Rabu, 30 Desember 2020

Sahabat Sejati

 



Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Pada suatu pagi, Langit masih begitu  gelap. Hujan telah    berhenti .  Angin menyusup di relung hati terasa dingin. Rasa  kantuk  masih menyelimuti diri. Dalam peraduan, Heni  menarik  kembali selimutnya  mencari kehangatan dan membungkus lagi tubuhnya yang mungil dan melanjutkan tidurnya. Bola mata kerlap-kerlip  engan menutup matanya.

Mata tak mau terpejam, pikiran terus melayang .  Mengingat tugas rutin yang  wajib dikerjakan. Heni hanya bersama ibu. Mereka harus kerja  demi kehidupan bersama ibunya. Ayahnya  sudah meninggalkan mereka 3 tahun yang lalu, karena sudah lama menderita  sakit.  Saat itu Heni kelas 5 SD.  Waktu  itu mereka  hidup bertiga. Hari-hari  bapaknya  menjadi  pemulung, ibunya  ‘buruh’ di pasar, jadi tukang  gendong barang orang yang belanja di dalam pasar  kemudian dibawa keluar pasar dan  Heni sedari kecil hingga kini berusianya 10 tahun bertugas  menjajakan koran di pinggir jalan.

Bapaknya meninggal tanpa meninggalkan harta sedikitpun.  Hanya sisa  penderitaan yang ada. Hidup sebagai keluarga miskin. Berumah  kardus di bentaran kali code.  Hati terasa ingin protes. Kenapa  hidupku  berbeda  dengan orang lain?. Henii kecil memang harus  menerima kenyataan. Hidup harus tetap dijalani!.  Sesulit apapun.!

Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah tantangan dan hidup juga  penderitaan. Kita  harus hadapi dengan lapang.  Ibu Heni berfikir dan tercenung.  Ia bukan protes. Tanya dalam hatinya, kenapa  aku  miskin?.  “Kenapa  aku dulu jatuh cinta dengan bapaknya Heni yang jelas-jelas orang miskin!, Ah!!, namanya cinta.  Cinta memang buta. Demi cinta  gunung kan ku daki lautpun kan kuseberangi. Biarlah demi  ‘yang tercita’ aku  rela berpuasa asal ‘kau’ selalu disampingku.  Ah!!, Itu masa lalu. Bikin sesak di dada jika ingat waktu itu.

Waktu itu orang tuaku tak setuju nikah dengan dia,  tapi akhirnya aku lari. Demi cinta suciku, kutinggalkan keluarga besarku. Tapi, sekarang!! Ini adalah Resiko.  Ini adalah tanggung jawabku. Dengan segala masalah dalam kehidupanku akhirnya aku ‘jatuh’.  ‘Aku jadi hidup sengsara,  duka lara dan nestapa.  Miskin papa.  Aku anak yang durhaka. Anak yang tidak  taat pada orang tua.  Kini......aku hidup di  hamparan  sungai bersama  gundukan sampah kiriman dari kota. Aroma busuk menyengat  yang harus selalu ku hirup setiap saat.

Penyesalan tak ada guna. Aku tak mungkin  melaporkan keadaanku  pada keluargaku. Ditaruh mana mukaku kalau  aku mengadu. Kalau perlu janganlah  ada  keluargaku yang tahu tentang kehidupanku. Jangan!! Itu memang salahku. Saatnya aku  mohon pengampunan.  Tuhan  tetap akan menolong  hambanya yang  telah menyesali kesalahannya. “Saya harus terima  kenyataan pahit ini”, rasa penyesalan ibunya Heni dalam hati.

Kini, Heni  tinggal hanya dengan ibunya. Ibu Heni  begitu sayang pada putri satu-satunya. Setiap pagi  sebelum Heni  berangkat ‘tugas’. Ibunya  sudah menyediakan  minuman teh panas. Siapa duluan bangun, ya mereka yang buat teh panas.  Tak ada waktu untuk sarapan. Kalaupun ada kue itu adalah anugerah. Ibu Heni kerja di pasar  sebagai buruh, tukang  bawa  barang orang-orang yang belanja.  Jika ada orang belanja  di dalam pasar untuk menuju keluar pasar,  ia yang  tukang ‘gendong.  Diberi imbalan  ‘hanya’  kerelaan dari orang yang minta jasanya.

