Rabu, 30 Desember 2020

Sahabat kecilku

 




Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Sudah lama aku tak pulang. Seperti biasa   setiap lebaran,  tetanggaku dan teman-teman  kantorku  selalu pulang. Wajib hukumnya, Lebaran pulang. Aku sendiri yang jarang pulang. Teman-teman seangkatanku semua sudah berkeluarga. Kadang aku kesal!, karena  setiap  pulang pasti mereka tanya,” kapan undangannya”, ‘sebel!’ Kesel, aku dibuatnya.  Sedih juga sih, tapi mau bagaimana. Tuhan belum memberikan jodoh padaku. Pernah teman omong kepadaku, aku  belum juga dapat jodoh karena  ada yang menutup  ‘Aura’ ku. Entah apa itu artinya.

Menurutku, ya...saya hanya belum menemukan orang yang cocok aja. Aku susah  sekali jatuh cinta. Aku tak tahu kenapa.  Kadang aku berfikir, hewan saja  bisa berjodoh masa orang tidak!. Ah!! Kalau  pikir itu aku jadi pusing!. Rejeki, Jodoh dan mati Tuhan sudah atur.  Yach!!, aku menungu kapan saatnya itu datang. Berfikir saja yang positif.

Beberapa kali sih aku sempat dekat dengan laki-laki. Tapi. Jujur nih!.  Mereka rata-rata  hanya mau ‘dapat’. Susah memberi!. Hampir semua  laki-laki yang deket denganku susah berkorban. Kalau memang mereka cinta betul padaku, berkorban sedikitlah buatku. Tapi ini tidak!!  Kadang kalau  pas  jajan, atau makan di kafe atau di rumah makan, aku menunggu dia yang mengeluarkan uang, eh!! kutunggu-tunggu, ‘nihil’. Sekali-sekali boleh dong, tapi  kalau keseringan!. Mana aku tahan. Masih pendekatan saja sudah  terlihat dia pelit, apalagi nanti.

Susah!, Susah sekali ya  cari pasangan  yang  setia, rela berbagi,  iklas memberi dan mau berkorban. Akhirnya  aku pribadi jadi menyimpulkan, ini menurutku pribadi saja.   Mereka pasti tidak benar-benar mencintai aku . Mereka hanya mau dengan uangku. Bosan deh!!.

Hidup sendiri lebih menikmati. Cuman...kadang males  orang-orang disekitarku selalu tanya. Kapan!, kapan  hayo !!, Kenalin dong!!  kutunggu  undangan nikahmu ya!!... Ihh!! Itu lho yang bikih aku  tak nyaman.

Tapi  bagaimanapun aku harus pulang. Aku harus komitmen!.   Ibu di rumah sudah ‘sepuh’. Aku sebagai anak pertama. Adikku tiga.  Aku harus punya tanggung jawab untuk orang tuaku. Apalagi bapak  sudah  sekitar 11 tahun yang lalu meninggal, saat aku  kelas 3 SMA.

 Adikku, ketiganya  sudah menikah. Adik laki-laki bungsu  tinggal di rumah bersama ibuk. Yach !!  itung-itung  ibu memang ada yang tanggung jawab. Aku  rutin tiap bulan  kirim SPP buat ibu, sekedar untuk tambahan beli sayur. Bapakku dulu guru, PNS dan sekarang ibuk masih terima pensiun dari  bapak.

Ibuk  tahu kesibukanku di Jakarta. Pernah ibu tinggal bersamaku di  rumah sederhana yang sempat kubeli. Setiap hari aku  start jam 05.00   dari rumah  nanti jan 21.00 baru pulang. Adalah  pekerjaanku yang sangat menyita waktu. Aku  kerja di bagian anggaran, kalau ada yang selisih  keuangan , pusing!! Kita  cari dulu sampai  ‘klop’ aku baru bisa  tenang dan nyaman. Kalau Masih  ada masalah, biar  kecil aku  selalu kepikiran dan sampai di rumah bikin hati tidak tenang. Bahkan mungkin, sampai pagi tak bisa tidur.

Biarlah orang-orang nanti  tanya  tentang kapan nikah, dan lain- lain. Cuekk!!. Yah itu resiko!.  Rasa kesepian kadang  ada juga sih...tapi  dengan  kesibukanku di kantor,  akhirnya ‘terlupakan.

Dari  rumah aku menuju Stasiun gambir. Tiket sudah kubeli 3 hari yang lalu  kursi  No. 19. Sampai di stasion ternyata  Kereta pun sudah  kelihatan. Untung aku tidak lambat. Aku langsung masuk, kucari no 19 dan  aku langsung duduk. Kutaruh  koperku di  rak atas.

Tempat  duduk ini kosong mbak??  tanya seorang lelaki dengan ramah. Iya!! Silahkan!,. jawabku  tak menoleh. Aku langsung  memposisikan duduk di dekat jendela. Aku biasa mabuk kalau duduk di tengah.  Kubuka  tas kecilku,  kukeluarkan hpku. Kucari WA  dari Grup SMPku Dulu. Aku paling senang  baca  WAG SMP karena  teman-teman ku tuh kocak-kocak.  Benar-bener hiburan buat aku. Apa lagi si  Budi Santosa, hehe..dia paling pinter  mbanyol, belum kata-katanyanya  agak  liar dan nakal!  Sedikit kadang  campur parno. Entah dari  mana saja mereka  dapat sumbernya.

                Setelah  sibuk atur barang-barangnya yang banyak, Laki-laki itu  akhirnya duduk di sebelahku.  Kulirik dia kelihatan  dia orangnya  sopan sekali.  Aku pura-pura tak  perhatian. Ahh!! Persetan dengan dia. Aku  semakin asyik  baca-baca postingan dari  teman-temanku . Beberapa Grup  teman  lama, ada yang  dari SMP, SMA, Asrama,  Kampusku....Itu...membuat  aku jadi geli sendiri.  Aku  jarang buka WA atau Fb  kalau pas  kerja di kantor. Kalau sudah  pegang  ini barang,  semua kerjaan jadi  berantakan. Yang jelas tak mungkinlah.  Kecuali saat istirahat makan siang.                 .

“Sudah sampe mana ya mbak sekarang ?”, tanya lelaki sebelahku.   Aku masih sibuk dengan HPku . Mataku menerawang di jendela kereta api. Lihat-lihat   Spanduk-spanduk diluar, jangan sampai ada tulisan nama kota. “Ndak  tahu mas!!..saya kuang  hafal  dengan kota-kota yang dilewati”, jawabku  sambil nyegir  karena aku merasa terganggu.  Karena  aku sendiri  memang tak pernah tahu. Pasti laki-laki itu  sebenarnya sudah  tahu, cuma mau basa-basi saja.

“Mbak mau kue?”,  tawar  lelaki itu  sambil menyodorkan kue yang dipegangnya. “ah, tidak, trimakasih”, jawabku. Kuperhatikan lelaki itu lapar, sepertinya  belum sarapan, dengan lahapnya ia makan. Diambilnya lagi minuman dari tasnya, “ Mbak, mau  minun?”,  tawaran kedua  lagi kepadaku. “tidak, terimakasih!.” Jawabku tanpa menoleh. “Setengah kesal karena aku  merasa terganggu .

‘’ Turun di mana  mbak ?  Semarang  atau Jogya? Suara  lelaki  itu  kurang kudengar  karena  suara  gerbong kereta yang keras. Jogya !! , jawabku singkat.

 ‘’oh kita sama!! . “kenalkan! , saya Haris” ujarnya  sambil  mengulurkan tangannya.

‘’Esti “ kataku pendek sambil kuulurkan tanganku untuk salaman .

‘’ Dulu saya pernah punya teman namanya Esti, rumahnya  Minomartani.  Anaknya  pak Hadi Pranoto .’’ ujarnya nyerocos.

Heh?!!  Aku menoleh kaget.  Ayahku memang bernama Hadi Pranoto . Rumahku Minomartani . Atau? ,ada Esti lain yang ciri-ciri mirip aku ,di kotaku??!.  Aku bergumam dalam hati. Segara saja  mataku menatap  pria itu  dengan tajam .

    ‘’ Ya, saya  Esti  anak Pak Hadi Pranoto!  Dan rumahku Minomartani!. Anda siapa??!  Ucapku.  Berharap ia seorang yang pernah aku kenal, tapi pikiranku blank. Aku tidak punya teman seperti pria yang kira-kira  usianya 50-an yang duduk di kursi sampingku ini.

     ‘’ Oalah  dik!!, sudah kuduga  ini.  Aku  Haris  guru menari yang rumah  di Njayan Lor.’’

      ‘’ Haris??. siapa oh, mas Haris!!!, Njayan Lor !! , “no waaay!” ucapku ,spontan.

      Mas Haris  ini dulu adalah guruku menari.  Dia memang pinter menari  karena mereka sekeluarga  adalah  orang seni.  Bapak dan ibunya serta adik-adiknya pintar menari. Mereka  hidup dari “seni”.  Rumahnya dipakai untuk tempat latihan menari Tradisionil. Mereka biasa menyewakan pakaian menari. Pakaian tari itu  dia  desain sendiri. Motif-motif dan pernik-perniknya dia  jahit sendiri. Bapak, ibu, anak semuanya trampil buat kostum nari jawa.

Pak Kayat nama bapaknya. Orang  seni biasa hidupnya  sederhana. Mas Haris  tidak kuliah. Lulusan SMA   saja.  Selain mengajar di rumahnya sendiri dia  mengajar tari di  beberapa desa termasuk di desa saya. Kami dan beberapa  teman di kampung yang se-umur-an dengan saya  ‘wajib’ hukumnya  ikut menari. Bayarannya murah sekali,  setiap  pertemuan Rp 1000,- an waktu itu.

Dulu!!, saya biasa  di suruh menari  kalau pas ada syukuran. Ada pernikahan. Sering juga  kalau ada peresmian gedung,  ada tamu  dari  luar  kami di suruh menari. Betapa senangnya kalau kita menari. Misal,  ada yang nikah laki-laki dari kampung kami dan istrinya  atau pasangannya dari kota, kita pasti diajak untuk ‘tugas’ menari. Bahkan pernah  menari di Magelang, di Pekalongan, di kendal dan beberapa kota besar yang lain. Pernah juga waktu  mbak Yur nikah kami menari di jakarta!, Asyik!!. Pesiar gratis!!. Selain ditangggung transpotnya masih juga  dikasih amplop.

 Betapa bahagianya waktu itu. Jadi  masing-masing harus ‘menguasai’ tarian. Nanti orang  pesen jenis tarian apa, nach!, kita diseleksi yang paling bagus ya yang terpilih. Itu adalah bagianku! Aku harus  rajin. Aku suka  cari muka sama mas Haris. Diam-diam aku mati-matian belajar dirumah, sampai hafal dan berusaha untuk yang ‘ terbaik’ supaya terpilih. Haha...itu  ‘trik’ ku.

Ada  beberapa tarian aku tahu: gambyong, Sri Rejeki, Minak Jinggo Dayun, Layang seto layang kumitir dan masih  beberapa tarian lagi.  Pokoknya  kalau  sudah ada yang mau ‘nanggap’ tari. Kita  semua berlomba  belajar ‘serius’!!....Aku paling di sayang sama  mas Haris. Tapi  mas  Haris  menganggapku  ‘hanya’ sebagai adik, tidak lebih. Padahal aku ‘suka’ sama dia, maka  aku selalu berusaha  untuk tampil yang ‘terbaik’. Mungkin waktu  itu yang namanya ‘cinta monyet’.  Aku cinta, tapi kan aku masih kecil dan ingusan. Kelas 6 SD waktu itu

 Kita  selalu menunggu saatnya Hari Raya Keagamaan, misal muludan, lebaran  atau Natalan bersama. Untuk kita bisa tampil menari. Menari kan pasti  saat pesta, selain kita  dapat uang  kita pasti makan enak. Orang kampung  kan makan daging  hanya saat ada pesta dan hari raya saja.  Hari-hari biasa  hanya makan sayur plus tempe tahu. Ya... paling ikan kering. Hehe.... Sampai sekarang makanan  favorit ya Tahu dan tempe bacem.

