Oleh
: Ledwina Eti Wuryani
Disuatu desa yang
cukup jauh dari rumahku ada seorang gadis manis bernama Melly. Dia sekarang duduk di kelas 1 SMP. Tidak seperti anak seusinya , dia harus berjalan eskstra
dari rumahnya untuk sampai ke sekolah. Bagaimana tidak! Jarak rumah ke sekolah 7 km lebih. Tak pernah
ada keluhan, dia selalu semangat. Dia
harus jalan kaki setiap hari.
Rumah di kampung agak pedalaman sedang SMP-nya ada di kota. Untuk sampai ke sekolah harus melewati 2 sungai
besar yaitu sungai pabelan dan sungai lamat.
Melewati pematang sawah, sungai-sungai
kecil-kecil aliran air persawahan. Dari rumah
sepatu di simpan di dalam tas. Setelah mendekati sekolah di pinggiran kota, tepatnya di mesjid Kauman baru dia pakai
sepatunya.
Jam 06.00 WIB tepat dia harus sudah star dari rumah karena sekolah masuk jam 07.00
WIB. Itu
dia harus berjalan setengah berlari supaya tidak terlambat di sekolah.
Hari senin seperti biasa, dia
berangkat ke sekolah. Pagi-pagi buta dia
sudah strat dari rumah. Dia pergi bersama
dengan Mardani dan Atik tetangganya. Mereka
nyamperin di rumahnya. Ketiga sahabat itu sekolah di tempat yang sama. Hari
Senin upacara bendera kebetulan dia bertugas
sebagai pengibar bendera.
Tentunya harus datang lebih awal dari
biasanya.
Diperjalanan ke sekolah selalu dinikmati. Disisi lain senang, karena
sekaligus berolah raga. Mereka
berjalan bertiga penuh semangat dan buru-buru untuk cepat sampai di
sekolah. Mereka bertiga seolah berlomba berjalan cepat, keringat menetes, nafas terengah-engah tak
dihiraukan, yang penting segera sampai tujuan.
Tepat 1 jam dia sampai di mesjid Kauman. Saatnya
untuk mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kakinya. Mereka langsung laju
menuju ke sekolah . Tak ada kendala yang berarti di perjalanan tadi. Sampai di sekolah teman-teman
yang lain sudah berbaris di
halaman sekolah, tanda upacara akan
segera di mulai. Mely pun berlari kencang menuju ke kelas untuk menyimpan tasnya.
Dengan tergopoh-gopoh dia langsung menuju ke tempat tugas upacara dengan nafas
yang masih belum stabil. Temannya senyum-senyum melihat Mely berkeringat dan ngos-ngosan. Mely melirik kearah Hasto dengan muka tersenyum
nyengir juga.
Pak Bi, pembina
osis masih sibuk mengatur barisan
perkelas yang belum rapi. Semua petugas sudah mempersiapkan diri. Para
pemimpin barisan menertiban barisannya masing-masing. Paduan
suara sudah berbaris rapi. Daniel
sang komandan upacara sudah berdiri
tegap di tengah lapangan.
Penggerek bendera Mely di tengah didampingi samping
kiri Hasto dan kanan Esti widiarto. Mereka
percaya diri karena sudah seminggu
mereka berlatih bersama pak Bi, Pembina Osis.
Upacara berlancar. Semua petugas melaksanakan tugasnya dengan baik, saat ,amanat, kepala
sekolah memuji kekompakan kelas kami saat tugas upacara. Alhamdulilah!!, begitu
bangga kami sekelas. Karena kelas 7-B yang mendapat tugas untuk upacara
bendera. Ibu Mila masuk ke kelas dan memuji
kami semua...., kami tambah
bangga dan semangat tentunya.
Mely anaknya rajin dan tekun. Di
kelas 7-B dia yang jadi ketua kelas. Ibu Mila
guru wali kelas tahu kalau Mely
dari kampung. Pada saat pendaftaran siswa baru, ibu guru sempat bercerita kepada ayah Mely. Ibu Mila mendekati
Mely dan bertanya” Mely, jarak
yang jauh dari rumah apa kamu tidak
pernah merasa keletihan? ‘Tidak bu’ jawab Mely. “ saya senang karena kami
bertiga ( Atik dan Mardani) berjalan
bersama-sama setiap hari.
