup ‘Aura’ ku. Entah apa itu
artinya.
Menurutku, ya...saya hanya belum menemukan orang yang cocok aja. Aku
susah sekali jatuh cinta. Aku tak tahu
kenapa. Kadang aku berfikir, hewan saja bisa berjodoh masa orang tidak!. Ah!!
Kalau pikir itu aku jadi pusing!. Rejeki,
Jodoh dan mati Tuhan sudah atur. Yach!!,
aku menungu kapan saatnya itu datang. Berfikir saja yang positif.
Beberapa kali sih aku sempat dekat dengan laki-laki. Tapi. Jujur nih!. Mereka rata-rata hanya mau ‘dapat’. Susah memberi!. Hampir
semua laki-laki yang deket denganku
susah berkorban. Kalau memang mereka cinta betul padaku, berkorban sedikitlah
buatku. Tapi ini tidak!! Kadang
kalau pas jajan, atau makan di kafe atau di rumah
makan, aku menunggu dia yang mengeluarkan uang, eh!! kutunggu-tunggu, ‘nihil’.
Sekali-sekali boleh dong, tapi kalau
keseringan!. Mana aku tahan. Masih pendekatan saja sudah terlihat dia pelit, apalagi nanti.
Susah!, Susah sekali ya cari
pasangan yang setia, rela berbagi, iklas memberi dan mau berkorban. Akhirnya aku pribadi jadi menyimpulkan, ini menurutku
pribadi saja. Mereka pasti tidak
benar-benar mencintai aku . Mereka hanya mau dengan uangku. Bosan deh!!.
Hidup sendiri lebih menikmati. Cuman...kadang males orang-orang disekitarku selalu tanya. Kapan!,
kapan hayo !!, Kenalin dong!! kutunggu
undangan nikahmu ya!!... Ihh!! Itu lho yang bikih aku tak nyaman.
Tapi bagaimanapun aku harus
pulang. Aku harus komitmen!. Ibu di
rumah sudah ‘sepuh’. Aku sebagai anak pertama. Adikku tiga. Aku harus punya tanggung jawab untuk orang
tuaku. Apalagi bapak sudah sekitar 11 tahun yang lalu meninggal, saat
aku kelas 3 SMA.
Adikku, ketiganya sudah menikah. Adik laki-laki bungsu tinggal di rumah bersama ibuk. Yach !! itung-itung
ibu memang ada yang tanggung jawab. Aku
rutin tiap bulan kirim SPP buat
ibu, sekedar untuk tambahan beli sayur. Bapakku dulu guru, PNS dan sekarang
ibuk masih terima pensiun dari bapak.
Ibuk tahu kesibukanku di Jakarta.
Pernah ibu tinggal bersamaku di rumah
sederhana yang sempat kubeli. Setiap hari aku start jam 05.00 dari
rumah nanti jan 21.00 baru pulang.
Adalah pekerjaanku yang sangat menyita
waktu. Aku kerja di bagian anggaran,
kalau ada yang selisih keuangan ,
pusing!! Kita cari dulu sampai ‘klop’ aku baru bisa tenang dan nyaman. Kalau Masih ada masalah, biar kecil aku
selalu kepikiran dan sampai di rumah bikin hati tidak tenang. Bahkan
mungkin, sampai pagi tak bisa tidur.
Biarlah orang-orang nanti tanya tentang kapan nikah, dan lain- lain. Cuekk!!.
Yah itu resiko!. Rasa kesepian
kadang ada juga sih...tapi dengan
kesibukanku di kantor, akhirnya
‘terlupakan.
Dari rumah aku menuju Stasiun
gambir. Tiket sudah kubeli 3 hari yang lalu
kursi No. 19. Sampai di stasion
ternyata Kereta pun sudah kelihatan. Untung aku tidak lambat. Aku
langsung masuk, kucari no 19 dan aku
langsung duduk. Kutaruh koperku di rak atas.
Tempat duduk ini kosong mbak?? tanya seorang lelaki dengan ramah. Iya!!
Silahkan!,. jawabku tak menoleh. Aku
langsung memposisikan duduk di dekat
jendela. Aku biasa mabuk kalau duduk di tengah.
Kubuka tas kecilku, kukeluarkan hpku. Kucari WA dari Grup SMPku Dulu. Aku paling senang baca
WAG SMP karena teman-teman ku tuh
kocak-kocak. Benar-bener hiburan buat
aku. Apa lagi si Budi Santosa, hehe..dia
paling pinter mbanyol, belum
kata-katanyanya agak liar dan nakal! Sedikit kadang campur parno. Entah dari mana saja mereka dapat sumbernya.
Setelah sibuk atur barang-barangnya yang banyak, Laki-laki
itu akhirnya duduk di sebelahku. Kulirik dia kelihatan dia orangnya
sopan sekali. Aku pura-pura
tak perhatian. Ahh!! Persetan dengan
dia. Aku semakin asyik baca-baca postingan dari teman-temanku . Beberapa Grup teman
lama, ada yang dari SMP, SMA,
Asrama, Kampusku....Itu...membuat aku jadi geli sendiri. Aku
jarang buka WA atau Fb kalau
pas kerja di kantor. Kalau sudah pegang
ini barang, semua kerjaan
jadi berantakan. Yang jelas tak
mungkinlah. Kecuali saat istirahat makan
siang. .
“Sudah sampe mana ya mbak sekarang ?”, tanya lelaki sebelahku. Aku
masih sibuk dengan HPku . Mataku menerawang di jendela kereta api. Lihat-lihat Spanduk-spanduk diluar, jangan sampai ada
tulisan nama kota. “Ndak tahu mas!!..saya
kuang hafal dengan kota-kota yang dilewati”, jawabku sambil nyegir
karena aku merasa terganggu. Karena
aku sendiri memang tak pernah
tahu. Pasti laki-laki itu sebenarnya
sudah tahu, cuma mau basa-basi saja.
“Mbak mau kue?”, tawar lelaki itu
sambil menyodorkan kue yang dipegangnya. “ah, tidak, trimakasih”,
jawabku. Kuperhatikan lelaki itu lapar, sepertinya belum sarapan, dengan lahapnya ia makan. Diambilnya
lagi minuman dari tasnya, “ Mbak, mau
minun?”, tawaran kedua lagi kepadaku. “tidak, terimakasih!.” Jawabku
tanpa menoleh. “Setengah kesal karena aku merasa terganggu .
‘’ Turun di mana
mbak ? Semarang atau Jogya? Suara lelaki
itu kurang kudengar karena
suara gerbong kereta yang keras.
Jogya !! , jawabku singkat.
‘’oh kita sama!! . “kenalkan! , saya Haris”
ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
‘’Esti “ kataku
pendek sambil kuulurkan tanganku untuk salaman .
‘’ Dulu saya pernah
punya teman namanya Esti, rumahnya Minomartani.
Anaknya pak Hadi Pranoto .’’ ujarnya
nyerocos.
Heh?!! Aku menoleh kaget. Ayahku memang bernama Hadi Pranoto . Rumahku
Minomartani . Atau? ,ada Esti lain yang ciri-ciri mirip aku ,di kotaku??!. Aku bergumam dalam hati. Segara saja mataku menatap
pria itu dengan tajam .
‘’
Ya, saya Esti anak Pak Hadi Pranoto! Dan rumahku Minomartani!. Anda siapa??! Ucapku.
Berharap ia seorang yang pernah aku kenal, tapi pikiranku blank. Aku
tidak punya teman seperti pria yang kira-kira usianya 50-an yang duduk di kursi sampingku
ini.
‘’ Oalah
dik!!, sudah kuduga ini. Aku
Haris guru menari yang rumah di Njayan Lor.’’
‘’ Haris??. siapa oh, mas Haris!!!,
Njayan Lor !! , “no waaay!” ucapku ,spontan.
Mas Haris
ini dulu adalah guruku menari. Dia
memang pinter menari karena mereka
sekeluarga adalah orang seni.
Bapak dan ibunya serta adik-adiknya pintar menari. Mereka hidup dari “seni”. Rumahnya dipakai untuk tempat latihan menari
Tradisionil. Mereka biasa menyewakan pakaian menari. Pakaian tari itu dia
desain sendiri. Motif-motif dan pernik-perniknya dia jahit sendiri. Bapak, ibu, anak semuanya
trampil buat kostum nari jawa.
Pak Kayat nama bapaknya. Orang seni
biasa hidupnya sederhana. Mas Haris tidak kuliah. Lulusan SMA saja. Selain mengajar di rumahnya sendiri dia mengajar tari di beberapa desa termasuk di desa saya. Kami dan
beberapa teman di kampung yang se-umur-an
dengan saya ‘wajib’ hukumnya ikut menari. Bayarannya murah sekali, setiap
pertemuan Rp 1000,- an waktu itu.
Dulu!!, saya biasa di suruh
menari kalau pas ada syukuran. Ada
pernikahan. Sering juga kalau ada
peresmian gedung, ada tamu dari
luar kami di suruh menari. Betapa
senangnya kalau kita menari. Misal, ada
yang nikah laki-laki dari kampung kami dan istrinya atau pasangannya dari kota, kita pasti diajak
untuk ‘tugas’ menari. Bahkan pernah
menari di Magelang, di Pekalongan, di kendal dan beberapa kota besar
yang lain. Pernah juga waktu mbak Yur
nikah kami menari di jakarta!, Asyik!!. Pesiar gratis!!. Selain ditangggung transpotnya
masih juga dikasih amplop.
Betapa bahagianya waktu itu.
Jadi masing-masing harus ‘menguasai’
tarian. Nanti orang pesen jenis tarian
apa, nach!, kita diseleksi yang paling bagus ya yang terpilih. Itu adalah
bagianku! Aku harus rajin. Aku suka cari muka sama mas Haris. Diam-diam aku
mati-matian belajar dirumah, sampai hafal dan berusaha untuk yang ‘ terbaik’ supaya
terpilih. Haha...itu ‘trik’ ku.
Ada beberapa tarian aku tahu:
gambyong, Sri Rejeki, Minak Jinggo Dayun, Layang seto layang kumitir dan
masih beberapa tarian lagi. Pokoknya
kalau sudah ada yang mau ‘nanggap’
tari. Kita semua berlomba belajar ‘serius’!!....Aku paling di sayang
sama mas Haris. Tapi mas
Haris menganggapku ‘hanya’ sebagai adik, tidak lebih. Padahal
aku ‘suka’ sama dia, maka aku selalu
berusaha untuk tampil yang ‘terbaik’.
Mungkin waktu itu yang namanya ‘cinta
monyet’. Aku cinta, tapi kan aku masih
kecil dan ingusan. Kelas 6 SD waktu itu
Kita selalu menunggu saatnya Hari Raya Keagamaan,
misal muludan, lebaran atau Natalan
bersama. Untuk kita bisa tampil menari. Menari kan pasti saat pesta, selain kita dapat uang
kita pasti makan enak. Orang kampung
kan makan daging hanya saat ada
pesta dan hari raya saja. Hari-hari
biasa hanya makan sayur plus tempe tahu.
Ya... paling ikan kering. Hehe.... Sampai sekarang makanan favorit ya Tahu dan tempe bacem.
Hidup kami dulu rukun antar umat beragama. Bahkan sampai sekarang. Saya biasa
puasa ikut mereka, latihan mengaji,
orang tuaku tidak pernah melarangku, walaupun agamaku katholik. Nenekku
selalu memotivasi kami para cucu. Siapa yang puasa tidak pernah putus dalam sebulan penuh dapat
hadiah 2 baju dan 2 sepatu. !. Ya dapat
2. Nahh! Itu aku dan mbak Atik yang ‘langganan’ dapat 2. Saat tarawih kita bekerja sama buat kue untuk di bawa ke
Mesjid. Kami juga dapat jadwal
untuk tanggung ‘kue’ di
Mesjid untuk tarawih.
Sepatu hadiah dari nenek, Saat itu namanya sepatu jenggel. Pokoknya aduhai kalau dipakai. Kalau lebaran
dengan sepatu jengggelnya, jalan kaki 2 km untuk silaturahmi ke Pakde-bude
( pangggilan dari kakaknya ibu : Red) tak pernah merasa capek. Saya selalu
rajin gara-gara saya selalu dipuji sama nenekku. Ya...beban perasaan deh buat
aku. Aku malu kalau tidak bisa
membuktikan!.
Tapi asyik!. Aku suka. Kita
semua para cucu banyak. Biasa saling ganggu, saling berolok-olok. Kita juga biasa main ‘bentik, gobak Sodor,
lompat karet, kasti, peta umpet, main bekel....dan masih banyak mainan waktu
itu. Rumah kami saling berdekatan. Dulu !!,,,
kata nenekku, nenek dari nenekku itu
orang kaya pedagang
tembakau, jadi kampung
itu nenek punya semua. Bahkan
gunung disampaing kampung juga milik nenekku.
Kampung itu samanya Gejayan.. Artinya
jaya. Mas Haris cukup kenal baik
dengan keluargaku. Mungkin, mas Haris
punya pandangan ‘berbeda’ dengan kami.
Depan rumahku mesjid besar, nenekku beragama muslim. Bude, pakde juga
semua muslim. Satu kampung hanya 4 KK
yang beragama katholik dan kami
semua .sekeluarga besar’. Karena kawin
mengawin yang berbeda keyakinan akhirnya saling menyesuaikan. Tapi kami hidup rukun
dan damai. Kalau hari Natal mereka
mengunjugi kami. Hari raya makan harus 7
kali diluar rumah.
Nach itu kita yakini sampai
sekarang saat Hari raya. Semua rumah pasti menyediakan makan. Jadi
setiap tamu harus makan. Ada juga
yang ekonominya ‘lebih’ kita masih
diberi ‘salam tempel’ ( uang saku: Red) . Apalagi di rumah Bude Diyat, pasti
dapat ‘uang’ baru. Begitu senang. Jadi,
langganan di rumah bude itu pasti,
kunjungan paling ‘awal’. Jika Natalan tiba!!.
Gantian!. Mereka semua berkunjung ke rumah kami.
Kembali ke Mas Haris. Dia orangnya
baik, ganteng ramah lagi. Mas Haris pinter
ndongeng. Tahu to...Kami
anak-anak SD, masih ingusan waktu itu.
Selesai latihan menari kita minta
di dongengi sama mas haris. Dia mengajarkan
pada kami untuk berendah hati dan mengagumi keagungan Tuhan lewat donggeng-
dongengannya itu.
Ah!!,mas Haris adalah pendongeng yang jago. Iya berhasil
mengambil hati aku dan teman temanku ,anak anak kampung. Untuk selalu kelanggar. Bahkan ke gereja di
hari Minggu. Untuk mendengar dongeng -dongeng . Yang aku ingat, iya pernah mendongeng tentang “Kancil nyolong Timun”, “Joko Tingkir”,
“Ken Arok”, “Damar wulan”. Pernah juga , iya mendongeng tentang lakon wayang “Barata Yuda”,
‘Ramayana”. Ada juga dongengnya tentang kisah cinta “Ratna dan Galih”
, yang waktu itu sedang ngetok di bioskup dimainkan oleh Rano Karno.
‘Di Dalam
Kereta kami hening sejenak. “Kira’in
sudah jadi orang kosmopolitan ,terus lupa padaku”. “Berapa lama kita ngak
ketemu ya? Duapuluh ,30 atau 40 tahun ? lama sekali ya?’’
‘’ Wah! , berabad abad, mas. Namun maaf
ya! . bukanya saya lupa atau pangling sama mas Haris, sekarang tambah putih, tambah ganteng ‘’,godaku.
Begitu senang aku menemukan teman dari masa kecilku.
‘’ Njenengan ( anda ) tinggal di Jakarta ,
mas ? sejak kapan!
‘’ Aku punya kios di Mangga Dua, jadi hanya
bolak balik saja, biasanya sih bawa mobil sendiri. Istri dan anak-anak tidak mau ikut ya lebih baik aku naik kereta. Istri yang
jaga kios. Saya sudah lima belas
tahun tinggal di jakarta.
‘’ Kabarmu gimana , dik? Kabarnya sudah jadi wanita karier di kantor
ya... di gedung tinggi di sudirman? sudah
ku duga dari dulu, kamu akan jadi orang hebat . ‘’ . Dari keluarga berada, pinter dan sekolah tinggi pula. Jujur!, ‘dulu”
aku minder dengan dik Esti lho..
‘’ah saya cuman
karyawan biasa, mas. Panjenengan yang
hebat, sekarang jadi saudagar batik yang sukses!,’’
Seingatku ,mas
Haris adalah orang yang tak pernah punya ambisi pada harta dan kekayaan . Iya!!
Dulu dia tidak kuliah, walaupun sebenarnya orang tuanya sebenarnya bisa membiayai. Aku tak sedikitpun menyangka , dulu
hidupnya begitu sederhana tapi sekarang ternyata jadi pengusaha .
Tentu tidak salah! , tapi diam-diam aku
penasaran apa yang membuatanya bisa
berubah .
‘’ aku sudah lama ‘tidak’ ke Minomartani dik! , katanya.
“Gimana kabar teman temanmu dulu itu ? si Agus , Bambang, Fitri ,Liani , Ririn, Wiwin,
Atik, Mardani , siapa lagi tamanmu yang badannya gede itu, Sindu ? ‘’ masih berhubungan sama mereka ? ‘’
tanyanya , hafal satu per satu nama murid – muridnya dulu .
‘’ cuman ketemu Agus saja , mas. Sama yang lain ngak pernah . Oh!!
, paling Wiwin , suka Koment di facebook . Sekilas saja.! Tapi, juga belum
pernah ketemu . ‘’
Yang di sebut mas Haris adalah teman- teman kecilku. Kami adalah anak anak penari cilik. Rata-rata
orang tua kami petani, ada warung, buruh
tani , dan Bapkku sendiri adalah pegawai
negeri dan guru SPG Panguli luhur. Kami
tumbuh bersama, bermain ,belajar mengaji , mandi di kali.
Namun
, sejak kita mulai SMP sudah sekolah terpencar-pencar. Aku
sendiri SMP di kota. Teman yang lain di SMP yang berbeda-beda. Ada juga beberapa teman yang tidak lanjut sekolah. Di SMA sampai kuliah aku asrama. sejak itu ,
kami semua jadi tercerai berai .
Aku lalu bercerita panjang lebar pad mas
Haris tentang kabar teman temanku yang hanya kudengar selintas dari ibuku ,
ataupun dari tetangga yang dulu .
‘’ Joko sekarang mengajar di SD Muhammadiyah.
Sudah punya anak satu sekarang . Atik jadi ibu rumah tangga, ikut suaminya di Jakarta
. Ririn, kata ibuku, sudah menikah dengan anak pemilik pondok
pasentren di solo . sudah jadi bu Haji lho dia. Kalau Wiwin, dia masih tinggal
di kampung sepertinya dia sibuk dengan keluarga , anaknya sudah dua ‘’ ujar
nyerocos.
Tiba tiba saja , aku menyadari , aku sudah
terlalu lama tidak bertemu dan berkomunikasih dengan teman teman kecilku itu .
Mereka pernah menjadi keluargaku. Keluarga yang aku pilih. Sigigih apapun
usahaku untuk mencari teman teman baru,. Sebanyak apa pun friend di facebookku,
tak ada yang bisa mengantikan mereka. Adakah mereka juga merindukanku? Masa
kecilku terbuat dari kesetianan mereka.
Ilmuku terbangun dari kegigihan mereka menyeruku untuk rajin belajar, ketika aku lebih senang
menonton serial teve di rumah. Kebahagiaanku adalah campuran dari remah-remah
keriangan dan kepelosan kami dulu. Aku rindu , ‘memanggil ‘ kembali mereka ke dalam hidupku. Mereka
telah banyak berjasa untuk aku. Belajar bersama. Berlatih menari bersama.
Bermain bersama. Dapat uang hasil menari bersama-sama. Betapa bahagianya aku
waktu itu. Suka cita , ceria tak ada
habisnya.
‘’ Mas,
bagaimana kabar temanmu , mas Yudi, mbak Windi , dan mbak Titik ? ‘’
tanyaku , tentang teman temannya , yang sering iya ajak untuk mengajar kami
dulu. Saat mengajar menari biasa mas Haris biasa ajak teman-teman sebayanya.
‘’Yudi jadi PNS di Sukabumi. Katanya dia
pernah ketemu kamu di jombor. Si Windi
jadi aktivis LSM. Mbak Titik , jadi istri
saya. Kamu ngak datang sih di acara perkawinanku dulu ,’’ kata mas Haris
, lalu mengeluarkan ponselnya , dan memperlihatkan foto tiga anaknya yang di HP
miliknya
Kenyataan bahwa dia menikahi mbak Titik??,
batinku. Aku terkejut. Setahuku, mbak Titik, kaka jauh umurnya dibanding mas
Haris. Aneh!! Kalau tidak salah usianya sepuluh tahun lebih tua dari pada mas Haris. Menurutku, mereka bukan pasangan
serasi. Kubayangkan. Padahal banyak lho
wanita-wanita cantik teman-teman mas
Haris, Eh!! Kok jadi mbak Titik yang
jadi Istrinya. Yach!, mungkin itulah ‘jodoh’. Banyak wanita cantik yang naksir mas Haris, termasuk
saya, hehe... Mas Haris sudah ganteng ,
pintar menari, cakap agama lagi . Waktu itu dia adalah idola.
‘’ Semua teman mas sudah pada berkeluarga.
Kamu sendiri bagaimana? Berapa anakmu sekarang ? Lagi-lagi mas Haris
mengejutkan dari lamunanku. Aku kaget!!,
ya mas, bagaimana? Tanyaku. “teman-teman mas semua sudah berkeluarga!,
bagaimana dengan dik Esti sekarang? ‘’
belum, mas. Belum ketemu yang seperti njenengan (Kamu:Red) , sih ! ‘’ godaku .
‘’ Itu karena kamu terlalu pemilih , dik! .
Coba , deh kamu mau membuka hatimu, pasti
kamu tidak perlu mencari. Dia
sebenarnya ada di dekatmu,’’ katanya , bergaya peramal .
‘’ Mas sendiri , bagaimana ceritanya jadi
pengusaha ? Aku pikir, orang seperti mas Haris menolak untuk kaya. Dulu,mas
pernah bilang, harta adalah cobaan . Aku kagum sama Haris, percaya sepenuhnya rejeki
di tangan Tuhan. Ya, bener memang rejeki di tangan Tuha., tapai kalau kita hanya duduk-0duduk saja, rejeki jatuh dari
langit? Katanya menjelaskan. . . Tidak
seperti aku ,setiap tahun naik gaji ,berapapun gajiku , rasanya , kok , kurang
terus ya?’’
‘’ masa rejeki di tolak , dik ? ‘’
‘’ Dulu mas Haris bekerja serabutan , tapi
hidup senang . Sekarang harus perhitungan, dong, namanya saja pengusaha !”
ujarku , iseng .
Dia lalu diam sesaat , menarik nafas
panjang .
‘’ justru itu!! , dulu aku orang yang tidak
bertangung jawab pada hidupku sendiri , aku pikir ,jika aku sudah merasa cukup,
kenapa harus mencari lebih ? Dengan sedikit saja aku bahagia, kok. Ceritaku
jadi pengusaha itu awalnya karena ibuku sakit-sakitan. Sudah saya bawa kemana-mana untuk berobat tai tak
kunjung sembuh. Bapak sudah duluan meninggal.
Akhirnya pamanku yang tinggal di
Jakarta memberikan uang kepasaku untuk
berobat. Tapi bu belum juga sembuh. Aku waktu itu jadi putus asa. Stress!!.
Sedih. Semua harta milik kami yang bisa
terjual kami jual. Selain untuk makan untuk
pengobatan ibuku.
Paman sangat prihatin dengan kehidupan kami.
Akhirnya paman mengajak serta ibuku ke
Jakarta. Akulah yang menjaganya. Sambil ibuku berobat rutin di jakarta , aku
membantu menjaga toko pakaiannya. Aku bantu-bantu membesarkan
bisnis pamanku itu. Kami dan ibu bisa
sekitar 2 tahun. Alhamdulilah akhirnya ibu sembuh. Berkat tugas saya jaga toko
dan kadang mengambil alih tugas paman belanja barang. Akhirnya Segala aktivitas
mtoko saya tahu.
Dengn begitu akhirnya saya
disuruh bertanggung jawab untuk toko paman yang di Tanah abang, Paman mempunyai
beberapa toko pakaian. Dari situ akhirnya saya bisa membuka toko sendiri yang awalnya modal dibantu oleh
paman. Ternyata mbak Titik itu sepupu
dari istrinya pamanku. Ya, jadilah
kami menikah. Rejeki memang tidak
pernah salah alamat. Tuhan yang
menunjukkan jalannya padaku.
Aku bertekad untuk menjadi orang seperti pamanku, rela
berbagi dan iklas memberi. Sepanjang kita
selalu memberikan dengan iklas
Tuhan akan selalu melipatgandakan berkat
itu buat kita. Akhirnya hidup kami terselamatkan, adik-adikku sudah selesai kuliah juga dan
mereka semua sudah kerja
dan sudah menemukan pasangannya
masing-masing.
Tak terasa , kereta sudah sampai
di stasion kotaku. Hari sudah sore. Adikku
bersama keluarganya sudah menjemputku.
Mereka melambaikan tangan dari kejauhan.
Syukur Tuhan sudah sampai. “Dik,
kalau liburmu masih panjang kita ketemu
di warung mbak Siti ya. Kita ngobrol lagi”, ajak mas Haris. Dan sekejab
kemudian ia sudah berlalu. Aku
segera turun dari kereta, menuju ke tempat adikku berada. Aku sudah
rindu untuk mendengar cerita mereka.
Rapelan cerita berbagai hal yang
sudah lama terpendan di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar