Oleh : Ledwina Eti
Wuryani
Pada suatu pagi, Langit masih begitu
gelap. Hujan telah berhenti . Angin menyusup di relung hati terasa dingin.
Rasa kantuk masih menyelimuti diri. Dalam peraduan, Heni menarik
kembali selimutnya mencari
kehangatan dan membungkus lagi tubuhnya yang mungil dan melanjutkan tidurnya.
Bola mata kerlap-kerlip engan menutup
matanya.
Mata tak mau terpejam, pikiran terus melayang . Mengingat tugas rutin yang wajib dikerjakan. Heni hanya bersama ibu.
Mereka harus kerja demi kehidupan
bersama ibunya. Ayahnya sudah
meninggalkan mereka 3 tahun yang lalu, karena sudah lama menderita sakit. Saat itu Heni kelas 5 SD. Waktu
itu mereka hidup bertiga.
Hari-hari bapaknya menjadi
pemulung, ibunya ‘buruh’ di
pasar, jadi tukang gendong barang orang
yang belanja di dalam pasar kemudian
dibawa keluar pasar dan Heni sedari kecil
hingga kini berusianya 10 tahun bertugas
menjajakan koran di pinggir jalan.
Bapaknya meninggal tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Hanya sisa penderitaan yang ada. Hidup sebagai keluarga
miskin. Berumah kardus di bentaran kali
code. Hati terasa ingin protes. Kenapa hidupku
berbeda dengan orang lain?. Henii
kecil memang harus menerima kenyataan.
Hidup harus tetap dijalani!. Sesulit
apapun.!
Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah tantangan dan hidup juga penderitaan. Kita harus hadapi dengan lapang. Ibu Heni berfikir dan tercenung. Ia bukan protes. Tanya dalam hatinya,
kenapa aku miskin?.
“Kenapa aku dulu jatuh cinta
dengan bapaknya Heni yang jelas-jelas orang miskin!, Ah!!, namanya cinta. Cinta memang buta. Demi cinta gunung kan ku daki lautpun kan kuseberangi.
Biarlah demi ‘yang tercita’ aku rela berpuasa asal ‘kau’ selalu disampingku. Ah!!, Itu masa lalu. Bikin sesak di dada jika
ingat waktu itu.
Waktu itu orang tuaku tak setuju nikah dengan dia, tapi akhirnya aku lari. Demi cinta suciku,
kutinggalkan keluarga besarku. Tapi, sekarang!! Ini adalah Resiko. Ini adalah tanggung jawabku. Dengan segala
masalah dalam kehidupanku akhirnya aku ‘jatuh’.
‘Aku jadi hidup sengsara, duka
lara dan nestapa. Miskin papa. Aku anak yang durhaka. Anak yang tidak taat pada orang tua. Kini......aku hidup di hamparan
sungai bersama gundukan sampah kiriman
dari kota. Aroma busuk menyengat yang
harus selalu ku hirup setiap saat.
Penyesalan tak ada guna. Aku tak mungkin
melaporkan keadaanku pada
keluargaku. Ditaruh mana mukaku kalau
aku mengadu. Kalau perlu janganlah
ada keluargaku yang tahu tentang
kehidupanku. Jangan!! Itu memang salahku. Saatnya aku mohon pengampunan. Tuhan
tetap akan menolong hambanya
yang telah menyesali kesalahannya. “Saya
harus terima kenyataan pahit ini”, rasa penyesalan
ibunya Heni dalam hati.
Kini, Heni tinggal hanya dengan
ibunya. Ibu Heni begitu sayang pada
putri satu-satunya. Setiap pagi sebelum
Heni berangkat ‘tugas’. Ibunya sudah menyediakan minuman teh panas. Siapa duluan bangun, ya
mereka yang buat teh panas. Tak ada
waktu untuk sarapan. Kalaupun ada kue itu adalah anugerah. Ibu Heni kerja di
pasar sebagai buruh, tukang bawa
barang orang-orang yang belanja.
Jika ada orang belanja di dalam
pasar untuk menuju keluar pasar, ia
yang tukang ‘gendong. Diberi imbalan
‘hanya’ kerelaan dari orang yang
minta jasanya.
Biar miskin tak penting hidup mengeluh. Hidup harus kerja. Hidup harus berusaha
sesuai dengan kemampuan kita. Sebenarnya
belum saatnya Heni berpikir seperti itu.
Itu adalah pikiran orang dewasa. Seandainya
aku dilahirkan oleh seorang ibu yang
kaya, pasti aku senang sekali.
Aku bisa minta dibelikan sepeda. Aku
bisa main-main dengan teman-teman
dengan leluasa, tanpa harus kerja. Aku juga
bisa pake baju yang bagus. “ Ah!!.
Itu pikiran yang konyol !! “
ungkapan perasaan Heni.
Bangun tidur Heni segera ketempat
biasa, di taman kota tempat ia mengambil koran-korannya. Dia bangun lebih
awal dari biasa. Hari masih pagi
ketika Heni berangkat menuju jam kota.
Dilewatinya pos polisi yang berada tak jauh dari
tempat itu. Seorang polisi
nampak di atas sedannya. Seorang polisi
menjulurkan kepalanya keluar jendela sedan sambil memanggilnya, “Hai!! beli satu korannya!”. Pak Polisi itu kemudian menyodorkan uang
harga korannya. Di lampu merah
seorang ibu memanggilnya untuk
membeli juga, dengan lari kecil Heni segera mendekatinya.
Pulang menjajakan koran terasa
lelah, hari ini dia pulang lebih awal karena
masih pagi koran ‘jatah’nya sudah habis. Beruntung memang hari ini dibanding hari-hari
biasa. Seperti biasa jam 13.00 Heni
harus sekolah. Ini rutin ia jalani
setiap hari. Pulang sekolah jam 18.00 WIB.
Yang Selalu terpikirkan olehnya
pada saat itu dan juga di beberapa tahun
ke depan. Dia harus bekerja lebih giat. Kalau
ke sekolah lebih awal, dan naik kelas dengan nilai yang baik. Ibunya
selalu berpesan, jadi orang
harus bangun pagi. Jika orang
bangun siang, rejeki pagi sudah diambil orang. Jika kamu jualan koran, kalau
sudah siang mana orang mau beli, ya orang yang jualan pagi tadi yang
sudah dapat rejeki.
Hari masih pagi, terdengar ayam berkokok di luar rumah. Dia bangun pagi-pagi buta.
Sebelum turun dari tempat tidurnya
seperti biasa, berdoa , ucapan
trimakasih sudah bisa tidur nyeyak malam tadi. Dan mohon
menyertaan Tuhan untuk hari yang baru. Dengan selalu berdoa, hidup terasa damai dan
nyaman.
Ibu dan Heni merasa menikmati
hidupnya. Yang penting bersyukur
pada Tuhan selalu diberi kesehatan. Makan
seadanya nikmati saja. Hari-hari terus berlalu. Saat
Heni duduk sendiri dan termenung. Saat itu datanglah Devi menemuinya.
Dia tahu Heni karena sering diajak jalan-jalan pagi oleh opanya. Devi adalah anak orang ‘berada’.
Terlihat dari penampilannya. Dia
mau mengajak Heni main di rumahnya. Kebetulan hari itu
hari libur.
Setelah ijin sama ibunya pergilah mereka menuju rumah Devi. Mamanya memperbolehkan pergi karena tugas Heni sudah
selesai. Uang hasil loper sudah dikasih ibunya.
Tak lupa simpanan ‘wajib’ untuk
ditabung di tiang bambu kamarnya. Jadi
loper koran tidak sepanjang hari. Tergantung keberuntungan hari itu. Bos biasa memberi jatah berbagai
koran 20- 50 ekssemplar. Ada juga majalah. Kalau lagi untung jam 10.00 WIB sudah
terjual habis. Kalau lagi sial, yach!, sampai jam 13 belum habis. Tak jarang Heni
dari menjajakan koran langsung pergi sekolah karena sudah jam 13.00 WIB.
Waktunya sekolah. Kalau ternyata jam yang ditentukan belum habis
berarti koran yang tidak laku dikembalikan
ke Bosnya. Lumayan hasil penjualan koran bisa untuk biaya
hidup bersama ibunya.
Tibalah mereka di rumah Devi. Mata
Heni terbelalak. Tercengang melihat Rumah teman barunya, yang ‘wow’. Rumah begitu mewah, ada kolam tempat mandinya. Halaman dalam begitu
luas. Ada juga 2 ekor monyet
yang dipiara papanya Devi. Dengan
wajah ramah mama Devi mempersilahkan
Heni masuk. Heni
yang berpakaian dekil enggan untuk
masuk. Ditariknya tangan Heni, “mari Hen,
ayo masuk!” ajak Devi. Setelah masuk segera Devi lari kecil ke kamarnya dan
mengambilkan baju untuk Rini . Dengan
senang hati Heni menerima pemberian Devi.
Disuruhnya langsung ganti pakaian dan mandi di kamar mandi. Terkagumnya tak pernah berhenti, Duh!!
Bahagianya hati Rini. Mama Devi orangnya baik sekali. Mama Devi menawarkan kalau ada waktu Heni dibolehkan
main-main karena Devi tidak ada teman di rumah.
Rini menatap ibunya Devi dengan
mata seolah terkagum. Sorot mata Heni tertuju
ke sosok mamanya Devi yang suaranya menyejukkan hati. Heni
selalu membayangkan bahwa orang kaya itu
sombong. Ternyata yang ditemui sekarang orangnya baik sekali. Dirumah Devi, Heni diperlakukan dengan sangat baik
Devi dan Heni seumuran. Begitu
senang Heni mendapat tawaran dari
mamanya Devi. Setelah makan dan menjelang
sore Heni pamit pulang. Sampai di rumah
mamanya belum juga ada di rumah.
Selang beberapa menit akhirnya mamanya
datang dengan peluh dan keringat. Dia
membawa bungkusan, ternyata ada 2 potong
kue untuk Heni. Heni simpan dulu di atas
lemari kayu keropos samping kamar tidurnya.
Hati Heni terasa berbunga-bunga . Eh!!, ternyata ada sebuah bungkusan
lagi yang dibawa mamanya, karena penasaran dibukalah. “ Bu??, ini ada sepatu
untuk siapa??” Tanyanya penasaran. “Itu untuk kamu!”, jawab ibunya dari
luar karena sementara mencuci piring.
Ibunya membeli di rombengan ( pasar loak
jualan barang bekas: Red) untuk ganti sepatu Heni yang sudah sobek dan sudah tak bisa dijahit lagi. Begitu
senang hati Heni. “Kamu harus sekolah
yang baik, supaya jadi anak yang pinter. “Harus rajin belajar!”, terdengar suara ibu
dari dapur. “Jangan seperti ibu
sekarng!”, lanjut suara ibunya. Hati Heni begitu. Dia berharap cepat pagi
dan besok sekolah sudah dengan
sepatu yang baru. Yess!!
Langitpun mulai gelap. Suasana
mendung membuat gerah. Mamanya sibuk merebus singkong dan membuat sambel tomat campur terasi kesukaan
Heni. Setelah mereka
makan, sore itu semakin gelap, Heni
kerja PR dengan diterangi sinar lampu teplok.
Setelah habis kerja iapun
tidur. Rasa lelah dan penatnya
badan, tak terasa tidurpun
langsung lelap.
Semalam sehabis makan sebelum tidur,
Heni sempat cerita kepada ibunya kalau tadi siang diajak kerumah Devi. Teman
barunya. Heni cerita banyak hal tentang keluarga Devi. Dengan penuh semangat dia cerita dari
a hingga z. Ibunya
begitu bahagia mendengarkan cerita Heni.
Ibunya menasehati jika nanti
pergi lagi ke rumah Devi sopan. Harus jujur. Jangan sekali-kali berbuat salah di rumah Devi. Jangan pula mengecewakan mereka, “Heni
harus tahu diri , kamu orang miskin dan
bukan siapa-siapa“. Heni mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
Akhirnya Heni kecilpun sudah bisa berpikir maju. Dia berjanji pada
ibunya akan lebih rajin menjajakan koran. Dia akan bangun pagi lebih awal lagi supaya
nanti hasil jualan lebih laku banyak. Mulai hari ini Heni
akan menepati janjinya. Dia Bangun lebih
pagi dari hari-hari biasa. Dia langsung
menuju di Jam kota, tempat dia biasa mangkal. Sampai di tempat tujuan, ternyata Jun dan
Asna sudah duluan ada. Itu tak menyurutkan niatnya. Ternyata mereka bertiga punya semangat yang sama.
Mereka punya mimpi yang sama untuk
menjadi anak yang pintar dan punya masa depan yang lebih baik. Mareka
selalu menjadi peringkat di kelasnya. Merekapun akrab seperti saudara, orang-tuanya sama-sama hidup bertentangga Cuma agak jauh , sekitar 500 m dari gubuknya Heni.
Pulang dari loper koran ternyata
Devi sudah menunggu di rumah Heni.
Diajaknya Heni pergi bersamanya.
Tak pikir panjang Heni segera mengekor di belakang Devi. Mereka berjalan beiringan. Sampai di rumah mamanya
sudah menyiapkan makan untuk
Devi. Hidangan yang
amat lezat mustinya. Heni hanya
bengong saja , selama hidup belum pernah lihat makan yang model
begitu. Ini adalah makan enak yang akan
dia rasa pertama kali dalam hidup. Tak
pikir lama merekapun berdua makan dengan lahap. Mama Reni tersenyum
melihat kedua anak itu makan dengan
lahap. Selesai makan, diajaknya Rini
bermain di teras rumahnya. Berbagai mainan
milik Devi ditunjukkan kepada Heni. Diberinya Heni beberapa buku
tulis baru yang cantik hadiah
ulang tahun dari papanya. Begitu senang hati Heni.
Tugas rutin harian pun tak pernah
absen. Tabungan di tiang bambu tetap berjalan. Tak terasa
waktupun terus berjalan. Kini Heni harus
masuk SMA. Sesuai dengan
kemampuan ekonomi orang tua. Heni sekolah paling dekat yang bisa di tempuh dengan jalan kaki.
Hari pertama sekolah begitu
bahagia. Bertemu dengan teman-teman barunya.
Heni dengan baju layak pakai yang ibunya beli dari rombengan. Begiutu pula sepatunya. Itu tidak menyurutkan hati Heni . Heni tetap bersemangat. Dia tidak
pernah punya rasa minder kepada teman yang lain.
Nasehat-nasehat dari ibunya selalu diingat. Orang hidup sopan, rendah hati dan jujur.
Pertemanan antara Heni dan Devi pun tetap berlanjut. Mereka adalah teman
akrab. Papa dan mamanya Devi juga sayang kepada Heni. Bahkan sering kali jika mereka pesiar,
Heni selalu diajak. Sering
juga Orang tua Devi membelikan baju
untuk Heni sebagai hadiah.
Begitu senang orang tua Heni kepada anak sewayangnya. Suatu malam Saat Heni tidur lelap dibelailah putrinya dengan penuh kasih sayang. Tak terasa air mata menetes dipipinya. Diusapnya perlahan dengan kain kumal selimut Heni.
Ibunya berpikir dan termenung...trimakasih Tuhan biar kami miskin tapi kami hidup bahagia bersama putri kesayangannya. Dia selalu berdoa dan memohon
kepada Tuhan supaya Heni menjadi anak yang berguna. Anak yang pintar.
Hidup yang lebih baik. Punya
suami yang ada pekerjaan jelas. Penuh pengertian, setia,
sayang sama istri dan mapan.
Heni dewasa begitu cantik. Heni mempesona. Banyak lelaki
yang mencintainya. Dia kerja di sebuah kantor yang terkemuka.
Ibunya bangga sekali dengan Heni. Tak
henti-hentinya dia bersyukur pada Tuhan.
Akhirnya Heni menjatuhkan pilihan
dengan seorang pemuda yang gagah. Tampan.
Baik hati. Dermawan dan taat agamanya. Begitu
Ideal suami Heni. Heni dan suaminya
hidup bahagia. Begitu idealnya pasangan
suami istri itu. Mereka dikaruniai 2
anak laki-laki yang lahir kembar.
Lengkaplah kebahagiaan mereka. Setiap
kali mereka datang menengok ibunya
selalu membawa oleh-oleh makanan
kesukaan ibunya. Martabak!. Bahkan ibunya
juga dibelikan baju yang bagus, “pasti ini mahal harganya”, suara
batinnya. Suatu hari Heni dan suaminya datang menawarkan
ibunya untuk pergi bersama-sama untuk ‘umroh’...Wah!! itu adalah kebahagian yang tak terkira. Ibunya tersenyum bangga. Itu adalah mimpi ibu dalam
hidup. Betapa bahagianya jika sebelum mati
bisa pergi ke Mekah. Tuhan sungguh baik. Tuhan teramat baik.
Menitipkan ‘seorang’ Heni yang selalu membanggakan orang tua.
Airmata terharu menetes deras di pipinya.
Tiba-tiba!! “Ibu-ibu!!, sudah pagi
bangun ibu!!, suara Heni memangil-manggil ibunya. Aduh ternyata saya mimpi!!, jawab ibunya
sambil mengusap matanya. Ibu Heni
segera bangun, Heni sudah menyiapkan minunam teh panas seperti biasa. Tak lama kemudian dia mencium tangan ibunya lalu segera pergi.
Ibu Heni minum teh dan termenung
memikirkan mimpi semalam. Tak pikir panjang ibunya Heni mempersiapkan diri cepat-cepat pergi ke pasar. Alhasil Mimpi
akhirnya ibunya Heni jadi kepikiran terus.
Hari terus berlalu, Heni dan Ibunya pun tak pernah alpa untuk menunaikan sholat 5 waktu. Setiap hari doa untuk
kesehatannya dan rejekinya. Dia pun berharap semoga kelak diberikan kehidupan yang lebih baik .
Orang hidup haruslah punya mimpi supaya kita lebih semangat menjalani hidup. Hidup ini keras. Kita harus menjalani hidup dengan penuh suka
cita dan selalu bersyukur dengan apa yang ada.
Tuhan memberi rejeki tidak akan salah alamat. Sepanjang kita terus berdoa Tuhan akan menjawab doa kita.
Hidup jangan melanggar perintah Tuhan. Jangan punya
rasa iri, dengki , sombong, congkak dan tinggi hati. Apalagi seperti kehidupan Heni dan ibunya,
biar hidup miskin tapi bisa menikmati.
Jangan lupa bahagia.
Tak terasa kini Heni sudah kelas
3 SMA. Alhamdulilah!!. Berkat kerja keras semua tak ada yang sia-sia. Devi dan Heni pun masih
terus berteman walau mereka sekolah di tempat yang berbeda. Beruntung sekali Heni,
dalam belajar dia bisa pinjam
bukunya Devi. Mereka bisa belajar bersama. Dengan segala fasilitas yang Devi punya. Ada Lap
top, ada HP android. Dimana jaman
sekarang tuntutan siswa ‘harus’ punya fasilitas itu. Apalagi saat
Pandemi melanda. Saat Belajar dari Rumah.
Devi adalah’malaikat’nya Heni. Banyak hal kesulitan Heni, Devi yang membantunya. Mereka bisa saling mengisi, saling melengkapi dan saling
membutuhkan. Itu teman sejati.
Berteman dengan Devi yang ‘nota bene’ orang berada, Bisa
saja membantu keuangan Heni saat
Heni kesusahan keuangan . Cita-cita Heni
tak pernah lenyap di telan waktu. Dia
dari dulu ingin jadi guru. Dia
selalu kagum dengan pengabdian seorang guru. Hidup bersahaja. Tidak pernah foya-fota.
Biar guru sekarang sudah bisa mempunyai kehidupan yang ‘ baru’.
Maksudnya Dulu profesi guru sering di
pandang ‘sebelah mata’. Tapi sekarang
banyak para pemuda-pemudi yang
bercita-cita jadi guru. Bahkan ada
yang kuliah jurusan teknik ambil akta mengajar untuk jadi
guru. Dokter hewan juga ambil akta untuk jadi guru. Tehnologi pertanian juga
ambil akta untuk jadi guru. Banyak
jurusan-jurusan lain yang ambil akta sekarang jadi guru. Jaman
sekarang guru jadi Idola.
“Kalau tidak sanggup menahan perihnya belajar, berarti kamu harus sanggup
menahan perihnya kebodohan”, Iman
Safi’i. Tidak ada keberhasilan yang tanpa
kerja keras. Iq itu hanya 1% sedangkan kerja keras yang 99%. Ada saja orang yang
terlalu mengandalkan IQ tinggi, tapi tak
pernah belajar!. Ya percuma!. Hidup bagai roda, kadang di atas, kadang di samping, bahkan bisa saja di bawah...begitu terus berputar.
Kita semua pasti mengalami.
Ketika aku menemui beberapa tahun kemudian. Sosok Heni tidak seperti dulu
lagi. Heni kini sudah remaja. Heni begitu cantik. Dia menunjukkan kedewasaannya dan penuh mandiri. Heni siap melanjutkan kuliahnya dengan modal prestasi yang ia miliki. Kejarlah terus mimpi hingga
tercapai untuk kehidupan yang
lebih baik di hari nanti.
Waingapu, 25 Desember 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar