.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, dari mana kita belajar ikhlas? Jika semua yang kita impikan segera terwujud, dari mana kita belajar sabar? Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar?”
Anda pernah membaca tulisan di atas? Ya, itu karya Dahlan Iskan dalam buku Sepatu Dahlan. Apa yang Anda rasakan setelah membaca kutipan tersebut? Menginspirasi, memotivasi, menyemangati, memberikan energi.
“Bagus banget”, kata seorang pembaca. “Mengapa Anda sebut bagus?” tanya saya. “Karena sangat menginspirasi dan memotivasi”, ujarnya.
Demikianlah, tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.
Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin pertama, kedua, dan ketiga. Yaitu M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, serta L – logis. Berikutnya saya sampaikan poin keempat, yaitu I – inspiratif dan motivatif.
I – Inspiratif dan Motivatif
Tulisan disebut sebagai bagus dan berkualitas, apabila mampu memberikan inspirasi atau motivasi kebaikan bagi pembaca. Kadang kita membaca tulisan pendek, namun memberikan inspirasi dan motivasi yang sangat besar. Ini akan menjadi tulisan berkesan.
Di antara buku yang masih berkesan, padahal saya baca lebih dari 20 tahun yang lalu, adalah “Perbarui Hidupmu” karya Muhammad Al Ghazali, serta buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David Schwartz. Tulisan yang membangkitkan inspirasi dan motivasi, cenderung memberikan kesan mendalam.
Bukan soal seberapa panjang tulisan, namun seberapa kuat menginspirasi dan memotivasi pembaca. Itu sebabnya, kutipan kalimat motivasi, atau quotes, menjadi menarik dan berkesan. Meskipun bukan tulisan yang panjang, namun mampu memberi inspirasi dan motivasi.
Tulisan Anda akan bisa memberikan inspirasi dan motivasi, apabila memiliki beberapa unsur berikut ini.
- Kepedulian
Pembaca akan merasa ‘hangat’, saat tulisan Anda peduli dengan kondisi mereka. Itu sebabnya, novel berisi kisah sedih, sangat diterima pada banyak kalangan masyarakat yang memiliki kisah serupa. Mereka merasa disapa dan dipedulikan melalui tulisan itu.
Demikian juga, tulisan berisi pemberontakan dan protes keras atas kebijakan penguasa, diterima dengan antusias oleh kelompok yang merasakan penderitaan. Tulisan itu bisa mewakili kepedihan mereka yang menderita akibat kebijakan penguasa. Kelompok yang merasa dimarginalkan, menjadi tersapa oleh tulisan seperti itu.
Jika Anda menulis untuk memperjuangkan hak-hak kelompok masyarakat, akan mendapat sambutan hangat dari mereka yang merasa terwakili. Mereka merasa dipedulikan dan diperhatikan, maka tulisan Anda menjadi sangat inspiratif bagi mereka.
- Antusias
Jika Anda memiliki kepedulian, maka akan memunculkan sikap antusias. Misalnya, jika Anda peduli dengan petani yang gagal panen, akan menimbulkan sikap antusias dalam memperhatikan dan membela mereka.
Kita ingat pepatah “enthusiasm is contagious”, antusiasme itu menular. Jika Anda memiliki sikap antusias terhadap sesuatu, maka tulisan yang Anda buat akan bisa menularkan antusias itu kepada khalayak luas.
Sebuah kedai kecil bisa menjadi laris lantaran banyak netizen menulis dan mereview kedai tersebut dengan antusias. Sebuah tempat wisata baru yang belum banyak dikenal orang, mendadak ramai lantaran banyak ditulis dan direview oleh netizen dengan penuh antusias.
- Menyentuh emosi pembaca
Tulisan inspiratif dan motivatif cenderung menyentuh sisi emosi pembaca. Bukan sisi logika. Maka, kisah dalam bentuk cerpen atau novel, menjadi efektif memasuki wilayah emosi, yang mampu menginspirasi.
Saat pembaca telah tersentuh sisi emosinya, mereka tidak lagi menuntut, ‘apakah ini logis?’ Mari saya ajak kembali membaca bagian dari buku Sepatu Dahlan, karya Dahlan Iskan berikut ini.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan. Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan. Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati.
Tetap semangat. Tetap sabar. Tetap tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.
Membaca kutipan di atas, membuat pembaca tersentuh sisi emosinya. Mereka merasakan kesejukan, namun juga semangat. Pembaca yang telah tersentuh sisi emosinya, tidak lagi mempertanyakan, “Benarkah itu semua?”
- Yakin
Anda tidak akan mampu menginspirasi dan memotivasi pembaca, jika tidak yakin dengan apa yang Anda tuliskan. Keyakinan akan membangun kekuatan logika. Jika tidak yakin, semua logika yang sudah Anda bangun, mudah terpataskan.
“Jika Anda rutin minum madu dicampur perasan jeruk nipis, jinten, bawang putih dan jahe, kemungkinan Anda bisa kebal dari Covid. Tapi saya tidak yakin, karena belum mencoba. Juga belum ada testimoni dari orang lain. Silakan saja kalau mau mencoba agar mengetahui apakah informasi tersebut benar”.
Tulisan yang penuh ketidakyakinan seperti di atas, sulit untuk menginspirasi dan memotivasi pembaca. Maka tulislah hal yang Anda yakin, karena dengan itu Anda bisa memberikan energi kepada pembaca.
- Berikan Alasan Penjelas
Tulisan inspiratif dan motivatif, tidak selalu harus berorientasi menyentuh sisi emosi. Anda bisa juga menyentuh sisi logika, namun harus disertai dengan alasan penjelas.
Ketika Anda menulis bahwa Covid bisa dilawan dengan hati bahagia, Anda harus memberikan alasan penjelas. Mengapa harus bahagia di masa pandemi corona? Apa alasan Anda mengajak para pembaca untuk menjaga kebahagiaan? Berikan alasan Anda.
Semakin logis alasan yang Anda kemukakan, membuat pembaca semakin terinspirasi dengan pesan yang Anda sampaikan.
Selamat berkarya. Selamat menginspirasi dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar