Rabu, 30 Desember 2020

Mujizat Tuhan Ada




Oleh: Ledwina Eti Wuryani

Pada  hari Kamis, sepulang dari kantor, ada tergeletak  surat undangan di atas meja ruang tamu.  Dikirm Lewat  JNE. Kuambil dan segera kubaca. Ehh!! Yustin, Ternyata teman  SMP- ku nikah beneran!. Temanku  akrab waktu itu, teman senasib dan sepenanggungan, hehe...

Teman dekat, dan  jika aku ketemu aku selalu  meminta undangan nikah padanya. Setahuku  hanya tinggal dia  perempuan yang masih jomblo. Semua  sudah berkeluarga. Setiap Chatt atau japri aku selalu  tanya kapan undangannya.  Akupun berjanji  datang kalau dia menikah. Yach, namanya ‘janji’ jadi aku harus berusaha menepati.

  Sorang  Wanita karier yang  sudah sukses. Dia pekerja keras. Dia kerja di bank Dunia. Keren!. Betapa  tidak!  Dia sudah mapan!!, gaji gede.  Di Jakarta sudah punya rumah  dan mobil  .  Cuma rumah tangga yang belum ada. Ku tahu  saat dia datang  reunian SMP, sumbangan untuk kas  Reuni dia paling gede juga. Teman-temanku cerita juga tentang dia kalau dia Jomker ( Jomblo keren), hehe....

Baru kali itu juga  aku datang reuni SMP. Teman-teman  semua baik sekali, kami begitu akrab. Ada rasa lucu, rasa rindu. Suka dan ceria.  Hihi.. saya membayangkan waktu itu, ketika kami semua masih  pakai seragam  putih biru dan  anak laki-laki  pake celana pendek. Ingat juga teman-teman yang nakal, seperti Sindu suka melawan guru. Ari Suka  usil dan ngerjain teman. Yuli yang suka ngantuk di kelas. Eh! Iya satu, si   Toro yang suka ngamplang dan ngutang di mbak Menik penjaga kantin.

Ingat pak Tamaji guru olah raga yang ganteng, sehingga jadi idola murid cewek. Mereka  cewek cari perhatian!. Hhh..dasar!  Undari yang suka manja   pada pak Tamaji. Ibu Trini , guru matematika tersayang, anggun dan cantik. Nah!,  ini aku paling disayang, hingga akhirnya aku kuliah ambil jurusan matematika. Pak Bakri, Sang kepala Sekolah  yang ‘berwibawa’ dan ’galak’. Jika kita sementara di kantin jam pelajaran ada kepsek melintas, 0oo...kita berusaha  berhamburan lari sembunyi. Ada yang  bawah meja, ada  yang ngumpet di balik krombong, ada  juga yang  sembunyi di  balik pintu...lucu deh pokoknya. Pak kepsek biasa keliling kalau  jam pelajaran. Ibu Siti Kireni yang centil, suka  pakai baju yang seksi. Hihi.. aku paling  ‘demen’ lihat  ibu ini, dia mengajar ketrampilan menjahit.  Kalau pelajarannya, aku yang disuruhnya  nulis di papan tulis. Ibu yang cerewet saja di kelas. Anak-anak  mencatat sambil ketawa-ketiwi karena  kata-kata ibu yang selalu membuat lucu.

Ada satu temanku yang  bikin aku serba salah. Dulu kami pernah jatuh cinta, cinta monyet sih.  Sampai sekarang  dia tahu saja  nomor HP- ku entah dari mana dia  bisa  ada nomorku. Dia kadang tidak perasaan  SMS padaku.  SMS mesra!. Omong mimpi. Obral janji!  Aku jadi kikuk padanya. Aku jadi serba salah. Mau dijawab bagaimana?. Setiap  pagi tak pernah alpa mengucapkan selamat pagi.  Tak pernah lupa!!, kok ya tidak  bosan!. Aku tidak pernah  balas.  Mau kublokir  aku sendiri yang perasaan. Wah!! Kalau  suamiku tahu bisa bahaya.

