Oleh:
Ledwina Eti Wuryani
Pada hari Kamis, sepulang dari kantor, ada
tergeletak surat undangan di atas meja
ruang tamu. Dikirm Lewat JNE. Kuambil dan segera kubaca. Ehh!! Yustin,
Ternyata teman SMP- ku nikah beneran!.
Temanku akrab waktu itu, teman senasib
dan sepenanggungan, hehe...
Teman
dekat, dan jika aku ketemu aku selalu meminta undangan nikah padanya. Setahuku hanya tinggal dia perempuan yang masih jomblo. Semua sudah berkeluarga. Setiap Chatt atau japri aku
selalu tanya kapan undangannya. Akupun berjanji datang kalau dia menikah. Yach, namanya
‘janji’ jadi aku harus berusaha menepati.
Sorang
Wanita karier yang sudah sukses. Dia
pekerja keras. Dia kerja di bank Dunia. Keren!. Betapa tidak!
Dia sudah mapan!!, gaji gede. Di
Jakarta sudah punya rumah dan mobil . Cuma
rumah tangga yang belum ada. Ku tahu saat
dia datang reunian SMP, sumbangan untuk
kas Reuni dia paling gede juga. Teman-temanku
cerita juga tentang dia kalau dia Jomker ( Jomblo keren), hehe....
Baru
kali itu juga aku datang reuni SMP.
Teman-teman semua baik sekali, kami
begitu akrab. Ada rasa lucu, rasa rindu. Suka dan ceria. Hihi.. saya membayangkan waktu itu, ketika
kami semua masih pakai seragam putih biru dan anak laki-laki pake celana pendek. Ingat juga teman-teman
yang nakal, seperti Sindu suka melawan guru. Ari Suka usil dan ngerjain teman. Yuli yang suka ngantuk
di kelas. Eh! Iya satu, si Toro yang
suka ngamplang dan ngutang di mbak Menik penjaga kantin.
Ingat pak Tamaji guru
olah raga yang ganteng, sehingga jadi idola murid cewek. Mereka cewek cari perhatian!. Hhh..dasar! Undari yang suka manja pada
pak Tamaji. Ibu Trini , guru matematika tersayang, anggun dan cantik. Nah!, ini aku paling disayang, hingga akhirnya aku
kuliah ambil jurusan matematika. Pak Bakri, Sang kepala Sekolah yang ‘berwibawa’ dan ’galak’. Jika kita sementara
di kantin jam pelajaran ada kepsek melintas, 0oo...kita berusaha berhamburan lari sembunyi. Ada yang bawah meja, ada yang ngumpet di balik krombong, ada juga yang
sembunyi di balik pintu...lucu
deh pokoknya. Pak kepsek biasa keliling kalau
jam pelajaran. Ibu Siti Kireni yang centil, suka pakai baju yang seksi. Hihi.. aku paling ‘demen’ lihat
ibu ini, dia mengajar ketrampilan menjahit. Kalau pelajarannya, aku yang disuruhnya nulis di papan tulis. Ibu yang cerewet saja
di kelas. Anak-anak mencatat sambil
ketawa-ketiwi karena kata-kata ibu yang selalu
membuat lucu.
Ada
satu temanku yang bikin aku serba salah.
Dulu kami pernah jatuh cinta, cinta monyet sih.
Sampai sekarang dia tahu
saja nomor HP- ku entah dari mana
dia bisa
ada nomorku. Dia kadang tidak perasaan
SMS padaku. SMS mesra!. Omong
mimpi. Obral janji! Aku jadi kikuk
padanya. Aku jadi serba salah. Mau dijawab bagaimana?. Setiap pagi tak pernah alpa mengucapkan selamat
pagi. Tak pernah lupa!!, kok ya tidak bosan!. Aku tidak pernah balas. Mau kublokir
aku sendiri yang perasaan. Wah!! Kalau
suamiku tahu bisa bahaya.
Saya
sudah hapus nomornya dia, tapi muncul saja dan tetap WA nan dan muncul di
Sim 2. Aku jadi tidak nyaman, sampai
sekarang dia belum berkeluarga. Wahh!!, ini yang membuat aku jadi
takut terjadi apa-apa padaku. Aku ni
wanita yang tak sempurna. Aku
sudah melupakan semuanya, sudah kukubur dalam-dalam sejak itu.
Jujur
sih, kadang pas suami marah-marah aku jadi ingat dia. Betapa tidak!! Dia paling perhatian padaku. Orangnya royal dan tidak pelit. Suka kasih hadiah. Betapa wanita tidak suka orang yang seperti itu. Aneh!!, kenapa belum berjodoh
juga samapai sekarang. Yach!! Karena
‘sesuatu’ hal terpaksa deh aku
meninggalkan dia. Dia memang selalu memuji keberadaanku. Dia selalu bilang
belum mendapatkan ‘orang’ yang seperti
aku. Ahh!! Itu yang membuatku selalu
berbunga-bunga. Aku jadi terbang ‘melayang’ bagai tak injak tanah. Aku
begitu tersanjung! “Hhh!!, dasar lelaki kalau ada maunya!”,gumanku dalam
hati
Perselingkuhan
adalah hal yang paling ‘berdosa’. Jangan!!.
Janganlah aku menyakiti pasanganku. Sejelek suamiku. Sejahat dia, dia adalah
belahan jiwa. Dia ayah dari anak-anakku. Aku sudah berjanji di hadapan altar gereja. Kami sudah dimeteraikan. Harga
mati!. Hanya maut yang bisa memisahkan kami , cieee.....bener nih! Aku harus bersyukur pada Tuhan dengan apa yang
ada.
Setan
memang ada. Setan bisa saja merasuki
semua orang juka sudah dimabuk asmara.
Orang bisa lupa mana yang darat, mana pula yang lautan. Ahhaay...Kebas bang jagooo!!! Bambang suka menggangguku. Merayuku. Mengajakku suatu
saat pergi ketempat ‘tertentu’. Mau di Bali?, di Jakarta!!, ahh !! itu ngajak gila namanya. Kadang akupun manusia yang lemah dan tidak berdaya. Maju-mundur, maju
mundur.....Ahh!! aku jadi pusing!!.
Tidaaakk!!, Mohon jangan ganggu aku!. Sebagai seorang ibu hendaklah jadi panutan, jadi contoh yang baik
untuk anak-anak dan keluarga besarku.
Kembali
cerita ke Yustin temanku yang mau menikah. Beruntunglah yang jadi suaminya.
Semuanya sudah ada. Sang suami
tinggal menikmati luar dalam,
haha... “Tapi umur Yustin sudah 38 tahun, apakah dia bisa
punya momongan??” pikirku meragukan. Saya ingat sang artis Maya yang dulu saya
lihat di TV nikah sudah berusia 40-an
tapi punya anak. Yach, semoga dia cepat
dikaruniai momongan. Kita punya keyakinan Jodoh
adalah Tuhan yang atur. Nach dapatnya jodoh setelah berumur sekian.
Resiko!. Harus diterima. Resiko dipikir belakang. Yang penting sekarang sudah
berjodoh. Sudah ada yang ‘perhatian’ dan ‘cinta’ sepenuh hati. Hidup pun jadi terasa begitu
indah.
“Aku akan datang ke pernikahannya!”, niatku. Pekerjaanku
akan kubereskan memang sekarang!.
Yach, tentunya supaya aku bisa menghadiri pernikahan Yustin. Dia ada di Jakarta sementara aku di Magelang. Dengan mobil
pribadi perjalanan bisa 12 jam. Perjalananan panjang. Aku harus ijin minimal 3 hari.
Aku
ajak adikku, kebetulan dia kan wiraswasta, jadi tidak ada ikatan waktu. Aku
minta dia mengantarku, karena suamiku juga
lagi sibuk mendampingi
inspektorat. Mereka ada Monev ( monitoring dan evaluasi) proyek DAK di 11 sekolah.
Wow..begitu sibuknya dia, aku tidak berani
minta tolong mengantar. Dalam
perjalanan aman tak ada hambatan yang
berarti.
Akhirnya sampai juga di Jakarta. Pesta di gedung mewah
‘Grand Pacifik’. Menu makanan yang spektakuler. Dari dari Menu
Snak dan menu makan hidangan
pasta, Ayam cola, Zupa-zupa dan makanan aneh lainnya...ah aku tak tahu nama
yang lain. Maklumlah wong ndeso.. Mereka
pesta dengan Standing Party.
Para
tamu masuk harus menunjukkan undangannya. Lanjut menuju ke podium
pengantin. Bersalaman ,
berciuman , foto bersama langsung
makan. Pas giliranku masuk dipanggiilnya spontan’” Estiii.....!!!,
didekapnya aku erat-erat!, sampai aku
kikuk dilihat tamu-tamu. Setelah itu aku ngeloyor turun dari podium. Aman....,
batinku. Aku sudah lunas dengan janjiku hadir dipernikahannya.
Sebelum kami ke parkiran panitia panggil kita untuk foto keluarga dengan polaroid sebagai
souvenir dari mereka. Asyik!!, bagus acaranya.
“Praktis pula!, kepingin nanti kalau anakku nikah supaya bisa buat seperti itu”, itu harapan dan
kerinduanku.
Habis
pesta pun aku dan adikku tidak langsung
pulang. Betapa badanku lungkrah, penat dan capek. Saya lihat tadi banyak
sekali tamu yang tidak menggunakan
masker. Ahh!! Aku jadi takut. Janganlah jadi sugesti untukku. Deg!! Rasa
jantungku. Jakarta Zona merah!!,
Jakarta banyak sekali yang positif
covid, dalam sehari bisa ratusan orang!!
Aku jadi takut.
Kok, rasa hati ini jadi tidak nyaman.
Aku
harus istirahat dulu di rumah adikku,
dik Erni, adik nomor 2. Aku empat bersaudara dan 2 adikku tinggal dan kerja di Jakarta. Aku dan adik
bungsu tinggal di Magelang. Adikku bungsu juga sudah berkeluarga jadi rumah sendiri. Ibu sementara tinggal bersama aku karena di kampung tinggal
sendirian. Semalam aku tidur di rumah
adikku, dan kami star dari Jakarta jam 05.00
pagi.
Rasa
pusing masih kutahan, rasa gelisahpun aku tak mau ceritakan. Aku
tak mau semua dari kepikiran. Tuhaaann!!, kuatkan aku. Mobil terus melaju. Mobil jan 60 km/jam saja.
Santai. Adikku ini memang orang paling
hati-hati. Aku ijin tak mau
cerita di sepanjang perjalanan. Aku berusaha tidur di mobil. Biarlah aku sendiri yang merasakan sakitku. Eh!! Kampung
tengah mulai terdengar merintih, lapar.
Aku ajak mampir adikku di warung soto. Aku sudah lama tidak
makan soto, rindu. Ada lagi nama soto begitu ‘unik’ Soto Ndelik (sembunyi atau
tidak kelihatan:Red). Aku jadi penasaran.
Adikku begitu lahap menikmati soto itu. Aku iri sekali. Badanku rasa
letih. Sebenarnya dari kemarin di pesta
rasa lidahku ‘beda’. Aku tak bisa
menikmati makanan ‘lezat’ di pesta kemarin. Bahkan waktu makan di tempat
adikkupun semua makanan terasa hambar.
Dengan
rasa was was aku makan
juga soto yang sudah tersaji di depanku.
Aduhh....sama, terasa hambar juga,
rasa lidahku mati. Jantungku
berdegup kencang!. Hati terasa was was.
Tapi aku terus berusaha wajar di depan
adikku. Pikiranku jadi tak karuan,
mendadak kepalaku pusiiingg sekali. Tapi aku tak berani omong jujur pada adikku.
Dalam
hati aku selalu berdoa. Tuhaaannnnn...semoga aku tidak kena
covid-19. Jangan Tuhan, aku tidak siap. Aku berusaha
netral di depan adikku, tapi
pikiran ini terus membuatku gelisah.
Rasa ketakutanpun semakin menjadi. Di sepanjang
perjalanan aku berusaha untuk tidur...aku
minum antimo 3 butir, supaya bisa tidur, tapi tetap tidak bisa tidur. Bagaimana ini???.
Ahh!!,
Hatiku semakin tak nyaman. Tak terasa sampailah
aku di rumah. Adikku langsung minta ijin untuk segera pulang karena waktu memang sudah malam. Kami jalan santai ,
beberapa kali kami istirahat. Badanku benar-benar lemas. Sepanjang jalan aku mabuk. Aku tak berdaya, lemas sudah kehilangan tenaga.
Aku
segera masuk rumah. Kulihat ibuku dan anak-anakku sudah tidur. Kulihat ternyata sudah jam 11.00
malam. Tidak biasanya juga jam segitu
sudah sepi. Aku pelan -pelan masuk
kamar, kulihat suami masih nonton You
tube.
Aku
balik ke dapur , kunyalakan kompor gas mau masak air untuk mandi. Kujaga air sampai mendidih. Segera kuangkat dan kubawa ke kamar mandi. Aku
masak air lagi, maksudku untuk merendam seluruh pakaianku dengan air panas. Rasa pusing pun masih ada. Pikiranku
benar-benar gelisah!.
Pintu
kamar ku buka. “Dik..”, tegur suamiku. Hanya itu yang ia omong. Aku pun segera
baring disebelahnya. Aku belum berani omong apa-apa.
Hanya aku langsung tidur. Suami pun tak omong apa-apa, mungkin tahu kalau aku pasti capek.
Sepanjang malam benar-benar ‘utuh’ aku tak bisa tidur. Kupaksa pejamkan mata , tapi ‘tetap’
tak bisa tidur. “Tuhaaannn!!, jangan lah
aku kena corona!!” doaku di sepanjang
malam. Berdebar-debar terus rasa hatiku. Badan merasa tidak nyaman. Tak terasa air mata menetes penuh
dipipi. Terdengar rerisak-isak suaraku,
akhirnya suami membangunkan aku. Dikira aku mimpi.
Dirabanya
kepalaku. Suami pun jadi kaget karena aku deman tinggi. Tak pikir panjang saat itu juga dia membawaku ke rumah sakit. Was-was hatiku tak kunjung berhenti. Aku takuuuttt sekali
jangan sampai aku kena virus covid. Suami segera
mengeluarkan mobil dari garasi dan mengajakku cepat untuk naik. Jarak rumah ke rumah sakit sekirat 2 km.
Di sepanjang jalan aku berusaha
tenang. Suami yang kelihatan panik.
Waktu
itu aku pulang dari Semarang, ada tugas dinas. Aku sempat karantina mandiri
selama 3 hari. Aku juga sudah swab bersama 17
orang yang lain tapi hasilnya
belum ada. Masih sementara menunggu. Sepanjang hari pun terus dihantui rasa ketakutan. Apalagi kalau baca-baca di
medsos ciri-ciri orang positif Covyd adalah : Deman, batuk kering, kelelahan, lemas badan,rasa
tidak nyaman, nyeri tenggorokan, diare,
mata merah, sakit kepala , hilang indera perasa, yang paling menakutkan adalah kesulitan bernafas atau sesak nafas , nyeri di dada atau rasa
tertekan pada dada hilangnya kemampuan
berbicara. Itu semua ada padaku!.
Sampai
di rumah sakit ternyata hasil swab pun belum ada. Dag dig dug hati
ini. Jiwaku terasa sudah
di ujung jurang yang sangat curam. “Dikutik sedikit, tinggal jatuh”,batinku. Setiap
detik kudaraskan doa pada Tuhan, Bunda Maria dan para kudus di Surga. Tak
sedikitpun lepas doa batin yang
kulakukan.
Tapi
hati harus selalu pasrah, iklas dan syukur.
Usaha sedikit, walau berat untuk tersenyum.
Tuhan kuatkan aku. Tuhan
dampingi terus aku. Kini Tuhan ada saja bersamaku. Tuhan membawaku ke
taman yang indah. Aku diajaknya jalan-jalan berkeliling. Waahhh!!!, mungkin ini
yang namanya Firdaus. Taman Eden. Tempat adam dan hawa berada. Begitu Indahnya. Kebahagiaan selalu
merasuki hatiku. Senyum selalu menebar.
Pesona alam indah seakan membawaku hinga ke sanubariku.
Tuhan,
janganlah kebahagiaan ini sirna. Tak
henti-hentinya aku terus bersyukur. Tak
pernah kurasakan hidup ‘sebahagia’ ini. Sungguh!!, ini adalah kebahagiaan yang halkiki. Setiap melewati
rumah -rumah indah mereka selalu menebarkan senyuman dengan ramah. Aku diajak
ke kolam , begitu sejuknya air itu. Aku
turun mencoba meraih air untuk cuci muka.
Ahh!!,Tiba
tiba aku terjatuh. Aku terpeleset ke
dalam. Terbelalak mataku!. Terasa dingin. Dingin sekali!!. Aku kaget!, aku
kaget sekali, terlihat beberapa orang di
sekitarku. Mengelilingi aku. Sabar ya ibu. Sabar ya... doa ya ibu....ternyata aku ada di sebuah ruang Isolasi. Suasananya ngeri. Seperti ruang operasi. Ruangan itu teramat sangat dingin karena AC. Aku sampai mengigil kedinginan. Terlihat disitu dokter dan perawat sangat
sibuk. Terlihat juga ada 4 orang pasien
yang ada diruangan bersamaku. Mungkin
mereka mempunyai penyakit yang
sama denganku. Tak pernah dalam hidupku kurasakan dinginnya suasana seperti ini.
Aku terasa di dalam kulkas.
Ya
Tuhan...ternyata aku tadi pingsan. Aku tak
sadarkan diri. Aku berada di alam
bawah sadar. Saat itu seolah Tuhanku
yang selalu kurindu datang menjemputku,
mengajakku berjalan-jalan. Oh Indahnya. Tuhan...Engkau begitu baik, aku rela
mati. Aku siap mati kapanpun. Dalam Tuhan hidup selalu dalam kedamaian dan kebahagiaan.
Seolah hidup di taman yang indah
mempesona. Dokter dan perawat tak pernah
tahu apa yang ada di pikiranku saat itu.
Kini,
sepenuhya aku sadar!. Sungguh aku sudah
sadar. Aku jadi ingat suami dan
anak-anakku. Terlihat mereka melihatku
dari lubang kaca. Kedua mata mereka begitu sembab, begitu juga suamiku. Jangan sampai
mereka berpikir tadi aku sudah
meninggalkan mereka untuk selamanya.
Ternyata benar aku
positif corona. Mungkin karena aku tersugesti terus menerus dan
ketakutan yang berlebihan akhirnya
terjadi beneran. Imun jadi drop. Badan lemah hingga tak sadarkan diri.
Tuhan
trimakasih, mujizat sudah terjadi padaku.
Dokter bilang aku baik-baik saja. Ibu boleh pulang. Aku menangis terharu dan
bahagia. Tak henti-hentinya aku berucap syukur kepada Tuhan. Seandainya aku
benar-benar mati, bagaimana
dengan akan-anakku yang masih kecil.
Yach!!,
kehidupan sudah di atur olehnya. Dengan cara apa Tuhan
panggil pun kita tidak mungkin menolak. Jika Tuhan benar-benar panggil, artinya
tugas di dunia sudah habis. Kapan Tuhan panggil pun kita tak pernah tahu. Kita
harus selalu siap dengan
kematian.
Saya jadi ingat kotbah pastor di gereja. Berbuatlah dan berperilakulah, seolah-olah besok kamu mati. Ini kan ku ingat terus. Akan ku terapkan dalam hati. Akan kuberitahukan untuk keluargaku dan orang-orang yang kutemui. Hidup mati ada di tangan Tuhan, aku percaya. Semoga hidup bisa bermanfaat untuk sesama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar