.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sebuah penelitian yang dilakukan selama enam tahun dari 8.800 penduduk Australia memberikan data yang mengejutkan. Peneliti menemukan, setiap jam yang dihabiskan untuk menonton televisi, meningkatkan risiko kematian 18 % karena penyakit kardiovaskular, dan 9 % karena penyakit kanker.

Mereka yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari, menghadapi risiko kematian 80 % lebih besar karena penyakit kardiovaskular. Mereka yang menyaksikan televisi kurang dari dua jam setiap harinya tidak menghadapi risiko serupa.

Apa respon Anda membaca tulisan di atas? Dengan cepat Anda akan mengatakan, tulisan tersebut sudah kedaluwarsa. Expired. Mengapa? Karena membahas hal yang cenderung sudah lewat. Saat ini, masyarakat lebih lengket dengan gadget. Bukan dengan televisi.

Ini menyangkut akurasi dan kekinian informasi. Tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah  dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, serta I – inspiratif dan motivatif. Berikutnya saya sampaikan poin kelima, yaitu A – akurasi tinggi.

Kelima, Akurasi Tinggi

Tulisan Anda disebut memiliki akurasi tinggi, salah satunya adalah apabila memuat informasi kekinian. Isi pesan Anda tidak ketinggalan zaman. Tulisan Anda tersambung dengan data kekinian. Bukan saja istilah, namun juga konteks.

Di waktu sekarang ini – sejak April 2020— berkembang istilah ODP, PDP, WFH, lockdown, pandemi, rapid test dan lain sebagainya, sudah harus Anda akrabi, sehingga tulisan Anda tentang apapun tidak ketinggalan konteks kekinian.

Pasti Anda akan menangkap sesuatu yang janggal, ketika saya menulis informasi seperti ini:

“Kehadiran teknologi komunikasi melalui SMS telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena SMS. Suami yang asyik ber-SMS dengan perempuan lain, atau perempuan yang asyik ber-SMS dengan laki-laki lain, telah menimbulkan keretakan dalam rumah tangga. 30 % lainnya, perceraian dipicu oleh faktor ekonomi”.

Di saat masyarakat sudah sangat akrab dengan komunikasi melalui chatting, memang masih ada manusia jadul yang menikmati SMS. Namun akan menjadi pertanyaan besar, apabila dinyatakan 70 % perceraian di Kota Depok dipicu oleh SMS.

Anda akan berkomentar, “Pak Cah ngawur. Mana mungkin SMS di zaman sekarang menimbulkan kasus perceraian sebanyak itu?” Bisa jadi, itu adalah data 20 tahun lalu di tahun 2000, bukan tahun 2020.

Nah informasi tentang kasus perceraian Kota Depok itu jelas tidak kekinian. Dengan sangat mudah, Anda akan menyimpulkan, tulisan Pak Cah tidak berkualitas, karena tidak kekinian. Tulisan saya tertinggal duapuluh tahun dari realitas hari ini. Begitu kesimpulan Anda.

Termasuk dalam konteks kekinian, misalnya ketika Anda menulis konstitusi RI, yaitu Undang-Undang Dasar tahun 1945. Jika Anda menulis dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, disingkat UUD NRI Tahun 1945, maka Anda trelah memiliki konteks kekinian.

Jika Anda menulis dengan UUD 1945, maka ini cara penulisan lama yang sudah resmi diubah. Jika Anda menulis dengan UUD NKRI Tahun 1945, maka ini cara penulisan yang salah. Mengapa salah? Karena tidak sesuai konsensus nasional yang berlaku saat ini.

Demikian pula, ketika Anda menuliskan, “Kalimat yang saya gunakan ini sudah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD”. Ini menandakan Anda ketinggalan zaman. Karena EYD sudah dinyatakan tidak berlaku lagi, dan diganti dengan Pedomen Umum Ejaan Bahasa Indonesia, atau PUEBI.

Inilah contoh informasi kekinian, yang membuat pembaca melihat Anda update dengan hal-hal mutakhir. Oke ya, Anda sudah mengerti apa yang dimaksud dengan informasi kekinian.

Akurasi Data dan Informasi

Selain akurat secara waktu atau kekinian, juga harus akurat secara nilai informasi. Pada contoh berita perceraian di Kota Depok yang saya kutip di atas, dengan mudah Anda akan menyimpulkan bahwa data saya tidak akurat.

Informasi yang saya contohkan di atas, tidak menyebutkan waktu dan sumber pengutipan. Informasi tersebut menjadi akurat apabila saya berikan tambahan keterangan yang meyakinkan. Misalnya,

“Kehadiran media sosial telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena media sosial, terutama whatsapp dan facebook.

Kepala Humas Pengadilan Agama Kota Depok, Dindin Syarif mengatakan, perceraian di Kota Depok sangat tinggi. Data tahun 2019 menunjukkan, perceraian di Kota Depok berada pada peringkat 10 di Provinsi Jawa Barat dan peringkat 41 di Indonesia.

Demikian laporan yang diunggah di web resmi Pemerintah Kota Depok, www.depok.go.id pada tanggal 10 Februari 2020”.

Informasi ini memuat data yang lebih akurat dibandingkan dengan informasi sebelumnya tentang SMS. Misalnya, menyebut data tahun 2019, nama Kepala Humas PA Kota Depok, sumber pengambilan data dari web resmi, menyebut tanggal posting di web, dan sebagainya.

Pembaca akan merasakan akurasi yang tinggi, apabila mereka melacak ke link web yang saya cantumkan, dan benar-benar menemukan informasi seperti yang saya posting tersebut. Inilah tulisan yang memiliki akurasi tinggi.

Namun jika link yang saya cantumkan tidak bisa dibuka, atau setelah dibuka isinya berbeda, atau bahkan tidak memuat informasi sebagaimana yang saya sampaikan, maka pembaca akan mengutuk saya sambil marah-marah. Ternyata informasi itu hoax, misalnya.

Untuk selanjutnya, pembaca akan menandai saya sebagai salah satu penulis yang melakukan kebohongan, atau penipuan, atau asal-asalan dalam pencatuman data. Ini tentu saja merusak reputasi saya sebagai penulis.

Demikianlah lima unsur yang membangun pengertian tulisan yang bagus dan berkualitas. Anda boleh tidak setuju, dan boleh membuat batasan sendiri tentang kriteria tulisan yang bagus dan berkualitas. Agar unik dan orisinal dari Anda sendiri. Agar menjadi penulis yang mulia, dengan menerapkan konsep MULIA.

Selamat berkarya. Tetap produktif di masa pandemi. Semangat #WriteFromHome.