Bapak Melly pernah cerita kepada ibu Mila kalau Mely berjanji akan belajar rajin. Dia akan belajar
baik-baik. Walau orang tua miskin, dia ingin jadi dokter. Jika Tuhan mengabulkan cita-citanya, dia
ingin mebantu orang tua, membantu orang sakit yang tidak mampu. Dia ingin berbagi kepada orang yang kesusahan. Mendengar itu ibu guru tak kuasa menahan haru. Ia akan terus berdoa dan berusaha untuk mengejar mimpinya.
Mely masih kecil, namun keinginannya untuk
belajar sangat tinggi. Banyak anak- anak lain yang orang tuanya mampu,
tinggal di kota. Memiliki akses mudah ke
sekolahnya namun bersikap malas-malasan. “Baik mereka orang kaya, walau mereka tidak sekolah baik-baik tapi nanti ada
warisan dari orang tuanya.
Bagaimana dengan Mely?”, guman Mely
dalam hatinya.
Bapak
Mely hanya seorang buruh tani. Upah harian
tidak cukup untuk makan sekeluarga. Penghuni rumah
ada 6 orang. Ayah, ibu, Mely dan
3 adiknya . Dua orang SD dan yang satu masih
umur 3 tahun.
Ibu
Mely buka kios kecil di samping rumahnya. Barang jualan kebutuhan rumah
tangga. Mely yang bertugas belanja di pasar. Setiap pagi ibunya mencatat barang jualan yang perlu dibelanja di pasar sekaligus uang
yang untuk belanja. Jadi setiap
pulang Sekolah Mely harus ke pasar untuk belanja barang titipan ibunya. Jadi setiap pulang Atik dan Mardani biasa pulang
duluan karena mereka tidak ada tugas
belanja dari orang tuanya. Biar
belanja berat dibawanya dengan suka cita. Kadang kalau ada orang baik dan berjalan searah
membantu bawa belanjaan Mely. Tapi itu hanya kadang-kadang atau kebetuilan.
Pernah suatu hari ibu menyuruh beli garam 1 dos isi 60 bungkus, sekaligus minyak goreng satu derigen 5 liter. Melly pun tak pikir panjang setelah mbayar di Ongko dikasihnya barang belanjaannya. Aduh!!, betapa beratnya ini barang dengan berjalan 7 km lebih. Tak
mungkin lah barang dikembalikan. Di
pintu toko sudah tertulis “‘Teliti
sebelum membeli ,barang yang sudah dibeli tidak boleh ditukar atau
dikembalikan’ Mely hanya ‘melongo’. Sudahlah!!. “saya harus semangat”, kata dalam hatinya.”
Karena beratnya beban, dia jadi sering istirahat. Dia doa-doa
supaya ada orang baik yang lewat. Setiap
satu km dia istirahat.
Keringatpun bercucuran membasahi seluruh
tubuhnya yang mungil. Kampung tengah
merintih, lapar. Ehh nasib!!, ternyata
tak ada orang baik yang melintas
dan rela membantu bawa barangnya. Hanya
orang-orang biasa yang tak pusing dengan orang lain. Ahh!! kok jadi
ngelantur....... Sambil menahan lapar, terus....terus berjalan..... akhirnya tiba juga di rumah.
Betapa ibunya prihatin melihat anak kesayangan membawa barang seberat itu. Wajah memerah dan keringat bercucuran. Buru-buru ibunya segera menjemputnya. Garam yang satu dos diambil alih ibunya.
Yaahh!!, lega... .. Mely segera
ambil air minun, diteguknya
habis segelas penuh!. Ibunya
segera mengambilkan sepiring nasi untuknya.
Di kelas 8, karena Mely juara umum,
sebagai hadiah, orang tua Mely
membelikan sepeda. Kebetulan bapaknya ada rejeki. Sepeda itu merk poenix. Sepeda jengki untuk perempuan. Dia sempat
beberapa hari naik sepeda.Begitu senang hatinya. Hehe... karena harus menyeberang 2 buah sungai besar, Sepeda
yang harus digendong setiap nyeberang sungai.
Sehari 4 kali gendong sepeda tersebut. Akhirnya mely pasrah, tidak mau
lagi pakai sepeda ke sekolah. Berjalan
kaki lebih nyaman.
Karena setiap hari jalan, kaki dan
nafaspun sudah terlatih kaena terbiasa. Pak guru olah raga, Pak Bianto paling
sayang dengan melly. Jika ada
lomba lari pasti Mely salah satu target
pak guru. Mely sudah beberapa kali menyumbang piala untuk sekolah, lari 100m,
lari 200m 500m bahkan lari maraton
tingkat karesidenan ia juara 2.
Bangga!. Selain dapat uang ia dapat
sertifikat. Betapa senang hatinya.
Ibu Naning, ibu Trini mereka sayang
pada Mely, selain anaknya sopan , pinter dia juga kalau diberi tugas
selalu tuntas. Sampai pernah suatu saat
Mely disuruh jaga anaknya ibu
guru yang opname di rumah sakit. Saking
dekatnya ibu guru itu dengan Mely dan anaknya yang sekelas dengannya. Sebuah
pengalaman berharga juga buat Mely, karena rumah ibu hanya dibalik tembok
sekolah, Mely tak perlu jalan 7 km dari rumahnya. Seijin orang tua Mely ia
sampai nginap 3 hari di rumah sakit.
Mely juga suka berpuasa saat punya keinginan tertentu. Ini belajar dari neneknya
yang suka puasa hari senin dan kamis. Dengan berpuasa artinya melatih dan memerangi hawa nafsu, Rasa hati Meli jadi
lebih damai. Hidup terasa tenang dan tak pernah ada gangguan. Dengan itu ia
berkeyakinan semua hal akan berjalan lancar. Misal ia punya kerinduan ‘bisa’ kerja ujian, atau
supaya orang tuanya mendapatkan
rejeki untuk mencukupkan biaya sekolahnya dan lain-lain.
Waktu terus berjaalan, Mely pun
tetap semangat dalam belajar. Mely di kelas selalu rangking 1. Tak terasa
kini Mely sudah kelas 9. Ini tandanya dia akan
menempuh ujian SMP dan ke jenjang yang lebih tinggi ,SMA. Nabila (anaknya ibu Naning guru bahasa
Inggris) adalah sahabat yang selalu menemani
Mely saat di perpustakaan atau kerja tugas di sekolah. Bahkan buku-buku
pelajaran biasa pinjam darinya. Nabila adalah orang ‘paling’ berjasa untuk
Mely. Mereka saling melengkapi, Mely
punya otak yang cerdas, Nabila punya
fasilitas yang lengkap. Mereka kompak!, rela berbagai iklas memberi. Jika ada
mata pelajaran yang Nabila kuang mengerti
Mely yang ditanya. Begitupun teman-teman yang lain, tak segan bertanya
pada Mely. Klop!. Mereka saling memotivasi.
Ujian Nasional berakhir. Mely, Nabila
dan beberapa kawannya sudah libur. Mereka menunggu hasil 2 minggu lagi.
Mely adalah siswi teladan di SMP itu
karena dia selalu pegang juara
umum. Ia tak kesulitan untuk masuk SMA dinamapun dengan modal
sertifikat siswa teladan yang ia
punya.
Kini
Mely sudah Di SMA Negeri 1 Magelang. Dia
tetap terus berusaha semangat belajar demi cita-cita yang diimpikannya. Waktu terus
berjalan. Kios mamanyapun berjalan lancar. Bapknya selalu memberi
semangat kepada Mely. Doa selalu
didaraskan setiap hari untuk mewujudkan mimpinya itu. Ditulisnya semboyan di kamarnya dengan tulisan indah dan bertinta emas.
“Bertekun dalam belajar, semangat dalam menggapai
cita-cita , tersenyum dalam
setiap perjuangan, berdoa dalam
setiap usaha, “Tuhan pasti akan
memberikan ‘bukti nyata’ usaha dan kerja keras kita tak akan sia-sia”.
Kelas 10 dan kelas 11 telah
dilaluinya, dua kali ia ikut lomba
olimpiade matematika. Dia juara
harapan 1 tingkat kabupaten,
waktu itu masih kelas 10 hampir
saingannya hampir kelas 11,dia belum ada pengalaman. Rasa gugup, takut, dan minder mendominasi pikirannya. Di keas 11
ibu guru menunjuk lagi untuk Mely
ikut, dengan bimbingan bu Elin yang
sabar akhirnya dia bisa tembus ke propinsi.
Wow!!, itu sejarah hidup yang tak ternilai harganya. Dia pergi
Ke Balik Papan, Kalimantan Barat. Naik pesawat. Tidur di hotel berbintang.
Dapat uang saku, Ahhayy!!.....bisa untuk cerita anak cucu kelak!.
Betapa rasa bangga kalau kita bisa menyumbangkan ‘piala’
kepada sekolah. Selain bangga untuk pribadi, minimal akan diingat beberapa guru bahkan kepala sekolah. Selain
itu, kejuaraan juga pasti akan berdampak untuk
kelanjutannya nanti.
Mely masih selalu peringkat setiap
tahunnya. Kini sudah memasuki semester
akhir di SMA. Tak terasa!. Artinya dia
sudah harus melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Kuliah!.
Elsy adalah teman dekat Melly. Mereka
begitu akrab. Elsy orang tuanya
penjabat, tapi anaknya sederhana dan tidak neko-neko. Tak jarang
Elsy memberikan bantuan kepada
Melly, misal buku. Bahkan pernah suatu
saat Mely di ajak ke rumah Elsy, orang
tua Elsy menberi hadiah baju baru kepada
Mely.
Ujian Nasional SMA pun telah
berakhir. Mely, Elsy dan
teman-temannya saatnya menunggu
hasil kelulusan. Semua kelas 12 pasti
sementara tunggu hasil dengan dag
dig du. Tanggal 16 Mei pengumuman
kelulusan. Tiba saatnya
pengumunan. Melly dan Elsy
saling mendoakan. Undangan kelulusan
sudah diberikan dari pihak sekolah 2
hari yang lalu. Hari ‘H’ tiba. Para
oarng tua datang bersama anak-anaknnya.
Sebelum 08.00 Wib
orang tua Mely sudah menunggu di depan pagar karena memang
pagar sekolah masih tertutup. Tak selang
berapa lama orang tua dan teman teman
yang lain berdatangan. Para orang tua dan anak-anak menuju kekelas
masing-masing. Para wali kelas pun sudah
menunggu.
Saat pembagian hasil kelulusan, Mely mendapatkan 2 buah
ampolp secara bersamaan. Di kelas Mely
XII IPA 3, semua sudah mendapatkan
amplop. Ketegangan dan kekawatiran pun
terasa. Akhirnya ketegangan saat itu
‘pecah’ setelah mereka membuka amplop
masing-masing. Betapa bahagianya mereka, ternyata semua lulus. Wali kelas pun ikut bahagia
dengan kelulusan seluruh siswanya.
“Puji Tuhan..., aku lulus”, ucap
Mely setelah ayahnya membuka amplop tersebut. Saat itu amplop yang kedua dibukanya dengan rasa
penasaran. Dengan tangan gemetar dia
membaca isi amplop tersebut. Antara
percaya tidak, dia baca ulang-ulang isi amplop itu. Antara menangis, terharu,
bahagia, campur aduk jadi satu.
Ternyata
isinya adalah surat
pemberitahuan bahwa dia sebagai penerima
beasiswa “Bidik Misi” kuliah
kedokteran di UGM. Tak henti-hentinya dia bersyukur pada Tuhan. Dia pun
segera mencium tangan guru di depannya. Tak lupa ia langsung lari ke ruang
kepala sekolah untuk mengucapkan terima
kasih.
Elsy mengetahui kalau sahabatnya ini adalah orang yang
sangat giat belajar. Dia rajin dan tekun. Dia disiplin, rendah hati
dan familiar. Setiap jam istirahat dia memilih ke perpustakaan dari pada ke
kantin. Selain dia tidak ada uang saku,
dia juga harus prihatin mengingat keadaan dan kemampuan
orang tuanya. Jadi ia lebih memanfaatkan
waktunya untuk belajar di perpustakaan.
Ternyata benar! Tidak ada usaha dan kerja keras yang sia-sia. Sepanjang kita semangat, tekun, rajin
pasti akan menuai hasilnya. “Iq itu hanya 1 % sedangkan
kerja keras yang 99%”. Semua
keberhasilan melalui proses bukan
instan. Siapa yang menabur dia pula yang menuai hasilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar