Rabu, 30 Desember 2020

Perjuangan Seorang Gadis

 




Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

                Disuatu  desa yang  cukup jauh dari rumahku ada seorang gadis manis bernama Melly.  Dia sekarang duduk di kelas 1 SMP. Tidak  seperti anak seusinya , dia harus berjalan eskstra dari rumahnya untuk sampai ke sekolah. Bagaimana tidak!  Jarak rumah ke sekolah 7 km lebih. Tak pernah ada  keluhan, dia selalu semangat. Dia harus jalan kaki setiap hari.

            Rumah di kampung  agak pedalaman sedang  SMP-nya ada di kota.  Untuk sampai ke sekolah harus melewati 2 sungai besar yaitu  sungai pabelan dan sungai  lamat.  Melewati  pematang sawah, sungai-sungai kecil-kecil aliran air persawahan. Dari rumah  sepatu di simpan di dalam tas.  Setelah  mendekati sekolah di pinggiran kota,  tepatnya di mesjid Kauman baru dia pakai sepatunya.

            Jam 06.00 WIB tepat dia  harus sudah star dari  rumah karena sekolah masuk jam 07.00 WIB.  Itu  dia  harus berjalan  setengah berlari supaya tidak terlambat  di sekolah.

            Hari senin seperti biasa, dia berangkat ke sekolah.  Pagi-pagi buta dia sudah  strat dari rumah. Dia pergi bersama dengan Mardani dan Atik  tetangganya. Mereka nyamperin di rumahnya. Ketiga sahabat itu sekolah di tempat yang sama. Hari Senin upacara bendera kebetulan dia bertugas  sebagai  pengibar bendera. Tentunya  harus datang lebih awal dari biasanya.

            Diperjalanan ke sekolah  selalu dinikmati. Disisi lain senang, karena sekaligus berolah raga.  Mereka berjalan  bertiga penuh semangat  dan buru-buru untuk cepat sampai di sekolah.  Mereka bertiga  seolah berlomba berjalan cepat,  keringat menetes, nafas terengah-engah tak dihiraukan, yang penting segera sampai tujuan.

Tepat  1 jam dia sampai di mesjid Kauman. Saatnya untuk mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kakinya. Mereka langsung laju menuju ke sekolah . Tak ada  kendala  yang berarti di perjalanan tadi. Sampai  di sekolah  teman-teman  yang lain sudah  berbaris di halaman sekolah, tanda upacara  akan segera di mulai.  Mely pun berlari kencang  menuju ke kelas untuk menyimpan tasnya. Dengan tergopoh-gopoh dia langsung menuju ke tempat tugas upacara dengan nafas yang  masih belum stabil. Temannya  senyum-senyum melihat  Mely berkeringat dan  ngos-ngosan. Mely  melirik kearah Hasto dengan muka tersenyum nyengir juga.

Pak  Bi,  pembina osis masih  sibuk mengatur  barisan  perkelas yang belum rapi. Semua petugas sudah mempersiapkan diri. Para pemimpin  barisan  menertiban barisannya masing-masing. Paduan suara  sudah berbaris rapi. Daniel sang  komandan upacara sudah berdiri tegap  di tengah lapangan.

            Penggerek  bendera Mely di tengah didampingi samping kiri Hasto dan kanan  Esti widiarto. Mereka percaya diri  karena sudah seminggu mereka berlatih bersama pak Bi, Pembina Osis.  Upacara berlancar. Semua petugas melaksanakan  tugasnya dengan baik, saat ,amanat, kepala sekolah memuji kekompakan kelas kami saat tugas upacara. Alhamdulilah!!, begitu bangga kami sekelas. Karena kelas 7-B yang mendapat tugas untuk upacara bendera. Ibu Mila masuk  ke kelas  dan memuji  kami semua...., kami  tambah bangga dan   semangat tentunya.

            Mely anaknya rajin dan tekun. Di kelas 7-B dia yang jadi ketua kelas. Ibu Mila  guru wali  kelas tahu kalau Mely dari  kampung. Pada saat pendaftaran  siswa baru, ibu guru sempat  bercerita kepada  ayah Mely. Ibu Mila  mendekati   Mely  dan bertanya” Mely, jarak yang jauh dari  rumah apa kamu tidak pernah merasa keletihan? ‘Tidak bu’ jawab Mely. “ saya senang karena kami bertiga ( Atik dan Mardani)  berjalan bersama-sama setiap hari.

            Bapak Melly pernah  cerita kepada ibu Mila   kalau Mely berjanji  akan belajar rajin. Dia akan belajar baik-baik. Walau orang tua miskin, dia ingin jadi dokter.  Jika Tuhan mengabulkan cita-citanya, dia ingin mebantu orang tua,  membantu orang  sakit yang tidak mampu.  Dia ingin berbagi  kepada orang yang  kesusahan. Mendengar itu  ibu guru tak kuasa menahan haru.  Ia akan terus berdoa dan berusaha  untuk mengejar mimpinya.

Mely   masih kecil, namun keinginannya untuk belajar sangat  tinggi. Banyak  anak- anak lain yang orang tuanya mampu, tinggal di kota. Memiliki akses  mudah ke sekolahnya namun bersikap malas-malasan. “Baik mereka orang kaya, walau  mereka tidak sekolah baik-baik tapi  nanti ada  warisan  dari orang tuanya. Bagaimana dengan Mely?”,  guman Mely dalam hatinya.

Bapak Mely hanya seorang buruh tani. Upah harian  tidak cukup untuk makan sekeluarga. Penghuni  rumah  ada 6 orang.  Ayah, ibu, Mely dan 3 adiknya . Dua orang SD dan yang satu masih  umur 3 tahun.

Ibu Mely buka  kios kecil di  samping rumahnya. Barang jualan kebutuhan rumah tangga. Mely yang  bertugas  belanja di pasar. Setiap pagi  ibunya   mencatat barang jualan  yang perlu dibelanja di pasar sekaligus uang yang untuk belanja. Jadi  setiap pulang  Sekolah Mely harus  ke pasar untuk  belanja barang titipan ibunya.  Jadi setiap pulang  Atik dan Mardani  biasa pulang  duluan karena mereka tidak ada tugas  belanja dari orang tuanya.  Biar belanja berat dibawanya dengan suka cita. Kadang  kalau ada orang baik dan berjalan searah membantu bawa belanjaan Mely. Tapi itu hanya kadang-kadang atau kebetuilan.

            Pernah suatu hari  ibu menyuruh beli garam 1 dos isi  60 bungkus, sekaligus  minyak goreng satu derigen 5 liter.  Melly pun tak pikir panjang  setelah mbayar di Ongko  dikasihnya barang belanjaannya. Aduh!!,  betapa beratnya  ini barang dengan berjalan 7 km lebih. Tak mungkin lah barang  dikembalikan. Di pintu toko sudah tertulis “‘Teliti sebelum membeli ,barang yang sudah dibeli tidak boleh ditukar atau dikembalikan’ Mely hanya ‘melongo’. Sudahlah!!. “saya  harus semangat”, kata dalam  hatinya.”

Karena  beratnya beban, dia  jadi sering istirahat.  Dia doa-doa  supaya ada orang baik yang lewat. Setiap  satu km dia  istirahat. Keringatpun bercucuran membasahi  seluruh tubuhnya yang mungil. Kampung tengah  merintih, lapar. Ehh  nasib!!,  ternyata  tak ada orang baik yang  melintas dan  rela membantu bawa barangnya. Hanya orang-orang  biasa yang  tak pusing dengan orang lain. Ahh!! kok jadi ngelantur....... Sambil menahan lapar, terus....terus  berjalan..... akhirnya tiba juga di rumah.

            Betapa ibunya prihatin melihat  anak kesayangan  membawa barang seberat itu.  Wajah memerah dan keringat bercucuran.  Buru-buru ibunya segera menjemputnya.  Garam yang satu dos diambil alih ibunya. Yaahh!!, lega... .. Mely segera  ambil  air minun,  diteguknya  habis segelas  penuh!.  Ibunya  segera mengambilkan sepiring nasi untuknya.

            Di kelas 8, karena Mely juara umum, sebagai hadiah,  orang tua Mely membelikan sepeda.  Kebetulan  bapaknya ada rejeki. Sepeda itu merk poenix.  Sepeda jengki untuk perempuan. Dia sempat beberapa hari naik sepeda.Begitu senang hatinya. Hehe... karena  harus menyeberang 2 buah sungai besar, Sepeda yang harus digendong setiap nyeberang sungai.  Sehari 4 kali gendong sepeda tersebut. Akhirnya mely pasrah, tidak mau lagi pakai  sepeda ke sekolah. Berjalan kaki lebih  nyaman.

            Karena setiap hari jalan, kaki dan nafaspun sudah terlatih kaena terbiasa. Pak guru olah raga, Pak Bianto paling sayang  dengan melly.  Jika ada  lomba lari pasti  Mely salah satu target pak guru.  Mely sudah beberapa kali  menyumbang piala untuk sekolah, lari 100m, lari 200m 500m  bahkan  lari maraton  tingkat karesidenan  ia juara 2. Bangga!. Selain dapat uang  ia dapat sertifikat. Betapa senang hatinya.

            Ibu Naning, ibu Trini mereka  sayang  pada Mely, selain anaknya sopan , pinter dia juga kalau diberi tugas selalu tuntas. Sampai pernah suatu saat  Mely disuruh jaga  anaknya ibu guru yang  opname di rumah sakit. Saking dekatnya ibu guru itu dengan Mely dan anaknya yang sekelas dengannya. Sebuah pengalaman berharga juga buat Mely, karena rumah ibu hanya dibalik tembok sekolah, Mely tak perlu jalan 7 km dari rumahnya. Seijin orang tua Mely ia sampai nginap 3 hari di rumah sakit.

            Mely juga  suka berpuasa saat punya  keinginan tertentu. Ini belajar dari neneknya yang suka puasa hari senin dan kamis. Dengan berpuasa artinya melatih dan  memerangi hawa nafsu, Rasa hati Meli jadi lebih damai. Hidup terasa tenang dan tak pernah ada gangguan. Dengan itu ia berkeyakinan  semua hal akan berjalan  lancar. Misal ia  punya kerinduan ‘bisa’ kerja ujian, atau supaya orang tuanya  mendapatkan rejeki  untuk mencukupkan  biaya sekolahnya dan lain-lain.

            Waktu terus berjaalan, Mely pun tetap semangat dalam belajar. Mely di kelas selalu rangking 1. Tak terasa kini  Mely sudah kelas 9. Ini tandanya  dia akan  menempuh  ujian SMP dan  ke jenjang yang lebih tinggi ,SMA.  Nabila (anaknya ibu Naning guru bahasa Inggris) adalah  sahabat yang selalu  menemani  Mely  saat  di perpustakaan  atau kerja tugas di sekolah. Bahkan buku-buku pelajaran biasa pinjam darinya. Nabila adalah orang ‘paling’ berjasa untuk Mely. Mereka saling  melengkapi, Mely punya otak yang cerdas, Nabila  punya fasilitas yang lengkap. Mereka kompak!, rela berbagai iklas memberi. Jika ada mata pelajaran yang Nabila kuang mengerti  Mely yang ditanya. Begitupun teman-teman yang lain, tak segan bertanya pada Mely. Klop!. Mereka saling memotivasi.

            Ujian Nasional berakhir. Mely,  Nabila  dan beberapa kawannya sudah libur. Mereka menunggu hasil 2 minggu lagi. Mely adalah siswi teladan di SMP  itu karena  dia selalu pegang juara umum.  Ia tak kesulitan  untuk masuk SMA dinamapun dengan  modal  sertifikat  siswa teladan yang ia punya. 

Kini Mely sudah Di SMA  Negeri 1 Magelang. Dia tetap  terus  berusaha semangat belajar  demi cita-cita yang  diimpikannya. Waktu  terus  berjalan. Kios mamanyapun berjalan lancar. Bapknya selalu memberi semangat  kepada Mely.  Doa selalu  didaraskan  setiap hari untuk  mewujudkan mimpinya itu.  Ditulisnya semboyan di kamarnya dengan  tulisan indah  dan bertinta emas.

Bertekun dalam belajar, semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, “Tuhan pasti  akan  memberikan ‘bukti nyata’  usaha  dan kerja keras kita  tak akan sia-sia”.

 

            Kelas 10 dan kelas 11 telah dilaluinya, dua kali  ia ikut  lomba  olimpiade matematika. Dia  juara harapan 1  tingkat  kabupaten,  waktu itu masih kelas 10  hampir saingannya hampir kelas 11,dia belum ada pengalaman. Rasa gugup, takut,  dan minder mendominasi pikirannya. Di keas 11 ibu guru  menunjuk lagi untuk Mely ikut,  dengan bimbingan bu Elin yang sabar akhirnya dia  bisa tembus ke propinsi. Wow!!, itu  sejarah  hidup yang tak ternilai harganya. Dia pergi Ke Balik Papan, Kalimantan Barat. Naik pesawat. Tidur di hotel berbintang. Dapat uang saku, Ahhayy!!.....bisa untuk cerita anak cucu kelak!.

            Betapa rasa bangga  kalau kita bisa menyumbangkan ‘piala’ kepada  sekolah. Selain bangga untuk  pribadi, minimal akan diingat  beberapa guru bahkan kepala sekolah. Selain itu, kejuaraan juga pasti akan berdampak untuk  kelanjutannya nanti.

            Mely masih selalu peringkat setiap tahunnya.  Kini sudah memasuki semester akhir di SMA. Tak terasa!. Artinya dia  sudah harus melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Kuliah!. Elsy  adalah teman dekat Melly. Mereka begitu akrab. Elsy  orang tuanya penjabat, tapi anaknya sederhana dan tidak neko-neko.  Tak jarang  Elsy  memberikan bantuan kepada Melly,  misal buku. Bahkan pernah suatu saat  Mely di ajak ke rumah Elsy, orang tua Elsy menberi hadiah  baju baru kepada Mely.

            Ujian Nasional SMA pun telah berakhir. Mely, Elsy dan  teman-temannya  saatnya menunggu hasil  kelulusan. Semua kelas 12  pasti  sementara tunggu hasil  dengan dag dig du. Tanggal 16 Mei pengumuman  kelulusan. Tiba saatnya  pengumunan. Melly  dan Elsy saling  mendoakan. Undangan kelulusan sudah  diberikan dari pihak sekolah 2 hari yang  lalu. Hari ‘H’ tiba. Para oarng tua  datang bersama  anak-anaknnya. 

            Sebelum  08.00 Wib  orang tua Mely  sudah  menunggu di depan pagar karena memang pagar  sekolah masih tertutup. Tak selang berapa lama  orang tua dan teman teman yang lain berdatangan. Para orang tua dan anak-anak menuju kekelas masing-masing. Para wali kelas  pun sudah menunggu.

            Saat pembagian  hasil kelulusan, Mely mendapatkan 2 buah ampolp  secara bersamaan. Di kelas Mely XII IPA 3, semua  sudah mendapatkan amplop. Ketegangan  dan kekawatiran pun terasa. Akhirnya  ketegangan saat itu ‘pecah’ setelah mereka membuka  amplop masing-masing. Betapa bahagianya mereka, ternyata semua lulus.  Wali kelas pun ikut  bahagia  dengan kelulusan seluruh siswanya.

            “Puji Tuhan..., aku lulus”, ucap Mely setelah  ayahnya membuka  amplop tersebut. Saat itu  amplop yang kedua dibukanya dengan rasa penasaran. Dengan tangan gemetar  dia membaca  isi amplop tersebut. Antara percaya tidak, dia baca ulang-ulang isi amplop itu. Antara menangis, terharu, bahagia,  campur aduk  jadi satu.

Ternyata isinya  adalah  surat  pemberitahuan  bahwa dia sebagai  penerima  beasiswa “Bidik Misi” kuliah  kedokteran di UGM. Tak henti-hentinya dia bersyukur pada Tuhan. Dia pun segera mencium tangan guru di depannya. Tak lupa ia langsung lari ke ruang kepala  sekolah untuk mengucapkan terima kasih.

            Elsy mengetahui  kalau sahabatnya ini adalah  orang yang  sangat giat belajar. Dia rajin dan tekun. Dia disiplin, rendah hati dan  familiar. Setiap jam istirahat  dia memilih ke perpustakaan dari pada ke kantin. Selain dia tidak  ada uang saku, dia  juga harus  prihatin mengingat keadaan dan kemampuan orang tuanya. Jadi ia  lebih memanfaatkan waktunya  untuk belajar di perpustakaan.

Ternyata  benar! Tidak ada usaha  dan kerja keras yang sia-sia. Sepanjang  kita semangat, tekun,  rajin  pasti akan menuai hasilnya. “Iq itu hanya  1 %  sedangkan kerja keras yang 99%”. Semua  keberhasilan  melalui proses bukan instan. Siapa yang menabur dia pula yang menuai hasilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...