Biar miskin  tak penting  hidup mengeluh.  Hidup harus kerja. Hidup harus berusaha sesuai dengan kemampuan kita.  Sebenarnya  belum saatnya Heni berpikir seperti itu. Itu adalah pikiran orang dewasa. Seandainya  aku  dilahirkan oleh seorang  ibu yang  kaya, pasti aku senang sekali.  Aku bisa minta dibelikan sepeda. Aku  bisa  main-main dengan teman-teman dengan leluasa, tanpa harus kerja. Aku juga  bisa pake baju yang bagus. “ Ah!!.  Itu  pikiran yang konyol !! “ ungkapan perasaan Heni.

Bangun tidur  Heni segera ketempat biasa, di taman kota  tempat  ia mengambil koran-korannya. Dia  bangun lebih  awal dari biasa. Hari  masih pagi ketika Heni berangkat  menuju jam kota. Dilewatinya  pos polisi yang berada  tak jauh dari  tempat itu.  Seorang polisi nampak  di atas sedannya. Seorang polisi menjulurkan  kepalanya keluar  jendela sedan sambil  memanggilnya, “Hai!! beli  satu korannya!”.  Pak Polisi itu kemudian menyodorkan uang harga korannya.  Di  lampu merah  seorang ibu  memanggilnya untuk membeli juga, dengan lari kecil Heni segera mendekatinya.

Pulang menjajakan  koran terasa lelah, hari ini dia pulang lebih awal karena  masih pagi koran ‘jatah’nya sudah habis.  Beruntung memang hari ini dibanding hari-hari biasa. Seperti biasa  jam 13.00 Heni harus  sekolah. Ini rutin ia jalani setiap hari. Pulang sekolah jam 18.00 WIB.

Yang  Selalu terpikirkan olehnya pada saat itu dan  juga di beberapa tahun ke depan.  Dia harus bekerja lebih giat. Kalau ke sekolah lebih awal, dan naik kelas  dengan nilai yang baik.  Ibunya  selalu berpesan, jadi orang  harus  bangun pagi. Jika orang bangun siang, rejeki pagi sudah diambil orang. Jika kamu jualan koran, kalau sudah  siang mana orang  mau beli, ya orang yang jualan pagi tadi yang sudah dapat rejeki.

Hari masih  pagi, terdengar  ayam berkokok di luar  rumah. Dia bangun pagi-pagi buta. Sebelum  turun dari tempat  tidurnya  seperti biasa,  berdoa , ucapan trimakasih  sudah  bisa tidur nyeyak  malam tadi.  Dan mohon  menyertaan Tuhan   untuk hari yang baru.  Dengan selalu berdoa, hidup terasa damai dan nyaman.

Ibu dan Heni  merasa  menikmati  hidupnya. Yang penting  bersyukur pada Tuhan  selalu diberi kesehatan.  Makan  seadanya nikmati saja.  Hari-hari  terus berlalu.  Saat  Heni  duduk sendiri  dan termenung.  Saat itu datanglah Devi  menemuinya.  Dia  tahu Heni  karena sering  diajak jalan-jalan pagi oleh opanya.  Devi  adalah anak  orang  ‘berada’.  Terlihat dari penampilannya. Dia mau  mengajak  Heni main di rumahnya. Kebetulan hari itu hari libur.

Setelah ijin sama ibunya pergilah mereka menuju  rumah Devi. Mamanya  memperbolehkan pergi karena tugas Heni sudah selesai. Uang hasil loper sudah dikasih ibunya.  Tak lupa simpanan  ‘wajib’ untuk ditabung di  tiang bambu kamarnya.   Jadi loper koran tidak sepanjang hari.  Tergantung keberuntungan hari itu.   Bos biasa memberi jatah  berbagai  koran   20- 50  ekssemplar. Ada juga majalah.  Kalau lagi untung jam 10.00 WIB   sudah terjual habis. Kalau lagi sial, yach!, sampai jam 13 belum habis. Tak jarang Heni dari menjajakan koran langsung pergi sekolah karena sudah jam 13.00 WIB. Waktunya sekolah.  Kalau  ternyata jam yang ditentukan belum habis berarti koran yang tidak laku dikembalikan  ke Bosnya. Lumayan hasil penjualan koran bisa untuk  biaya  hidup bersama ibunya.

Tibalah mereka di rumah Devi. Mata  Heni terbelalak. Tercengang melihat Rumah teman barunya,  yang ‘wow’.  Rumah begitu mewah, ada kolam  tempat mandinya. Halaman dalam begitu luas.  Ada juga 2 ekor  monyet  yang dipiara papanya Devi. Dengan  wajah ramah  mama Devi mempersilahkan Heni masuk.   Heni  yang  berpakaian dekil enggan untuk masuk.  Ditariknya tangan Heni, “mari Hen, ayo masuk!” ajak Devi. Setelah masuk segera Devi lari kecil ke kamarnya dan mengambilkan baju untuk Rini .  Dengan senang hati Heni  menerima pemberian Devi. Disuruhnya langsung ganti pakaian dan mandi di kamar mandi.  Terkagumnya tak pernah berhenti, Duh!! Bahagianya hati Rini. Mama Devi orangnya baik sekali.  Mama Devi menawarkan kalau ada waktu Heni  dibolehkan  main-main karena Devi tidak ada teman di rumah.

Rini menatap ibunya  Devi dengan mata  seolah terkagum. Sorot mata Heni  tertuju  ke sosok mamanya Devi yang suaranya   menyejukkan hati.  Heni  selalu membayangkan bahwa orang kaya itu  sombong.  Ternyata  yang ditemui sekarang orangnya baik sekali.  Dirumah Devi, Heni  diperlakukan dengan sangat baik

Devi dan Heni seumuran.  Begitu senang  Heni mendapat tawaran dari mamanya Devi. Setelah makan  dan menjelang sore Heni pamit pulang. Sampai di rumah  mamanya  belum juga ada di rumah. Selang beberapa  menit akhirnya mamanya datang dengan peluh dan keringat.  Dia membawa  bungkusan, ternyata ada 2 potong kue untuk Heni. Heni simpan dulu di atas  lemari kayu keropos samping kamar tidurnya.

Hati Heni terasa berbunga-bunga . Eh!!, ternyata ada sebuah bungkusan lagi yang dibawa mamanya, karena penasaran dibukalah. “ Bu??, ini ada sepatu untuk siapa??” Tanyanya penasaran. “Itu untuk kamu!”, jawab ibunya dari luar  karena sementara mencuci piring. Ibunya  membeli di rombengan ( pasar loak jualan barang bekas: Red) untuk ganti sepatu Heni yang sudah  sobek dan sudah tak bisa dijahit lagi. Begitu senang hati Heni.  “Kamu harus sekolah yang baik, supaya jadi anak yang pinter.  “Harus rajin belajar!”, terdengar suara ibu dari  dapur. “Jangan seperti ibu sekarng!”, lanjut suara ibunya. Hati Heni begitu. Dia berharap  cepat pagi  dan besok sekolah  sudah dengan sepatu yang baru. Yess!!

Langitpun mulai gelap. Suasana  mendung membuat gerah.  Mamanya sibuk  merebus singkong dan  membuat sambel tomat campur terasi kesukaan Heni.  Setelah  mereka  makan,  sore itu semakin gelap, Heni kerja PR dengan diterangi sinar lampu teplok.  Setelah habis kerja iapun  tidur.  Rasa lelah dan penatnya badan,  tak terasa  tidurpun  langsung lelap.

Semalam  sehabis makan sebelum tidur, Heni sempat cerita kepada ibunya kalau tadi siang diajak kerumah Devi. Teman barunya.  Heni cerita  banyak hal tentang keluarga Devi.  Dengan penuh semangat dia cerita   dari  a  hingga  z.  Ibunya begitu bahagia mendengarkan cerita Heni.  Ibunya  menasehati jika nanti pergi lagi ke rumah Devi sopan. Harus jujur. Jangan sekali-kali  berbuat salah di rumah  Devi. Jangan pula mengecewakan mereka, “Heni harus tahu diri , kamu  orang miskin dan bukan siapa-siapa“. Heni mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.

Akhirnya Heni kecilpun  sudah  bisa berpikir maju. Dia berjanji pada ibunya  akan  lebih rajin menjajakan koran. Dia  akan bangun pagi lebih  awal  lagi supaya  nanti hasil jualan lebih laku banyak. Mulai hari  ini  Heni akan menepati janjinya. Dia Bangun  lebih pagi dari  hari-hari biasa. Dia langsung menuju  di Jam kota, tempat  dia biasa mangkal.  Sampai di tempat  tujuan, ternyata  Jun dan  Asna sudah  duluan ada.  Itu tak menyurutkan niatnya. Ternyata  mereka bertiga punya semangat yang sama. Mereka punya mimpi yang sama untuk  menjadi anak yang pintar dan punya masa depan yang lebih baik. Mareka selalu menjadi peringkat di kelasnya.  Merekapun akrab seperti saudara,  orang-tuanya sama-sama  hidup bertentangga Cuma  agak jauh , sekitar 500 m dari gubuknya Heni.

Pulang  dari loper koran ternyata Devi sudah menunggu di rumah Heni.  Diajaknya Heni  pergi bersamanya. Tak pikir  panjang Heni segera  mengekor di belakang Devi. Mereka berjalan  beiringan. Sampai di rumah  mamanya  sudah  menyiapkan makan untuk Devi.  Hidangan  yang  amat lezat mustinya.  Heni hanya bengong saja ,  selama  hidup belum pernah lihat makan yang model begitu. Ini adalah makan  enak yang akan dia  rasa pertama kali dalam hidup.  Tak  pikir lama  merekapun berdua  makan dengan lahap. Mama Reni tersenyum melihat  kedua anak itu makan dengan lahap. Selesai makan, diajaknya  Rini bermain di teras rumahnya. Berbagai mainan  milik Devi ditunjukkan kepada Heni. Diberinya  Heni  beberapa buku  tulis baru yang cantik  hadiah ulang tahun dari papanya. Begitu senang hati Heni.

Tugas rutin harian  pun tak pernah absen. Tabungan di  tiang bambu  tetap berjalan.  Tak terasa  waktupun terus berjalan.  Kini Heni  harus  masuk SMA. Sesuai  dengan kemampuan ekonomi orang tua. Heni sekolah   paling dekat yang bisa di tempuh dengan  jalan kaki.  Hari  pertama sekolah begitu bahagia. Bertemu dengan teman-teman barunya.

Heni dengan baju layak pakai yang ibunya beli dari  rombengan. Begiutu pula sepatunya. Itu  tidak menyurutkan  hati Heni . Heni tetap bersemangat. Dia tidak pernah  punya rasa  minder kepada teman yang lain. Nasehat-nasehat  dari ibunya selalu  diingat.  Orang hidup  sopan, rendah hati dan jujur.

Pertemanan antara Heni dan Devi pun tetap berlanjut. Mereka adalah teman akrab. Papa dan mamanya Devi juga sayang kepada Heni.  Bahkan sering kali jika mereka  pesiar,  Heni selalu diajak.  Sering juga  Orang tua Devi membelikan baju untuk Heni sebagai hadiah.

Begitu senang orang tua Heni kepada anak sewayangnya.  Suatu malam Saat Heni tidur lelap dibelailah  putrinya dengan penuh kasih sayang. Tak terasa  air mata menetes  dipipinya. Diusapnya  perlahan dengan kain kumal selimut Heni. Ibunya berpikir dan termenung...trimakasih Tuhan biar kami  miskin tapi kami  hidup bahagia bersama  putri kesayangannya. Dia selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya Heni menjadi anak yang berguna. Anak yang  pintar.  Hidup yang lebih baik. Punya  suami yang  ada  pekerjaan jelas. Penuh pengertian, setia, sayang sama istri dan mapan.

Heni  dewasa  begitu cantik. Heni mempesona. Banyak lelaki yang  mencintainya.  Dia kerja di sebuah kantor yang terkemuka. Ibunya bangga sekali dengan  Heni. Tak henti-hentinya dia bersyukur pada Tuhan.  Akhirnya Heni  menjatuhkan pilihan dengan  seorang pemuda yang gagah. Tampan. Baik hati. Dermawan  dan taat agamanya. Begitu Ideal suami Heni.  Heni dan suaminya hidup bahagia.  Begitu idealnya pasangan suami istri itu.  Mereka dikaruniai 2 anak laki-laki  yang lahir kembar. Lengkaplah kebahagiaan mereka.  Setiap kali mereka datang  menengok ibunya selalu  membawa oleh-oleh makanan kesukaan ibunya. Martabak!.  Bahkan ibunya juga  dibelikan baju  yang bagus, “pasti ini mahal harganya”, suara batinnya.  Suatu hari  Heni dan suaminya datang  menawarkan  ibunya untuk pergi bersama-sama untuk ‘umroh’...Wah!!  itu adalah  kebahagian yang tak terkira. Ibunya  tersenyum bangga. Itu adalah mimpi ibu dalam hidup. Betapa bahagianya jika sebelum mati  bisa  pergi ke Mekah.  Tuhan sungguh baik. Tuhan teramat baik. Menitipkan  ‘seorang’  Heni yang selalu membanggakan orang tua. Airmata terharu menetes deras di pipinya.

Tiba-tiba!! “Ibu-ibu!!, sudah pagi  bangun ibu!!, suara Heni memangil-manggil ibunya. Aduh  ternyata saya mimpi!!,  jawab ibunya  sambil mengusap matanya.  Ibu Heni segera bangun, Heni sudah menyiapkan minunam teh panas seperti biasa.  Tak lama kemudian dia  mencium tangan ibunya lalu  segera pergi.

Ibu  Heni minum teh dan termenung memikirkan mimpi semalam. Tak pikir panjang ibunya Heni  mempersiapkan diri cepat-cepat pergi ke pasar.  Alhasil Mimpi  akhirnya ibunya Heni jadi kepikiran terus.

Hari terus berlalu, Heni dan Ibunya pun tak pernah alpa untuk  menunaikan sholat 5 waktu.  Setiap hari doa  untuk  kesehatannya dan rejekinya. Dia pun berharap semoga kelak  diberikan kehidupan yang  lebih baik .

Orang hidup haruslah punya mimpi supaya kita  lebih semangat menjalani hidup.  Hidup ini keras.  Kita harus menjalani hidup dengan penuh suka cita dan selalu bersyukur dengan apa yang ada.  Tuhan memberi rejeki tidak akan salah alamat. Sepanjang  kita terus berdoa  Tuhan akan menjawab doa kita.

Hidup  jangan  melanggar perintah Tuhan. Jangan  punya  rasa iri, dengki , sombong, congkak dan tinggi hati.  Apalagi seperti kehidupan Heni dan ibunya, biar  hidup miskin tapi bisa menikmati. Jangan lupa bahagia.

Tak terasa  kini Heni sudah  kelas  3 SMA. Alhamdulilah!!. Berkat kerja keras semua tak  ada yang sia-sia. Devi dan Heni pun masih terus berteman walau mereka sekolah di tempat yang berbeda.  Beruntung sekali  Heni,  dalam belajar  dia bisa  pinjam  bukunya Devi. Mereka  bisa  belajar bersama. Dengan  segala fasilitas yang Devi punya. Ada Lap top, ada HP android.  Dimana jaman sekarang tuntutan  siswa  ‘harus’ punya fasilitas itu. Apalagi saat Pandemi melanda. Saat Belajar dari Rumah.  Devi adalah’malaikat’nya Heni. Banyak hal  kesulitan Heni,  Devi yang membantunya. Mereka bisa  saling mengisi, saling melengkapi dan saling membutuhkan. Itu teman sejati.

 Berteman dengan Devi  yang ‘nota bene’ orang  berada, Bisa  saja membantu keuangan  Heni saat Heni kesusahan keuangan . Cita-cita Heni  tak pernah lenyap di telan waktu. Dia  dari dulu ingin jadi guru.  Dia selalu  kagum dengan  pengabdian seorang guru.  Hidup bersahaja. Tidak pernah  foya-fota.  Biar guru sekarang  sudah  bisa mempunyai kehidupan yang ‘ baru’. Maksudnya  Dulu profesi guru sering di pandang ‘sebelah mata’. Tapi sekarang  banyak  para pemuda-pemudi yang bercita-cita  jadi guru. Bahkan ada yang  kuliah  jurusan teknik ambil akta mengajar untuk jadi guru. Dokter hewan juga  ambil akta  untuk jadi guru. Tehnologi pertanian juga ambil akta untuk jadi guru. Banyak  jurusan-jurusan lain yang ambil akta sekarang jadi guru. Jaman sekarang  guru jadi Idola.

“Kalau tidak sanggup  menahan perihnya  belajar, berarti kamu harus sanggup menahan  perihnya kebodohan”, Iman Safi’i.  Tidak ada keberhasilan yang tanpa kerja keras.  Iq itu hanya 1% sedangkan kerja keras yang 99%. Ada saja orang yang terlalu mengandalkan  IQ tinggi, tapi tak pernah belajar!. Ya percuma!. Hidup bagai roda, kadang di atas, kadang  di samping, bahkan  bisa saja  di bawah...begitu terus  berputar.  Kita semua pasti mengalami.

Ketika aku menemui beberapa tahun kemudian. Sosok Heni tidak seperti dulu lagi. Heni kini sudah remaja. Heni begitu cantik. Dia menunjukkan  kedewasaannya dan penuh mandiri. Heni siap melanjutkan  kuliahnya dengan modal prestasi yang ia miliki.  Kejarlah terus  mimpi hingga  tercapai untuk  kehidupan yang lebih baik di hari nanti.

 

                                                                                                Waingapu,  25 Desember 2020

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...