 Hidup kami  dulu rukun antar umat  beragama. Bahkan sampai sekarang. Saya biasa puasa ikut mereka, latihan mengaji,  orang tuaku tidak pernah melarangku, walaupun agamaku katholik. Nenekku selalu memotivasi kami para cucu. Siapa yang puasa  tidak pernah putus dalam sebulan penuh dapat hadiah  2 baju dan 2 sepatu. !. Ya dapat 2. Nahh!  Itu aku dan mbak  Atik  yang ‘langganan’ dapat 2. Saat tarawih  kita bekerja sama buat kue untuk di bawa ke Mesjid. Kami  juga  dapat jadwal  untuk  tanggung ‘kue’ di Mesjid  untuk tarawih.

 Sepatu  hadiah dari nenek, Saat itu  namanya sepatu jenggel. Pokoknya  aduhai kalau dipakai. Kalau lebaran dengan  sepatu jengggelnya,  jalan kaki 2 km untuk silaturahmi ke Pakde-bude ( pangggilan dari kakaknya ibu : Red) tak pernah merasa capek. Saya selalu rajin gara-gara saya selalu dipuji sama nenekku. Ya...beban perasaan deh buat aku. Aku malu  kalau tidak bisa membuktikan!.

Tapi asyik!. Aku suka.  Kita semua  para cucu  banyak. Biasa saling ganggu, saling  berolok-olok. Kita juga biasa  main ‘bentik, gobak  Sodor,  lompat karet, kasti,  peta umpet,  main bekel....dan masih banyak mainan waktu itu. Rumah kami saling  berdekatan. Dulu !!,,, kata nenekku, nenek dari nenekku itu  orang  kaya pedagang tembakau,  jadi  kampung  itu nenek punya semua.  Bahkan gunung disampaing kampung  juga milik nenekku. Kampung itu samanya Gejayan.. Artinya  jaya. Mas Haris  cukup kenal baik dengan keluargaku. Mungkin, mas Haris  punya pandangan ‘berbeda’ dengan kami.

Depan rumahku mesjid besar, nenekku beragama muslim. Bude, pakde juga semua muslim. Satu kampung  hanya 4 KK yang beragama  katholik dan kami semua  .sekeluarga besar’. Karena kawin mengawin  yang berbeda  keyakinan akhirnya  saling menyesuaikan. Tapi kami hidup rukun dan damai.  Kalau hari Natal mereka mengunjugi kami. Hari raya  makan harus 7 kali diluar rumah.

 Nach itu kita  yakini sampai  sekarang saat Hari raya. Semua rumah pasti menyediakan makan. Jadi setiap tamu harus makan.  Ada juga yang  ekonominya ‘lebih’ kita masih diberi ‘salam tempel’ ( uang saku: Red) . Apalagi di rumah Bude Diyat, pasti dapat ‘uang’ baru.  Begitu senang. Jadi, langganan di rumah bude itu pasti,  kunjungan  paling ‘awal’.  Jika Natalan  tiba!!.  Gantian!.  Mereka  semua berkunjung ke rumah kami.

Kembali ke Mas Haris. Dia orangnya  baik, ganteng ramah lagi. Mas Haris  pinter  ndongeng. Tahu  to...Kami anak-anak  SD, masih ingusan waktu itu. Selesai latihan  menari kita  minta  di dongengi  sama mas haris. Dia mengajarkan pada kami untuk berendah hati dan mengagumi keagungan Tuhan lewat donggeng- dongengannya itu.

 Ah!!,mas Haris  adalah pendongeng yang jago. Iya berhasil mengambil hati aku dan teman temanku ,anak anak kampung.  Untuk selalu kelanggar. Bahkan ke gereja di hari Minggu. Untuk mendengar dongeng -dongeng . Yang aku ingat, iya pernah mendongeng  tentang “Kancil nyolong Timun”, “Joko Tingkir”, “Ken Arok”, “Damar wulan”. Pernah juga , iya mendongeng tentang lakon wayang  “Barata Yuda”,  ‘Ramayana”.   Ada juga  dongengnya tentang kisah cinta “Ratna dan Galih” , yang waktu itu sedang ngetok di bioskup dimainkan oleh Rano Karno.

   ‘Di Dalam  Kereta kami  hening sejenak. “Kira’in sudah jadi orang kosmopolitan ,terus lupa padaku”. “Berapa lama kita ngak ketemu ya? Duapuluh ,30 atau 40 tahun ? lama sekali  ya?’’

     ‘’ Wah! , berabad abad, mas. Namun  maaf  ya! . bukanya saya lupa atau pangling sama mas Haris,  sekarang tambah putih, tambah ganteng  ‘’,godaku.  Begitu  senang  aku menemukan teman dari masa kecilku.

    ‘’ Njenengan ( anda ) tinggal di Jakarta , mas ? sejak kapan!

    ‘’ Aku punya kios di Mangga Dua, jadi hanya bolak balik saja, biasanya sih bawa mobil sendiri. Istri dan anak-anak  tidak mau ikut ya  lebih baik aku naik kereta.  Istri yang  jaga kios. Saya sudah  lima belas tahun tinggal di jakarta.

     ‘’ Kabarmu gimana , dik?  Kabarnya sudah jadi wanita karier di kantor ya... di gedung tinggi di sudirman?  sudah ku duga dari dulu, kamu akan jadi orang hebat . ‘’ . Dari keluarga berada,  pinter dan sekolah  tinggi pula. Jujur!,  ‘dulu”  aku minder  dengan dik Esti lho..

‘’ah saya cuman karyawan  biasa, mas. Panjenengan yang hebat, sekarang jadi saudagar batik yang sukses!,’’

Seingatku ,mas Haris adalah orang yang tak pernah punya ambisi pada harta dan kekayaan . Iya!! Dulu dia tidak kuliah, walaupun sebenarnya orang tuanya  sebenarnya bisa membiayai. Aku tak  sedikitpun menyangka ,  dulu  hidupnya  begitu sederhana  tapi  sekarang  ternyata jadi pengusaha .

 Tentu tidak salah! , tapi diam-diam aku penasaran  apa yang membuatanya bisa berubah .

    ‘’ aku sudah lama ‘tidak’ ke Minomartani  dik! , katanya.

  “Gimana  kabar teman temanmu dulu itu ? si  Agus , Bambang, Fitri ,Liani , Ririn, Wiwin, Atik, Mardani , siapa lagi tamanmu yang badannya gede itu, Sindu  ? ‘’ masih berhubungan sama mereka ? ‘’ tanyanya , hafal satu per satu nama murid – muridnya dulu .

  ‘’ cuman ketemu Agus  saja , mas. Sama yang lain ngak pernah . Oh!! , paling Wiwin , suka Koment di facebook . Sekilas saja.! Tapi, juga belum pernah ketemu . ‘’

 Yang di sebut mas Haris  adalah teman- teman kecilku.  Kami adalah anak anak penari cilik. Rata-rata orang tua kami petani,  ada warung, buruh tani  , dan Bapkku sendiri adalah pegawai negeri dan guru SPG Panguli luhur.  Kami tumbuh bersama, bermain ,belajar mengaji , mandi di kali.

                Namun , sejak kita mulai  SMP  sudah sekolah terpencar-pencar. Aku sendiri  SMP  di kota.  Teman yang lain di SMP yang berbeda-beda.  Ada juga beberapa teman yang  tidak lanjut sekolah. Di SMA  sampai kuliah aku asrama. sejak itu , kami  semua jadi tercerai berai .

   Aku lalu bercerita panjang lebar pad mas Haris tentang kabar teman temanku yang hanya kudengar selintas dari ibuku , ataupun dari tetangga yang dulu .

  ‘’ Joko sekarang mengajar di SD Muhammadiyah. Sudah punya anak satu sekarang . Atik  jadi ibu rumah tangga, ikut suaminya di Jakarta . Ririn, kata ibuku, sudah menikah dengan anak pemilik  pondok pasentren di solo . sudah jadi bu Haji lho dia. Kalau Wiwin, dia masih tinggal di kampung sepertinya dia sibuk dengan keluarga , anaknya sudah dua ‘’ ujar nyerocos.

     Tiba tiba saja , aku menyadari , aku sudah terlalu lama tidak bertemu dan berkomunikasih dengan teman teman kecilku itu . Mereka pernah menjadi keluargaku. Keluarga yang aku pilih. Sigigih apapun usahaku untuk mencari teman teman baru,. Sebanyak apa pun friend di facebookku, tak ada yang bisa mengantikan mereka. Adakah mereka juga merindukanku? Masa kecilku terbuat dari kesetianan mereka. Ilmuku terbangun dari kegigihan mereka menyeruku untuk  rajin belajar, ketika aku lebih senang menonton serial teve di rumah. Kebahagiaanku adalah campuran dari remah-remah keriangan dan kepelosan kami dulu. Aku rindu , ‘memanggil  ‘ kembali mereka ke dalam hidupku. Mereka telah banyak berjasa untuk aku. Belajar bersama. Berlatih menari bersama. Bermain bersama. Dapat uang hasil menari bersama-sama. Betapa bahagianya aku waktu itu. Suka cita , ceria  tak ada habisnya.

 ‘’ Mas,  bagaimana kabar temanmu , mas Yudi, mbak Windi , dan mbak Titik ? ‘’ tanyaku , tentang teman temannya , yang sering iya ajak untuk mengajar kami dulu.  Saat mengajar menari biasa  mas Haris biasa ajak teman-teman sebayanya.

   ‘’Yudi jadi PNS di Sukabumi. Katanya dia pernah ketemu kamu di jombor. Si  Windi jadi aktivis LSM. Mbak Titik , jadi istri  saya. Kamu ngak datang sih di acara perkawinanku dulu ,’’ kata mas Haris , lalu mengeluarkan ponselnya , dan memperlihatkan foto tiga anaknya yang di HP miliknya

 Kenyataan bahwa dia menikahi mbak Titik??, batinku. Aku terkejut. Setahuku, mbak Titik, kaka jauh umurnya dibanding mas Haris. Aneh!!  Kalau tidak salah  usianya sepuluh tahun lebih tua dari pada  mas Haris. Menurutku, mereka bukan pasangan serasi. Kubayangkan. Padahal  banyak lho wanita-wanita  cantik teman-teman mas Haris,  Eh!! Kok jadi mbak Titik yang jadi Istrinya. Yach!, mungkin itulah ‘jodoh’. Banyak  wanita cantik yang naksir mas Haris, termasuk saya, hehe... Mas Haris  sudah ganteng , pintar menari, cakap agama lagi . Waktu itu dia adalah idola.  

   ‘’ Semua teman mas sudah pada berkeluarga. Kamu sendiri bagaimana? Berapa anakmu sekarang ? Lagi-lagi mas Haris mengejutkan dari lamunanku.  Aku kaget!!, ya mas, bagaimana? Tanyaku. “teman-teman mas semua sudah berkeluarga!, bagaimana dengan dik Esti sekarang?   ‘’ belum, mas. Belum ketemu yang seperti njenengan (Kamu:Red) , sih ! ‘’ godaku .

   ‘’ Itu karena kamu terlalu pemilih , dik! . Coba , deh kamu mau membuka hatimu, pasti  kamu  tidak perlu mencari. Dia sebenarnya ada di dekatmu,’’ katanya , bergaya peramal .

  ‘’ Mas sendiri , bagaimana ceritanya jadi pengusaha ? Aku pikir, orang seperti mas Haris menolak untuk kaya. Dulu,mas pernah bilang, harta adalah cobaan . Aku kagum sama Haris, percaya sepenuhnya rejeki di tangan Tuhan. Ya, bener memang rejeki di tangan Tuha., tapai kalau kita  hanya duduk-0duduk saja, rejeki jatuh dari langit? Katanya menjelaskan.  . . Tidak seperti aku ,setiap tahun naik gaji ,berapapun gajiku , rasanya , kok , kurang terus ya?’’

    ‘’ masa rejeki di tolak , dik ? ‘’

    ‘’ Dulu mas Haris bekerja serabutan , tapi hidup senang . Sekarang harus perhitungan, dong, namanya saja pengusaha !” ujarku , iseng .

     Dia lalu diam sesaat , menarik nafas panjang .

   ‘’ justru itu!! , dulu aku orang yang tidak bertangung jawab pada hidupku sendiri , aku pikir ,jika aku sudah merasa cukup, kenapa harus mencari lebih ? Dengan sedikit saja aku bahagia, kok. Ceritaku jadi pengusaha itu awalnya karena ibuku sakit-sakitan. Sudah  saya bawa kemana-mana untuk berobat tai tak kunjung sembuh. Bapak sudah duluan meninggal.  Akhirnya  pamanku yang tinggal di Jakarta memberikan uang  kepasaku untuk berobat. Tapi bu belum juga sembuh. Aku waktu itu jadi putus asa. Stress!!. Sedih. Semua  harta milik kami yang bisa terjual kami jual. Selain untuk makan untuk  pengobatan ibuku.

                Paman  sangat prihatin dengan kehidupan kami. Akhirnya paman  mengajak serta ibuku ke Jakarta. Akulah yang menjaganya. Sambil ibuku berobat rutin di jakarta , aku membantu   menjaga  toko pakaiannya. Aku bantu-bantu membesarkan bisnis pamanku itu.  Kami dan ibu bisa sekitar 2 tahun. Alhamdulilah akhirnya ibu sembuh.  Berkat tugas saya  jaga toko  dan  kadang  mengambil alih tugas paman  belanja barang. Akhirnya Segala aktivitas mtoko saya tahu.

                Dengn begitu akhirnya saya disuruh bertanggung jawab untuk toko paman yang di Tanah abang, Paman mempunyai beberapa  toko pakaian. Dari situ  akhirnya saya bisa membuka  toko sendiri yang awalnya modal dibantu oleh paman. Ternyata mbak Titik itu  sepupu dari istrinya pamanku. Ya, jadilah  kami  menikah. Rejeki memang tidak pernah salah alamat.  Tuhan yang menunjukkan jalannya padaku.

                Aku bertekad  untuk menjadi orang seperti pamanku, rela berbagi dan iklas memberi. Sepanjang kita  selalu memberikan  dengan iklas Tuhan  akan selalu melipatgandakan berkat itu buat kita.  Akhirnya  hidup kami terselamatkan,  adik-adikku sudah selesai kuliah juga dan mereka  semua  sudah kerja  dan sudah menemukan  pasangannya masing-masing.

                Tak terasa , kereta sudah sampai di stasion kotaku.  Hari sudah sore. Adikku bersama keluarganya sudah menjemputku.  Mereka melambaikan tangan dari kejauhan.  Syukur Tuhan sudah sampai.  “Dik, kalau  liburmu masih panjang kita ketemu di warung mbak Siti ya. Kita ngobrol lagi”, ajak mas Haris. Dan sekejab kemudian  ia sudah berlalu. Aku segera  turun dari kereta,  menuju ke tempat adikku berada. Aku sudah rindu untuk mendengar cerita mereka.  Rapelan cerita  berbagai hal yang sudah lama terpendan di hati.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...