Saya sudah  hapus nomornya dia, tapi  muncul saja dan tetap WA nan dan muncul di Sim 2. Aku jadi tidak  nyaman, sampai sekarang dia belum berkeluarga. Wahh!!, ini yang membuat aku  jadi  takut terjadi  apa-apa padaku.  Aku ni  wanita yang tak sempurna. Aku  sudah  melupakan semuanya,  sudah kukubur dalam-dalam sejak itu.

Jujur sih, kadang pas  suami marah-marah  aku jadi ingat dia.  Betapa tidak!! Dia paling perhatian padaku.  Orangnya royal dan  tidak pelit. Suka  kasih hadiah. Betapa  wanita tidak suka  orang yang seperti itu. Aneh!!, kenapa belum berjodoh juga samapai sekarang.  Yach!! Karena ‘sesuatu’ hal  terpaksa deh aku meninggalkan dia. Dia memang selalu memuji keberadaanku. Dia selalu bilang belum mendapatkan ‘orang’ yang  seperti aku. Ahh!!   Itu yang membuatku selalu berbunga-bunga. Aku  jadi terbang  ‘melayang’ bagai tak injak tanah.  Aku  begitu tersanjung! “Hhh!!, dasar lelaki kalau ada maunya!”,gumanku dalam hati

Perselingkuhan adalah hal yang paling ‘berdosa’. Jangan!!.  Janganlah aku menyakiti pasanganku. Sejelek suamiku. Sejahat dia, dia adalah belahan jiwa. Dia ayah dari anak-anakku. Aku sudah  berjanji di hadapan  altar gereja. Kami sudah dimeteraikan. Harga mati!. Hanya maut yang bisa memisahkan kami , cieee.....bener nih! Aku  harus bersyukur pada Tuhan dengan apa yang ada.

Setan memang ada. Setan bisa  saja merasuki semua orang juka  sudah dimabuk asmara. Orang bisa lupa mana yang darat, mana pula yang lautan. Ahhaay...Kebas  bang jagooo!!! Bambang  suka menggangguku. Merayuku. Mengajakku suatu saat pergi ketempat ‘tertentu’. Mau di Bali?, di Jakarta!!, ahh !! itu  ngajak gila namanya. Kadang  akupun manusia  yang lemah dan  tidak berdaya. Maju-mundur, maju mundur.....Ahh!!  aku jadi pusing!!. Tidaaakk!!,  Mohon  jangan ganggu aku!. Sebagai seorang ibu  hendaklah jadi panutan, jadi contoh yang baik untuk anak-anak dan keluarga besarku.

Kembali cerita ke Yustin temanku yang mau menikah. Beruntunglah yang jadi suaminya. Semuanya sudah  ada.  Sang suami  tinggal menikmati  luar dalam, haha... “Tapi umur Yustin sudah 38 tahun, apakah  dia bisa  punya momongan??” pikirku meragukan. Saya ingat sang artis  Maya  yang dulu saya  lihat di TV nikah sudah  berusia 40-an tapi punya anak. Yach, semoga  dia cepat dikaruniai momongan. Kita punya keyakinan Jodoh  adalah Tuhan yang atur. Nach dapatnya jodoh setelah berumur sekian. Resiko!. Harus diterima. Resiko dipikir belakang. Yang penting sekarang sudah berjodoh. Sudah ada yang ‘perhatian’ dan ‘cinta’  sepenuh hati. Hidup pun jadi terasa begitu indah.

“Aku  akan datang ke pernikahannya!”, niatku.  Pekerjaanku  akan kubereskan memang  sekarang!. Yach, tentunya  supaya aku bisa  menghadiri pernikahan  Yustin. Dia ada di Jakarta  sementara aku di Magelang. Dengan mobil pribadi  perjalanan bisa 12 jam.  Perjalananan panjang. Aku harus  ijin minimal 3 hari.

Aku ajak adikku, kebetulan dia kan wiraswasta, jadi tidak ada ikatan waktu. Aku minta dia mengantarku, karena suamiku juga  lagi sibuk mendampingi  inspektorat.  Mereka  ada Monev ( monitoring dan  evaluasi) proyek DAK di 11 sekolah. Wow..begitu sibuknya dia, aku tidak berani  minta tolong mengantar.  Dalam perjalanan aman tak ada  hambatan yang berarti.

Akhirnya  sampai juga di Jakarta. Pesta di gedung mewah ‘Grand Pacifik’. Menu makanan yang spektakuler. Dari  dari Menu  Snak dan menu makan  hidangan pasta, Ayam cola, Zupa-zupa dan makanan aneh lainnya...ah aku tak tahu nama yang lain. Maklumlah wong ndeso.. Mereka  pesta dengan Standing Party. 

Para tamu masuk harus menunjukkan undangannya. Lanjut menuju ke  podium  pengantin. Bersalaman ,  berciuman  , foto bersama langsung makan.  Pas giliranku  masuk dipanggiilnya spontan’” Estiii.....!!!, didekapnya aku erat-erat!,  sampai aku kikuk  dilihat tamu-tamu. Setelah  itu aku ngeloyor turun dari podium. Aman...., batinku. Aku sudah lunas dengan janjiku hadir dipernikahannya.

Sebelum  kami ke parkiran panitia panggil kita  untuk foto keluarga dengan polaroid sebagai souvenir dari mereka. Asyik!!, bagus acaranya.  “Praktis pula!, kepingin nanti kalau anakku nikah supaya bisa  buat seperti itu”, itu harapan dan kerinduanku.

Habis pesta pun aku dan adikku tidak  langsung pulang. Betapa badanku lungkrah, penat dan capek. Saya lihat tadi banyak sekali  tamu yang tidak menggunakan masker. Ahh!! Aku jadi  takut. Janganlah  jadi sugesti untukku. Deg!! Rasa jantungku.  Jakarta Zona merah!!, Jakarta  banyak sekali yang positif covid,  dalam sehari bisa ratusan orang!! Aku  jadi  takut.  Kok, rasa  hati ini jadi  tidak nyaman.

Aku harus  istirahat dulu di rumah adikku, dik Erni, adik  nomor 2. Aku  empat bersaudara dan 2 adikku  tinggal dan kerja di Jakarta. Aku dan adik bungsu  tinggal di Magelang.  Adikku  bungsu juga sudah berkeluarga jadi  rumah sendiri. Ibu sementara tinggal  bersama aku karena di kampung tinggal sendirian. Semalam aku  tidur di rumah adikku, dan  kami star dari Jakarta jam 05.00 pagi.

Rasa pusing  masih kutahan,  rasa gelisahpun aku tak mau ceritakan. Aku tak  mau semua dari kepikiran. Tuhaaann!!,  kuatkan aku. Mobil  terus melaju. Mobil jan 60 km/jam saja. Santai.  Adikku ini memang orang paling hati-hati.  Aku ijin  tak mau  cerita di sepanjang perjalanan. Aku berusaha tidur di mobil. Biarlah aku  sendiri yang merasakan sakitku. Eh!! Kampung tengah  mulai  terdengar merintih, lapar.

 Aku ajak mampir  adikku di warung soto. Aku sudah lama tidak makan soto, rindu. Ada lagi nama soto begitu ‘unik’ Soto Ndelik (sembunyi atau tidak kelihatan:Red). Aku jadi penasaran.  Adikku begitu lahap menikmati soto itu. Aku iri sekali. Badanku  rasa  letih. Sebenarnya dari kemarin di pesta  rasa lidahku ‘beda’. Aku tak  bisa menikmati makanan ‘lezat’ di pesta kemarin.  Bahkan waktu makan  di tempat  adikkupun semua makanan terasa hambar.

Dengan rasa  was was  aku makan  juga soto yang sudah tersaji di depanku.  Aduhh....sama, terasa hambar juga,  rasa lidahku mati.  Jantungku berdegup kencang!. Hati  terasa was was. Tapi aku terus berusaha  wajar di depan adikku.  Pikiranku jadi tak  karuan,  mendadak kepalaku pusiiingg sekali. Tapi aku tak  berani omong jujur pada adikku.

Dalam hati aku selalu berdoa. Tuhaaannnnn...semoga aku  tidak kena  covid-19.  Jangan Tuhan, aku  tidak siap. Aku  berusaha  netral di depan  adikku, tapi pikiran ini terus  membuatku gelisah. Rasa ketakutanpun semakin menjadi. Di sepanjang  perjalanan  aku berusaha untuk  tidur...aku  minum antimo 3 butir, supaya bisa tidur,  tapi tetap tidak bisa tidur. Bagaimana ini???.

Ahh!!, Hatiku semakin tak nyaman.  Tak terasa sampailah aku di rumah.  Adikku langsung minta  ijin untuk segera pulang karena  waktu memang sudah malam. Kami jalan santai , beberapa kali  kami istirahat.  Badanku benar-benar lemas. Sepanjang  jalan aku mabuk.  Aku  tak berdaya, lemas sudah kehilangan tenaga.

Aku segera masuk rumah. Kulihat ibuku dan anak-anakku sudah  tidur. Kulihat ternyata sudah jam 11.00 malam. Tidak biasanya juga  jam segitu sudah sepi.  Aku pelan -pelan masuk kamar,  kulihat suami masih nonton You tube.

Aku balik ke dapur , kunyalakan kompor gas mau masak  air untuk mandi. Kujaga  air sampai mendidih. Segera  kuangkat dan kubawa ke kamar mandi. Aku masak  air lagi, maksudku  untuk merendam  seluruh pakaianku dengan air panas.  Rasa pusing pun masih ada. Pikiranku benar-benar  gelisah!.

Pintu kamar ku buka. “Dik..”, tegur suamiku. Hanya itu yang ia omong.  Aku pun segera  baring disebelahnya. Aku belum berani omong  apa-apa.  Hanya  aku  langsung tidur. Suami pun tak  omong apa-apa, mungkin tahu kalau  aku pasti capek.

Sepanjang  malam benar-benar  ‘utuh’ aku tak bisa  tidur. Kupaksa pejamkan mata , tapi ‘tetap’ tak bisa tidur. “Tuhaaannn!!,  jangan lah aku kena  corona!!” doaku di sepanjang malam. Berdebar-debar terus  rasa hatiku.  Badan merasa tidak nyaman.  Tak terasa air mata menetes penuh dipipi.  Terdengar  rerisak-isak  suaraku,  akhirnya suami membangunkan aku. Dikira aku mimpi.

Dirabanya kepalaku. Suami pun jadi kaget karena aku deman tinggi. Tak pikir panjang  saat itu juga dia membawaku ke  rumah sakit. Was-was  hatiku tak kunjung berhenti. Aku takuuuttt sekali jangan sampai aku  kena virus covid.  Suami segera  mengeluarkan  mobil dari  garasi dan mengajakku cepat untuk naik. Jarak  rumah ke rumah sakit  sekirat 2 km.  Di sepanjang  jalan aku berusaha tenang. Suami yang kelihatan  panik.

Waktu itu aku pulang  dari Semarang, ada  tugas dinas. Aku sempat karantina mandiri selama 3 hari.  Aku juga sudah swab bersama  17  orang yang lain  tapi hasilnya belum  ada. Masih  sementara menunggu.  Sepanjang hari pun terus dihantui  rasa ketakutan. Apalagi kalau baca-baca di medsos ciri-ciri orang positif Covyd adalah :  Deman, batuk kering, kelelahan, lemas badan,rasa tidak nyaman, nyeri  tenggorokan, diare, mata merah, sakit kepala ,  hilang  indera perasa,  yang paling menakutkan  adalah kesulitan bernafas  atau sesak nafas , nyeri di dada  atau rasa  tertekan pada dada hilangnya kemampuan  berbicara. Itu semua  ada padaku!.

Sampai di rumah  sakit ternyata hasil  swab pun belum ada. Dag dig dug   hati ini.  Jiwaku  terasa sudah  di ujung  jurang yang sangat  curam. “Dikutik sedikit, tinggal jatuh”,batinku.  Setiap  detik kudaraskan  doa pada Tuhan,  Bunda Maria dan para kudus di Surga.  Tak  sedikitpun  lepas doa batin yang kulakukan.

Tapi hati harus  selalu pasrah, iklas dan syukur. Usaha sedikit, walau berat untuk   tersenyum.  Tuhan kuatkan aku. Tuhan  dampingi  terus aku. Kini  Tuhan ada saja bersamaku. Tuhan membawaku ke taman yang indah. Aku diajaknya jalan-jalan berkeliling. Waahhh!!!,  mungkin ini  yang namanya Firdaus. Taman Eden. Tempat adam dan hawa  berada. Begitu Indahnya. Kebahagiaan selalu merasuki hatiku. Senyum  selalu menebar. Pesona alam indah  seakan  membawaku hinga ke sanubariku.

Tuhan, janganlah kebahagiaan ini  sirna. Tak henti-hentinya aku terus bersyukur.  Tak pernah kurasakan hidup ‘sebahagia’ ini. Sungguh!!, ini adalah  kebahagiaan yang halkiki. Setiap melewati rumah -rumah indah mereka selalu menebarkan senyuman dengan ramah. Aku diajak ke kolam , begitu sejuknya air itu.  Aku turun mencoba  meraih  air untuk cuci muka.

Ahh!!,Tiba tiba  aku terjatuh. Aku terpeleset ke dalam. Terbelalak mataku!. Terasa dingin. Dingin sekali!!. Aku kaget!, aku kaget sekali, terlihat beberapa orang  di sekitarku.  Mengelilingi aku. Sabar  ya ibu. Sabar ya... doa  ya ibu....ternyata aku ada di sebuah ruang  Isolasi. Suasananya ngeri.  Seperti ruang operasi. Ruangan itu  teramat sangat dingin karena AC.  Aku sampai mengigil kedinginan.  Terlihat disitu dokter dan perawat sangat sibuk. Terlihat juga  ada 4 orang pasien yang ada diruangan bersamaku. Mungkin  mereka mempunyai  penyakit yang sama denganku. Tak pernah dalam hidupku kurasakan dinginnya suasana  seperti ini.  Aku terasa di dalam kulkas.

Ya Tuhan...ternyata aku tadi pingsan. Aku  tak sadarkan diri.  Aku berada di alam bawah  sadar. Saat itu seolah Tuhanku yang selalu kurindu  datang menjemputku, mengajakku berjalan-jalan. Oh Indahnya. Tuhan...Engkau begitu baik, aku rela mati. Aku siap  mati  kapanpun. Dalam  Tuhan  hidup selalu dalam kedamaian dan kebahagiaan. Seolah hidup  di taman yang indah mempesona. Dokter dan perawat  tak pernah tahu  apa yang ada di pikiranku saat itu.

Kini, sepenuhya aku  sadar!. Sungguh aku sudah sadar. Aku jadi ingat  suami dan anak-anakku. Terlihat mereka  melihatku dari  lubang kaca. Kedua mata mereka  begitu sembab, begitu juga suamiku.  Jangan sampai  mereka berpikir tadi aku sudah  meninggalkan mereka untuk selamanya.

Ternyata  benar aku  positif corona. Mungkin karena aku tersugesti terus menerus dan ketakutan  yang berlebihan akhirnya terjadi beneran. Imun jadi drop. Badan lemah hingga tak sadarkan diri.

Tuhan trimakasih, mujizat sudah terjadi padaku. Dokter bilang aku baik-baik saja. Ibu boleh pulang. Aku menangis terharu dan bahagia. Tak henti-hentinya aku berucap syukur kepada Tuhan. Seandainya  aku  benar-benar  mati, bagaimana dengan akan-anakku yang  masih kecil.

Yach!!, kehidupan  sudah  di atur olehnya. Dengan cara apa Tuhan panggil pun kita tidak mungkin menolak. Jika Tuhan benar-benar panggil, artinya tugas di dunia sudah habis. Kapan Tuhan panggil pun kita tak pernah tahu.  Kita   harus selalu siap  dengan kematian.

Saya jadi ingat  kotbah pastor di gereja. Berbuatlah dan berperilakulah, seolah-olah  besok  kamu mati. Ini kan ku ingat terus. Akan ku terapkan dalam hati. Akan kuberitahukan untuk keluargaku dan orang-orang yang kutemui. Hidup mati  ada di tangan Tuhan, aku percaya.   Semoga  hidup bisa bermanfaat untuk sesama kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...